
Sesampainya di kamar hotel, Disya langsung melepas gaun yang melilit tubuhnya. Perempuan itu melepas begitu saja di depan suaminya. Tak peduli Sky susah payah mengendalikan dirinya yang selalu tergiur dengan tubuh istrinya yang menggoda.
"Sya, kamu memberi santapan bagi singa lapar," celetuknya mendekat, langsung memeluk dari belakang.
"Minggir, lepasin Mas, aku gerah, capek dan pingin mual," keluhnya dan langsung lemas.
"Sayang ... kamu kenapa? Muka kamu pucet?"
"Aku mau makan, lapar Mas." Mulutnya berucap agar Sky menjauh tapi tubuh perempuan itu memeluk suaminya begitu manja.
"Sya, pakai baju dulu ... aku nggak kuat kalau kaya gini."
"Nggak mau, gerah. Aku mau pakai yang tipis aja. Ambilinlah ... "
"Lepas dulu pelukannya sayang, kamu membuat aku gerah."
"Eh, kenapa Mas nempelin aku terus, perasaan kamu di suruh minggir dari tadi."
Sky menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, terserah istrinya saja lah, suka-suka bumil bertingkah seperti apa. Tak berselang lama, pintu hotel mereka di ketuk ada petugas yang mengirim makanan dan minuman pesanan pengantin tersebut. Sky hanya membuka pintu separonya saja sebab istrinya hanya memakai dalaman dan sudah naik ke atas ranjang.
"Maem dulu, kita masih banyak acara sayang."
"Hmm, suapin ... " pintanya manja.
Sky menaruh nampan di atas nakas, lebih dulu mengambil pakaian untuk istrinya.
"Ganti dulu, riasan kamu hancur banget nanti bakalan lama benerinnya."
"Bodoamat ... ahk ... capek ... pikir nanti aja."
Sky menyuapi dengan telaten, acara resepsi seasons ke dua akan di lanjutkan sore hari sampai malam nanti. Jadi, sisa hari sebelum di make up kembali Disya benar-benar mengistirahatkan tubuhnya di kasur dengan berselonjoran sambil makan.
"Udah Mas, kenyang," tolaknya ketika Sky ingin menambah suapan ke mulutnya.
__ADS_1
"Mau apa lagi, mumpung aku masih full tenaga."
"Mau kamu," jawabnya dengan nada sensual.
"Beneran? Nanti susah jalan lho, kita malah terancam gagal resepsi season ke dua karena pengantinnya ngoyo di kamar hotel."
"Mau kamu mijetin aku Mas ... kakiku pegel," keluhnya tersenyum.
"Owh ... Mas kira, mau yang lain. Hehehe"
Disya mrengut, detik berikutnya tersenyum dengan tingkah mereka berdua. Perempuan itu membaringkan tubuhnya di ranjang, merilekskan tubuhnya yang terasa capek dan pegal. Sky mengikutinya setelah memijit kaki istrinya yang katanya nyut-nyutan karena capek.
Sky membiarkan Disya terlelap sebentar, sebelum acara di mulai.
Pria itu meninggalkan kamar hotel dan bergabung di living room bersama keluarga besar lainnya.
"Disya mana? Sepertinya tadi kecapean?" Bunda Yuki menghawatirkan menantunya.
"Lagi bobok bentar Bun, kasian dia, berdiri berjam-jam."
"Lihat nanti Bun, ini kan kemauan Disya yang pingin cepet selesai."
Habis resepsi keluarga besar mau ngadain family trip yang pastinya bakalan seru abis. Disya dan Sky cukup mengikuti saja, karena sebenarnya mereka juga punya agenda sendiri. Hampir seluruh keluarga besar dari Pak Daharyadika dan juga Amar Wibisono hadir dalam acara syukuran cucu mereka.
Walaupun Opa dengan bantuan kursi roda, pria sepuh itu tersenyum bahagia untuk cucunya. Bahkan Sky akan langsung naik pangkat setelah peresmian acara pernikahan mereka. Usia muda mampu membawa pria itu mengemban amanah yang besar.
Acara malam tak kalah seru, santai tapi cukup elegan. Terkhusus untuk sahabat-sahabat mereka menemani hingga akhir. Rayyan hadir malam itu dengan bingkisan kecil di tangannya.
Kira-kira apa ya? Hadiah untuk mantan dan calon iparnya versi Rayyan, karena Bintang masih enggan menemuinya. Setelah memberi selamat untuk ke dua mempelai, Rayyan lebih dulu menyapa ke dua orang tua Sky, dan mantan calon mertuanya.
Rayyan memeluk erat Papa Amar dan juga Mama Amy, mereka membisikan kata lirih yang hanya di dengar ke duanya. Mama Amy mengusap pundak pria itu, mendoakan jodoh yang terbaik untuk pria yang pernah dekat dengan anaknya. Pria itu tersenyum haru, rasa sakit yang pernah hinggap kini perlahan mengikis dan semakin ikhlas menyambut kehidupan baru.
Walaupun belum ada setitik cerah yang menyambut di depan mata. Setidaknya ia mampu bangkit dan mengobati lukanya sendiri.
__ADS_1
"Tante, bolehkah aku menemui Bintang?" izin Rayyan pada Bunda Yuki yang tengah duduk di antara tamu lain.
Yuki mengangguk, mengobrol untuk ke duanya memang perlu. Ke dua belah pihak tak pernah memaksa, terlebih insiden kemarin hanya salah paham saja. Keluarga juga sepakat menyerahkan keputusan asmara pada anak-anak mereka. Tidak ingin memaksa, karena pada akhirnya mereka yang menjalani ini semua.
Bintang tengah duduk di gazebo buatan yang di setting sebagai tempat foto tamu undangan ketika seseorang menyerukan namanya.
"Bintang ...?" seru Rayyan menghampiri, gadis itu posisi memunggungi arah Rayyan.
Gadis itu menoleh, mendapati pria yang pernah mengusik hatinya tengah berdiri tepat segaris dengan dirinya. Rayyan tersenyum, selangkah lebih mendekat mengikis jarak di antara ke duanya.
"Hai ... " sapanya canggung. Semenjak kejadian itu mereka benar-benar lepas kontak, Bintang membatasi diri untuk tidak berhubungan dengan jenis pria mana pun.
Bintang tersenyum tipis, jujur ia bingung sendiri menghadapi Rayyan. Hatinya sudah terlanjur damai, setelah sempat tak terbentuk. Rasanya dipermainkan itu sakit, apalagi dengan motif yang tak biasa.
"Aku menunggu moment ini, di mana kita bisa bertemu, dan bisa mengobrol bareng, aku tahu mungkin kamu enggan, tapi ... biarkanlah hati ini menjemput hati yang tertinggal."
"Ku pikir tidak akan pernah lagi cerita tentang kita, karena memang dari pertama kita tidak pernah membangun, kecewanya hati yang pernah singgah sudah cukup memberi bukti, bahwa kita berada dalam zona yang berbeda."
"Apakah antara aku dan kamu tidak mau memberi kesempatan untuk menjadi kita? Mungkin saja hati yang kosong bisa terobati, membalas semua luka yang telah ku beri."
"Baiklah, aku akan menurut jika kamu menjadi pemaksa, tapi aku punya permintaan, dan syarat yang harus kamu tepati, sesuai janjimu padaku yang pernah kau ucap."
"Apa?" Mata mereka saling bersirobok, Rayyan menunggu perkataan dari Bintang dengan gusar, sementara Bintang sendiri nampak membuang napas panjang."
"Aku ... ingin menagih janjimu."
"Janji?"
"Iya, makasih udah semangatin aku belajar, makasih udah hadir memberi warna dalam hatiku, dan makasih udah memberi kenangan yang terekam dalam memoriku."
"Aku ingin terus mengukir cerita bersamamu Bintang, tidakkah kamu berbelas kasihan pada hatiku yang berminggu-minggu menahan rindu?"
Bintang kembali tersenyum, bibirnya kelu untuk berucap. Sedikit rasa pernah ada perasaan yang sama, walaupun itu terlambat di sadari, setelah gadis itu sadar ia benar-benar terjatuh dalam jurang yang terlalu dalam.
__ADS_1
"Kak Ray pernah berjanji akan memberikan aku apa saja kalau aku mendapatkan nilai lima besar. Aku semangat belajar kak, dan aku dapat nilai itu, sekarang sudah saatnya kak Ray menepati janji itu."
"Kamu mau apa?"