One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 137


__ADS_3

"Jadi, teman saya ini sakit apa, Dokter?" tanya Tiwi mewakili kedua teman lainnya.


Dokter tersebut malah tersenyum menanggapi kekhawatiran teman pasiennya.


"Sebenarnya mbak Disya ini tidak sakit, hanya memang gejala hamil muda akan seperti ini, normalnya begitu," jelas Dokter.


"Hamil ...!" pekik Tiwi, Emon dan Aldo ikut menganga tak percaya dengan apa yang didengar.


Sama dengan Bu kades juga ikut syok, mereka pikir gadis tersebut belum menikah dan bisa mencoreng nama baik desa.


"Kalian semua kenapa pada lihatin gue kaya gitu, emang salahnya di mana kalau seorang perempuan yang mempunyai pasangan hamil," jelasnya di bawah tatapan teman-temannya penuh selidik.


"Lo punya suami?" tanya Aldo lebih dekat.


"Punya lah ... lo pikir gue cewek apaan?"


"Suami lo siapa? Kapan nikah?" cerocos Aldo kepo maksimal.


"Ish ... nanti juga bakalan ke sini, kalian juga kenal kok, beneran Bu Kades saya sudah bersuami, jadi nggak ada masalah dengan kehamilan saya sekarang," jelas Disya tenang.


Setelah debat kecil, mereka akhirnya pulang ke rumah Bu kades, yang selama ini menjadi posko mereka. Disya juga sudah mendingan dan kelihatan lebih segar, perempuan itu beberapa menit yang lalu terlihat begitu mencemaskan, tapi setelah mendapat pemeriksaan jauh terlihat lebih sehat dan tenang. Baru saja mereka sampai di pekarangan rumah Bu Kades, mereka di kejutkan dengan kedatangan Sky yang muncul di sana.


Disya langsung tersenyum melihat suaminya datang, ia lupa mungkin Sky datang untuk sidak atau untuk dirinya. Mungkin karena efek sakit, dan rindu berat Disya menjadi lupa akan hal itu.


Lain Disya lain juga Sky, pria itu bersikap dingin dan cuek. Masih kesal dengan perihal telfon yang mengangkat suara laki-laki, pria itu jelas marah, namun berusaha bersikap biasa saja di depan banyak orang. Sky yang merasa penasaran dari balai desa langsung mendatangi posko kelompok yang diampunya. Pria itu bahkan sudah berencana untuk sidak besok senin, tetapi di luar ekspektasinya.


"Sore Pak?" sapa para mahasiswa sopan, semua menyambut kedatangan Dosen Sky dengan antusias.


"Sore, bagaimana kabar kalian? Aman semua? Apa ada kendala terkait proker yang sudah disepakati, sudah mulai berjalan sampai mana?" cerocos Dosen Sky.


Semua anak-anak sedang berdiskusi, tak terkecuali Disya. Namun, untuk Disya sendiri hanya diam saja, masih mencerna dengan sikap dan kejutekan suaminya. Seharusnya ia paham dan bersikap biasa saja mengingat memang begitu karakter Sky di kalangan mahasiswa lainya, sama persis ketika di kampus. Namun, entah Disya yang merasa baperan atau apa ia merasa sedikit kesal, dan karena benar-benar kesal perempuan itu izin meninggalkan ruangan briefing.

__ADS_1


"Maaf Pak, saya izin ke belakang," pamit Disya sopan.


Sky langsung menyorot istrinya tajam, apa yang ingin istrinya lakukan. Mengapa ia terlihat tidak suka melihat kedatangannya. Sky pikir Disya menyembunyikan sesuatu kali ini pada dirinya.


"Disya Anggita, mohon mengikuti briefing sampai selesai, ini penting, dan jangan seenaknya sendiri meninggalkan tempat diskusi," ucap Sky lugas.


Disya yang hendak beranjak pun urung dan kembali duduk, hatinya mencelos mendengar penuturan suaminya, sepertinya hormon kehamilan sangat mempengaruhi moodnya belakangan ini. Tiwi hendak mengucapkan alasannya mengapa Disya ingin istirahat, namun Disya menggeleng pelan.


"Insterupsi Pak, mohon izin untuk Disya meninggalkan room diskusi, Disya mungkin butuh istirahat, tadi pagi ia sempat pingsan, ia sedang tidak enak badan." Emon yang biasanya sangat pendiam tumben-tumbenan angkat bicara.


Mendengar penuturan Emon, Sky langsung berubah air mukanya, ia mendadak khawatir setengah mati. Semua mata menatap Sky dan Disya secara bergantian.


"Disya sakit? Sakit apa?" cemas pria itu kaget, menatap dalam netra istrinya.


"Emm ... masuk angin biasa Pak," jawab Disya bohong, memutus tatapan pria itu dengan menunduk. Ia akan berkata jujur nanti setelah hanya berdua saja, takut suaminya heboh jika mendengar berita tersebut.


"Sya, kok lo nggak jujur aja kalau lo hamil, ini kesempatan lo buat izin meninggalkan tempat KKN kalau berat, secara hamil muda itu kan pasti rempong Sya," bisik Tiwi.


Briefing selesai, setelah Dosen Ausky memberikan pengarahan dan program kerja sudah mulai berjalan, menghimbau pada anak-anak untuk menjalankan sesuai prokernya.


Pandangan Sky langsung terpusat pada istrinya, ia sebenarnya rindu teramat, sangat rindu malah. Pria itu mengirim pesan singkat pada istrinya yang menyatakan menunggu di luar.


"Tadi siapa yang sakit? Disya ya? Khusus buat Disya ikut saya ya?" ujar pria itu.


Disya bergeming, namun ia menurut pamit sama anak-anak setelahnya. Anak-anak pikir malam minggu mereka akan menjadi kelabu karena mendapat kunjungan Dosen dadakan. Tapi nyatanya tidak, dosen pembimbing lapangan hanya mampir dan cuma sekilas mengontrol saja. Walaupun suasana cukup menegangkan, overall ... semua aman, tanpa drama.


Sabtu sore banyak yang izin meninggalkan posko, kebanyakan dari mereka sudah mengagendakan, atau sekedar main, sampai bertemu dengan pacar, sahabat, atau kerabat yang sengaja berjanji di tempat-tempat tertentu.


Disya menuju mobil yang terparkir di halaman rumah Pak Kades. Setelah sidak selesai, pria itu langsung berujar pamit.


"Kamu sakit apa? Kok nggak pernah angkat telfon dari aku? Lupa kalau punya suami?" cerocosnya begitu Disya duduk di samping kemudi.

__ADS_1


"Kan tadi udah dijelasin di room briefing, mau jalan nggak? Nggak enak dilihatin anak-anak lainnya?" Perempuan itu mencoba sabar dengan tidak terpancing sikap dingin suaminya, yang entah dengan alasan apa.


Sky langsung melajukan mobilnya. Pria itu masih kesal, tapi melihat wajah juteknya ia tak minat membahasnya lagi. Sky melirik istrinya yang teramat ia rindukan, ada apa dengannya? Apakah terjadi sesuatu selama hampir seminggu ini? Ia akan mencari tahu nanti, setelah mereka sampai di penginapan saja.


"Kita mau jalan ke mana? Pulang?" tanyanya setelah mobil melaju semakin jauh.


"Aku udah sewa hotel, kalau pulang terlalu jauh, nanti kamu capek," ujar pria itu pengertian.


"Kenapa nggak pernah balas chat aku, telphon aku, aku kaya orang gila hampir seminggu tanpa kamu?"


"Susah sinyal, 'kan udah dijelasin kemarin di whatsapp," kilahnya mencari pembelaan."


"Mau makan dulu apa langsung ke hotel?"


"Aku pingin istirahat Mas, pusing," keluh Disya jujur.


"Oke, kamu masih pusing?"


"Sedikit," jawabnya datar.


Sesampainya di kamar hotel yang tidak begitu mewah, namun lumayan nyaman itu, Disya langsung membersihkan diri di kamar mandi. Perempuan itu ingin cepat beristirahat karena merasa tidak enak badan lagi.


"Sayang ... aku rindu ...." Sky langsung menubruk tubuh istrinya, mencium kening dan membawa ke dalam pelukannya. Disya baru saja ke luar dari kamar mandi dan Sky langsung menyambutnya di depan pintu.


"Iya Mas, aku juga," jawab Disya jujur.


Baru beberapa detik mereka berpelukan, Disya langsung mengurainya karena merasa tidak nyaman.


"Kamu ganti parfum? Kok rasanya nggak enak banget, bikin aku eneg," ujar Disya merasa tak nyaman.


"Enggak kok," pria itu bingung. "Aku bersih-bersih dulu." Sky melesat ke kamar mandi. Ia melakukan mandi dengan cepat, setelahnya langsung mendekati istrinya yang tengah duduk di bibir ranjang.

__ADS_1


__ADS_2