One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 27


__ADS_3

Pagi harinya Disya terbangun pukul setengah tujuh, seperti biasa setelah Mama membangunkan dengan kecepatan berbicara yang entah berapa oktaf per menit. Yang jelas cukup panjang kali lebar dan tinggi sampe rasanya gendang telinga Disya ingin pecah.


Mama Amy ini sungguh Ibu yang luar biasa, luar biasa sering membuat gadis bernama Disya ini kesal di setiap pagi.


"Mah sans dong, Disya itu ada jadwal kuliah setengah sepuluh jadi Mama tenang aja deh, nggak bakalan telat. Mama keluar dulu sana Disya masih ngantuk," ujar gadis itu sewot.


"Anak gadis itu bangunnya jangan siang-siang, kamu harus biasakan diri, latihan biar nanti kalau sudah menikah terbiasa bangun pagi karena akan bertugas menyiapkan keperluan suami." Nasihat Mama Amy yang entah sudah keberapa kali Mama Amy katakan. Disya sampe hafal di luar kepala.


Disya menurut walaupun dengan malas gadis itu tetap bangun dan berjalan menuju kamar mandi membersihkan diri.


Pukul setengah delapan semua sudah berkumpul di meja makan tak terkecuali Disya. Gadis itu duduk dengan anteng menunggu yang lain mengisi piring masing-masing.


"Semalam pulang jam berapa Sya?" tanya Papa Amar, Ayahnya ini memang belum ketemu dengannya lagi semenjak sore harinya Disya pamit.


"Jam sembilan kurang dikit, emang kenapa Pa?"


"Pantes Papa nggak lihat, Papa mau bicara serius sama kamu?"


"Ngomong aja Pa, sekarang juga boleh?"


"Kamu kapan siapnya di lamar, langsung menikah juga boleh? Papa dan Mama," Amar melirik Mama Amy, "sudah sepakat menikahkan kamu duluan sebelum Flora demi kebaikan bersama," ujar nya.


Disya terdiam memikirkan banyak hal yang tersimpan di otaknya.


"Rayyan belum ada ngomong lagi sama Disya Pa? Disya masih ingin main dan menikmati hari dulu tanpa status pernikahan, tunangan dulu kali Pa, kenapa terkesan jadi buru-buru lagian kak Flora juga belum nikah, itu kan Mama dan Papa selalu bilang gitu."


"Dulu iya, tapi sekarang bahkan Flora tidak masalah dilangkahi dulu, kamu boleh menikah dengan Rayyan secepatnya," ujar Papah Amar kukuh.


"Kamu bisa bicarakan nanti, enaknya gimana kalian kan yang akan menjalani," sambung Amar seraya sesekali memasukan makanan ke mulutnya.


Menikah dengan Rayyan adalah salah satu impiannya, bahkan salah satu daftar list dalam hidupnya yang tercatat di memori otaknya. Tapi entah mengapa Disya merasa takut, takut membuat pria itu kecewa. Jujur Disya takut Rayyan marah terlebih meninggalkannya, Disya terlanjur sayang walau pada kenyataannya Disya yang membuat masalah.


"Ya sudah Papa tunggu jawabannya secepatnya, Papa berangkat dulu Ma," pamit Amar dan meninggalkan meja makan. Seperti biasa Mama selalu mengantar Papa sampai teras depan, sementara Disya masih setia di meja makan berusaha menghabiskan nasi goreng yang tinggal separonya.


Tidak berselang lama setelah Amar berangkat ke kantor, Disya juga memutuskan berangkat ke kampus walau pada kenyataannya masih terlalu pagi. Disya sedang malas mengemudi jadi gadis itu pagi ini memilih memesan taksi online saja untuk mengantarkan ke kampusnya.


___


"Hot news gaes...!" Grace si mulut cabe langsung heboh.


"Apaan Grace? Kalau kasih info itu yang falid jangan setengah-setengah."


"Gue kemarin lihat anak kelas kita jalan sama sugar daddy, cetar nggak tuh nggak tanggung-tanggung main nya ke hotel woy...."


"Siapa?" tanya Amel antusias.

__ADS_1


"Siapa bek, bacot lo kalau ngegosip yang bener jangan bikin kita penasaran," ujar Hanum kesal.


"Rahasia, mau tahu apa mau tahu banget!"


"Idih... rempong Gribik lebay, kaya emak-emak lu!"


"Grace ya bukan Gribik," ralat nya cepat.


"Serah! Gue nggak peduli mau Grace mau Gribik bacot lo kaya cabe rawit lima belas kilo."


"Eh Hamidah, gosip gue selalu aktual, tajam dan terpercaya?"


"HANUM, Hamidah noh tetangga gue tukang jahit nggak usah di bawa- bawa kualat lo," ujar Hanum sengit.


"Sebodo... wle..."


"Pagi gaes...." Disya datang dengan semangat empat lima mengibaskan rambutnya yang sebahu.


"Pagi Disyayang..." Alan langsung menyambutnya.


"Masih pada mau kepo nggak nih...!" ujar Grace heboh.


"Apaan, pagi-pagi bikin telinga gue budeg. Suara lo kaya audio rusak tahu nggak?"


"Terus masalah lo apa, hobby banget hidup lo ngurusin hidup orang."


"Siapa sih Grace bikin penasaran aja!"


"Sinta!" seru Grace semangat. Sinta yang tadinya masih santai berubah jadi diam gara-gara namanya di sebut.


"Sumpah lo beb, diem-diem bae," Hanum ikut kaget.


"Pagi semuanya...!" seru Sky memasuki kelas.


"Pagi Pak...!!" jawab satu kelas kompak.


Sky mulai membuka materi dengan serius.


"Materi kali ini meneruskan yang kemarin berkelompok. Silahkan resume hal seratus lima belas sampe seratus tiga puluh, diskusikan buat laporan, makalah dan presentasikan ke depan di pertemuan minggu depan."


"Ada yang mau di tanyakan?" seru Sky.


"Kelompoknya milih sendiri apa di acak Pak?"


"Milih sendiri, satu kelas ada berapa ya mana nih penanggung jawab mata kuliah saya?"

__ADS_1


"Empat puluh enam Pak!" jawab Disya seadanya.


"Tolong bagi kelompoknya ada yang tujuh ada yang enam, pastikan semua bekerja bagi yang hanya nebeng nama silahkan coret saja," ujar Dosen Sky.


Seisi kelas mulai rame membentuk kelompok sesuai dengan rekan yang diinginkan. Disya pun seperti biasa membentuk kelompok dirinya. Kelompok Disya, seperti biasa Bila, Hanum, Sinta, Bisma, Faro dan Alan.


Waktu sembilan puluh menit pun berlalu Sky mengakhiri pertemuan kali ini. Tugas di presentasikan minggu depan.


"Untuk tugas kemarin ada satu anak yang belum masuk ke email saya, tidak ada toleransi silahkan datang ke ruangan saya," ucap Sky seraya menatap tajam Disya lalu pergi meninggalkan ruangan.


"Hayo... siapa yang belum ngumpulin tugas, PJ mana PJ," ujar Bisma menginterupsi.


Nggak ada yang ngegubris, kelas gaduh sibuk dengan aktifitas masing-masing. Termasuk si pelaku Disya pun tidak ada niatan untuk menemui Dosen Sky, gadis itu sengaja tidak mengirim tugasnya tentu saja kesal gara-gara semalam dia di sekap di apartemen nya. Disya tidak peduli kali ini benar-benar malas, entahlah pikirkan saja nanti atau besok yang jelas Disya tidak ingin menemui Dosen itu.


"Jadi kerjakan kapan nih?" ujar Bisma wanti-wanti, laki-laki itu cukup sibuk dengan kegiatan organisasinya jadi meminta kepastian.


"Nanti di bahas sambil rebahan deh, ada gadget gue yang jelas weekend ini nggak bisa," ujar Disya menyerukan isi hatinya.


"Oke kita cabut deh, calling-calling saja."


"Nah- nah belum apa-apa saja sudah ada yang nggak bisa." Bila menjawab.


"Gue juga nggak bisa," ujar Sinta.


"Lo? Jadi gosip ternews bener?"


"Omoo... siapa Sin, Pak Reno? Udah berapa lama kok gue nggak tahu."


"Enam bulan," jawab Sinta nyengir.


"Reno si batu bara? Gila gue kira lo cuma main-main aja."


Saat ini kelas sudah sepi dan tinggalah tersisa ciwi-ciwi empat orang yang masih asyik bergosip, setelah Faro, Bisma dan Alan meninggalkan kelas.


"Jadi lo selama ini pacaran sama sugar daddy?" tuduh Bila yang sedang sibuk mencatok rambutnya.


Kelas sudah sepi tapi mereka masih senang menghuni dengan kesibukan yang haqiqi. Ada yang ngecas ponsel, ada juga yang seperti Bila sedang menggunakan listrik kampus untuk kepentingan kecantikan yaitu mencatok rambutnya.


"Dia dewasa dan gue sayang," jawab Sinta cuek.


"Shhtt...!!!"


"Lo kenapa nggak bisa Sya?"


"Biasa dia mah mau jalan sama kak Rayyan?"

__ADS_1


__ADS_2