One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 86


__ADS_3

Sky menatap punggung Disya yang berjalan menjauh. Pria itu menahan kesal, sebab Disya tak kunjung mengerti tentang keinginan perasaanya. Ia bahkan pergi dengan kegiatannya sendiri tanpa mempertimbangkan pendapat Sky atau pun tidak, dan jelas ini menambah rasa kesal Sky.


Disya tersenyum tipis melihat situasi ini. Ia harus berjalan menjadi raja tega demi semuanya berjalan lancar. Kaki perempuan itu terus melangkah menuruni anak tangga. Gadis itu langsung menuju ruang makan untuk bergabung sarapan pagi.


"Sya, Sky kok nggak turun? Apa rencana kita berhasil?" bisik Bunda Yuki, seketika membuat Pak Asher yang duduk di sebelah Bunda berkerut.


"Tambah ngambek dia Bun, diterusin nggak ya?" ucap gadis itu bimbang.


"Udah tenang aja, terusin sampai yes. Bunda jaminannya, kalau dia marah," ujar Bunda yakin.


Disya mengangguk ngerti, sementara Pak Asher kepo maksimal.


"Apa sih yank," kepo Asher sama Bunda.


"RAHASIA... cowo nggak usah kepo," jawab Bunda jail.


"Ish... nggak asyik, masa Ayah di kacangin gini," protesnya kesal, lalu Yuki nampak membisikkan sesuatu di telinga suaminya membuat ayah manggut-manggut.


Bintang dan Sky berjalan hampir bersamaan menuju ruang makan. Mereka duduk dengan anteng di kursi dan segera mengisi piring masing-masing.


Sky melirik Disya yang membuang muka, setiap sarapan istrinya selalu mengisi piringnya terlebih dahulu, tapi pagi ini tidak, Disya membiarkan saja Sky mengambil sendiri dan sontak ini membuat laki-laki itu bertambah murung.


"Mbak, pagi-pagi udah rapih aja mau kemana?" tanya Bintang kepo.


"Jalan santai sama temen-teman Bin, kamu mau ikut?" tawarnya santai.


"Emang boleh?" tanya Bintang berharap iya.


Disya mengangguk, sontak membuat gadis remaja itu girang.


"Bocil nggak usah ikut, nggak usah klayapan, libur tuh waktunya buat keluarga nggak kluyuran nggak jelas," sindir Sky.


Disya melirik suaminya sengit, sementara Bunda dan Ayah tersenyum tipis melihat couple di depanya. Bagi Bunda, kejutekan Sky dan Disya terlihat lucu dan menggemaskan.


Disya menyelesaikan sarapan paginya dengn cepat, ia sudah di tunggu teman-teman di sekitaran taman kota.


"Bun, Ayah, aku pergi dulu ya?" pamit Disya ramah, tangannya terulur menyalami mereka berdua.


Disya langsung bergegas keluar dari rumah dan berjalan agak cepat.


"Pergi dulu Mas," pamit Disya langsung melesat ke luar rumah.

__ADS_1


Sky semakin kesal dengan tingkah Disya yang tidak ada manis-manisnya. Ia langsung meninggalkan ruang makan dan menuju kamarnya, berjalan dengan cepat menaiki anak tangga dan mengambil kontak mobilnya. Ia akan menyusul Disya, dan mengurungnya di kamar sampai gadis itu merengek gemas.


cukup kilat Sky sudah kembali menuruni anak tangga, membuat Bunda Yuki yang melihat bertanya-tanya.


"Ky, mau ke mana?" Bunda berjalan ke arah Sky


"Nyusulin Disya Bun," jawab Sky dengan nada yang terdengar menahan kesal.


"Bukannya lagi jalan sama sahabat-sahabatnya ya? Kenapa harus di susul, terkadang perempuan itu butuh ruang gerak sendiri, jadi nggak pa-pa sekali waktu jalan, merefresh otaknya, bisa jadi Disya penat dan butuh untuk sekedar have fun. Kamu juga harus memahami itu sayang, jangan terlalu keras menggenggam, nanti akan terasa mengekang dan membuatnya sakit, karena merasa apa-apa di dekte. Kamu ngerti kan maksud Bunda?" jelas Bunda panjang lebar.


Sky terdiam sesaat, ia memikirkan perkataan Bunda nya dengan bijak. Mungkin benar kata Bunda, Disya butuh waktu hanya sekedar hang out dengan teman-teman nya. Pria itu akhirnya berbalik dan duduk di ruang keluarga termenung. Sementara Bunda dan Ayah nampak harmonis duduk di ruang yang sama, ada Bintang juga di sana.


"Aku ke kamar dulu Bun?" final Sky pada akhirnya, ia harus merelakan sabtu liburnya berjalan dengan kehampaan tanpa Disya.


Sesampainya di kamar, Sky langsung duduk di meja belajar dan membuka laptopnya. Ia akan mengkaji ulang pekerjaanya yang sebenarnya sudah beres.


Di sisi lain, Disya tengah asyik bercengkrama dengan teman-temannya. Bahkan gadis itu menceritakan kekonyolanya dengan teman-temannya.


"Ssshhhtt... ini bagian dari strategi, gue mau bikin kejutan buat suami super gue, lo pada mau bantuin nggak?"


Mereka berunding dengan saling merapatkan duduk.


"Gila! lo nggak takut bikin Pak Sky sewot," pekik Bila takjup.


"Nggak ah, gue nggak berani, kuliah kita bisa jadi taruhannya, kalo dia beneran marah habis lo Sya?"


"Aduh.... jahat, bukannya bantuin juga," keluh Disya kesal.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, sudah berpuluh kali Sky menghubungi istrinya namun tidak di jawab. Laki-laki itu uring-uringan seharian. Disya benar-benar mengabaikan dirinya dan tidak berkabar seharian. Keadaan yang panas, semakin membuat pria itu semakin murka.


"Keterlaluan kamu Sya bahkan sampai petang gini kamu belum pulang, telfon di matiin, mau kamu apa sih Sya? Niat banget bikin aku marah," gumam Sky dongkol.


Sky mengacak rambutnya frustasi, bahkan laki-laki itu sampai mengabaikan mandi, dan makan malam. Ia sama sekali tidak minat untuk menjalani apapun terlebih memikirkan Disya, membuat pria itu semakin kesal.


Bunda mengintip anak sulungnya yang seperti setrikaan. Mondar-mandir, ke luar masuk kamar dan sesekali membanting pintu. Bunda merasa kasihan dan juga tersenyum, anaknya benar-benar terdeteksi bucin akut.


Waktu sudah hampir jam sembilan malam, dan Disya belum kembali. Sky sudah sangat uring-uringan. Ia bahkan sangat-sangat murka.


Pria itu berjalan ke luar dari kamar, menuruni anak tangga dengan cepat. Sementara rumah terlihat sepi Sky pikir semuanya sudah tertidur. Sky mencoba menghubungi teman-temannya Disya yang pergi bersama, tetapi mereka bilang Disya sudah kembali pulang.


Sky menghubungi Flora, mertuanya, bahkan sampai menyambangi rumah mertuanya. Nihil, istrinya bahkan cuma mengirim pesan, 'jangan mencariku.' Yang seketika membuat Sky bertambah marah dan ingin membanting ponselnya.

__ADS_1


"Kak, kakak cari mbak Disya?" tanya Bintang datar.


Tak ada jawaban dari pria yang setengah frustasi, istrinya dengan sengaja menghindari dirinya.


"Aku tahu lho kak, tadi Bintang lihat mbak Disya menuju hotel bersama seseorang," Bintang bagai kompor mbeledug.


"Jangan ngadi-ngadi kamu, Disya nggak mungkin kaya gitu?" jawabnya ngegas.


"Serius, tadi pas aku lewat, mbak Disya ada di pelataran hotel dan masuk bersama seseorang. Sepertinya mbak Disya belum bisa mencintai kakak deh," Bintang terus mengompori kakaknya lalu pergi begitu saja.


Pukul setengah dua belas, Sky mendapat kabar bahwa istrinya sedang bersama seorang pria di hotel. Laki-laki itu bertambah panas, ia menahan amarah yang siap meledak, tangannya mengepal dengan kuat siap menghancurkan siapapun yang berani menyentuh miliknya.


"Brengsek!! Berani kamu Sya, menolakku terus-terussan dan dengan bodohnya mau menjadikan umpan pada orang lain. Akan aku bunuh siapapun yang berani menyentuhmu," murka Sky.


Pria itu berjalan cepat menuju lorong hotel, ia sudah sangat kesal dan marah. Pria itu begitu gelap mata, mengetahui istrinya sedang bermalam dengan seorang pria di hotel.


Tak ada gebrakan pintu atau apa pun, pegawai hotel bahkan membantu dengan mudah membukakan kunci kamar tersebut.


Brakk!!


Pintu di dorong sangat kuat, suasana ruangan gelap tetapi ada suara seorang wanita di ranjang dengan seseorang dan jelas saja, Sky mendekat menajamkan telingannya. Ia paham betul itu suara istrinya. Ia sudah sangat marah dan ingin menangkap basah istrinya. Laki-laki itu menghidupkan lampu dan seketika


Surprise...!!!


Kemarahan yang sudah di ujung tanduk siap di luapkan pun, menguap dan berganti dengan wajah bengong yang tak percaya.


Pria itu menatap pemandangan di depannya, memindai matanya dari satu ke yang lainya. Ada ke dua orang tuanya yang tengah tersenyum, Bintang yang sok cuek tapi tertawa, dan ke dua martuanya serta Flora. Semua berkumpul memberikan senyuman dan selamat ulang tahun untuk Sky.


Tiba-tiba kesadarannya pulih, senyum itu mendadak masam sebab tidak menemukan istrinya di sana.


"Selamat ulang tahun Mas," ucap Disya yang datang dari arah belakang dengan membawa sebuah kue.


Sky spontan menoleh, gadis di depannya begitu cantik dengan penampilannya. Sangat berbeda dengan Sky yang terlihat berantakan dan kacau.


Pria itu tersenyum melihat istrinya, kemarahan yang sempat menguasai dirinya menguap tak tersisa berganti dengan rasa haru dan bahagia.


"Make a wish dulu," ujarnya tersenyum.


Pria itu berdoa dalam hatinya lalu meniup lilinnya. Setelahnya mengambil kue dari tangan Disya dan menyerahkan pada orang yang ada di sana dengan sembarangan.


"Aku kangen Sya?" ucap Sky dan hendak memeluk Disya, namun gadis itu malah menghindar dan berlari kecil.

__ADS_1


"Nggak mau kamu belum mandi," Disya mengumpet di belakang punggung mertuanya. Sontak membuat ruangan pecah karena mereka tertawa melihat tingkah anak mereka yang berkejaran.


__ADS_2