One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 26


__ADS_3

"Pak Sky!!!"


Gadis itu menahan kesal setengah mati.


Sial nih Dosen, ngerjain gue. Cape-cape gue turutin ke sini malah apa? Kartu tak dapat di introgasi iya.


"Ayo Sya... istirahat, aku tahu jawaban kamu lebih baik nginep kan?"


Disya kembali duduk dengan memegang kepalanya yang terasa mumet. Dosennya ini benar-benar sudah tidak waras, ia akan membalas perlakuannya jika saatnya ada kesempatan.


Persyaratan dari Sky tentu saja Disya tolak. Apa-apaan emang Disya cewe apaan? Mencium Sky sama saja menurunkan harga dirinya. Disya tidak mau melakukan itu terlebih menginap di apartemen ini untuk yang ke dua kalinya jelas Disya tidak mau.


Pluto sialan...!!!


Disya terus mengumpat kesal, bahkan mengabsen nama-nama binatang di hatinya. Ingin sekali ia menelfon siapa saja yang bisa di hubungi tapi itu sama saja dengan bunuh diri.


"Aku ke kamar dulu, nanti kalau kamu berubah pikiran bisa datang ke kamar aku," ujar Sky santai.


"Bapak maunya apa sih?"


Lagi-lagi laki-laki itu terdiam dan tersenyum sangat manis serta menunjuk bibirnya sendiri.


"Astaghfirullah.... dosa apa aku ketemu dengan manusia model kaya gini," gumam Disya frustasi.


Hari semakin malam dan Disya masih terjebak di apartement Sky.


Rayyan vidio call


Disya menatap layar ponselnya yang berkerlip dengan wajah panik. Bagaimana tidak di saat jam genting begini kekasihnya mendadak vidio call dirinya.


"Rayyan? Gimana nih, gue nggak boleh angkat nanti bisa bahaya kalau dia tahu gue lagi terjebak gini," Disya bergumam pelan dengan kecemasan yang haqiqi.


Sementara Sky duduk dengan santai di atas kasur ranjangnya dengan memainkan gawainya tanpa mau tahu kebingungan Disya.


Disya menyusul ke kamar Sky lalu mengetuk pintunya keras-keras.


"Bentar dong sayang... nggak sabaran banget," ujar Sky menggoda.


Sky membuka pintu kamarnya dengan begitu santai dan tersenyum penuh arti.


"Gimana? Udah nemu jawabannya?"

__ADS_1


"Iya udah," jawab Disya lirih.


"Masuk kamar atau..." Sky menyeringai licik.


Disya mendelik kesal, tapi bagi Sky itu tetap menggemaskan. Cinta memang payah tak mengenal ruang dan waktu, membutakan warna dan mengalahkan logika.


"Berisik banget sih, kamu merem cepetan. Ingat ya ini terpaksa sangat terpaksa!!"


"Tunggu-tunggu!" ujar Sky mengambil handphone nya.


"Aku harus mengabadikan momen langka ini, biar kita semakin lancar ke depannya."


"Apa-apaan, jangan nglunjak ya?" ujar gadis itu marah.


"Sya... kita akan menikah, kita bahkan pernah melewati malam panjang yang begitu li..."


"Diam!! Nggak usah di jelasin, nggak usah di bahas bisa nggak sih?"


"Tapi itu bersejarah, karena yang pertama untuk kita?" Sky tersenyum sok kalem.


Oh ya ampun... senyumannya bikin gue muak.


"Bapak saya bunuh kalau ngomong terus," murka Disya marah.


Cup


Disya langsung mencium pipi Sky dengan cepat.


"Udah, kode pintu apartemen nya berapa cepet saya mau pulang?"


Sky menyeringai licik, berjalan keluar dan menuju pintu utama dengan hati yang berbunga-bunga.


"Dengerin baik-baik, aku bakalan bisikin kamu?" ujar Sky mulai mencondongkan tubuhnya sedikit membungkuk. Tinggi Disya hanya sebahu Sky jadi pria itu harus membungkuk.


Emang dasar otak Dosen yang super duper aktif Sky pun tidak menyia-nyiakan kesempatan dalam kesempitan ini. Sebelum membisikan kode pin apartement nya Sky lebih dulu menyambar bibir Disya dengan berani tanpa ragu.


Sontak Disya membelalakan matanya kaget, dalam seperkian detik Disya memberontak aksi Sky yang cukup kurang ajar bagi dirinya.


"Galak banget sih sama calon suami," ujar Sky mengeluh setelah melepas ciuman maut mereka yang teramat frontal.


Jangan tanyakan bagaimana wajah gadis itu, sudah merah merona antara malu, kaget dan juga kesal.

__ADS_1


"Jangan ngambek nanti cantiknya ilang, kode pintunya tanggal, bulan tahun malam panas kita?" ujar Sky menjeda seraya mengacak rambut Disya pelan.


"What!!!"


Ingin rasanya Disya mengumpat, memaki tampang menjengkelkan di depan matanya. Kenapa semua di hubungkan dengan kejadian itu, spesial, bersejarah iya memang benar bahkan Disya tidak pernah lupa sekali pun mencoba untuk melupakannya.


Kalau boleh bahkan Disya ingin lupa ingatan saja. Agar lupa dengan hari tersial di dunia itu. Harus bertemu dengan manusia pluto macam Sky.


Disya syok seketika, walau dengan hati jengkel dan tidak percaya tapi Disya mengetik kode tersebut dengan cepat.


"Wah... kamu sangat hafal ternyata." Sky terkekeh gemas.


Gadis itu langsung melesat pergi meninggalkan rumah itu. Bagi Disya itu adalah apartemen terbenci yang pernah ada. Disya segera menuju lift, gadis itu merasakan kelegaan yang luar biasa setelah bisa keluar dari sana. Berasa habis keluar dari kandang singa.


Disya cukup bersyukur karena Sky hanya menggodanya tidak melakukan hal-hal yang tidak di inginkan walaupun tadi sempat mencium nya tapi Disya cukup lega hanya itu. Disya tadi sempat khawatir dosennya itu akan berbuat yang cukup nekat dan gila tapi ternyata tidak.


"Huhf... aman!" ujar Disya lega mengelus dadanya.


Gadis itu segera menuju dimana motornya terparkir. Ia melirik jam di tangan kanannya sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam. Berarti cukup lama Disya terkurung di sana.


"KTM nggak dapat cukup menderita iya," keluh gadis itu kesal. Menggerutu panjang pendek sambil menstater motornya.


Pluto brengsek!! gue bales.


Disya langsung memutar pedal gas di tanganya. Meluncur pulang dengan kecepatan sedang. Walaupun sedang kesal tidak menjadikan gadis itu mengendarai motor dengan urakan. Disya cukup sayang nyawa sendiri dan memastikan perjalanan selamat sampai rumah sendiri.


Sesampainya di rumah Disya langsung masuk dan menuju kamarnya. Suasana rumah nampak sepi mungkin Mama dan Papa nya sudah berada di kamarnya. Sementara Flora, Disya tidak tahu ada di mana.


Sebelum menuju ranjangnya yang begitu menggoda, Disya lebih dulu membersihkan diri sebelum tidur, cuci muka dan gosok gigi wajib. Setelahnya gadis itu segera menjatuhkan bobotnya di kasurnya yang empuk.


Bruk


Disya membaringkan bobot tubuhnya, menarik selimut dan bersiap untuk istirahat. Namun apa yang terjadi gadis itu sama sekali tidak bisa memejamkan matanya barang sejenak pun. Pikirannya melang-lang buana nan jauh di sana.


Yang pertama Disya jelas teringat kejadian beberapa menit yang lalu di apartemen. Yang ke dua Disya kepikiran dengan tawaran menikah dengan Sky, gadis itu cukup pusing dengan hal ini. Yang ke tiga bagaimana dengan Flora dan yang ke empat bagaimana cara Disya menjelaskan ke Rayyan tentang semua hal yang telah terjadi.


Poor you Disya Anggita....


Hingga hampir pukul setengah dua belas Disya belum bisa memejamkan matanya.


[Deadline jam dua belas Sya, tugas kamu belum masuk ke e-mail saya]~Pluto.

__ADS_1


Disya membuka pesan dari Sky lalu membuang handphone nya asal.


__ADS_2