
Sky mulai cemas ketika panggilan telfonnya di abaikan begitu saja. Pria itu nekat mendekati tenda Disya dan sedikit mengintip. Suasana di sekitar tenda cukup sepi, semua itu di karenakan penghuninya tengah asyik bercengkrama di luar.
Jaraknya tidak begitu jauh dengan posisi anak-anak bergerombol, namun karena mereka tengah ngobrol asyik dengan kegiatan sendiri, serta beberapa orang yang cuek berlalu lalang membuat suasana aman terkendali.
Sky dengan beraninya masuk menerobos tenda Disya, di mana istrinya tengah tertidur meringkuk menahan desisan sakit. Gadis itu bahkan merintih menahan sakit yang tak kunjung reda. Beberapa kali Disya mencoba merilekskan tubuhnya, dengan cara menghirup udara banyak-banyak melalui hidung dan membuangnya melalui mulut pun ia coba, sedikit membantu namun masih terasa.
"Sya, kamu kenapa? Kram lagi?" tanya Sky khawatir. Pria itu langsung mendekat dan duduk di sebelah Disya.
"Iya." Disya sedikit terkejut melihat Sky sudah berada di dekatnya.
"Bapak jangan ke sini, nanti kalau ada yang lihat bisa salah paham," ucap gadis itu gusar.
"Bentar doang Sya, aku khawatir. Udah, kamu tenang aja ya, aku beli mulut mereka yang berani gosipin kamu. Diem, kamu harus rileks dulu," ujar Sky. Tangan pria itu terulur mengelus perut Disya yang masih rata.
Disya terdiam, membiarkan saja Sky melakukan semua itu. Gadis itu memejamkan matanya, menikmati sentuhan halus suaminya yang seketika mampu merubah suasana hatinya begitu damai.
Lagi-lagi sungguh ajaib, rasa kram itu pun berangsur menghilang dan berganti dengan rasa yang begitu tenang dan nyaman. Benar-benar anak Daharyadika Ausky, tidak salah lagi.
"Gimana Sya, masih sakit?" tanya pria itu memastikan.
"Nggak, udah makasih," jawab Disya sedikit gugup.
Gadis itu mengalihkan pandangannya kesamping, tak mampu menatap balik netra hitam suaminya yang tengah menatapnya lekat.
"Jangan lihatin saya terus Pak, nggak enak tahu," protesnya canggung. Disya salah tingkah sendiri.
Pria itu mengulum senyum, Disya selalu terlihat menggemaskan di saat malu-malu jutek.
"Anak ayah pasti kangen ya? Jangan rewel sayang, kasihan Bunda jadi sakit?" Pria itu bukan hanya mengelus perut Disya tapi menciuminya secara perlahan.
Ada desiran aneh yang melingkupi hati Disya, hatinya menghangat begitu tenang.
"Kamu pasti kecapean, lebih baik istirahat saja." Pria itu menutup pertemuan mendebarkan mereka dengan menyematkan tanda bintang di leher Disya.
Manik hitam Disya membelalak, jantung gadis itu berpacu dengan cepat, suaminya itu benar-benar nekat. Disya hanya pasrah dan berdoa semoga aksi mereka tidak kepergok mahasiswa lainnya.
Dalam durasi satu menit, pria itu bahkan sangat menikmati aroma tubuh istrinya yang begitu mendamaikan hatinya.
"Ikh... Mas, nakal banget... ini sih pasti membekas," keluh Disya mrengut.
"Nggak pa-pa, dikit doang. Pingin buat di area yang tertutup, kamu pasti nggak ngebolehin," jawabnya santai.
__ADS_1
Hening
Kalau sudah begini, lebih baik Disya diam. Takut salah, mengucapkan kosa kata yang bisa mengancam debaran hatinya.
"Ya udah sana ke luar, tunggu apa lagi?"
"Pingin bobok di sini," jawabnya tenang.
"Hah! Ngawur saja kamu, nggak mungkin lah..."
"Sana...! cepet ke luar." Disya agak mendorong dada Sky dengan tangannya.
Pria itu bergeming, menangkap tangan Disya yang menempel pada dada bidangnya lalu membawa ke dalam bibir pria itu untuk di cium.
"Jangan ngusir nanti kamu kangen," selorohnya tersenyum.
"Nggak bakalan, kan udah ketemu. Ke luar Mas... nanti kalau ketahuan anak-anak gimana?"
"Malah bagus dong, kita ke grebek. Hehehe..."
"Ikh... nggak lucu banget, Dosen dan mahasiswanya ketangkap basah berdua di dalam tenda kemah," jelas Disya.
"Iya deh iya, aku ke luar ya? Awas jangan kangen, kamu istirahat saja, biar besok pagi lebih seger."
Sky ke luar dengan santainya, tanpa di sengaja berbarengan dengan Rara yang mau masuk karena ingin mengambil jaket.
"Bapak?! Ngapain di sini?" tanya Rara cukup kaget melihat pria itu menyembul dari dalam tendanya.
"Salam masuk tenda," jawabnya dingin dan tenang.
"Oh..." gadis itu manggut-manggut. "What!!! Kok bisa, alasan tidak logis," gerutunya seraya menatap punggung Dosennya yang sudah berjalan menjauh.
"Omegot... Disya kan ada di dalam, nggak mungkin banget kan Disya sama Pak Sky cinlok? Mungkin nggak sih?" monolog Rara.
"Sungguh membanggongkan, ada sesuatu kah??"
Rara segera masuk ke dalam tenda dan ingin menanyakan hal langsung atas kegundahan hatinya. Namun apa, Disya bahkan sudah terlelap ketika Rara masuk, gadis itu tidur dengan nyenyaknya.
"Oemji bocah? Jam segini molor...?" pekiknya di sebelah Disya, berharap perempuan itu sedikit terusik dan membuka matanya, dirinya sungguh benar-benar penasaran atas kunjungan salah tenda Pak Sky.
"Sya, Sya...! Bangun..." Rara mencoba menjentikkan jari tangannya ke depan mukanya tetapi tidak ada respon.
__ADS_1
"Buset dah!! Tidur beneran?" Rara masih belum menyerah, gadis itu menggoyang pelan bahu Disya.
"Sya, tadi ada orang masuk ke tenda lo tahu apa tidur???"
"Hmmm... apa sih Ra, gue ngantuk. Gangguin aja?"
"Tadi pak Sky dari sini?"
Disya yang sudah hampir terbang ke alam mimpi langsung terjingkat. Gadis itu mengira Rara melihat semuanya.
"Lo... tidur atau..."
"Nggak tahu, nggak ada orang yang masuk," di jawab Disya dengan cepat.
"Udah ya, gue mau tidur. Ngantuk." Disya kembali merebahkan tubuhnya dan berharap Rara tidak lagi bertanya.
***
Suasana pagi hari di kota bogor masih menunjuk di angka tujuh, para mahasiswa sudah berkumpul di tengah lapangan sedang mendapat siraman pesan dari Bisma.
"Oke, teman-teman teman... sebelum berangkat mari kita berdo'a terlebih dahulu semoga kegiatan hari ini di berikan kelancaran tanpa ada halangan suatu apapun.
"Sudah tahu kan tempat tujuan kita, untuk panitia mungkin sudah tahu ya? Karena ada sedikit perubahan, berdasarkan keputusan musyawarah tadi malam. Tapi untuk peserta teman-temannya kemah lainya belum ya? Jadi, kunjungan pagi ini kita bakalan mengunjungi pariwisata alam yang sangat indah, dan pastinya bisa memulihkan kembali pikiran kita setelah dua hari kemarin lumayan padat dan sibuk," jelas Bisma panjang, lebar dan tinggi.
Setinggi angan-angan reader yang selalu minta double up, ups... sorry... yang ini author becanda. Hehehe
Semua mahasiswa menyambut ocehan Bisma dengan senang hati, mereka menyambut antusias dan bayangan kesegaran air terjun pun langsung berseliweran di depan mata ketika Bisma menyebut, Curug Putri Kencana.
Berangkat sengaja di setting lebih pagi agar perjalanan lancar dan tentunya masih menemukan udara yang fresh dan sejuk. Serta masih belum banyak pengunjung lainnya yang datang ke tempat lokasi.
Lokasi tersebut di pilih karena jaraknya paling dekat dengan lokasi perkemahan mereka. Kami tiba di lokasi pukul delapan pagi, dan... suasananya sungguh asri.
Mata Sky tak pernah lepas dari pandangan Disya, pria itu diam-diam terus mengawasi istrinya yang nampak tersenyum senang ketika mobil yang membawa mereka tiba di tempat tujuan.
"Pak, tunggu dong Pak, jalannya barengan." itu suara bu Mega. Perempuan itu sedari pagi menempel Sky bak perangko. Ngintilin di belakang pria itu.
"Ibu jalannya duluan saja, silahkan Bu..." ucapnya sungkan.
"Wah... nggak enak banget, barengan aja Pak biar saya ada teman ngobrolnya. Eh... Pak, Pak! Tunggu...!" perempuan itu meraih kaus Sky untuk kemudian menarik ujungnya hingga mereka terlihat bagai magnet yang menempel.
"Cie... bu Mega...! ehem... ehem...!"
__ADS_1
Mereka sampe di cie... cie... mahasiswa yang melihat, sontak pemandangan itu menarik perhatian sekitar dan tanpa di nyana Disya juga melihat. Gadis itu diam saja, bersikap masa bodoh namun tanpa terlihat terlalu kentara diam-diam Disya terus memperhatikan interaksi ke duanya.
Dasar pria!! batin Disya sedikit kesal.