One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 71


__ADS_3

Disya terdiam, termenung di dalam tenda, hati dan pikirannya benar-benar kacau. Hanum dan Bila nampak prihatin melihat sahabatnya terdiam saja, mereka belum berani menanyakan perihal yang membuat hati ke dua gadis itu penasaran setengah mati.


Rara, dan Dara serta teman-temannya yang lainnya masuk ke dalam, mereka semua langsung berhambur ke arah Disya. Tadi, setelah terjadi keributan, Disya, Hanum, Bila dan Sky kembali ke perkemahan lebih awal, sementara teman-teman yang lainya tetap melanjutkan kegiatan acara sampai siang hari.


"Sya, lo nggak pa-pa? Gimana keadaan lo?" tanya salah satu teman mereka.


Bisma dan Faro juga langsung menyusul ke dalam tenda, pria itu baru sempat menilik keadaan Disya karena harus tetap memantau jalannya agenda.


"Iya, nggak pa-pa kok, aman, cuma kaget aja," ujar Disya mencoba tersenyum. Disya merasa fisiknya baik-baik saja, tapi hati yang sudah beberapa hari ini di bentuk untuk tegar dan kuat kembali terkoyak.


"Sya, syukurlah kalau lo nggak pa-pa, gue khawatir banget sama lo." Bisma mendekat, pria itu terlihat lega ketika Disya mengatakan dirinya baik-baik saja.


"Lo istirahat saja kalau gitu, mending kita keluar dulu deh. Biarkan Disya istirahat." Rara nampak menginterupsi teman-teman yang lainya supaya memberikan ruang untuk Disya beristirahat sejenak.


"Makasih semuanya," ucap Disya lirih seraya memejamkan matanya.


***


Ini adalah hari terakhir kemah dan akan di lakukan acara penutupan nanti malam. Semua anak-anak nampak sibuk menyiapkan untuk acara malam nanti. Terkecuali Disya tentunya, gadis itu sedang terlelap di dalam tenda.


"Pak! Mukanya kenapa?" tanya Bisma kepo.


"Kebentur," jawab Sky sekenanya.


"Kena batu saat tadi nolongin Disya ya Pak?" tebak pria itu meneliti. "Sakit?" tanyanya memastikan.


"Sakit hati!" jawab Sky kesal, mahasiswa nya itu begitu cerewet di telinga Sky.


"Bapak bisa saja, mukanya Pak maksud saya?" jelas Bisma.


"Nggak!!" jawab Sky ketus.


"Briefing dulu Pak, mari saya duluan," pamit Bisma seraya ke luar dari tenda.


Sky tidak tahan hanya berdiam diri saja di tenda, ia ingin sekali melihat keadaan Disya saat ini. Hatinya benar-benar kacau setelah kejadian tadi. Pria itu berjalan ke luar dan menuju tenda Disya. Ia tidak peduli ada beberapa anak yang melihat itu, dirinya bahkan tidak ambil pusing kalau pada akhirnya semua orang tahu. Iya hanya takut, Disya akan bertambah benci padanya.


"Pak, Disya sedang istirahat!" seru Bila menghadang Sky. Gadis itu menatap Dosennya penuh selidik.


"Oh... saya mau jenguk, saya harus memastikan mahasiswa saya baik-baik saja karena ini di bawah tanggung jawab saya," ujar Sky tegas.


"Iya Pak, tadi saya lihat Disya sedang istirahat, coba Bapak periksa saja," ujar Bila pada akhirnya. Gadis itu nampak berfikir keras dan semakin kepo terhadap dogan yang tengah berdiri di depannya


"Kamu ngapain masih di sini?" tanyanya dingin.


"Jagain Disya Pak," jawab Bila santai.


"Oh... ya sudah kalau begitu, tolong jagain ya?"


"Eh, Bapak nggak jadi jenguk?"

__ADS_1


"Katanya lagi istirahat, iya kan?" Pria itu mundur teratur dari tempat itu, memang bukan waktu yang tepat untuk membahas semuanya di sini.


"Iya sih, aneh banget tuh dogan. Sepertinya ada yang di sembunyikan Disya dan Dosen Sky deh." Bila bermonolog.


"Woi... ngalamun!" Hanum berjingkrak di depan Bila.


"Han, lo tahu nggak?"


"Nggak?"


"Ikh... serius gue, dengerin deh!"


"Apa? Mau ngomong apa?"


"Tadi dogan ke sini mau jengukin Disya, semakin aneh banget nggak sih tingkah mereka? Lo lihat kan tadi waktu di gazebo, mata kepala gue lihat sendiri, Pak Sky tuh pegang tangannya Disya, maksudnya apa coba, apa itu yang membuat kak Rayyan marah?"


"Pak Sky maksudnya, iya sih... gue ngerasa juga gitu. Ngapain kak Rayyan sama Pak Sky berantem coba, emang mereka musuhan? Ada masalah apa? Dan hubungannya sama Disya apa? Duh... gue kepo akut!"


"Tanya ke Disya aja langsung dari pada mati penasaran, ayo ah..."


Bila dan Hanum masuk ke dalam tenda, ia melihat Disya tengah duduk sambil memainkan ponselnya. terlihat baru saja melakukan sesi panggilan.


"Sya, lo... udah baikan?"


"Udah kok, sorry ya gue nggak bantu-bantu buat acara nanti malam, eh gue malah ketiduran."


Tak ada jawaban dari Bila dan Hanum, mereka berdua menatap Disya tajam, penuh selidik.


"Iya, terus," jawabnya pura-pura bingung.


Ke dua sahabatnya menatap Disya lekat. Membuat gadis itu mengerti betul kalau ke dua temannya itu sedang mengintrogasinya.


"Iya deh iya, gue bakalan jelasin ke kalian," ujarnya seraya mengatur napas yang terasa berat.


"Gue... udah putus sama Rayyan," ucap Disya tenang.


"What!!" koor ke dua sahabat itu membulatkan matanya.


"Sshhttt... jangan kenceng-kenceng please..."


"Sumpah, demi apa lo ninggalin cowok sekeren kak Ray Sya!?"


"Terus hubungannya elo sama dogan apa? Kok mereka berantem?Lo selingkuh? Sumpah gue kaget banget lihat tuh orang adu jotos, untung cuma ada kita berdua yang lihat."


"Gue, gue... sama... Pak Sky udah nikah," jelasnya pasrah.


"What!!"


"What!! Disya?! Lo?"

__ADS_1


"Kok Bisa!?" pekik Bila syok.


"Sshhtt... di bilangin jangan kenceng-kenceng ngomongnya." Disya membungkam mulut Bila yang berbicara nyaring.


"Sorry, gue terlalu kaget," ucapnya seraya menekankan suaranya.


"Gue masih syok ini, pantes banget mereka berantem, ternyata ini masalah status lo, sumpah-sumpah lo parah banget sampe nyembunyiin ini semua dari kita."


"Gue nggak ada maksud, cuma emang belum nemu waktu yang pas buat ngejelasin ke kalian," ujar Disya memberi pengertian.


"Gimana ceritanya lo bisa udah merried aja sama dogan??" tanyanya penuh selidik.


"Gue di jodohin," jawab Disya datar.


"What!!!" Bila dan Hanum sampe melongo mendengar pernyataan sahabatnya.


"Lo cinta sama Pak Sky? Atau... masih sayang sama kak Rayyan?"


"Gue nggak tahu, please... gue pusing."


"Kapan lo nikah sama Pak Sky, dan kenapa lo sembunyikan dari publik."


"Gue... masih belum yakin sama hati gue, jadi please... kalian jangan kasih tahu siapa-siapa masalah ini, baru kalian berdua yang tahu, gue belum siap kalau anak-anak kampus pada tahu."


"Tapi kenapa? Apa yang salah sama Pak Sky, dia keren juga kenapa harus backstreet coba?"


"Lo nggak bakalan ngerti susahnya jadi gue, harus menerima perjodohan ini sementara gue sedang ngejalanin hubungan yang serius sama kak Ray, hati gue di paksa harus berbelok, sakit tahu nggak? Dan sekarang kalau gue publish semua orang tahu gue istrinya Pak Sky, lo bisa bayangin deh... cewe-cewe alay yang naksir sama tuh orang, bisa habis gue kena buly. Please gue sedang tahap menata hati gue... tolong ya, biarkan seperti ini dulu."


"Jadinya lo lagi belajar nerima suami lo maksudnya?"


"Lebih tepatnya, takdir hidup gue."


"Pantes, Pak Sky tuh beda kalau lihatin elo, nggak di kelas nggak di manapun, gue hafal banget kalau dia sering merhatiin elo."


"Duh... kak Ray, ganteng-ganteng sad boy, pasti banyak banget yang seneng lo putus."


"Widih... jahat! Termasuk lo maksudnya, Bil?"


"Eh, enggak ya, fitnah aje lo Han. Gini-gini nggak model lah nikung sahabat, kaya nggak ada stok cowo lain aja."


"Udah putus lo Bil, jomblo dia," candanya.


"Emang boleh gue deketin Sya, hehehe... canda?"


Disya mendelik kesal


"Jhah... masih belum move on dia, kasihan Pak Sky lah Sya... kalau hati lo bercabang gitu?"


"Gue butuh waktu... please lo nanti bersikap biasa aja ya kalau ketemu dia."

__ADS_1


"Khem...!!!" suara deheman nampak menginterupsi ke tiga cewe yang tengah mengobrol.


__ADS_2