One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 113


__ADS_3

Pagi harinya Disya bersiap ke kampus. Sementara Sky, pria itu antara ingin berangkat tapi mukanya masih sedikit lebam, tidak berangkat tapi punya tanggungan mengajar.


"Udah Mas, di rumah aja, biar ilang dulu tuh tanda sayangnya," ledek Disya mengulum senyum.


"Tanda sayang apaan, tanda kesal iya," jawab pria itu masam.


"Ya anggap saja begitu, itulah akibatnya kalau orang suka main otot, contoh tuh Ayah Asher, keren! Bisa berbicara dengan kepala dingin," pujinya untuk mertuanya.


"Jangan bilang kamu suka sama Ayah, Ayah juga marah, lebih sangar, kamu aja belum pernah denger ceritanya," kilahnya mencari pembelaan.


"Serah deh, berangkat dulu ya sayang ..., baik-baik di rumah," pamit gadis itu senang.


Suaminya izin itu artinya jam dia bakalan kosong nanti siang. Disya benar-benar girang. Entah mengapa jam kosong sangat digemari gadis itu dan juga teman-temannya.


Sesampainya di kampus, Disya langsung disambut teman-temannya. Seperti biasa kehebohan langsung melanda begitu rempong squad memersatu bangsa. Kelas pun menjadi riuh, sambil menanti dosen yang bersiap mengajar masuk kelas.


"Mukanya cerah amat Buk, ngalahin mentari pagi?" cletuk Bila menyapa.


"Iyakah?" jawab Disya tersenyum.


"Berapa ronde?" bisik Sinta jail.


"Sialan, otak lo pada geser semua," jawabnya manyun.


"Pagi-pagi kalau bukan habis ehem-ehem, terus apa?" ledeknya masih semangat.


"Hadeh... punya teman otaknya pada mesum semua, emangnya suami istri nggak ada kegiatan lain apa, mikirnya itu mulu."


"Menjurus beb, kan emang itu yang paling asyik. Nikmat-nikmat gimana gitu!"


"Njir... pagi-pagi mesum, bikin pengen," jawab Hanum nyengir.


"Asem... gila ya lo pada, otaknya eror semua."


"Efek kurang belaian kasih sayang, lama nggak di servis, jadi halunya tinggi," jawab Sinta mengerling.


"Hmmm."


"Gue nyimak aja lah masih polos," timpal Billa.


"Makannya cari pacar sana, noh si Bisma lumayan lah."


"Apa, nama gue di sebut-sebut." Bisma yang baru saja masuk kelas tak sengaja mendengar obrolan mereka.


"Eh! Nyaut, nggak ada! Nggak usah ge er," saut Bila ketus.


"Jangan galak-galak beb, entar naksir lho?" goda Disya jail.


Bila memutar bola matanya malas.


"Pagi semua!!" Bu Mega memasuki ruangan.


"Pagi Bu...!" jawab seisi kelas.


Sembilan puluh menit pelajaran berlangsung. Jam pertama berakhir dengan tugas.


Mereka tengah membahas tugas kelompok yang di berikan Bu Mega. Ini akan menjadi tugas terbesar dan tugas akhir di semester enam ini. Kelompok masing-masing memilih regu dengan jumlah enam sampai tujuh anak, dan tugas dengan deadline cukup panjang menjelang UAS (Ulangan Akhir Semester).


"Santai dulu lah gaes sambil menunggu rancangan idenya mau bagaimana?" usul Bisma.


"Mipil aja, santai, deadline lumayan jauh," timpal Alan.


"Eh, jangan gitu dong waktunya itu loh, kadang kita susah ngumpulnya apalagi sekarang pada sibuk dengan kegiatan masing-masing," jawab Bila.

__ADS_1


"Iya bener banget, contohnya tuh si Disya paling susah di ajak ngumpul," tunjuk Sinta menyletuk.


"Ya sorry..., gimana kalau langsung bahas nanti siang aja, minimal tentuin idenya dulu mau gimana?"


"Eh, masih ada satu pertemuan kan nanti siang."


"Nggak, dosennya izin," jawab Disya spontan.


"Eh, sumpah lo. Ngarang, orang gue lihat si dogan tadi ada berkeliaran di kampus," jawabnya tak percaya.


"Masa' sih, kok gue belum lihat!"


"Mulai deh, drama queen."


"Sumpah, tadi pagi tuh doi bilangnya izin."


"Lihat aja nanti, noh tanya si Bisma yang biasanya paling up date," tunjuk Hanum mengarah pada cowo-cowo yang duduk agak berjarak.


Nggak bener tuh orang, mau pamer muka bonyoknya apa?


"Gue cabut bentar deh, ada urusan mendadak," pamitnya gusar.


"Eh, main kabur aja, kantin lah hayuk ..., lapar nih."


"Kalian duluan deh, nanti gue nyusul. Ada urusan bentar."


Disya yang gugup sedikit berlari kecil, tak begitu fokus sampai menabrak orang di sekitarnya.


"Ya ampun ..., sorry nggak sengaja," ucapnya dengan nada pelan. Cukup terkesiap melihat ponsel seseorang yang di tabrak jatuh di atas lantai.


"Eh, kalau jalan tuh lihat ..., Disya? Disya kan anak Fekon?" tanyanya nggak jadi marah.


"Iya, sorry ya ..., duh, layarnya retak nih ..., biar gue ganti deh," ujar Disya tidak enak hati.


Aldo mengulurkan tangannya, belum sempat tangan itu di jabat oleh Disya, seseorang nampak menyerobotnya.


"Saya Sky, Dosen di sini!" jawabnya bijak, langsung menyambut uluran tangan Aldo.


"Eh, Bapak? Iya Pak tahu?" jawab pria itu nyengir.


"Ngapain mojok di sini, udah sana pergi!" usirnya ketus.


Disya melongo melihat seseorang yang ingin di temuinya sedang berakting aneh di depannya.


"Ikut ke ruangan!" titahnya dingin.


Disya mengekori suaminya menuju ruangannya. Ia memilih tetap diam dan menurut saja, bersiap mendengarkan siraman rohaninya yang panjang.


"Mas, katanya izin?" tanya gadis itu tak sabaran begitu sampai di ruangan pribadi suaminya.


"Untung nggak jadi, baru juga di tinggal sebentar aja udah kejadian begini," jawabnya kesal.


"Kejadian apa Mas, itu muka kamu masih kentara lho, kalau dibuka maskernya?"


"Yang tadi itu apa, Sya? Niat banget mau caper sama cowo," jawabnya mrengut.


"Ya ampun..., Mas. Kamu itu ngegemesin banget kalau lagi cemburu." Gadis itu mencubit pipi Sky dengan gemas.


"Masih sakit sayang," protesnya seraya mengusap pipinya bekas cubitan istrinya.


"Bodo', salah siapa cemburuan, Mas ngapain masuk?"


"Mau survei aja, di rumah stress. Kalau di sini kan teralihkan," jawabnya jujur.

__ADS_1


"Terus, mau ngajar dengan muka ancur kaya gitu," ledeknya jail.


"Eh, ganteng gini di bilang ancur, sembarang banget kamu sayang," ujar pria itu menarik tangan Disya.


"Mau ngapain, ini di kampus?" Muka Disya mendadak awas melihat pergerakan suaminya yang sudah rancu.


"Enaknya ngapain?" Pria itu menaik turunkan alisnya.


"Ih... nggak mau ya ini di kampus," kilahnya penuh waspada.


Plak


Sky menabok jidat istrinya pelan. "Fiktor, pengen ya?" ledeknya sukses membuat pipi gadis itu memanas.


"Nggak ada ya, enak aja," jawabnya cepat.


"Pengen juga nggak pa-pa, nggak usah sok malu dan nolak gitu."


"Ngomong apa sih Mas, nggak jelas banget!"


Sky hanya tersenyum melihat istrinya yang salah tingkah.


"Aku mau ke kantin sudah di tungguin temen-temen, ada tugas juga dari Bu Mega, nanti aku izin ya?" pamitnya.


"Yah... padahal rencananya aku mau ajak buat jengukin Raya habis ini."


"Nggak jadi ngajar? Asyik... kosong dong!" pekiknya senang.


"Enak aja kosong, tugas lah. Jangan terlalu girang, urusan kampus tetap jalan."


"Ish... nggak tahu banget lihat mahasiswa seneng. Kasih tugasnya jangan banyak-banyak, soalnya tugas dari Bu Mega udah bejibun."


"Suka-suka aku lah, kan aku Dosennya."


"Sombong amad," jawabnya mrengut.


"Ya udah sana kalau mau ke kantin, nanti keburu masuk makul selanjutnya," titahnya mengizinkan istrinya ke luar dari ruangannya.


"Nanti harus inget waktu lho Sya, kalau nggak mau aku susulin," peringatnya tegas.


"Siap Bos!" jawab gadis itu posisi tegak.


"Pergi dulu Mas, nanti aku kabari kalau acara ngumpul aku udah selesai."


"Cancel aja deh, nanti kamu khilaf kalau udah bareng sama teman-temannya."


"Jangan mulai deh, nggak asyik banget. Baru juga aku seneng."


Sky pura-pura terdiam dan merajuk.


"Gimana dong, nggak enak kalau harus cancel, aku yang ngusulin nanti aja, masak aku yang batalin," keluhnya merasa tak enak.


"Ya udah, tapi jangan terlalu sore. Habis kamu selesai kita jalan ke rumah sakitnya."


"Duh ..., pengertiannya, makin gemes deh aku." Disya mengecup bibir Sky sekilas.


"Jangan mancing-mancing Sya, bahaya!"


"Ups... sorry Mas, sengaja," kekehnya nyengir.


"Nakal kamu!" Sky mencupit hidungnya gemas.


"Kabur ah, zona bahaya." Gadis itu langsung meninggalkan ruangan Sky, sementara pria itu sendiri hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang semakin berani menggodanya.

__ADS_1


__ADS_2