
Disya tahu Suaminya itu terlihat kecewa, senyum itu ia sengaja tunjukan untuk menghiburnya. Tapi entah mengapa Disya merasa lega, sebab ia sendiri masih belum siap untuk hal itu, mau sampai kapan? Tentu saja sampai waktu kesepakatan mereka, tidak peduli hatinya masih membingungkan Disya harus bersikap sewajarnya layaknya berumah tangga.
Sulit sekali rasanya menggali perasaanya sendiri, menemukan kenyamanan yang berarti. Walaupun jujur, belakangan ini ia mulai nyaman dan terbiasa karena kehadirannya. Disya berharap perasaan itu akan tumbuh menjadi cinta, agar bisa menjalani dengan bahagia. Karena pada kenyataannya menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita cintai itu sakit, dan sulit untuk menerima, terlebih jika kasusnya seperti yang dialami Disya, benar-benar tragis dan miris.
Perempuan itu bangkit dari rebahan singkatnya, sebenarnya ia sangat rindu dengan kamarnya ini, baru beberapa minggu di tinggalkan tapi berasa lama, praktis setelah menikah dengan Sky, Disya hanya pulang beberapa kali itu pun sangat singkat, hanya mengambil barang-barang miliknya saja.
Kangen masa-masa masih gadis, banyak menghabiskan waktu di rumah, terutama kamarnya ini. Pandangannya liar menyapu ke seluruh ruangan. Masih sama, bersih, rapi, dan wangi, Bik Tini benar-benar menjaga dan merawatnya.
"Ya ampun ...," gumam Disya lirih. Ia mengambil bingkai foto figura yang sudah terbalik dan itu ada gambar dirinya dan juga Rayyan.
"Sky tadi pasti lihat ini, makanya dia jadi berubah kaya gitu, aneh dan terlihat murung, padahal habis jatuh aja masih cengengesan, tapi semenjak aku masuk kamar, Sky jadi dingin dan aneh," gumamnya panjang lebar.
Disya mengeluarkan foto mereka dari figura, lalu menaruhnya di tempat sampah. Sebenarnya ia tidak ingin melakukan itu, tapi demi hatinya bisa move on, ia harus menghilangkan jejak Rayyan apapun di kehidupannya.
"Maafkan aku kak, aku terpaksa menghapus namamu dari hatiku secara perlahan, benar-benar perlahan, dan ini tidak mudah, karena setiap kali aku melihatmu, nyatanya hatiku masih bergetar. Semoga kita bisa menjalani kehidupan ke depannya dengan bahagia, walaupun tidak bersama."
Tanpa sengaja Disya meneteskan air matanya, masih saja merasa luka jika mengingat kisah mereka yang indah harus berakhir dengan begitu tragisnya akibat kebodohannya sendiri. Setelahnya perempuan itu mengelus perutnya sendiri, mencoba mencari kekuatan dari sana.
"Sayang ... tumbuh yang sehat ya, Bunda sungguh melewati ini tidak mudah." Disya merasa lebih nyaman setelah melakukan hal tersebut, hatinya melow tetapi setidaknya dia punya cara untuk menenangkan dirinya sendiri.
Sky bagi Disya adalah orang yang baik dan bertanggung jawab. Sejauh ini laki-laki itu terlihat begitu sabar menghadapi dirinya, ini akan sangat tidak adil untuk pria itu kalau Disya masih enggan membuka hati, terlebih mereka akan punya anak tentu membutuhkan orang tua yang klop dan saling mencintai.
Tok tok tok
"Non Disya, ditunggu untuk makan malam," seru Tini dari luar pintu.
"Iya Bik, Disya turun sebentar lagi," sahut Disya.
Perempuan itu keluar dari kamar dan turun ke lantai dasar, ia langsung menuju ruang makan. Di sana sudah ada Mama Papa, kak Flora, dan Sky. Mereka terlihat sangat akrab, bahkan kak Flora dan Sky sedang terlibat perbincangan yang cukup asyik, kalau dilihat dari pandangan Disya, mereka seperti tengah bercerita dalam keakraban.
__ADS_1
Menyebalkan sekali
Entah mengapa Disya merasa tidak suka melihat suaminya bercengkrama begitu ramah dengan Flora, padahal sudah jelas dulu Sky tidak mau di jodohkan dengannya, tapi tetap saja rasanya aneh karena Flora pernah tertarik pada Sky.
"Sya, ayo makan?" seru Mama Amy menginterupsi.
"Iya Ma," jawab Disya.
Disya mengambil piring di hadapan Sky dan mengisi piring milik suaminya lebih dulu, tanpa menawarkan apapun perempuan itu langsung mengambilkan sesuai selera dirinya. Sementara Sky terlihat diam dan melirik istrinya saja. Setelah di rasa cukup, ia kembali menaruh piring yang sudah berisi satu porsi penuh kehadapan suaminya.
"Sya, kita mau sepiring berdua?" tanyanya tersenyum.
"Kamu romantis sekali sayang," sambung pria itu datar.
Tentu saja Sky tidak habis, Disya mengambil dalam porsi yang banyak.
"Wah... kalian romantis sekali," celetuk Mama Amy heboh.
Mereka makan dengan diam, Disya dan Sky makan dalam satu piring yang sama. Disya tidak bermaksud demikian tapi entahlah, Sky malah berucap seperti itu di depan keluarganya, tentu saja Disya canggung. Setelah makan malam selesai, mereka melanjutkan ngobrol asyik di ruang keluarga, tapi tidak untuk Disya, perempuan itu bahkan langsung kembali ke kamarnya begitu ia merampungkan acara makan malamnya.
Tak berselang berapa lama Sky mengikuti istrinya menuju kamar. Pria itu mendapati istrinya sudah terlelap begitu dirinya memasuki kamar. Pria itu berjalan menuju kamar mandi terlebih dahulu baru setelahnya mulai menyusul istrinya ke atas ranjang. Sudut matanya tak sengaja menangkap Foto Rayyan yang sudah teronggok di tempat sampah, membuat seketika senyum itu terbit dari bibirnya.
"Sayang ... kamu udah bobok?" tanya Sky seraya menelusup masuk ke dalam selimut.
Disya tidur dengan posisi memunggungi Sky, perempuan itu merasakan hangat tubuhnya yang saling berhimpitan ketika tangan kekar suaminya melingkar di pinggangnya, dengan telapak tangan mengelus perutnya secara perlahan.
"Sya?" panggil Sky tepat di belakang telinganya. Tangan kiri pria itu menopang kepalanya sendiri sehingga posisi Sky lebih tinggi.
"Aku nggak bisa tidur Sya, butuh vitamin," keluh pria itu seraya mengendus pipi Disya.
__ADS_1
"Merem aja Mas, nanti juga lama-lama tidur," jawab Disya setengah di ambang mimpi. Disya sudah mengantuk tapi masih mendengar gumaman Sky.
"Sayang ... hadap sini dong ... ini pertama kalinya aku nginep, aku nggak bisa tidur." Pria itu membalik paksa tubuh Disya agar menghadap dirinya.
"Kenapa Mas, aku ngantuk?" ucap Disya sedikit kesal.
"Aku butuh obat, aku nggak bisa tidur," jawab pria itu dengan tatapan sayu.
"Hah, obat? Obat tidur?" Disya spontan membuka matanya kembali, rasa kantuk yang sudah menguasai dirinya mendadak menguap bagai asap.
"Aku nggak punya, coba bentar aku tanya Mama dulu punya apa nggak," jawab Disya polos dan hendak bangkit dari kasur.
"Mau kemana?" tanya Sky merasa heran tidak peka dengan maksud dirinya.
"Mau obat kan? Katanya nggak bisa tidur?" ucap Disya salah mengartikan.
"Obatnya kamu sayang ...." kata pria itu menatap Disya lekat.
"Aku?" jawab Disya gugup. Disya mengeryit bingung.
"Hmm, beri aku vitamin dulu baru aku bisa merem," ujar pria itu menatap Disya dalam.
"Tadi obat, sekarang vitamin, ribet bener sih Mas," keluh Disya.
Dalam seperkian detik, Sky langsung menyatukan dirinya. Menyambar bibir istrinya yang ranum. Laki-laki itu melakukan dengan sangat lembut. Perlahan tapi pasti, Disya yang baru saja 'ngeh' dengan maksud suaminya pun sempat terpaku, ia baru membalas ciuman itu dengan perlahan setelah suaminya sedikit menggigit bibir bawah Disya dengan gemas.
Mereka saling memagut, bertukar saliva dalam buaian asmara yang menggelora. Suasana yang tenang perlahan berubah menjadi panas, Sky semakin memperdalam pagutannya, mengabsen setiap inci rongga mulut istrinya tanpa mau menyisakannya. Pria itu baru melepaskan setelah Disya terengah kehabisan udara.
Setelahnya mereka saling menatap dalam napas yang masih memburu.
__ADS_1