One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 107


__ADS_3

"Sekarang, coba buka mata kamu!" titah Sky lembut.


Setelah mendapatkan instruksi dari suaminya, gadis itu segera membuka matanya. Netranya langsung menangkap pemandangan di depannya. Terlihat ada banyak pekerja di sana yang berlalu lalang.


"Ini tempat apa? Bangunan?" tanya gadis itu bingung, mengamati sekitar area.


"Gimana? tempatnya strategis nggak?"


Disya masih terlihat bingung, gadis itu terdiam dengan kening berkerut.


"Sayang, ini kelak yang akan menjadi hunian kita, tempat kita tinggal bersama dengan anak-anak kita nantinya," jelas Sky tersenyum.


"Rumah ini punya kamu?"


"Iya, masih tahap pembangunan, belum sepenuhnya jadi, sehingga banyak pekerja. Gimana? Kamu suka nggak konsepnya, kamu bisa pilih sendiri untuk desain kamar kita atau warna ruangannya."


"Mas, tapi ini terlalu besar, untuk kita tinggali berdua," ujar Disya mengamati setiap detailnya.


"Siapa bilang cuma berdua, kita bakalan tinggal bersama anak-anak kita nantinya. Aku sengaja menyiapkan rumah yang luas, lengkap dengan taman belakang yang indah untuk bermain anak-anak kita nantinya," jelas Sky seraya terus berjalan mengamati setiap ruangan.


Di bagian belakang, lebih tepatnya samping, di rencanakan area bersantai dengan pegola di atasnya. Sky ingin menjadikan area ini spesial dengan sebuah kolam ikan dan area rumput. Di sampingnya terdapat ruang kaca dengan jendela-jendela besar, yang akan di pakai sebagai ruang olah raga dengan berbagai peralatannya.


Rumah setengah jadi ini belum terlalu lama di bangun, Sky harus mengumpulkan uang terlebih dahulu untuk menciptakan rumah impiannya bersama keluarga.


"Untuk sementara, tinggal di rumah Bunda dulu ya, nggak pa-pa kan sampai rumah kita selesai di bangun?"


"Nggak pa-pa Mas, aku boleh ngga ikut andil dalam membangun rumah ini. Aku punya tabungan juga," tawar gadis itu merasa terharu.


Ia bisa saja meminta pada orang tuanya, namun tidak ia lakukan. Sky bekerja keras untuk dapat mewujudkan impiannya, salah satunya mendirikan rumah yang cukup besar dengan luas tanah hampir setengah hektar. Itu jelas membuat Disya bangga, ia bukan tipikal laki-laki yang mengandalkan orang lain, padahal Disya sangat yakin, orang tuanya lebih dari mampu untuk mewujudkannya.


"Nggak usah sayang, InsyaAllah uang aku cukup kok, doakan saja semoga diberikan kelancaran dan kesehatan, selalu lancar rezekinya," ujar Sky seraya mengelus belakang kepala Disya.


Sky senang atas inisiatif dan juga tawarannya, itu artinya Disya benar-benar mau membuka hati dan hidup bersama dirinya.


"Nggak pa-pa Mas, aku punya tabungan yang lumayan juga kok," jelas Disya.


"Buat kebutuhan pribadi kamu aja sayang, kamu kan belum kerja, dari mana coba?"


"Ya... uang dari Papa sama dari kamu lah, aku belanjain secukupnya sisanya aku tabung, bisa lah buat nambah-nambah sedikit," ujar gadis itu tersenyum.


"Makasih sayang... kamu ternyata pandai mengelola keuangan, makin cinta deh aku. Uang yang sudah aku kasih, itu untuk kebutuhan mu saja, jadi nggak usah ikut mikirin ini ya, aku udah rancangin kok, insyaAllah cukup dan masih amam. Ya walaupun harus sedikit sabar, tapi uang aku masih ada, jadi nggak usah ikut mikirin ya?" jelas Sky.


Disya hanya bisa mengangguk saja, refleks gadis itu memeluk suaminya haru. Tangan gadis itu terulur melingkari punggung suaminya dengan erat. Sky yang mendapat pelukan tak terduga pun hanya mampu tersenyum senang. Istrinya benar-benar berubah, ia merasakan Disya semakin dekat dengan dirinya.


"Makasih sayang, udah mau membuka hati buat aku?" ucap Sky menghujani ciuman di kening istrinya.


"Kamu berhak mendapatkan kesempatan itu Mas, maafkan aku yang masih suka ngeyelan, semoga kamu tetap sabar dan mencintaiku," jawab Disya masih dalam pelukan.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, saling mengungkapkan perasaannya mereka berniat pulang karena hari sudah sore. Namun sebelumnya, Sky mengajak istrinya untuk mampir ke kedai. Pria itu mengajak sekalian istrinya makan di luar.


"Mau di mana?" tanya pria itu, memberikan pilihan terhadap istrinya. Mereka saat ini sedang di dalam mobil baru saja meninggalkan lokasi hunian rumah mereka.


"Ngikut aja Mas, terserah Mas saja," jawab gadis itu menurut.


Sky melajukan mobilnya di sebuah restoran, tempat lumayan favorit dulu waktu masih remaja. Sudah lama banget Sky tidak ke sana, mendadak pria itu ingin mengunjunginya.


Sesampainya di sana, mereka langsung mengambil duduk di meja yang tersedia, mulai membaca menu yang di tawarkan.


"Mau pesen apa sayang?"


"Samain aja Mas, aku mau ke toilet dulu bentar."


"Mau aku antar?" tawar pria itu.


"Nggak usah, sebentar doang kok," ujar gadis itu bangkit dari kursi dan berjalan ke arah samping.


Sky tengah menunggu pesanan untuk mereka berdua, pria itu membuka aplikasi whatsapp yang ternyata banyak pesan yang belum sempat ia balas. Tak berselang lama, seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka ke meja makan.


"Makasih mbak," ucap Sky sopan.


Disya masih juga belum kembali, pria itu akan menunggu istrinya untuk memulai makan. Tiba-tiba terdengar seseorang wanita menyerukan namanya.


"Sky ya? Ya ampun... beneran ini kamu?" sapa wanita tersebut sedikit kaget.


Tak terduga Disya yang melihat kejadian itu pun, hanya mampu terdiam. Mengamati interaksi ke duanya dengan perasaan entah.


"Baik, aku baik," jawabnya sambil mengurai pelukan mereka.


"Kamu di sini sama siapa? Sendirian, aku boleh nggak duduk di sini?"


Khem


Suara deheman menginterupsi ruangan, membuat netra Sky langsung menuju padanya. Disya yang baru saja datang membuat suasana meja semakin tidak kondusif. Sky terlihat salah tingkah, pria itu takut Disya melihat saat Mona tiba-tiba memeluknya.


"Oh, kamu tidak sendiri ya Ky, ini siapa? Hallo, perkenalkan saya Mona?" Mona dengan percaya diri mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya.


"Disya," jawab gadis itu menyambut uluran tangan perempuan itu dengan ketus. Matanya menyorot tajam ke arah Sky dengan tanda tanya yang besar.


"Mona Disya ini---"


"Adik kamu ya? Ya ampun... udah besar aja. Kita lama juga ya Ky nggak ketemu, terakhir waktu di London kan?" cerocos wanita itu, memotong perkataan Sky yang belum tuntas. .


Sky menjadi bingung sendiri, terlihat Disya tidak berselera makan dengan kedatangan Mona. Pria itu ingin menjelaskan tentang status dirinya tapi Mona selalu menyela.


"Ky, boleh dong aku minta nomor telphone kamu?" ujar gadis itu tersenyum.

__ADS_1


Sky menatap istrinya yang tengah menatapnya sengit.


"Berapa?" tanya perempuan itu tak sabaran.


"Sini mbak aku bantu masukin nomornya ke ponsel," tawar Disya mengambil ponsel Mona dari genggaman. Dengan cepat gadis itu mengetikkan angka dan menyerahkan ponselnya pada Mona.


Sky nampak melongo melihatnya, detik berikutnya menatap khawatir muka istrinya yang terlihat kesal. Apalagi Mona duduk tepat di sampingnya, membuat pria itu semakin tidak enak saja.


"Aku kasih nama, mantan terindah ya?" ujar perempuan itu tersenyum.


Disya yang mendengar langsung melotot, menatap dengan kesal pria di depannya. Sementara Sky sendiri menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kalian kalau masih mau ngobrol silahkan di lanjutin aja, kebetulan aku sudah kenyang, aku duluan ya?" pamit Disya merasa kesal. Gadis itu langsung berlalu meninggalkan meja makan.


Kenyang dari mananya, bahkan Disya belum sempat makan pesanannya. Sky langsung berdiri, pria itu merasakan hawa yang tidak baik-baik saja.


"Sorry Na, gua duluan ya?" pamit pria itu berlalu, sedikit berlari kecil menyusul istrinya yang sudah berjalan lebih dulu.


"Sya, tunggu Sya? Kamu kenapa sih, main ninggalin gitu aja, kan belum sempat makan?" ujar Sky menyayangkan.


"Udah kenyang lihat orang pelukan," jawab gadis itu ketus.


Mati aku, Disya marah? Eh tapi tunggu deh, itu artinya... apakah Disya cemburu? Cemburu artinya sayang nggak sih?


Sky bermonolog dalam hatinya, laki-laki itu tersenyum dalam kebingungan.


"Nggak jelas!" gumam Disya ngedumel.


Berjalan ke arah mobil dengan hati dongkol. Sky membukakan pintu untuk istrinya lalu berjalan cepat memutari depan mobil, masuk dan memposisikan dirinya di jok kemudi. Melirik istrinya yang menampakan wajah mrengut.


"Sya, kamu marah sama aku?"


Hening


Disya membuang muka ke arah samping, terlalu malas menatap pria di sampingnya. Entah mengapa ia kesal sendiri melihat Sky di peluk perempuan lain dengan sapaan yang menurutnya genit.


Lama ke duanya terdiam, Sky masih belum menyalakan mesin mobilnya. Pria itu terlihat bingung menyikapi istrinya yang hanya diam.


"Sya, kamu cemburu?" Sky akhirnya memberanikan diri mengatakan hal itu.


Disya menoleh dengan wajah yang semakin kesal, bukannya cepat berjalan. Pria itu malah menanyakan hal demikian.


"Mau jalan nggak sih, atau aku turun aja deh cari taksi," kesal Disya menatap Sky.


Sky langsung mencekal tangannya, menarik gadis itu yang berujar turun. Menatap gadis itu begitu lekat, dalam dan menghunus tajam.


Detik berikutnya pria itu langsung mencondongkan wajahnya, menyambar bibir ranum itu dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2