One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 95


__ADS_3

Empat hari telah terlewat dan hari ini adalah hari terakhir ujian tengah semester. Disya sangat bersemangat berangkat ke kampus. Setiap malam, bahkan Disya merasa senang dan di perhatikan lebih, gadis itu di temani suaminya belajar. Sky akan membantu Disya, dengan membacakan soal, Disya menjawab. Sky memberikan soal dan uji materi, Disya mengerjakan, mereka berdiskusi, Disya juga sudah mulai terbiasa dan mengikis canggung di antara ke duanya. Pria itu benar-benar berbeda, di rumah akan sangat lembut mengajari istrinya, berbeda sekali jika ia di kampus yang terlihat dingin, cuek, dan pembawaannya serius di dalam kelas. Benar-benar berasa mempunyai dosen pembimbing sendiri, ternyata punya suami dosen itu menyenangkan sekali.


"Mas, nanti setelah pulang dari kampus, aku mau ke rumah mama ya?" pamit Disya. Mereka tengah perjalanan ke kampus pagi ini.


"Boleh, nanti sorenya aku jemput setelah pekerjaan selesai," jawab Sky santai.


"Seneng banget kayaknya hari ini," ucap Sky meneliti penampilan Disya yang lebih segar dan bersemangat.


"Iya dong, kan sebentar lagi uts kelar, pingin ngadem, semoga nilai aku bagus, nggak harus remidial? Nilai aku bagus-bagus kan Mas?" ujarnya percaya diri.


Sky memperhatikan istrinya yang masih berceloteh ria. Gadis itu terlihat sangat menggemaskan.


Sky tersenyum menggoda, "Kalau nilai kamu jelek, ngulang Sya?" ujar pria itu datar.


"Nggak mungkin, orang yang ngajarin belajar Pak Sky, masa nilainya jelek sih, ya terkecuali kamu dendam sama aku mas?"


Ckiit


Sky sampe mengerem mobilnya mendadak mendengar pernyataan istrinya.


"Maksudnya apa sayang? Kamu kok mikirnya jauh banget, emang aku sejahat itu?" kata pria itu menatap istrinya lekat


"Nggak sih, kamu 'kan sabar Mas, tapi bisa jadi ganas dan buas," lirihnya nyengir.


Sky bergeming, menatap istrinya lebih dalam dan lekat. "Oke, nanti aku bakalan tunjukin keganasan aku di ranjang," ujar pria itu tersenyum. Kemudian kembali melajukan mobilnya ke kampus.


Sky melirik Disya yang tiba-tiba menjadi pendiam, padahal menit yang lalu banyak ngomong. Pria itu menjadi ngerasa agak bersalah, takut istrinya kepikiran dan tidak berkonsentrasi untuk hari ini. Mobil berhenti di parkiran khusus dosen.


"Sya, muka kamu...?" tanyanya menggoda.


"Kenapa?" jawabnya heran.


"Itu, sini deh..." Sky mendekat, mengacak rambut istrinya dengan sayang lalu tersenyum sangat manis.


"Senyum dong sayang... jangan tegang, rileks... kaya mau malam ke dua aja, tegangnya," seloroh pria itu mengerling.


"Sini kasih vitamin pagi dulu."


Cup cup cup


Sky mencium pipi kiri, kanan, dan bibir Disya sekilas. Kemudian kembali mengacak rambutnya dengan sayang


"Semangat, hari ini pasti lebih mudah, kan udah bimbingan?" selorohnya tersenyum. "Jangan mikir yang macam-macam, mas tadi cuma becanda, tapi kalau nanti malam di kasih... aku bakalan pelan-pelan kok, kan ada dedek bayinya?" ujar pria itu tersenyum. Seketika pipi Disya langsung terasa memanas.


"Aku turun dulu," kata Disya mendadak salting.


"Eh, bentar!" larang pria itu.


Sky mengulurkan tangannya dan seketika Disya langsung meraih dan mencium punggung tangan suaminya dengan takzim.


"Hati-hati sayang, semoga sukses untuk hari, di berikan kemudahan dan kelancaran. Aamiin....!"

__ADS_1


Disya langsung masuk ke ruang kelas, ujian di mulai pukul delapan seperti biasanya. Hari terakhir yang jaga Bu Mega. Fokus menghadap soal, berusaha mengusir bayangan sekelebatan suaminya yang tengah tersenyum jail.


***


"Alhamdulillah... akhirnya kelar juga," ucap syukur hampir dari mulut mahasiswa yang baru saja keluar dari ruang kelas.


"Ngadem gaes, perlu es baloknya mbak Retno," celetuk Hanum.


"Gas lah kantin," jawab Sinta semangat.


"Ngikut, ngikut ngikut." Bisma, Faro dan Alan mendadak heboh nimbyung.


"Ngafe aja yok, Anomali coffe. Itung-itung sama nglarisin kafenya Bu Disya."


"Uluh... mepet, bilang aja mau coba gretongan," ujar Bila menimpali.


"Tahu aja lo Bil, tapi beneran deh. Kita perlu bersantai di rooftop yang indah, terus menikmati angin sepoi-sepoi bersama ngopi cantik..." ujar Faro semangat.


"Disayang pelit, takut banget kita minta diskon."


"MasyaAllah... nggak lah, yang jagain di sana tante gue kok. Ya udah lah ayok..."


Mereka semua berbondong-bondong menuju Anomali coffe. Disya sengaja memberitahu Sky dan mengirim foto kebersamaan mereka pada suaminya. Sky yang posesif, harus di beritahu supaya tidak menimbulkan efek samping. Seperti ngambek, cemberut, dan uring-uringan.


Sambil menunggu pesanan datang, mereka asyik berswafoto bersama. Bermain tik tok, ngobrol ngalor ngidul nggak jelas. Asal ada bahan, mereka omongin.


"Gimana kalau minggu depan nanti kita muncak?" usul Bisma.


"Gimana yang lainya, pada setuju nggak?" ujar pria itu menginterupsi.


"Atau kalau nggak, liburan ke pantai aja, Jogja gimana? Seru tuh kayaknya?" ujarnya lagi.


"Semangat amat Pak, gue masih belum mau mikir, takut pada remidi gue asli sumpah. Tadi aja banyak yang nggak bisa," kata Sinta dramatis.


"Hadeh... yang berlalu biarlah berlalu, kalau suruh perbaikan ya nasib lo lah! Hahaha..." Faro dan Bila ketawa jahat.


"Cie... kompak, ehem ehem."


Di tengah-tengah kehebohan yang melanda mendadak ponsel Disya bergetar.


Pluto calling


"Iya Mas, kenapa?" sapa Disya agak berjarak dari teman-temannya yang berisiknya ngalahin ibu-ibu pertemuan rutin PKK.


"Katanya ke rumah Mama, kok malah nongkrong sih Sya?" jawab pria itu sedikit kesal.


"Habis ini nanti ke rumah Mamanya, kamu masih sibuk?"


"Iya, jangan kluyuran Sya, habis dari kafe langsung pulang ke rumah, nanti aku nyusul," ujar pria itu lalu menutup sambungan telponya.


Disya kembali bergabung dengan teman-temannya. Sederet makanan dan minuman nampak sudah tersaji di atas meja, gadis itu memesan macchiato, ngopi cantik tapi tidak pahit.

__ADS_1


Hanum dan Bila coffee late, Sinta milk shake.


Sedang para cowo kompak memesan espresso. Lengkap dengan hidangan pembuka, chicken fingers, onion ring dan nachos. Lain dengan Disya yang langsung memesan nasi goreng kambing.


Menghabiskan waktu bersama teman-temanya tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Disya merasa harus menyudahi acara rempong kali ini. Mereka memutuskan pulang karena hari sudah sore.


Dari rooftop turun ke bawah, tak sengaja bertemu dengan Bintang. Disya pun menyapa


"Dek, lagi di sini juga?" tanya gadis itu ramah.


"Eh, kak Disya? Iya kak, tapi ini udah mau pulang. Kakak di sini sama siapa?" arah pandang Bintang menyorot muda-mudi di belakang Disya yang berjalan keluar.


"Itu sama mereka semua," tunjuk Disya.


"Disyayang, pulangnya bareng siapa? Mau gue anter?" Alan masih sama pengertian dan perhatiannya.


"Nggak usah, gue naik taksi aja, soalnya masih ada urusan lainnya," kilahnya.


"Uluh... sok sibuk lo, ya udah deh kalau nggak mau bareng gue, kita duluan ya?" jawab Bila cs.


"Beneran nggak mau bareng, udah sore loh ini," tawar Alan.


"Nggak usah kak, biar mbak Disya sama aku aja," Bintang langsung menawarkan diri, merasa tidak suka melihat Alan yang pemaksa dan sok perhatian sama kakak iparnya.


"Iya bener, gue bareng Bintang aja," jawab Disya yakin.


"Oke deh, gue duluan ya," pamit Bisma, dan Alan. Faro sudah keluar lebih dulu bersama dengan para cewe.


"Siapa sih kak, maksa banget?" tanya Bintang kepo.


"Kamu di sini sendirian?" bukannya menjawab tetapi malah balik bertanya.


"Nggak sih, tadi sama Om, eh temen maksud aku, tapi orangnya ada pekerjaan jadi buru-buru balik," ujar Bintang sedikit gugup.


"Kamu... kencan sama Om-om?" tanyanya penuh selidik.


"Ih, kakak apaan sih, bukan Om-om lah, dia masih muda seumuran kak Sky, cuma aku suka manggil om aja, soalnya orangnya dewasa banget," celoteh Bintang.


"Ya udah ayok kalau mau pulang, bareng aja kak, itu temen kakak cowok kok manggilnya sayang sih, nanti apa nggak pa-pa kalau kak Sky denger?"


"Nggak suka dia, protes dan mrengut, ini aja udah di wanti-wanti jangan kelamaan mainnya. Eh, tapi aku mau ke rumah mama dulu kok, Bin, aku naik taksi aja deh, lagian ini udah sore nanti bunda negur kamu lagi, pulangnya telat mulu, padahal pulangnya udah dari siang."


"Nggak apa lah, Bintang anter aja, malah bagus dong, kalau nanti aku pulangnya bareng mbak, pasti Bunda nggak bakalan marah, tenang kok."


"Oke deh, ayo. Bin, sepertinya mau turun hujan, kamu bawa jas hujan ngak?" tanya gadis itu cemas.


"Sebentar doang kan kak, nggak nginep kan di rumah tante Amy. Soalnya aku bawa motor, nggak bawa jas hujan juga, bisa di gorok kakak aku kalau nganterin kakak terus kakak kenapa-napa," ujar Bintang.


Bintang mulai menstater motornya, Disya mengambil duduk di jok penumpang. Gadis belia itu mulai melajukan kecepatan motornya dengan hati-hati. Membonceng bumil kudu ekstra hati-hati. Gadis itu paham betul bagaimana kakaknya menjaga Disya.


BRAkk!!!

__ADS_1


__ADS_2