
Setelahnya mereka saling menatap dalam napas yang masih memburu. Pria itu membelai pipi istrinya dengan punggung tangannya. Kemudian terakhir meninggalkan jejak sayang di kening Disya lebih lama.
"Makasih sayang... untuk vitaminnya malam ini," ucapnya dengan tatapan sayu kemudian kembali memeluk Disya untuk menempel pada dada pria itu.
Disya mengangguk, ada perasaan hangat dan damai yang melingkupi hatinya. Ada juga perasaan rasa bersalah karena belum bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Disya membalas pelukan hangat suaminya, perempuan itu langsung tertidur dalam dekapan yang selaras.
Lain Disya lain juga Sky, pria itu bahkan tak bisa terlelap barang sedikitpun. Kepalanya pening, sesuatu yang di bawah sana meminta ingin di tuntaskan. Ia berusaha menepis dan mencoba menutup matanya, namun lagi-lagi gagal, boro-boro terlelap pria itu justru merasa gerah.
Sial, rutuk Sky dalam hati. Mencoba menatap kembali wajah istrinya yang sudah terlelap damai. Untuk meredamkan hasratnya pria itu memilih untuk mengguyur tubuhnya yang terasa panas.
Paginya Disya terjaga lebih dulu, pemandangan pertama yang ia lihat adalah muka bantal Sky yang tetap terlihat rupawan. Gadis itu beringsut mengendurkan dekapan suaminya. Ia mengangkat lengan kekar Sky yang masih setia melingkar di pinggangnya dengan hati-hati.
"Huhf.... aman...," gumam Disya merasa lega setelah berhasil memindai tangan Sky dari pinggangnya.
Disya hendak turun dari ranjang ketika tiba-tiba, seseorang langsung memeluknya dari belakang, siapa lagi pelakunya, sudah pasti Sky yang masih enggan berpisah dengan ranjang empuknya.
"Sya? Pagi banget bangunnya," keluh pria itu bergelayut manja di pundak istrinya.
"Udah subuh Mas, bangun, ikut Papa ke Mushola sana," titahnya dengan nada lembut. Tangan Disya terulur mengusap kepala suaminya yang tengah menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Disya.
"Hmm," gumam pria itu belum mau beranjak.
Cup cup cup
Pria itu menghujani ciuman gemas pada pipi Disya.
"Ikh... basah Mas," protes Disya mengerucutkan bibirnya.
"Jangan digituin bibir kamu Sya, nanti aku samber protes, padahal kamu yang mancing-mancing," ledek Sky.
"Kamu mesum banget Mas, udah berapa cewek yang menjadi korban kemesuman kamu?" tanya Disya spontan.
"Nggak ada, baru kamu, cuma kamu dan hanya kamu. Itupun belum di balas, kasihan banget ya aku," jawab pria itu seraya memainkan kerah baju Disya.
"Kamu mau sabar tepatin janji kamu? Aku minta maaf Mas, jujur awalnya aku sangat benci dengan keadaan ini, aku begitu syok waktu mendapati diriku ada di kamar pria asing dan terlebih kita... telah melakukan hubungan terlarang itu, seharusnya aku pulang ke rumah kak Flora, eh malah nyasar di kamu, parah banget kamu malah kesempatan dalam ketidakberdayaan ku, aku benci banget waktu itu sama tubuhku," ujar Disya mengeluarkan uneg-unegnya.
"Aku minta maaf sayang, waktu itu aku juga baru kedatangan sahabat-sahabat aku dan mereka malah membawa minuman laknat itu, aku juga sama pengaruh alkohol jadi begitu lihat kamu tertidur di ranjang aku rasanya diriku panas, kamu percaya kan aku tidak melakukan dengan sengaja, tapi kamu nakal banget jadi cewek, untung ketemunya sama aku, coba kalau ketemu sama pria hidung belang, habis kamu Sya?"
__ADS_1
"Ikh... jahat banget ngomongnya kaya gitu, ketemu kamu juga habis," dengus Disya mrengut.
Sky terkekeh, "Aku boleh jujur nggak? Praktis semenjak hari itu aku nggak bisa ngilangin wajah kamu dalam hidupku, aku nggak bisa move on dari tubuh kamu Sya, aku pingin mengulang lagi dan lagi. Oh hari minggu cepatlah datang, agar berfungsi organ vitalku," ujar Sky dengan nada menggoda.
"Ish... mulut mu Mas, ngeri-ngeri." Disya menutup wajahnya sendiri sambil menggelengkan kepalanya, tiba-tiba pipinya terasa panas.
"Sya, muka kamu jangan di tutup. Sayang... kita honeymoon yuk, habis UTS kelar, aku rekap nilai. Kita honeymoon mau?"
"Sibuk," jawab Disya ngasal.
"Sibuk apa, kamu ada agenda lain?" tanyanya merangkum bahu Disya.
"Sibuk menata hati dan perasaan Mas, udah, mikirnya besok saja, udah sana bangun!" seru Disya sedikit mendorong tubuh Sky agar tidak terlalu dekat.
"Jamaah di rumah aja ya, udah telat ke mushola," ujar pria itu bangkit, lalu mlipir ke kamar mandi.
"Kamunya ngobrol mulu ya jadi telat." Disya ngomong sendiri sebab pria itu sudah melesat ke kamar mandi.
Pukul tujuh pagi, semua sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama.
"Sky, kapan kamu mau ngadain resepsi pernikahan kalian?" tanya Papa Amar tiba-tiba.
"Sya, kapan?" Kali ini giliran Mama Amy yang mendesak Disya.
"Apa perlu Ma, bukankah pernikahan kemarin sudah cukup," jawab Disya di tengah-tengah mengunyah makanan.
"Perlu banget dong sayang, relasi bisnis Papa kan banyak, Papa mau undang teman-teman Papa, Pak Asher juga kemarin udah ngode," jelas Pak Amar.
"Oke Pah, nanti aku dan Disya pertimbangkan, kita lagi fokus sama kampus dulu, kebetulan juga Sky sedang lumayan sibuk, Disya juga mau persiapan UTS," jelasnya bijak.
"Jangan terlalu lama mikirnya, gimana kalau habis ulangan Disya selesai, kalian langsung resepsi, nanti kandungan Disya semakin membesar, semua orang akan tahu hal itu dan Papa harap kalian memikirkannya."
"Iya Pah." Sky tentu saja tidak keberatan untuk hal itu, dirinya malah senang pernikahan mereka di ketahui hal layak banyak, tapi ia juga harus memahami Disya, gadis itu bahkan terlihat sama sekali tidak minat.
Drama sarapan selesai, dilanjutkan dengan kegiatan masing-masing. Sky dan Disya pamit dan langsung pulang, baru setelahnya pergi ke kampus seperti biasanya. Sky cukup sibuk di kampusnya, sehingga siang ini Disya memilih untuk pulang lebih dulu terlebih ada janji untuk bermain ke butik Bunda Yuki.
Disya hanya berkabar lewat pesan, untuk kemudian pamit pulang lebih dulu. Dari kampus, Disya langsung menuju Butik Bunda Yuki, YA Collection.
__ADS_1
"Sayang... sini," ucap Yuki senang melihat menantunya datang.
"Sya, Bunda seneng akhirnya kamu datang. Duduk dulu sayang, nanti Bunda punya sesuatu buat kamu?" ujar Yuki tersenyum.
"Bun, desain Bunda bagus-bagus banget," ujar Disya memindai penglihatannya dari berbagai macam gaun dan sejenisnya.
"Kamu suka yang mana sayang," Yuki menunjukan sketsa gambar gaun yang sangat indah.
"Ini Bun, cantik banget pasti kalau udah jadi," jawab Disya menunjuk gambar yang nomor dua.
"Oke, Bunda save ya?" ujarnya tersenyum.
"Sayang, Bunda punya hadiah buat kamu, jangan lupa di pakai buat malam minggu," Bunda Yuki tersenyum sementara Disya nampak canggung.
Ada apa dengan malam minggu, rasanya spesial sekali. Oh ya ampun... gue... ish... jangan bilang Sky curhat sama Bunda, terus ngomong perihal ini sama Bunda. Ihk... nyebelin banget sih tuh orang. Mau di taruh di mana muka gue kalau begini.
"Sya? Kenapa bengong sayang, ini voucher menginap di hotel, kamu tinggal datang dan nikmati fasilitasnya, ini kejutan buat Sky, dia ulang tahun sayang..." ujar Bunda Yuki menjelaskan.
"Sky ulang tahun Bun?" tanyanya lega dan sedikit terkejut. Disya pikir Sky telah berkata yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Iya, Mama bingung mau kasih kado apa, jadi... kamu adalah hal yang paling tepat untuk memberikan kejutan ini, aku yakin Sky pasti senang," ujar Mama Yuki tersenyum senang.
"Iya Bun, makasih udah di kasih tahu," ujar Disya tenang.
"Siap, habis dari sini Disya mau nggak temenin Bunda?"
"Kemana Bun?"
"Jenguk sahabat Bunda sayang, dia lagi sakit," ujar Yuki mendadak mellow.
"Iya Bun, mau."
Bunda Yuki dan Disya meninggalkan Butik, gadis itu mengekor Ibu mertuanya yang menepikan mobilnya di salah satu toko buah. Sebelum mengunjungi sahabatnya, Bunda Yuki membeli parsel untuk di jadikan buah tangan. Setelah menyelesaikan pembayaran, Bunda Yuki mengemudikan mobilnya ke rumah sakit.
"Bun, kita ke rumah sakit Medika?" tanya Disya cemas. Dirinya bahkan belum mengabari Sky dalam hal ini, dan itu membuat ia khawatir.
"Sya ayo turun, Bunda mau ngenalin mantu Bunda yang cantik ini sama sahabat Bunda," ujar Bunda Yuki menginterupsi.
__ADS_1
"Iya Bun," jawabnya dengan langkah bingung.