
Disya benar-benar lelah dan kepala terasa pening. Gadis itu duduk di ranjang menumpuk bantal di atas kasur lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur, sesekali tangannya memijit pelipis yang terasa pening. Matanya terpejam namun hatinya tidak tidur, bahkan pikirannya berkelana kemana-mana. Sementara Sky tengah di kamar mandi membersihkan diri.
Ceklek
Suara pintu terbuka tak mampu membuat gadis itu bergeming, tetap dengan posisinya yang terlihat begitu tenang, Sky pikir Disya tertidur.
Pria bertelanjang dada itu mendekat, mengamati istrinya dengan lekat. Disya masih menggunakan baju kebaya tadi tapi bisa tidur dengan nyamannya. Pikir Sky di hatinya.
"Cantik, imut, tapi jutek," celetuk Sky menatap Disya di depan wajahnya.
"Kasihan banget sih kamu... pasti kecapean," sambungnya masih menatap lekat dengan jarak yang dekat.
Tiba-tiba bulu mata lentik itu terbuka, membuat gadis itu terkejut dengan posisi mereka yang sangat dekat tapi tidak sampai membuat gadis cantik itu menjerit.
"B-bapak mau ngapain?" tanya Disya gugup sambil membuang muka kearah lain. Disya tentu saja malu dan juga geli saat ini Sky belum memakai baju dengan rambut yang masih basah.
"Menurut kamu mau ngapain, kalau lagi ngomong itu ditatap lawan bicaranya Sya."
"Jangan terlalu dekat, Bapak bikin saya jantungan."
"Sya, hadap sini deh... nggak enak banget ngomong tapi nggak natap orangnya," protes Sky.
"Nggak mau, pakai baju nya dulu, Bapak tidak sopan," ujar Disya kesal.
"Kamu marah sama aku?"
"Banget!"
"Kamu benci sama aku?"
"Iya!"
"Kamu cinta sama aku?"
"Nggak!"
"Kalau enggak, kenapa mau nikah sama aku?"
"Ih... Bapak nyeselin banget sih." Disya mendorong dada Sky dengan kesal namun sama sekali tidak bergeser.
Pria itu menggenggam tangan Disya yang menempel di dadanya.
"Kamu bisa merasakan jantung aku Sya, berdetak lebih kencang bila di dekatmu," selorohnya jujur.
__ADS_1
"Jangan membenci suamimu sendiri karena itu dosa, inget pesen Mama Amy kita harus bahagia, jadi kamu harus belajar nerima aku dan takdir."
Disya bergeming menutup rapat mulutnya, ia masih sama membuang muka enggan menatap suaminya. Hatinya berkecamuk hebat serasa ingin menampar-nampar orang yang berbicara sok bijak di depannya. Tapi tentu saja itu hanya khayalan semata.
"Jangan terlalu banyak membenci, karena batas antara benci dan cinta itu sangat tipis, nanti kalau kamu bucin sama aku, aku nggak tanggung jawab." Pria itu terkekeh lalu tangannya terulur mencubit pipi Disya gemas.
"Mandi, siapa tahu habis mandi udah cinta sama aku?" Sky mengulum senyum.
Oh ya Tuhan... rasanya pingin muntah, lihat wajahnya yang sok manis dan cool itu. Sumpah ngeselin banget.
Disya melirik sengit mata Sky, seakan memberi tahu kalau ia tidak suka becanda dan sedang mode marah. Tetapi apa responya, pria itu bahkan berekspresi datar dan cuek, tetap tersenyum tanpa dosa.
Disya melangkah kesal ke kamar mandi, ia menutup pintu dengan sedikit keras lalu menguncinya. Gadis itu mulai melepas semua pakaiannya yang menempel di tubuhnya. Seharian memakai baju pengantin cukup membuat tubuhnya tidak nyaman dan terasa melelahkan.
"Ya ampun... semua sabun cowok, sampo cowok, ini apa? Ih... gimana ceritanya aku langsung mandi kalau gini, bahkan aku kesini tak membawa ganti. Tamat sudah riwayat ku hari ini." Disya menggerutu sepanjang di kamar mandi.
Gadis itu terpaksa memakai semua peralatan mandi milik Sky. Sekarang Disya sudah selesai namun ia malah bingung sendiri dengan pakaian gantinya. Mau minta tolong malu, tapi kalau tidak minta tolong apa jadi nasibnya.
Sky nampak duduk santai di sofa kamarnya, pria itu tahu Disya belum membawa handuk dan juga gantinya. Ia sengaja mendiamkan apakah perempuan itu mau berbicara meminta tolong dengan segala kecanggungannya atau tetap diam di kamar mandi. Walaupun Sky kasihan juga tapi sepertinya ini akan cukup menarik untuk di coba, diam seribu bahasa.
Setengah jam di kamar mandi membuat gadis itu jenuh dan tidak ada pilihan. Ia juga merasa dingin dan harus segera menyudahi acara mandinya. Gadis itu terus berfikir dalam kegalauannya.
Dengan pelan Disya membuka pintu kamar mandi dan mengintip sekitar, terlihat Sky tengah duduk di sofa dengan santainya. Pria itu sudah berganti pakaian dengan pakaian rumahan.
Sky mendengar pintu kamar mandi terbuka, ia juga mendengar istrinya menggerutu, namun pria itu pura-pura tuli. Tetap asyik melakoni kegiatan bermain gawainya. Ia sedang menunggu saat-saat indah wajah imut istrinya yang terlihat kesal karena dirinya pura-pura tidak peka.
"Pak! Pak Sky...! Bisa minta tolong nggak?"
Sky bergeming
"BAPAK!!!" kesal Disya menyeru.
"Apa sayang...." Pria itu menyahut dengan santai tapi matanya masih fokus pada layar ponselnya.
"Pak! Kalau di tanya tuh di jawab kek, apa kek, saya lagi ngomong kok malah Bapak gitu?!" protesnya kesal.
"Nggak enak kan Sya, kalau lagi ngomong tapi di cuekin," jawab pria itu tenang, ia tidak setega itu tapi menggodanya cukup menarik dan lagi istrinya itu memang harus sedikit disentil agar lebih berperasaan.
Sialan, maksudnya apa coba?! Lama-lama gue sianida nih orang.
"Dingin Pak, pinjam handuk dong...?!" rengek Disya manja.
Pria itu bangkit dari duduknya, dan menuju lemari untuk mengambil handuk yang bersih. Ia berjalan mendekati pintu kamar mandi dan menyodorkan handuk tersebut lewat celah pintu yang terbuka.
__ADS_1
Disya segera mengambil handuk di tangan Sky dengan cepat. Satu masalah beres, tapi ia masih bingung dengan gantinya.
"Pak! Tolong ambilkan handphone saya," titah Disya sungkan. Ia tidak ingin meminta tolong lagi tapi keluar kamar hanya dengan memakai handuk sama saja dengan bunuh diri namanya. Disya ingin menghubungi orang rumah untuk menyuruh seseorang mengantarkan pakaiannya.
"Buat apa Sya?!"
"Kepo! Cepetan minta tolong!"
"Ya udah aku nggak mau."
"Bapak ngeselin banget sih!" Disya meninggikan suaranya.
"Tinggal keluar ambil sendiri, nggak susah kan? Lagian aku udah pernah lihat semuanya, udah hafal aku Sya!"
Sumpah ini orang nyebelin banget, nggak peka dan bikin gue jengkel.
BRAKkk!!!
Disya membanting pintu kamar mandi, Sky kaget seketika dengan respon istrinya. Atau mungkin memang dirinya yang kelewatan becandanya.
Tok
Tok
"Sya!" panggil Sky menyeru.
"Sya! ini baju gantinya."
Disya membuka pintu kamar mandi dengan kesal, lalu segera mengambil paper bag di tangan Sky. Bunda Yuki sudah menyiapkan semuanya untuk menantunya hanya saja Sky memang sengaja membuat drama.
Ceklek
Disya keluar kamar mandi dengan wajah mrengut. Belum ada dua puluh empat jam tinggal di sini sudah membuat ia stress.
"Udah?" tanya Sky mendekat.
"Ayo turun, udah di tungguin keluarga buat makan malam," ujar Sky.
"Saya nggak lapar," jawab Disya kesal.
"Kalau kita nggak turun, nanti di kira kita sedang... melakukan sesuatu yang membuat orang berfikir demikian."
Disya mendelik kesal, sementara Sky mengulum senyum seraya mengekori Disya yang sudah berjalan lebih dulu.
__ADS_1