
"Ya ampun... gue masih nervous, gila, ruangan tegang banget gaess..." curhat Hanum setelah mereka ke luar dari ruangan.
"Udah, nggak usah dipikirin yang udah lewat, yang penting gimana caranya biar besok bisa lebih lancar mengerjakan," jawab Disya cuek.
"Lo bisa ngerjain semua soalnya?" tanyanya kepo.
"Nggak lah, ada juga yang nggak bisa, tapi... banyak yang bisa sih."
"Gimana kalau nanti malam kita belajar bareng," usul Bila semangat.
"Wah... ide bagus tuh, jadi kita bisa tanya jawab soal."
"Gue setuju ide lo," Hanum menimpali.
"Gue juga setuju, tapi gue musti izin dulu sama suami," jawab Disya melow.
"Oke, jadi deal ya? Nanti malam kita belajar bareng di rumah Bila."
Mereka berempat lanjut mengobrol di kantin, perut terasa lapar setelah bertarung dengan soal. Disya dan Bila memesan bakso, sedang Sinta mie setan, dan Hanum batagor tanpa pare. Mereka makan dengan ngobrol asyik di temani dinginnya teh manis.
"Sya, kalau gue perhatiin lo agak gendutan deh sekarang," ujar Bila meneliti tubuh Disya.
"Iya, bener Sya, menurut penglihatan gue juga gitu," Sinta ikut menimpali.
Ya iyalah gemukan, orang gue lagi hamil juga.
"Masa sih, belakangan ini gue emang napsu makannya meningkat drastis, jadi efeknya melar deh. Hehehe." Disya nyengir tanpa beban.
"Habis ini mau pulang, atau jalan?"
"Pulang," jawabnya serempak
"Widih... kompaknya macam pasukan paduan suara saja," seloroh Hanum.
"Gue udah nggak bisa sebebas dulu, punya suami yang musti harus di urus," ujar Disya jujur.
Semenjak menikah, Disya tidak bisa leluasa bertingkah, apalagi suaminya itu posesif tingkat kabupaten, eh tingkat nasional lebih tepatnya.
"Resiko nikah muda ya gitu, harus siap dengan segala sesuatu konsekuensinya, eh, tapi gue kepo deh, beneran sumpah. Dogan lo di rumah dingin dan serem gitu nggak sih?" tanya Bila kepo yang di angguki rasa ingin tahu dua sahabat yang lainnya.
"Biasa aja sih, muka dia kan emang gitu, tapi... ada saat dia bisa bersikap manis sih, malah kadang manis banget, tapi tetep masih manis..." Muka Disya berubah jadi sendu. "Eh, astaghfirullah... gue kenapa jadi gini sih, ah gara-gara kalian nih, bikin gue jadi melow."
"Yang sabar ya beb, gue yakin dogan itu jodoh yang baik buat lo, dia juga kelihatan sayang dan cinta banget sama lo," ujar sahabatnya menenangkan.
"Jangan bilang lo belum move on?" Gue jadi penasaran, jujur deh, lo udah... gituan belum sama dogan?" tanya Sinta kepo akut.
Bila dan Hanum ikutan mendekat, dengan tatapan ingin tahu yang teramat. Mereka bertiga siap mendengarkan jawaban Disya.
"Harus banget gue jawab emang ya? Please... otak lo jangan pada kotor," kata Disya tersenyum.
"Eh, pasti udah ya? Kelihatan udah senyum-senyum nggak jelas."
__ADS_1
"Please dong gaess, doi itu cowo normal, jadi nggak mungkin banget nggak minta jatah, apalagi ini udah sah secara hukum dan agama, ya mana ada cowo yang betah," cerocos Bila cukup mewakili jawaban Disya.
"Bener kan Sya, jawaban gue?" ucapnya percaya diri.
"Seratus Bu Bil, cakep...!" Disya mengiyakan.
"Rasanya kaya apa Sya? Hihihi... nikmat tiada tara...?"
"Ish... pikiran lo Bil, mesum!" jawab Disya jengah.
"Kepo beb, kepo, maklum masih ting ting," kilah Bila mengerling.
"Rasanya... seperti terbang ke awang-awang, nikmat... bingits," Sinta menanggapi, spontan ke tiga gadis itu langsung menatapnya penuh selidik.
"Wah... kok lo hatam? Hm... gue kepo?"
"Cari cowo sana, biar bisa terbang ke nirwana," tanggap Hanum.
"Eh, ngobrolin apaan sih, random banget, kayaknya kita salah tempat dan waktu deh," ujar Disya.
"Gas... lanjut ke rumah gue, cabut hayuk ah, jangan lupa bawa stok cemilan yang banyak buat teman belajar," seloroh Bila antusias.
"Kuy lah, pulang dulu. Nanti gue kabari lagi bisa apa nggak?" kata Disya nggak yakin.
"Di usahain lah beb, biar seru. Kan mau belajar masa nggak boleh?"
"Oke, nanti kalau nggak di izinin gue maksa," ujar Disya tenang.
"Eh, tujuan pertama kita belajar ya?" timpal Hanum mengingatkan.
"Iya tahu, sambil menyelam minum air, kebetulan kita juga udah lama nggak nginep bareng."
"Oke, sampai ketemu nanti."
Dari kampus mereka langsung pulang ke rumah masing-masing. Sementara Disya, gadis itu mengunjungi ruang Sky terlebih dahulu atas amanatnya. Sky meminta Disya untuk menunggu dirinya supaya bisa pulang bersama sore ini.
Gadis itu langsung masuk setelah mengetuk pintu dan salam. Ia langsung duduk di sofa ruangan Sky. Sementara Sky sendiri terlihat sibuk di mejanya.
"Kalau capek tiduran dulu aja Sya?" ujar pria itu melirik istrinya yang berwajah lesu.
"Hmm," Disya menjawab dengan gumaman, duduk menyender di badan sofa sambil menekuri ponselnya.
"Udah makan?" tanya Sky perhatian di tengah-tengah kesibukannya yang melanda.
"Udah, tadi. Kamu sendiri udah makan?"
"Belum," jawab pria itu santai.
"Kok belum sih, ini kan udah lewat jam makan siang?"
"Nggak ada yang ngingetin jadi lupa," sindir pria itu.
__ADS_1
Disya mengangkat dua alisnya. Menatap kesal pria di depannya yang masih fokus dengan setumpukan kertas. Gadis itu langsung mengetikkan sesuatu di ponselnya.
"Mau kemana?" tanya Sky melihat pergerakan Disya yang tergesa.
"Ke bawah bentar, ambil barang," ujar gadis itu sambil lalu.
"Ngapain?" Sky sampai berdiri dari kursi.
"Ambil pesenan mas, aku delivery makanan buat kamu."
Sky mengulum senyum mendengar perkataan istrinya, ternyata Disya peka juga?
"Nggak usah sayang, nanti kamu capek bolak balik. Biar aku suruh seseorang saja," ujar Sky santai.
"Ish... nanti dia nggak tahu. Bentar doang juga," ujar Disya kekeh.
Beberapa menit berlalu, gadis itu kembali ke ruangan Sky dengan membawa makanan pesenannya. Gadis itu harus pintar mengambil hatinya untuk sore ini, tentu saja karena ia ada maunya. Disya harus mendapatkan izin menginap di rumah Bila.
"Makan dulu Mas? Udah kerjanya buat nanti," ujar gadis itu mulai membuka pesanan yang isinya nasi kotak, ayam bakar kalasan.
"Mau aku suapin?" tawar gadis itu ramah, tersenyum sumringah.
Sky menangkap sesuatu yang tak biasa pada diri istrinya, ia cukup senang atas perhatiannya yang tiba-tiba, tapi tentu saja pria itu cukup waspada. Istrinya itu tipikal yang sulit di tebak, hati dan pikirannya terkadang tak sama, begitulah ia menangkap atas dasar sepengetahuannya.
"Boleh, tapi... nggak sedang modus kan?" tanya pria itu memastikan.
"Nggak lah... kan aku mau belajar jadi istri yang penurut, baik dan perhatian," kata Disya mengulas senyum.
"Makasih sayang," ujar pria itu trsenyum menghentikan aktifitasnya dan beranjak ke kamar mandi untuk mencuci tangannya.
"Aku makan sendiri aja, kamu cukup temani aku di sini," ujar pria itu dan memulai menyuapi nasi ke dalam mulutnya.
Sementara Sky makan, Disya duduk anteng di sampingnya sambil menscroll layar ponselnya. Jari-jarinya sibuk menggulir tampilan di layar ponsel, sementara pikirannya sibuk merangkai kata untuk menyusun cara menyampaikan maksud keinginannya.
"Mas, nanti... aku mau belajar bareng boleh?" kata gadis itu membuka suara setelah Sky selesai menyuap nasinya.
"Boleh dong, masa belajar nggak boleh," jawab pria itu kalem.
Yes yes
"Aku belajarnya di rumah Bila Mas, jadi... nanti malam rencananya kita mau belajar bersama," jelas Disya hati-hati.
"Oh... ya udah nanti aku antar," ujar pria itu tenang.
"Nggak usah Mas, aku berangkat sendiri aja, nanti kan kita bakalan sampe malam, aku... boleh nginep ya?" kata Disya lirih.
Sky langsung menoleh, menatap Disya dengan tenang. "Nggak boleh!" ucap pria itu tegas.
"Ish... tadi katanya boleh, kenapa sekarang jadi nggak boleh, nggak konsisten," kesal Disya memberengut.
"Kalau belajar, belajar aja Sya? Tapi nggak harus nginep juga?" Nada bicara Sky naik satu oktaf.
__ADS_1
Gadis itu mrengut, suasana ruangan mendadak horor karena ke duanya memilih untuk saling diam.