
Disya dan teman-temannya tengah membahas tugas kelompok dari Bu Mega di sebuah kafe. Mereka sengaja memilih ruang terbuka agar lebih nyaman untuk sekedar bersama.
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, kegiatan positif yang dilakukan bersama memang selalu menyenangkan dan terasa waktu cepat berlalu.
"Gaess... gue cabut dulu ya, ada agenda selanjutnya. Nanti untuk yang lain-lain bisa lah kita bahas di grub," pamit Disya.
"Buru-buru amat, nyante dulu napa, belum juga sore," saran Bisma yang diangguki yang lainnya.
Jarum jam pendek masih menunjuk di angka setengah tiga. Itu tandanya masih belum sore, tetapi Disya sudah berjanji untuk tepat waktu, tidak ingin membuat suaminya menunggu terlalu lama.
"Pengennya sih gitu, tapi beneran gue ada janji." Disya terpaksa harus mengakhiri pertemuan dengan teman-temannya, setelah pembahasan tugasnya kelar. Gadis itu tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, membuat suaminya kecewa dan hilang kepercayaan terhadap dirinya. Ia pun segera mengabari suaminya untuk menjemputnya.
"Mas kita langsung ke rumah sakit?" tanyanya setelah mobil melaju berbaur dengan kendaraan lain.
"Enggak, langsung pulang aja. Aku sepertinya tidak enak badan," keluh pria itu merasa pusing.
"Kamu sakit?" tanyanya mendadak khawatir. Tangan gadis itu terulur mengecek kening suaminya. "Huum panas Mas, demam kamu ini."
"Sedikit pusing," jawab pria itu jujur. Terlalu banyak pikiran membuat kepalanya terasa berdenyut pening.
"Ya udah langsung pulang saja."
Sky mengiyakan, ia sepertinya memang kurang waktu beristirahat. Sesampainya di rumah, gadis itu langsung menyuruh suaminya untuk istirahat saja. Disya membuatkan teh hangat untuk Sky.
"Mas, minum dulu mumpung masih hangat. Minum obat ya?" titahnya.
"Nggak usah lah, hanya perlu istirahat sebentar. Kamu jangan kemana-mana ya temenin aku di kamar," ucapnya manja.
Disya menemani Sky yang hampir terlelap, ia menatap kasihan. Suaminya itu pasti stress mikirin Bintang. Sky terlelap dalam dekapan istrinya. Setelah suaminya sudah anteng terlelap damai, gadis itupun bangkit dan turun dari ranjang dengan hati-hati.
Disya memilih mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa penat. Ia membiarkan saja suaminya tetap beristirahat. Selesai mandi Disya pun keluar dari kamar hendak mengambil minum, sesampainya di kamar lagi melihat suaminya yang sudah berganti posisi tidurnya tapi masih terlelap.
"Dari mana Sya? Kenapa ninggalin aku?" tanyanya beralih duduk.
"Ambil minum Mas, aku nggak kemana-mana kok."
Disya mendekat, mengecek suhu panas di kening suaminya. "Masih anget Mas, kamu istirahat lagi aja," titahnya prihatin.
"Udah enggak pusing, kamu kok pakaiannya udah rapih kaya mau pergi."
"Ya kan, emang mau jengukin mbak Raya, kamu tunggu di rumah aja ya, aku sama Bintang."
"Cancel dulu, besok aja ya?"
"Yah... gagal dong jengukin keponakan unyu," ucapnya mendramatisir.
"Bikin sendiri dulu gimana? Biar punya juga bayi yang unyu," kata pria itu nyengir.
__ADS_1
"Lagi sakit, nggak usah banyak tingkah," selanya galak.
"Udah enggak begitu, hanya sedikit berdenyut mungkin efek pengen, apalagi kalau di kasih pasti langsung sembuh." Pria itu terkekeh kecil.
Buk
Satu bantal empuk melayang sempurna di muka tampannya. "Otaknya itu itu mulu, mesum!" protes Disya mengomel.
"Ya... dari pada nggak ada kerjaan kan kita manfaatkan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat, hehehe."
"Kata siapa nggak ada kerjaan, Mas di rumah aja ya? Aku sama Bintang mau jengukin mbak Raya," ucapnya begitu tenang.
"Eh, nggak ada ya, tega banget ninggalin suami sendirian gini lagi sakit."
"Lebay... katanya tadi udah nggak sakit, langsung sembuh," ledeknya merasa gemas dengan tingkah suaminya.
Tok tok tok
Mbok Nah izin masuk ke dalam kamar untuk membawakan makanan yang diminta Disya. Gadis itu tadi meminta mbok Nah membuatkan bubur untuk suaminya.
"Iya Mbok, makasih," jawab Disya.
"Ini Mas di makan dulu, orang sakit tuh diem di rumah makan bubur, biar cepet sembuh."
"Nggak mau, aku udah sembuh," sanggahnya cepat. Merasa segar setelah mengistirahatkan tubuhnya hampir satu jam.
"Makan di bawah aja, temenin ayok..." salaknya manja.
Ke dua pasangan itu turun dari lantai dua. Begitu sampai di meja makan, sudah ada Bintang di sana dengan setelan yang cukup rapih. Sedang memainkan ponselnya sambil nyemil gorengan buatan mbok Nah.
"Bin, udah rapi aja, jadi pergi?" tanya Disya memastikan.
"Iya jadi, Mbak Disya di rumah aja, pawangnya nggak bakalan ngijinin, nanti ngamuk lagi," sindirnya kesal.
"Kamu mau kemana? Awas aja sampe ketemu sama Rayyan diam-diam, aku bakalan pindahin sekolah kamu ke Luar Negeri," ancam Sky kesal. Menasehati adiknya yang semakin membangkang.
Bintang tidak menanggapi, gadis itu tidak punya keberanian untuk menentang kakaknya yang keras itu. Gadis itu hanya diam, dengan pikiran yang bercabang. Antara khawatir dengan Rayyan dan juga tentang kakaknya yang selalu menentang hubungan mereka tanpa adanya alasan yang jelas.
Mereka makan dalam diam, setelah selesai merampungkan cemilannya Bintang langsung pamit keluar menjenguk Raya. Tentu saja Disya mengizinkan, berbeda dengan Sky yang kurang percaya dan khawatir adiknya akan menemui rivalnya itu. Sky sebenarnya tidak sekolot itu, ia hanya khawatir adiknya nantinya akan sakit hati karena Rayyan tidak bersungguh-sungguh mencintainya.
"Aku juga mau ke rumah sakit lah, dari pada di rumah nggak ngapa-ngapain?" usul Disya semangat.
"Ya udah aku ikut," tanggapnya semangat. Disya langsung melirik pria itu.
"Yakin? Muka Mas masih kentara lebam gitu, lagian kalau masih pusing ya di rumah aja Mas."
"Pakai masker kan bisa, pokoknya aku nggak mau di tinggal di rumah sendirian," ujarnya kekeh.
__ADS_1
Disya, Sky dan Bintang akhirnya pergi ke rumah sakit bersama. Menjenguk Raya yang baru saja melahirkan. Tidak ingin merusak moment bahagia keluarga, baik Sky dan Bintang tidak ada yang membahas masalah mereka. Keluarga sangat bahagia dengan kehadiran keluarga baru di tengah-tengah mereka.
"Selamat ya Mbak, atas kelahiran baby boy nya, lucu banget." Disya dan Bintang mengerubuti Bunda Yuki yang tengah menggendong bayi merah tersebut. Tangan Disya menoel pipi bayi itu dengan gemas.
"Bun, aku coba gendong boleh?" ujar Sky izin.
"Emang bisa?" Disya meremehkan.
"Bisa lah, masa gendong bayi aja nggak bisa. Ih... lucu banget, mirip sama Rasya," ucapnya setelah bayi itu dalam buaiannya.
"Iya, lucu ya Mas." Disya menimpali.
"Pengen nggak yank, yang kaya gini, unyu..." ujar Sky tersenyum.
Disya tidak menanggapi lagi, gadis itu memilih menyibukkan diri mengobrol dengan mertua dan juga adik iparnya.
Sementara Bintang sendiri, cuma sebentar di ruangan kakaknya. Gadis itu pamit lebih awal. Sky dan Disya yang tengah sibuk pun tidak mempermasalahkannya. Bintang pulang bareng Ayah Asher.
Tetiba di perjalanan, gadis itu misah dan pamit dengan ayahnya untuk menjenguk temannya yang sedang sakit. Ayah Asher pun mengiyakan tanpa banyak bertanya. Pria itu langsung pulang ke rumah setelah memastikan anak bungsunya aman.
Bintang terpaksa berbohong, lebih tepatnya sedikit berbohong karena memang benar ingin menjenguk teman yang sakit, tapi yang Bintang maksud adalah Rayyan, gadis itu mengunjungi apartementnya.
"Kakak kamu tahu, kamu ke sini?" tanya Rayyan setelah beberapa menit yang lalu gadis itu sampai di apartementnya.
Rayyan sebenarnya sangat kesal atas kejadian kemarin pagi, apalagi dirinya dan Bintang sama sekali tidak ngelakuin hal itu, membuat pria itu semakin membenci Ausky. Di tambah kejadian tak terduga itu disaksikan Disya, dan itu membuat pria itu semakin kesal saja.
Mungkin untuk urusan menikahi Bintang tidak menjadi masalah, tapi bagaimana dengan perasaannya yang masih abu-abu. Bahkan ke dua orang tuanya sangat marah atas kasus kemarin, orang tuanya langsung mengambil sikap dan keputusan tetap menikahkan ke duanya.
Permasalahannya, yang pertama Bintang masih sekolah, dan yang ke dua gadis itu juga menolak menikah dengannya, dan yang ke tiga dirinya juga tidak memahami betul dengan perasaanya. Rayyan sadar bahwa tujuannya mendekati Bintang adalah untuk membalas sakit hati nya pada Sky, namun, ia menjadi berpikir dua kali kalau untuk menyakiti Bintang. Gadis itu masih terlalu polos, ia ingin kelak kalau menikah pun harus ada rasa saling mencintai, bukan kegrebek seperti kemarin.
"Nggak lah, bisa di bunuh aku kalau nekad mengunjungimu," jawab Bintang datar.
"Ya ampun... luka kamu parah banget, pasti ini sakit ya?" Bintang meneliti luka di sekitar wajah Rayyan.
Dalam seperkian detik, Rayyan terdiam mengamati wajah ayu Bintang yang berjarak begitu dekat. Tangan Bintang yang terulur meneliti luka itu, tak ayal membuat debaran aneh di hati Rayyan.
"Nggak pa-pa, sakit sih... tapi udah mendingan kok, apalagi ada kamu di sini," seloroh pria itu mulai menggombal.
"Serius kak, maafin kak Sky ya? Dia orangnya gitu, keras, untung mbak Disya sabar sama dia," ucap Bintang spontan.
"Itu tandanya Sky sangat menyayangi mu, wajar sih dia berbuat begitu, aku dong yang harusnya minta maaf, lancang tertidur di kamar kamu," ujar pria itu menatap lekat netra matanya.
"Tapi kemarin malam emang nggak terjadi apapun kan? Maksud aku antara aku dan kakak, cuma tidur doang kan?"
"Hampir, kamunya nakal sih, akunya udah mau pulang malah ditarik terus di peluk-pelu," jawabnya jujur.
"Eh, emang aku gitu, kok aku nggak berasa, cuma emang aku ngerasa nyaman banget tidurnya kemarin malam, seperti Bunda yang sedang ngelonin aku," curhatnya.
__ADS_1
"Berarti kamu nyaman dong sama aku? Mau nggak kalau kita beneran ngelakuin itu."