
Dalam seperkian detik Rayyan masih mematung, syok dengan pernyataan Disya. Hingga tanpa sadar gadis itu sudah berjalan menjauh. Rayyan tersadar, walaupun hatinya begitu sakit tapi rasa sayang dan cinta lebih mendominasi. Pria itu seakan tuli, menutup mata dan telinga, menyanggah kenyataan yang ada. Berlari mengejar Disya yang terus berjalan menjauh. Hingga tanpa sadar menubruk Disya membawa dalam pelukan.
"Jangan pergi Sya, aku tidak peduli dengan keadaanmu saat ini, I love you too Disya Anggita, tolong cabut kata-kata putus itu."
Cinta telah membutakan keadaan Rayyan, bahkan lelaki itu tidak peduli sekalipun Disya mengandung anak orang lain, Rayyan tetap mencintai Disya dengan setulus hati. Rasa sakit dan kecewa itu masih begitu terasa tapi rasa sayang dan cintanya melebihi apapun, pernyataan itu tak ubah butiran debu yang tergerus angin, menghilang dengan senyap tertimbun kasih sayang yang begitu dalam.
Disya terkesiap dengan sikap Rayyan. Lebih ketidak percaya Rayyan akan mengejarnya. Mengingat kesalahan yang ia lakukan sangat memalukan dan begitu menyakitkan.
"Jangan lakukan itu kak, itu seperti tidak adil untuk kakak. Kakak berhak mendapatkan gadis yang lebih pantas," ucap Disya sendu. Sudut matanya yang masih basah kian deras membasahi pipi.
Rayyan masih bertahan memeluk Disya dari belakang, seoalah tidak ingin melepaskan gadisnya yang sangat ia rindukan. Berita pesan tiga hari yang lalu cukup membuat hati nya terguncang, bahkan ia terlihat seperti orang gila yang menyedihkan. Ia tidak bisa hidup tanpa Disya, dan sudah sepantasnya cinta menerima apa adanya.
"Aku akan tetap menikahimu," ucap Rayyan yakin. "Aku tidak peduli kamu mengandung anak orang lain, aku tidak membenarkan kesalahan mu tapi yang aku tahu kamu mencintaiku, kita saling mencintai," sambung pria itu.
Disya tercekat di tempat, ada rasa bahagia, haru dan cukup sedih, ternyata sedalam itu perasaan Rayyan untuk nya. Bahkan, pria itu tetap mau menerimanya dalam keadaan dirinya yang begitu kacau.
"Siapa ayah dari janin itu Sya?" tanya Rayyan pilu.
Disya menggeleng lemah, ia tidak akan memberitahu kepada siapapun terlebih kepada Rayyan. Dia akan sangat hancur mengetahui sahabatnya sendirilah yang menanam benih di rahim kekasihnya.
"Jangan menangis, aku yang akan bertanggung jawab. Ayo kita menikah." Rayyan membalikkan tubuh Disya agar menatapnya, kini mereka saling berhadapan dengan Disya yang menangis pilu.
"Kakak yakin?" Suara Disya bergetar.
Rayyan mengangguk dengan yakin. Sejauh ini mengenal gadisnya begitu lembut dan tulus mencintainya, Rayyan yakin dengan apa yang Disya katakan, Disya melakukan itu tanpa sengaja dan tanpa kesadaran.
"Kenapa bisa terjadi, apa seseorang telah menodai mu?" tanyanya dengan menahan gejolak di dada yang semakin perih.
Disya lagi-lagi menggeleng, ia pun akhirnya menceritakan kronologi satu malam kelam yang teramat ia sesalinya. Disya hanya menceritakan sebagian saja, bahkan Disya tidak mengatakan itu Sky. Biar bagaimana pun mereka bersahabat dan Disya takut itu akan memperburuk keadaan mereka.
"Jangan menangis, anak ini akan punya Ayah, aku akan tetap menikahimu."
__ADS_1
Mendengar pernyataan Rayyan entah mengapa hati Disya begitu sakit. Sakit karena telah begitu mengecewakan tapi Rayyan masih memaafkan dengan begitu tulus.
Rayyan menyeka air mata Disya yang terus berdesakan keluar. Pria itu langsung merengkuh nya membawa kekasih hatinya ke dalam pelukan.
Berbeda dengan suasana hati Disya dan Rayyan yang mengharu biru. Di sisi lain ada hati yang begitu terbakar cemburu.
Pria itu adalah Sky, datang ke taman di waktu yang sama dengan sengaja. Sky merasa cemas dan penasaran dengan keadaan Disya, pria itu terus mengikuti kemana mobil Disya melaju. Sky ikut turun dari mobil yang ia kendarai begitu Disya memasuki taman. Ia cukup penasaran dengan hal penting apa yang ingin Disya lakukan.
Deg
Jantung Sky berpacu dengan cepat begitu melihat Disya dan Rayyan saling bertemu dengan saling memeluk, ada rasa tidak rela melihat kejadian live tersebut. Sky terus mengamati interaksi mereka walaupun itu membuat dadanya sesak. Jujur Sky cemburu, iya sangat cemburu entah mengapa dirinya merasa memiliki gadis itu walaupun Disya terus menolaknya.
Sky masih setia bagai penguntit, ia tidak peduli dengan julukan itu. Ia harus mengetahui apa yang ingin gadis itu lakukan. Bibir pria itu membuat lengkungan kala mendengar mereka mengakhiri hubungannya walaupun dengan terpaksa. Katakanlah dirinya jahat tersenyum di atas penderitaan sang sahabat, ia juga tidak ingin melalui lika-liku seperti ini tapi skenario Tuhan tak bisa di tolak ataupun di hindari semuanya berjalan atas izin-Nya.
Tiba-tiba Sky merasa kecewa dan marah mendengar pernyataan gadis itu, Disya bahkan terus menyangkal hal itu ketika dirinya bertanya namun kenapa ia seolah menutupinya dari Sky. Sebelumnya Sky sudah menduga hal itu tapi masih samar, sekarang begitu jelas ia mendengar sendiri pernyataan Disya. Entah mengapa ia lega dan senang atas pernyataan Disya tentang kehamilannya, walaupun sangat kecewa dengan ketidakjujurannya dengannya.
Sky tidak tega melihat Disya yang terus menangis, langkah kakinya berjalan terus mengikuti dari jauh, rasanya ingin sekali membawa tubuh Disya ke dalam pelukannya dan menenangkan gadis itu. Tapi ia tak punya cukup nyali untuk melakukannya, ia sadar Disya tidak menyukainya.
"Apa-apaan, hello... itu anak gue ya! gue yang bakalan nikahin Disya," gumamnya yakin.
Ingin sekali pria itu mengatakannya dengan lantang tapi tentu saja itu tidak mungkin, Disya bahkan tega menyangkal dan menyembunyikan pernyataan ini darinya. Kenapa Disya?
Darah kecemburuan Sky mendidih tatkala melihat dengan terang Rayyan mencoba mencium bibir Disya lembut. Panas, sesak dan tentu saja marah. Tidak ada yang boleh menyentuhnya terkecuali dirinya termasuk Rayyan sekalipun.
Klontang!!!
Sky sengaja melempar botol bekas di sisi mereka untuk membuat mereka sadar, bahwa kenyataannya buka hanya mereka berdua yang ada di sini, tapi ada juga orang lain.
Kedua insan yang sedang di mabuk rindu itu terkesiap dan langsung memisahkan diri. Sky menatap Disya tajam dengan mata menyala.
"Sorry gue nggak tahu kalau di sini ada orang," ucap pria itu tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
"Hai bro, lo di sini? Lagi apa?" tanya Rayyan santai.
"Menunggu seseorang juga," sambungnya tanpa rasa curiga.
Disya menunduk dengan gugup, entah mengapa ia merasa seperti sedang tertangkap basah berdua dengan Rayyan. Seharusnya Disya cuek dan biasa saja, tapi tatapan Sky benar-benar mengerikan.
Tiba-tiba handphone Rayyan berbunyi, ada panggilan dari rumah sakit, pria itu cukup tenang karena sudah mendapatkan vitaminnya. Ya tentu saja, mereka baru saja bermesraan kembali setelah hujan tangis.
"Ada apa?" tanya Disya.
"Aku harus ke rumah sakit sekarang, ini kunci mobilmu dan pulang sekarang, jangan pikirkan dan jangan khawatir kita akan melewati bersama."
Sebelum beranjak Rayyan mengecup kening Disya dengan lembut dan meraba perut Disya seolah itu buah cinta mereka. Sky membuang muka benar-benar pemandangan yang manis sekali, tapi mampu membakar raga dan jiwa.
Bersambung
.
.
Ayo dukung karya ini dengan tap love...
Like
Comment
Vote
Terimakasih untuk readers yang sudah mengikuti cerita ini dan yang sudah memberikan dukungannya.
Love you all....
__ADS_1