One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 135


__ADS_3

Sore ini pihak kampus melepas seluruh mahasiswa yang mengikuti KKN, dengan dipimpin oleh Rektor beserta jajaran penting lainnya. Usai mendapatkan pembekalan dosen dan mahasiswa, Disya menuju mobilnya kembali untuk memindahkan barang bawaannya ke bus yang akan membawa mereka ke tempat tujuan.


"Biar aku bawain sayang, ini berat. Kamu duduk di depan ya bareng sama aku," ujar Sky.


"Mas, nggak enak sama yang lain lah. Aku udah janjian sama Sinta," jawabnya mencoba minta pengertian.


Sinta dan Disya berbeda kelompok, tapi keberangkatan mereka satu bus. Desa tempat KKN mereka lumayan dekat.


"Tega nih ceritanya? Sya, kita berangkat sore nyampenya pagi lho, pokoknya kamu duduk sebelah aku," ngeyel pria itu.


Disya manyun tapi pada akhirnya perempuan itu menurut. Walaupun ekspektasinya bla bla bla, tapi pada kenyataannya Sky itu ya tetap Sky, tidak bisa dibantah. Disya duduk di jok paling depan bersama dosen di bawah pandangan anak-anak yang pastinya kepo maksimal. Namun, perempuan itu merasa harus mulai bersikap cuek dan masa bodoh.


Perjalanan lumayan panjang dan jauh. Disya lebih memilih diam, dan tidur saja, tentunya bahu suami yang menjadi sandaran. Mereka berangkat sore hari dan baru sampai pagi hari di Kabupaten Kota. Semua mahasiswa berkumpul di alun-alun pusat untuk mendapatkan penyambutan dari Bupati dan instansinya.


Di sini Sky cukup sibuk berbincang dengan orang penting lainnya, jadi fiks, setelah sampai pria itu memisahkan diri dan membiarkan istrinya berbaur dengan teman-teman lainnya.


"Gaess ... akhirnya kita ketemu di sini?" pekik Disya girang mendapati Hanum dan Bila yang datang menghampirinya.


Ini adalah pertemuan terakhir mereka sebelum berangkat ke desa masing-masing. Semua berkumpul di alun-alun kota mendapatkan penyambutan dan jamuan. Setelahnya baru Dosen pembimbing lapangan mengantar mereka menyerahkan surat perizinan ke kantor Desa. Sky mengantar kelompok KKNnya sampai posko mereka.


Setelah berbincang hangat dengan kepala Desa, Sky mengadakan briefing terakhir sebelum pamit melepaskan Kelompoknya, Pak Sky memberikan beberapa wejangan dan juga semangat yang pastinya menumbuhkan rasa percaya diri mereka, mampu melaksanakan proker-proker KKN yang sudah dirancang.


Pak Sky memberi semangat, tapi sesungguhnya pria itu butuh semangat untuk dirinya sendiri. Ingin sekali membawa istrinya ke dalam pelukannya sebelum berpisah, tapi tentu saja tak sampai terjadi, mengingat ada pasang mata yang ada berada di sana.


Disya menangkap sendu di netra suaminya, pria itu tersenyum hangat seakan berkata, 'aku baik-baik saja'. Disya melepas kepulangan suami dengan senyum dan juga tatapan penuh cinta. Tak ada banyak kata yang mereka ucapkan, namun mata mereka cukup menjadi saksi, betapa dua insan itu melepas perpisahan dengan sendu.


Oh hati ... ayolah legowo, ini hanya masalah waktu, empat puluh hari dalam kubangan rindu. Aku ingin waktu empat puluh hari ini cepat berlalu.

__ADS_1


[Aku pulang, jaga hati dan sikap, salam rindu, semangat sayang. I love u]~ My husband.


Disya membuka pesan yang dikirim suaminya setelah berucap salam. Perempuan itu tersenyum, langsung membalas balasan dari suaminya dengan kata yang penuh cinta. Ia merasa juga kehilangan sosoknya yang menemani setiap hari, tapi untung saja di tempat itu ramai, banyak teman dan banyak kegiatan, jadi praktis rasa rindu, dan kangen itu tersamarkan.


Minggu pertama kegiatan KKN dijadikan pendekatan bersama warga desa tempat tinggal. Ada banyak kegiatan yang telah dirancang bersama anak muda karang taruna di sana. Alhamdulillah semua warga menyambut KKN kelompok mereka dengan sangat terbuka dan antusias.


Lain Disya lain juga Sky, baru minggu pertama pria itu terpisah laki-laki itu sudah dibuat tidak nyaman, uring-uringan sendirian, dan menahan rindu yang teramat. Sudah pasti penyebabnya adalah susah sinyal. Sinyal di desa tempat tinggal Disya masih kurang pro, jadi kadang suka bilang nggak aktif padahal handphone stay. Kirim pesan sore akan sampai malam, bahkan paginya. Sungguh itu penyiksaan tersendiri untuk Bapak Ausky.


Ekspektasi yang sudah dirancang manis tak sedikit pun terealisasi, sebab ucapan manis sebelum tidur tak pernah sampai. Jangankan Vidio call pesan saja ngaret. Pria itu tidak tahan rasanya untuk menanti hari minggu yang sudah disepakati bersama sebagai pertemuan mereka.


"Sya, ngapain lo?" Tiwi teman satu kelompoknya dibuat penasaran dengan tingkah Disya yang memiring-miringkan ponselnya.


"Susah sinyal, laki gue ngambek gegara nggak bisa telfon dari kemarin," jawabnya cuek.


"Cie ... yang LDR sama pacar ... kangen nih ye?" ledek Saras.


"Belum, tapi tadi udah diintro sama Ibuknya di rumah, suruh pada makan katanya."


"Ayo girls ... bareng-bareng aja." Aldo tiba-tiba nimbrung pembicaraan mereka.


Mereka biasanya makan bersama, setelahnya briefing sebelum kembali beristirahat save tenaga buat aktifitas besok.


"Eh, Yuda mana? Kok tuh anak dari sore ngilang?"


"Ngapelin anak karang taruna deh kayaknya," celetuk Farel.


"Cie ... roman-romannya bakalan ada yang cinlok nih ...!" Suara Aldo cukup menggema di ruang keluarga. Mereka tengah makan bersama-sama, dilanjut diskusi.

__ADS_1


"Sya, kok lo diem aja. Nggak mau nyumbang ngomong gitu, mumpung berbicara itu gratis dan tidak dipungut biaya," seloroh Aldo menghangatkan suasana. Pria itu cukup care dan hangat, tegas serta berkarakter, tidak salah dipilih sebagai ketua kelompok.


"Cuti ngomong dia, galau nahan rindu," celetuk Tiwi.


Disya melirik cewe rese' di sebelahnya yang hampir seminggu ini menjadi teman paling akrab.


"Wah ... Disya, orangnya ada di depan mata dikangenin," seloroh Aldo mengerling.


Lia muntah udara mendengar penuturan Aldo.


"Apa lo, paling bisa provokator," ucap pria itu sengit.


"Cuma ngingetin Bang, kalau mau cinlok sama yang masih single nanti biar nggak KKN (Kisah Kasih Nestapa)."


"Maksud lo?"


"Ya didamprat gara-gara rebut pacar orang, lo mau?"


"Nggak, emang lo udah punya pacar, Sya?"


"Cie ... terang-terangan nih ye ....!" Sebagian anak-anak malah pada ngeledek.


Disya hanya mengedikan bahu acuh, lalu perempuan itu mengangkat tangan kanannya, menunjukan cincin pernikahan mereka yang tersemat di jari manisnya.


"Njir ... beneran lo udah terikat?" Saras memperhatikan secara seksama. "Sama Rayyan?" sambungnya memperjelas.


Oh ya ampun ... ternyata pacarannya Disya dulu cukup menghebohkan warga kampus, sehingga banyak yang tahu walaupun dari lintas jurusan. Secara dulu Rayyan most wanted di kampus ini ya. Waduh ... kok jadi muji dia, ralat lah entar dosa gue nambah. Suami gue apa kabar kamu sayang ...

__ADS_1


Usai makan dan urun rembug, mereka berkemas siap untuk istirahat. Disya masih sibuk mencari sinyal, perempuan itu sampe rela menuju lantai atas tempat untuk menjemur pakaian demi tersambung ponselnya. Suasana malam yang dingin tak menyurutkan niatnya, ia sudah berhari-hari tidak berkabar dengan suaminya, dan asal kalian tahu, pak Ausky sudah mendumel tidak jelas di sebrang sana.


__ADS_2