One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 150


__ADS_3

"Hmm ... dicariin malah mojok di sini," seloroh pria itu bermuka masam.


"Sore Pak Sky?" sapa Pak Arya ramah.


"Sore, tapi masih gerah," sindir pria itu sinis. Dosen Arya tersenyum tipis.


"Iya nih alhamdulillah cerah, tadi kebetulan kita ketemu di sini, jadilah ngopi bareng tanpa di sengaja, istri Anda ini ternyata mahasiswi yang sangat cerdas, ia baru saja membagi sesi curhat untuk mengambil skripsi di semester tujuh ini, padahalkan pasti akan sangat repot, mengingat berbarengan dengan jadwal kuliah. Tapi, salut sih, semangat!"


Wah ... pelanggaran nih! Awas kamu Sya!


Sky melongo mendengar penuturan rekan kerjanya yang terang-terangan memuji istrinya. Ia menatap tajam Disya yang bahkan langsung tersenyum manis tanpa dosa, cuek dan datar saja menanggapi sesi curhatnya.


"Sudah selesai ngopinya, saatnya pulang sayang," ajak Sky langsung tepat sasaran.


"Belum lah, baru juga separonya, sayang sini ... santuy sejenak, ngopi dulu sama Pak Arya, udah selesai ngajarnya kan?"


Sky tersenyum mendengar penuturan istrinya. Benar-benar di level sabar yang tak berujung.


"Pulang sekarang, atau aku tinggalin," ancam pria itu sedikit berbisik.


"Ish ... " Disya memberengut kesal, perempuan itu pamit undur diri dari kafe seraya mengangguk sopan.


"Mari Pak Arya, duluan ya," pamit Disya.


"Iya, hati-hati di jalan!" ujar Pak Arya membalas senyuman.


Sky langsung menarik tangan Disya dengan kesal begitu menjauhi kafe. Membukakan pintu mobil, membimbing Disya duduk dan langsung memasangkan seat belt nya.


Pria itu memutari mobil dengan cepat, lalu memposisikan di kursi kemudi. Mobil Sky melaju dengan kecepatan sedang, ke duanya memilih sama-sama diam selama perjalanan pulang.


Sesampainya di rumah, Sky langsung turun dari mobil dan masuk ke rumah. Mengabaikan Disya yang berjalan tak jauh darinya.


"Mas, tungguin dong, kamu marah?" rengek Disya berjalan mengekor, menarik simpul kemeja Sky.


"Seandainya aku yang lagi duduk santuy di kafe sama cewek lain, kamu bakalan kesel nggak?" Bukannya menjawab pertanyaan Disya, Sky malah balik bertanya.


"Tergantung konteks Mas, kalau janjian mungkin bukan hanya marah tapi ngamuk, tapi ... kalau ketemu tidak sengaja ya aku bakalan marah juga, apa-apaan berdua-duaan sama perempuan lain." Tanpa sadar Disya mengutarakan keberatannya.


"Nah ... itu juga yang aku rasain Sya, kesel lihat kamu duduk berdua sama pria lain walaupun kata kamu tanpa sengaja," ucap pria itu sambil lalu.


"Ish ... kok jadi aku yang salah, orang ketemu tidak sengaja juga," gumam Disya tak mau kalah.

__ADS_1


"Ribet bat jadi laki, begini salah, begitu nggak boleh," gumamnya lagi.


Sky menyorot istrinya kesal, sontak perempuan itu langsung mendekati dan bergelayut di lengannya.


Salah lagi, ngambek lagi, cemburu lagi.


"Maaf Mas, jangan ngambek lagi, nanti cepet tua," ujar Disya menempel.


"Munduran dikit Sya, gerah, capek, kesel," keluhnya mrengut.


"Mau kopi, teh, atau jus," tawarnya manis. Berusaha sekali membuat suaminya tidak marah lagi.


Dalam hati Sky tersenyum, hatinya menghangat mendengar tawaran istrinya.


"Terserah!" ucap pria itu.


"Mbak Tia, tolong buatin minuman mbak, buat Bapak," titah Disya menginterupsi ART di rumahnya. Sky langsung menghentikan langkahnya, mendengar pekikan istrinya yang kurang mengenakan.


"Jangan mbak, nggak usah," tolak Sky menyeru.


Tia yang hendak melangkah ke dapur berhenti, kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan lain.


"Ish ... kenapa nggak Mas, katanya terserah, kamu baru pulang, pasti capek dan haus kan?"


"Harus aku banget? Ya sudah, tunggu bentar, aku buatin spesial buat kamu," ujarnya tersenyum.


"Sya!" panggilnya menghentikan langkah Disya. "Nanti aja," sambung pria itu berjalan menuju kamarnya.


"Nggak jadi Mas, atau ... masih marah."


"Sedikit, temenin mandi dulu," ujar pria itu menarik tangan Disya tak sabaran. Membawanya masuk ke kamar.


"Bersih-bersih dulu, aku nggak mau ngopi, teh, ataupun jus."


"Hmm, nggak jadi minum berarti," tanyanya polos.


"Jadi, aku mau nyusu," ucapnya mengerling.


"Ish ... nggak lucu, katanya capek, nanti malam aja, masih sore," tolaknya halus.


"Tapi temenin mandi ya?" ucapnya manja.

__ADS_1


"Aku mandi dulu, nanti aku temenin."


"Bareng, ayook ...!" Disya hampir mengiyakan tiba-tiba ponsel Sky berdering.


"Handphone kamu?"


"Biarin, nanti aja."


"Itu bunyi terus lihat dulu deh." Disya malah yang mendekati nakas, mengambil handphone suaminya yang memekik.


"Siapa Sya?"


"Bintang Mas, nih angkat dulu." Seraya menyodorkan ponsel itu, selama di tinggal mengangkat telfon, Disya akhirnya mandi lebih dulu.


Selesai mandi Disya langsung menghampiri Sky yang terlihat tengah di balkon kamar sambil menyesap rokoknya. Pria itu bersantai sejenak menikmati pemandangan sore hari.


"Mas, udah aku siapin air hangatnya," seru Disya menginterupsi. Perempuan itu memakai kemeja tidur dengan setelan hot pant yang tipis. Terlihat begitu seksi dan menggoda, di tambah body seksinya yang terlihat lebih menonjol.


"Hmm, seksi bat!" celetuk pria itu melewati Disya sambil mencolek nakal.


"Mas!" seru Disya menghentikan langkah Sky. Pria itu menoleh, lalu mengangkat dagunya.


"Nakal," balas Disya sensasional.


Sky mengangkat satu alisnya. "Apa?" tanya pria itu menatap lekat


"Nggak pa-pa, buruan gih mandi," ujar Disya kikuk. Mendadak salah tingkah melihat suaminya bertelanjang dada.


***


Malam harinya usai makan malam, Disya langsung menuju kamarnya. Sementara Sky terlihat obrolan panjang dengan seseorang di sebrang sana. Dia sahabatnya, Rayyan, Sky terlihat ngobrol lebih akrab. Sebenarnya Disya kepo, ada gerangan apa Rayyan dan juga Sky berbincang akrab cukup serius, bahkan lama. Sejenak mengabaikan perempuan itu. Disya menunggu suaminya hingga tertidur.


"Sya!" panggilnya menyeru.


Sky mengontrol istrinya yang ternyata sudah terlelap damai.


"Yah ... kok tidur sih Sya, kamu belum minum susunya sayang." Sky melirik susu buatan dirinya yang terletak di atas nakas, masih utuh belum tersentuh. Sky mengecupi pipi Disya dengan gemas, menyebabkan perempuan itu terusik dan kembali membuka matanya.


"Apa sih Mas, ngantuk," celetuk Disya malas.


"Di minum dulu susunya, tadi siapa yang minta di buatin," ujar pria itu gemas.

__ADS_1


"Malas, pingin tidur aja," celetuknya sayu.


Sky memposisikan istrinya agar terduduk kembali. Pria itu mengambil gelas susu di atas nakas meminumnya dan menstranfer ke mulut Disya dengan bibirnya. Disya susah payah menelan susu dari mulut Sky, perempuan itu berkedip beberapa kali untuk menetralkan degup jantungnya.


__ADS_2