One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 51


__ADS_3

"Jangan nangis terus dong Sya, kasihan baby kamu kalau kamu stress gini?" Flora menasihatinya.


Mereka sedang di dalam mobil tengah perjalanan pulang. Disya dan Flora duduk di jok belakang, sementara Sky duduk di kursi kemudi. Sesekali sudut matanya melirik Disya lewat pantulan rear vision mirror. Istrinya masih terisak dalam pelukan kakaknya.


Sky membawa Disya pulang ke apartemen nya, tempat paling dekat setelah dari rumah sakit. Pria itu sebenarnya ingin membawa pulang ke rumahnya, namun ia takut istrinya menjadi kurang nyaman di tengah-tengah keluarga besarnya. Sky juga paham istrinya masih canggung di antara keluarganya. Sky juga tidak memberitahu pihak rumah tentang keadaannya saat ini, takut Bunda dan Ayahnya khawatir.


Setelah memarkirkan mobilnya, Sky berujar memapah gadis itu untuk sampai ke kediamannya, namun Disya menolak. Akhirnya dengan berjalan perlahan Disya di topang Flora. Sedang Sky mengekor dari belakang. Mereka tengah berada di lift untuk menuju ke kediamannya.


"Kakak pulang dulu, kalau butuh apa-apa telfon aja. Kakak di apartemen sebelah. Jangan banyak pikiran, mama sama papa sudah mewanti-wanti demikian. Sekarang mama sama papa sedang ke Bandung, nggak usah khawatir kakak di sebelah." Flora mengantar sampai kamar, membantu Disya berbaring dan menyelimuti nya.


"Makasih kak," ucap Disya tersenyum.


"Oke, istirahat yang cukup. Pulang dulu ya?" pamit Flora lalu bergegas ke luar kamar.


"Thanks Ra," ucap Sky yang tengah duduk di sofa ruang tengah.


Flora mengangguk, "Lo yang sabar ya ngadepin Disya, lo tahu kan hubungan mereka sudah lama dan sebelumnya tidak ada masalah apa-apa. Jadi ini pasti berat buat Disya. Saran gue, lo ngalah dulu demi anak kalian takutnya kenapa-napa kalau Disya tekanan terus. Pelan-pelan, Disya pasti terima lo kok. Nanti gue bantu ngomong juga kalau situasinya udah kondusif, dan Disya makin tenang, yang penting buat dia nyaman dulu."


Sepeninggalan Flora tinggalah mereka berdua. Disya mengistirahatkan tubuhnya di kamar namun tidak tidur. Gadis itu merasa tidak nyaman, tubuhnya terasa lengket dan akhirnya memutuskan untuk mandi. Sementara Sky masih merenung di ruang keluarga, ia tengah menikmati rasa sakit akibat bogem mentah dari Rayyan. Tadi sudah sempat diberi obat waktu di rumah sakit, tapi beberapa luka yang tidak berdarah mulai membiru terlihat lebam.


Sky mengambil ponsel pintarnya, laki-laki itu delivery makanan untuk makan malam mereka. Setelah menunggu setengah jam makanan yang di pesan pun datang, pria itu segera menyimpannya di meja makan dan menuju kamarnya.


Sky masuk ke kamar dan ternyata kamar itu kosong, namun terdengar suara gemericik air yang mengalir di kamar mandi, menunjukkan Disya sedang ada di dalam.


Ceklek


Disya keluar dengan rambut basah sehabis keramas, ia memakai bathrobe.


"Baru mandi Sya? Aku udah siapin makanan buat makan malam kita nanti," ujar Pria itu lalu bergegas ke kamar mandi juga untuk membersihkan tubuhnya yang terasa penat.


"Hmm," Disya hanya menjawab dengan gumaman.


Sementara Sky mandi Disya terlihat obrolan telfon bersama sahabatnya. Bila menghubungi Disya dan menanyakan keadaanya. Mereka mengobrol cukup lama sampe Sky keluar dari kamar mandi Disya baru menutup obrolan mereka.


Seperti biasa Sky hanya bertelanjang dada dan mengambil pakaiannya untuk berganti.

__ADS_1


"Kamu nggak ganti baju?" tanya pria itu.


"Nggak ada ganti, pakai ini untuk sementara tidak apa, nanti saya ambil di tempat kak Flora."


Sky kembali menuju lemari pakaian, ia mengambil kain dari sana.


"Pakai ini Sya, semoga pas," ujar pria itu menyerahkan baju tidur yang senada dengan yang di pake pria itu.


"Cepet ganti, terus sekalian ambil wudhu. Aku tungguin kamu, kita jamaah ya?" ujar Sky tersenyum teduh.


Dalam seperkian detik, Disya masih mencerna kata-kata pria itu. 'Jamaah bareng.'


"Sya, kok ngalamun, tunggu apalagi."


Disya segera bergegas ke kamar mandi, mengganti pakaiannya dan mengambil wudhu. Seperti tersihir, gadis itu mengikuti instruksi suaminya. Hatinya menghangat dan sedikit tenang saat pria itu tak terlihat menyebalkan dan mengajak dalam kebaikan.


Seusai sholat, Sky menahan gadis itu agar tetap tinggal.


"Sya," panggil Sky lirih. Mengamati dengan seksama gadis di depannya yang masih berbalut mukena. Ini adalah pertama kalinya mereka sholat bersama setelah menjadi suami istri.


"Jangan ngomong apa-apa, saya sedang ingin sendiri. Bapak kalau sudah selesai bisa keluar dulu."


Disya menyela, Sky mengangguk pasrah, ia yang sudah bersiap mengutarakan maksud hatinya pun urung demi melihat wajahnya yang enggan.


Disya mengemas mukenanya dan menaruh di atas nakas. Hatinya cukup tenang, tapi tetap saja masih sungkan. Pada kenyataannya kalau boleh memilih Disya enggan untuk tinggal bersama.


Disya berjalan ke luar kamar mengabaikan Sky yang masih betah menatapnya tanpa jeda. Disya sudah mulai terbiasa dengan tatapan Sky yang begitu dingin dan lekat, itu sama halnya ketika di kelas, pria itu sering menatapnya demikian.


Disya sebenarnya merasa sedikit prihatin melihat Sky mukanya penuh lebam. Gadis itu merasa sedikit bersalah karena biar bagaimana pun itu terjadi karena perkara dirinya. Namun Disya memilih tetap acuh seolah tidak peduli.


Disya menuju dapur, ia membuat minumannya sendiri lalu ingin segera menuju kamar. Sementara Sky, sudah duduk manis di meja makan, menunggu Disya dengan setia. Disya berjalan melewati Sky begitu saja seraya menenteng satu gelas minum.


"Sya!" panggil Sky menyeru namun Disya mengabaikan pria itu.


Disya bergeming, tetap melangkah ke kamar tanpa menyahut panggilan dari Sky. Disya menaruh gelasnya di atas nakas dan merangkak ke atas kasur. Sejujurnya Disya agak lapar, namun ia malas makan. Entahlah, pokoknya malas apa saja.

__ADS_1


Patah hati membuat mood gadis itu berantakan, rasanya... semuanya terasa hambar dan layu. Semangatnya untuk hari esok pun seakan redup tak ber asa.


Sky mencoba mengumpulkan kesabaran lebih banyak, ia terngiang akan nasihat Flora satu jam lalu, dirinya harus ekstra mengalah demi anaknya, tapi terkadang ia merasa jenuh dan ingin menyerah melihat kejutekan Disya yang begitu nyata.


Pria itu bangkit dari tempat duduknya dan menuju kamar.


"Sya, makan dulu kamu belum makan malam," ujar Sky menghampiri Disya yang tengah memainkan ponselnya.


"Bapak duluan aja, saya belum lapar," jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


"Oke Sya, kamu boleh marah, sedih, benci sama aku, aku terima! Tapi tolong... peduli sedikit dengan kesehatan kamu, dengan janin kamu, ia butuh asupan dari ibunya."


Disya terdiam, sama sekali tidak merespon ucapan Sky sedikit pun. Gadis itu hanya sekilas menatap, lalu kembali bersikap cuek seolah tidak mendengar apapun.


"Mau kamu apa sih Sya?!"


Kesabaran Sky benar-benar di uji. Sebagai seorang laki-laki ia hanya ingin mempertahankan dan mempertanggung jawabkan saja namun ia merasa seolah tak pernah di hargai.


"Saya ingin, setelah anak ini lahir. Kita bercerai," ucap Disya yakin.


Sky terkekeh hambar, pernikahan mereka bahkan baru saja di mulai dan Disya sudah memikirkan perceraian, luar biasa.


"Aku akan turuti permintaan mu," ucap pria itu mengalah. "Tapi aku punya syarat dan juga permintaan yang harus kamu kerjakan dan penuhi selama kamu hamil," ujar pria itu menyeringai. Nada Sky berubah menjadi sangat dingin.


"Syarat apa?" tanya Disya mulai tak nyaman.


"Yang pertama, selama kamu hamil, kamu harus peduli dengan kehamilan kamu dan kesehatan kamu. Yang ke dua, selama masa kita masih terikat pernikahan, kamu wajib melayani suami dengan baik memberikan hak-haknya sepenuhnya dengan sukarela tanpa paksaan, termasuk kebutuhan biologis seorang suami, dan yang ke tiga, setelah anak itu lahir, aku ingin hak asuh anak ada pada aku sepenuhnya. Kamu sanggup, bisa?"


Apa-apaan semua syarat terkesan memberatkan ku.


"Pak, kalau mengajukan persyaratan itu yang masuk akal dan adil dong! Ini semua syarat memberatkan saya. Oke kalau yang nomor satu tidak masalah tapi untuk nomor dua saya keberatan. Bapak kan tahu kita tidak saling mencintai, yang benar saja. Melaksanakan kewajiban istri seperti menyiapkan semuanya keperluan itu masih bisa saya pertimbangkan tapi kalau kebutuhan biologis saya keberatan," protes Disya kesal.


"Terus untuk yang ke tiga, saya ini ibunya kalau Bapak memisahkan kami berdua itu namanya Bapak kejam dan tidak berperasaan," sambung Disya tidak terima.


"Terserah! Kamu istri aku, halal bagiku atas semua yang ada pada dirimu. Mari kita mulai perjanjian ini dari sekarang. Deal!" Sky mengulurkan tangan ke Disya.

__ADS_1


__ADS_2