
Begitu sampai rumah Bunda, mereka langsung menuju ruangan rawat Opa. Sky lebih lama di dalam, pria itu mengobrol banyak hal dengan kakeknya. Sementara Disya pamit lebih dulu ke luar ruangan, memberikan kesempatan antara cucu dan kakeknya membicarakan hal penting yang cukup membuat bumil kepo. Hehehe
Disya lebih memilih bergabung dengan Bunda Yuki, Mbak Raya dan Bintang. Mereka tengah mengobrol hangat satu sama lain.
"Denger-denger lagi isi lagi?" tanya Raya yang tengah sibuk menenangkan bayinya.
"Iya mbak alhamdulillah, tapi ini lagi rewel banget, suka heran sama diri sendiri, kaya bukan aku banget."
"Nyidam apa mbak?" tanya Bintang.
"Nyidam apa ya? Nggak nyidam sih, tapi ..."
"Tapi suka ngintilin aku terus dek, bucin dia ... nggak mau ditinggal, bisa nangis," seloroh Sky tertawa.
"Ih ... Mas, kok buka kartu sih, aku tuh sebel sama orangnya, tapi nggak tahu kenapa anaknya pingin nempel mulu, anak kamu banget kan?"
"Anaknya, atau mommynya nih ... " seloroh Sky mengerling.
"Tuh Bun ... Mas Sky nakal tuh ... ngeledekin terus, nanti aku tinggal nginep aja deh, di kamar Bintang," ujarnya senang.
"Yakin? Nggak nyariin guling buat di peluk, perasaan tiap malam nyariin lengan aku deh, buat bantalan."
"Mas ...!" Disya mrengut.
"Apa? Nggak usah malu, itu tandanya kamu bucin." Sky, Bunda, Raya, dan Bintang saling tertawa.
"Ya udah lanjutin dulu ngobrolnya, aku mau ke ruang kerja Papa." Pria itu berlalu setelah mengacak lembut rambut istrinya.
"Mas, tunggu!" seru Disya menghentikan langkah Sky.
"Apa lagi sayang ..."
"Izin keluar ya, mau beli cemilan sama susu, nginep kan nggak pulang," ujarnya mengingatkan.
"Nanti aku aja yang beliin, kamu nggak boleh keluar malam-malam tanpa aku, di luar dingin nanti kamu masuk angin," jelas pria itu, posesifnya kumat.
"Ish ... cuma ke indomaret Mas, deket gang depan belok kanan sampai, boleh ya?" rengek Disya ngeyel.
"Sama siapa perginya?"
"Bintang."
"Nggak, nggak boleh, yang lain aja yang nganter," tegas Sky. Pria itu mempunyai sedikit trauma perihal kecelakaan istrinya yang menyebabkan keguguran. Sejak saat itu, Disya dilarang ngebonceng Bintang, apalagi tengah hamil muda.
"Ya udah aku antar dulu aja, bisa nanti ngobrol sama Papanya."
"Nggak pa-pa aku sendiri aja."
"Nggak usah ngeyel kalau di kasih tahu, kejadian kemarin belum cukup membuat kamu jera, bisa nurut sama suami nggak sih," kesal Sky marah.
"Iya, iya ... ayok ... aku pingin nyusu," ucap perempuan itu manja. Dengan suka rela pria itu mengantar istrinya.
"Kamu ngegemesin banget sih Sya, entar Mas gigit kalau manja terus kaya gitu."
__ADS_1
"Coba gigit aku, pengen ...?" godanya manja.
"We ... nantangin? Habis kamu malam ini sayang."
"Kamu yang habis, lihat aja nanti."
"Eh! Beneran nantangin nih ceritanya? Sekarang gimana? Di mobil nggak pa-pa?"
"Ayo ... gas lah," ucap Disya semangat.
Sky yang tengah sibuk menyetir, langsung menepikan mobilnya."
"Mau ngapain? Kok berhenti?"
"Katanya sekarang? Mas mah oke aja, dikasih yang enak."
"Becanda Mas, BECANDA!!"
"Tapi kamu ngomongnya kaya nggak becanda, aku jadi gerah," ujar pria itu.
"Jalan Mas, nggak mau ini di mobil, aku nggak nyaman," keluh perempuan itu menghentikan aksi Sky yang hampir nekat.
"Mas, kata dokter nggak boleh sering-sering kalau lagi hamil muda, apalagi kemarin sempat flek, jadi ... sepertinya kamu bakalan puasa lagi."
Sky menghembuskan napas lelah, secara normalnya pria itu tentu saja tidak kuat. Tetapi demi anak dan istri tetap sehat, aman dan lancar semua.
Sesampainya di pusat perbelanjaan, Disya langsung memilih barang apa saja yang hendak di beli. Setelah memborong banyak sekali makanan dan cemilan mereka langsung menuju meja kasir. Namun, karena mengantri Sky menyuruh Disya menunggu di mobil saja, dan dirinya yang mengantri.
"Lho, kak Ray? Kok tumben, mau belanja juga?" Disya tak sengaja bertemu dengan Rayyan di sekitar parkiran. Ke duanya saling terkesiap, namun detik berikutnya langsung menormalkan ekspresi mereka masing-masing.
"Baik kak, gimana kabar kakak?"
"Alhamdulillah baik ... kamu terlihat lebih bahagia dan cantik," pujinya jujur.
"Aku berharap, kamu juga bisa bahagia dengan hidupmu. Aku selalu berdoa, kamu mendapatkan sosok wanita yang mampu menentramkan hidupmu."
"Aamiin ... Sky mana? Kok jalan sendirian?"
"Ada, mana boleh dia ngebiarin aku jalan sendirian. Tuh ... orangnya lagi antri di kasir," tunjuk Disya.
"Iya juga ya, dia kan bucin. Sya, aku boleh minta tolong?"
"Apa? Kalau aku bisa, InsyaAllah aku mau," jawabnya yakin.
"Aku bahagia atas hidupmu sekarang, Sky memang orang yang tepat yang dikirim Tuhan untukmu, walaupun jalan kalian sempat menyakiti diantara kita, terutama aku, tapi ... sejauh ini, sampai di titik ini InsyaAllah aku sudah ikhlas. Aku juga berhak bahagia kan? Tolong restui aku untuk menjalin hubungan dengan adik iparmu?"
"Bintang? Kamu mencintainya?" Disya tersenyum senang sekaligus lega mendengar penuturan Rayyan."
"Iya, tapi sayangnya kepercayaan itu menipis, hingga adikmu perlahan mulai menjauh, tolong ... bantu aku?"
Disya mengangguk yakin, "Kamu datang saja besok ke acara resepsian aku, di situ kamu bisa ketemu dengan Bintang lebih bebas, aku yakin kalian butuh waktu hanya sekedar mengobrol berdua.
"Makasih ya?"
__ADS_1
"Sama-sama Kak, aku bahagia jika kamu bahagia."
Rayyan tersenyum dan mengangguk.
"Sya, kalian ngobrol apa?" tanya Sky penuh selidik.
"Nggak ada Mas, kita saling sapa aja ya kak?"
"Hai Ky ... " sapa Rayyan sok akrab. Pria itu mengulurkan tangannya ramah.
"Hai," Sky menyambut uluran tangan Rayyan.
"Sepertinya ... besok kita perlu duduk bareng deh, udah lama ya nggak ngopi bareng," selorohnya.
"Kamu terlalu sibuk. Maaf Ray, atas semua hal yang pernah terjadi diantara kita, mungkin kata maaf saja tidak akan cukup untuk menebus semua kesenggangan dan rasa sakit hatinya kamu."
"Cukup untuk hari ini, bukankah roda kehidupan itu berputar, jadi ... sudah saatnya aku juga harus bahagia."
"Aku duluan ya, sampai ketemu," ujar pria itu lalu.
***
"Sya, bagus nggak?" Sky menyodorkan satu contoh undangan yang akan diberikan pada orang-orang.
"Bagus, ini akhirnya kita jadi resepsi ya?"
"Kamu beneran udah siap, hubungan kita go public, semua orang bakalan tahu kalau kita suami istri? Mungkin seantero kampus?"
"Iya, tahu ... InsyaAllah siap lahir batin," jawab Disya. Sky pun tersenyum mendengar jawaban istrinya.
"Kamu terlalu manis untuk ku cerna, senyumanmu menghanyutkan, melarutkan lakuku yang hanya terpusat padamu."
"Hmm ... diabetes kalau kena sanjungan kaya gini. Mas ... aku boleh undang kak Ray?"
Sky nampak berpikir, "Yakin hati kamu kuat?"
"Maksudnya?"
"Boleh, asal cuma mengundang tapi nggak boleh baper apalagi nostalgiaan."
"Kamu masih ... gitu aja Mas, padahal aku udah sebucin ini," keluh Disya tersenyum.
"Dalamnya hati siapa yang tahu, aku hanya berjaga, siaga satu kalau-kalau kamu lupa, kalau saat ini kita benar-benar sedang belajar menjadi pribadi yang lebih baik."
"Kamu juga boleh undang mantan kamu Mas, sebanyak yang kamu punya?"
"Aku bukan play boy Sya, jadi mantan sesungguhnya aku nol besar. Kamu adalah wanita pertama yang aku sentuh. Aku tahu, kamu juga yang pertama kan? Walaupun kamu pacaran sama Rayyan, aku adalah orang pertama untukmu. Makannya aku susah move on."
"Kamu sungguh rese' Mas, akhirnya setelah sekian purnama, kamu percaya juga sama aku."
"Belum seratus persen," jawabnya menatap dalam Disya.
"Bagaimana caranya, biar Mas pecaya seratus koma satu persen?"
__ADS_1
"Buat aku susah move on, khusus malam ini."
"???"