One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 75


__ADS_3

Disya tengah menatap gambar dirinya di depan cermin, perempuan itu sudah berganti baju dan sekarang tengah sibuk memberikan sentuhan krim di bagian wajahnya. Kejadian tadi benar-benar membuat dirinya malu, apalagi sebentar lagi jam makan malam.


Sementara Sky sedang tidak ada di kamarnya, entahlah pria itu kemana? Disya sungguh kesal di tinggal sendirian di kamar. Eh, kok jadi kesal bukannya kalau ada Sky yang ada dia di cuekin ya? Entahlah, perasaan ingin dekat tapi hatinya kesal, itu yang sedang dirasakan Disya saat ini.


Perempuan itu menyibukkan dirinya dengan memainkan ponselnya untuk menghibur diri.


Tok tok tok


"Masuk!" seru Disya dari dalam. Nampak Bintang menyembul dari balik pintu.


"Mbak, di tungguin acara makan malam," ujar Bintang memberi tahu.


"Owh... iya dek siap." Mereka ke luar dari kamar dan berjalan beriringan menuruni anak tangga.


Tiba-tiba adik ipar nya itu mengajukan pertanyaan yang membuat Disya bingung menjawab.


"Mbak, nikah itu... rasanya gimana?" tanya Bintang di sela-sela jalan.


"Rasanya...?" Disya menerawang.


"Enak ya mbak, bisa berduaan terus di kamar, seperti tadi. Hehehe."


Disya tersenyum, adik iparnya sedang masa puber tentu saja rasa penasarannya tinggi. Tapi sayangnya kamus enak itu belum di temukan di dalam pernikahan mereka sehingga Disya cukup membalas dengan senyuman.


"Aku pingin nikah muda loh mbak, biar pacarannya habis nikah aja, biar nggak dosa," curhatnya.


"Iya dek, bagus itu, tapi sekolah dulu yang bener, masih terlalu muda, belum juga lulus," timpalnya tersenyum.


Di ruang makan sudah berkumpul Ayah dan Bunda, namun Disya tidak menemukan sosok suaminya. Ia pun menarik kursi dan mengambil posisi duduk.


"Ayo makan sayang, ambil nasinya," titah Yuki demi melihat Disya hanya diam saja.


"Iya Bun." Disya mulai mengisi isi piringnya.


Gadis itu hendak makan tetapi seperti menahan sesuatu yang masih mengganjal di pikirannya.


"Mas Sky kemana ya Bun?" tanya gadis itu memecahkan rasa penasarannya.


"Tadi sih bilangnya mau ke luar sebentar ada urusan, udah kamu makan aja nggak usah nungguin," ujar Bunda Yuki kalem.


Disya merampungkan makan dengan cepat, gadis itu mengambil dalam porsi sedikit. Sampai usai makan malam Sky belum juga kembali, Disya mulai sedikit kesal. Ia ingin tidak peduli dan mengunci kamarnya, namun sayangnya mereka sedang tinggal di rumah martuanya, jadi mau tidak mau gadis itu bersikap sewajarnya saja.


Bolak balik Disya mengganti posisi tidurnya, gadis itu tidak bisa memejamkan matanya barang sejenak pun, pikiranya terus berkelana dan hatinya tak tenang.


"Ish... gue kenapa sih, kok jadi sebel gini. Kalau tahu bakal di tinggalin juga mending gue pulang ke rumah Mama," gerutu Disya kesal.


"Awas aja sampai nggak pulang, udah pergi nggak pamit, ninggalin gue di sini kaya orang ilang," keluh Disya.


Disya benar-benar kesal, mau tidur tidak mengantuk sama sekali, gadis itu akhirnya memutuskan untuk membaca novel online di ponselnya untuk mengurangi rasa jenuh yang melanda. Hingga pukul dua belas, Disya masih belum tidur dan Sky belum pulang.


"Duh... aku kok lapar ya," gumam gadis itu seraya berjalan menuju backpack yang sempat di bawa kemah, ia ingat betul masih menyimpan coklat di sana.


Gadis itu berjalan menuju tas yang masih teronggok di lantai kamar. Ia segera membuka tas tersebut dan benar saja masih ada satu batang coklat yang tersisa, Disya tersenyum lega, setidaknya coklat mampu mengganjal perutnya yang uring-uringan persis seperti hatinya saat ini.

__ADS_1


Ceklek


Suara pintu kamar terbuka, pria yang sedari tadi membuat gelisah menampakkan batang hidungnya setelah pukul setengah dua belas malam. Pria itu terkesiap mendapati istrinya yang belum tidur dan sedang santai ngemil coklat, duduk di atas ranjang sambil berselonjoran.


"Belum tidur Sya?"


"Hmm... nggak bisa merem," jawab Disya seraya mengunyah coklatnya.


"Udah malam lho ini, jangan begadang," kata pria itu sambil berjalan menuju ranjang.


"Ngikutin imamnya, Bapak aja begadang kenapa saya nggak boleh," jawabnya acuh, Disya merasa kesal.


"Hmm... kenapa gitu Sya, emang sekarang udah di akuin?"


Hening


"Bapak dari mana?" tanya Disya menginterogasi.


"Dari luar," jawab Sky singkat padat dan tidak jelas.


"Dari luar kan ada namanya, kok pergi gitu aja, jadi cowo ngeselin banget sih," gerutunya cerewet. Sky menautkan ke dua alisnya.


"Kalau di tanya itu di jawab, jangan malah lihatin kaya gitu," sambung Disya ngegas.


"Aku suka kalau kamu perhatian gini." Sky tersenyum menatap istrinya.


"Ish... nggak nyambung banget, di tanya apa jawabnya apa?"


Disya menatap sengit pria yang tengah menatapnya. Pria itu diam berujar membaringkan tubuhnya dengan perlahan.


"Ngantuk Sya, pengen bobok."


"Nggak boleh tidur satu kasur kalau nggak bersih-bersih dulu, lagian kamu dari luar ngapain aja juga saya nggak tahu," ujar nya seraya mendorong tubuh Sky agar minggir dari tempatnya.


"Sya, aku cape banget, ngantuk juga udah deh jangan cerewet gini, tidur sayang... kamu nungguin aku kan?" ujarnya percaya diri.


"Nggak usah GR, siapa juga yang nungguin Bapak, sekalian aja nggak usah pulang," ujar Disya kesal. Gadis itu membaringkan tubuhnya dengan memunggungi Sky.


Sky bergeming, dengan malas beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Pria itu melakukan dengan cepat, setelahnya mengganti pakaiannya dan bersiap berbaring di sebelah istrinya.


"Sya, udah tidur?" tanya Sky mengintip, pria itu berbaring miring dengan menopang kepalanya sehingga agak sedikit lebih tinggi dari Disya.


"Hmm... diem Mas, aku ngantuk."


"Kamu belum gosok gigi, habis maem coklat entar gigi kamu sakit, bersih-bersih dulu kalau mau tidur satu kasur," ucap pria itu seraya mengendus pipi Disya.


"Sya, kalau nggak bangun juga aku ga---?" Omongan Sky kepotong di udara sebab Disya merubah posisi tidurnya dan sekarang menghadap Sky, posisi wajah mereka begitu dekat. Dalam seperkian detik pria itu termangu dan menatap lekat istrinya.


"Aku ga--- apa Mas? Kamu dari mana jawab dulu?"


"Mas, ikh... kok malah bengong sih, munduran dikit deh sempit."


"Sya... ini hari apa? Tanggal berapa?"

__ADS_1


"Minggu tanggal empat, kenapa emang ingat- ingat tanggal."


"Berarti minggu depan ya? Masih lama amad, oh... minggu depan cepatlah datang, aku udah nggak kuat," keluhnya seraya menatap Disya.


"Ngomong apa sih nggak jelas banget." Disya tahu maksud suaminya, kenapa ia menjadi ikut deg degan mengingat hari minggu depan.


"Sya, malam ini pemanasan dulu boleh?" ujar pria itu menatap lekat istrinya.


"Aku haus Mas?" tanyanya apa jawabnya apa.


"Mau minum?" tawarnya santai.


"Buatin susu boleh?"


"Kan nggak bawa, ini di rumah Bunda, besok beli ya yang banyak."


"Ikh... aku lapar?"


"Udah makan malam, di tambah ngemil coklat, emang belum kenyang?"


"Masih lapar? Pingin nyusu?"


"Aku juga pingin nyusu Sya, pingin banget malah?" Sky tersenyum.


"Mas kamu dari mana?"


"Yassalam... tanyanya itu lagi?"


"Kamu belum jawab pertanyaan aku Mas?"


"Cari ketenangan," jawab Sky.


Hening


Disya bangkit dari kasur, gadis itu beringsut turun dari ranjang.


"Mau kemana Sya?"


"Ambil minum, haus."


"Biar aku ambilin, kamu tunggu di sini aja," ujar Sky turun dari ranjang dan berjalan ke luar dengan cepat. Lima menit kemudian Pria itu sudah kembali dengan segelas air putih hangat di tangannya.


"Makasih," jawabnya tersenyum senang.


Disya langsung menghabiskan setengahnya dari isi gelasnya.


"Udah bobok Sya, udah malam."


Disya merangkak naik ke atas kasur, tepat di samping Sky berbaring.


"Kamu nggak bisa tidur karena nungguin aku kan? Kata Bunda kamu nyariin aku? Kangen ya?" seloroh Sky seraya merapikan selimut mereka berdua.


Masa iya gue kangen, aneh banget, kalau dekat gini gue ngerasa nyaman tapi kesel malah suka benci. Gue kenapa sih, nggak jelas banget!

__ADS_1


Sky tertidur sambil memeluk istrinya, Disya pun membiarkan saja Sky bersikap demikian, kenyataannya walaupun suka kesal ia sangat nyaman berada dalam dekapan pria itu.


__ADS_2