One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 17


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang Sky duduk di belakang seorang diri tenggelam dalam lamunan antara dirinya dan Disya.


"Bun, jadi... anak gadis Om Amar itu ada dua ya?" tanya Sky hati-hati.


"Iya Bunda juga baru tahu kalau Disya anaknya Amar, kenapa Ky kamu kenal ama Disya?"


Nggak cuma kenal Bunda sayang... kita pernah melewatkan malam panjang bersama.


Batin Sky berteriak, ingin sekali ia berkata jujur namun tetu saja Bunda akan marah mengetahui moral anaknya yang bejat.


"Iya, Sky kenal. Disya salah satu mahasiswi didik Sky di kampus," jelas Sky.


"Oh... ya? Kok kalian nggak ngobrol, kan mau jadi saudara bangun komunikasi sama adiknya harus lebih baik biar tambah akrab."


"Anaknya Om Amar itu kan ada dua kenapa harus sama Flora kenapa mereka tidak membiarkan aku memilih salah satu di antara mereka."


"Kamu kenapa sayang... kamu suka sama Disya?"


Hening


"Kalau di jodohinnya sama Disya kamu mau?" pancing Bunda Yuki.


"Bun, menikah itu untuk sekali seumur hidup. Sky ingin menikah dengan orang yang Sky cintai, seenggaknya begitu," jawab Sky apa adanya.


"Iya Bunda tahu, makanya kami keluarga tidak langsung mengambil keputusan pernikahan setidaknya kalian bisa PDKT dulu untuk saling mengenal satu sama lain baru setelah itu tunangan dan menikah," ujar Bunda Yuki panjang lebar.


Jujur Sky senang Disya anaknya Om Amar tapi dia juga khawatir itu artinya Disya akan sulit di dapatkan karena bersaing dengan kakak sendiri sungguh tidak mungkin bagi Disya terlebih Disya juga sepertinya tidak menyukai dirinya.


Sesampainya di rumah, Sky langsung menuju kamarnya. Pria itu mematut dirinya di depan cermin cukup lama mengamati gambar dirinya.


"Perasaan gue ganteng, semua cewe juga pada ngantri mau jadi cewe gue, mapan, punya banyak usaha. Apa yang salah dengan gue kenapa Disya nggak suka ya?" Sky bermonolog di depan cermin.


Disya bahkan hampir menangis waktu tadi Sky hampir menciumnya. Pria itu jadi sedikit merasa bersalah, merutuki dirinya yang tidak pandai mengontrol diri. Sesuatu yang berkaitan dengan Disya membuat pria itu kadang tidak bisa berfikir jernih. Rasanya ingin selalu di dekatnya sepanjang waktu.


Di kamar Bunda Yuki dan Asher mereka juga tengah membahas putranya yang kelihatannya tidak ada kemajuan dengan Flora.


"Mas... aku kok jatuhnya kasihan sama Sky, sesuatu yang di paksakan itu kan memang nggak enak Mas, aku nggak mau Sky menjalani pernikahan terpaksa terlebih tanpa cinta karena itu berat, sakit," ujar Yuki mendramatisir.

__ADS_1


"Iya aku tahu sayang... jangan sedih gitu dong. Baru mau dekat aja kan belum menikah jangan melow gini dong sayang..." Asher menenangkan istrinya memeluknya dengan sayang.


"Mas, apa konsekuensi kalau kita membatalkan perjodohan ini untuk kita?" tanya Yuki serius.


"Dulu... aku sudah tanda tangan hitam di atas putih jadi mungkin Amar akan menuntut aku kalau perjodohan ini pihak kami yang batalkan. Tapi kalau ini adalah salah satu yang bisa membuat kamu dan anak-anak bahagia akan aku lakukan Yuki... asal kamu tidak bersedih lagi. Jangan menangis... aku paling tidak bisa melihat kamu menangis," ujar Asher mengelus punggung istrinya.


"Mas... kita pernah melewati pernikahan yang sangat menyakitkan, aku tidak mau anak-anak kita mengalami itu. Seharusnya kita memang tidak memaksakan Sky karena kita tahu rasanya di posisi terpaksa itu menyakitkan," Yuki mulai menangis lagi.


Ssshhhtt


"Sayang.... cup cup cup... kita nggak akan paksa Sky, kita cuma usaha untuk jodohnya selebihnya biar yang Maha Kuasa yang tentuin." Betapa ke dua nya ngerasa sangat merasa bersalah atas masa lalu mereka yang berujung ketidak adilan untuk anak-anak nya.


Sementara di kediaman rumah Amar Wibisono nampak ke dua orang tua berstatus suami istri itu juga sedang mengobrol cukup serius perihal perjodohan itu. Sementara Flora dan Disya sudah masuk ke dalam kamar masing-masing.


"Ma, bagaimana kalau pernikahan mereka di percepat saja. Anak kita Flora juga kelihatannya tidak ada masalah. Biar Disya juga bisa cepat meresmikan hubungannya dengan Rayyan, anak itu bahkan sudah menemui Papa kemarin untuk izin meminang Disya. Atau tunangan dulu lebih tepatnya," kata Amar.


"Mama sih terserah yang mau ngejalani aja Pa. Kalau anak-anak udah oke kita sebagai orang tua tinggal support aja kan?"


"Iya, kamu bener sayang. Kita bahas lagi besok sekarang kita istirahat."


Malam begitu cepat berlalu berganti pagi dengan sinar cerah mentari. Si pemilik nama lengkap Disya Anggita itu masih betah berlama-lama di bawah selimut, enggan untuk beranjak padahal waktu sudah menunjukan pukul setengah delapan.


"Sya... Disya...!" Mama Amy berteriak dari luar sambil mrnggedor pintu kamarnya.


"Masuk aja Mah, nggak bakalan denger dia nya?" ujar Flora yang sudah rapi dengan stylean kantornya.


"Di kunci pintunya?" ucap Mama kesal.


"Masa' sih, tumben pake kunci segala," ujar Flora heran.


"Disya... bangun nggak?! Mama dobrak lho pintunya?!" Mama Amy meninggikan suaranya.


"Apa sih pagi-pagi ribut, biarin lah mungkin Disya libur atau nggak ada kuliah pagi biarkan menikmati harinya," ujar Amar bijak.


"Ish... Papa ini selalu gitu, belain anaknya terus. Mau kuliah nggak kuliah ya harus di biasakan bangun pagi biar nanti kalau udah berkeluarga bisa langsung mandiri nggak kaget."


"Mama ini mikirnya kejauhan, mbok biarin santai dulu kaya nggak pernah muda aja, kamu juga awal nikah bangunnya siang, iya kan sayang lupa ya?"

__ADS_1


"Ih... apaan sih... Papa rese' banget kan kamu yang nggak ngebolehin aku bangun."


"Masa'.... Papa lupa Ma. Hahaha."


"Papa....!!" teriak Mama Amy kesal melihat Pak Amar meledeknya beliau langsung melesat pergi.


Flora yang menyaksikan itu cuma geleng-geleng kepala saja, orang tuanya memang selalu bercanda dalam setiap situasi tidak terduga sekalipun, mereka akan saling merajuk lalu baikan dalam waktu itu juga, menurut Flora dan Disya sangat lucu.


"Apaan sih berisik banget di depan kamar orang," ucap Disya keluar dari kamar dengan muka bantalnya.


"Biasa Tom and Jerry live..." ujar Flora cekikikan.


"Gara-gara kamu dek pastinya, makanya kalau tidur kamarnya nggak usah di kunci," ujar Flora memperingati.


"Ya biar nggak ada orang yang sembarangan masuk kamar," jawab gadis itu santai.


"Lebay... siapa juga yang mau sembarangan masuk kamar kamu, emang lo sembunyiin apaan di kamar?" selidik Flora.


"Nggak ada, nggak sembuyiin apa apalah cuma buat jaga-jaga aja."


"Lo nggak ngampus? Jam segini masih sante gitu?"


"Ngampus lah agak siangan nanti pukul sepuluh, kenapa?"


"Lo satu kampus kan sama calon gue?"


"Pak Sky?"


"Iya, siapa lagi...!"


"Terus...?"


"Titip salam buat calon suami gue, tolong katakan padanya salam sa.. ya..ng."


"Idih... ogah, bilang aja sendiri langsung ke orangnya."


"Ya... ya please...!?"

__ADS_1


__ADS_2