
Pagi hari di kediaman Ausky. Pasangan halal itu masih menyerukan perang dingin di antara ke duanya. Seatap tanpa cinta itu memang tidak mudah di jalani. Tapi, pria bernama Ausky itu tetap bersikap kooperatif mungkin dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang suami.
"Sya? Kamu mau minta nafkah berapa setiap bulan?" tawar suami Disya.
"Terserah," jawab Disya datar.
"Kalau aku nggak kasih, terserah juga?" ujar Sky santai.
Disya melirik kesal ke arah pria itu, yang di lirik tetap tenang duduk di kursi hendak sarapan pagi.
Pluto ngeselin banget sih. Nawarin tapi kaya nggak ikhlas.
Sky berdiri dari duduknya, mengekor Disya yang tengah membuatkan minuman untuk dirinya.
"Nih kopinya, sekarang gantian buatin saya susu," pinta gadis itu kesal. Entahlah apa yang terjadi pada dirinya, sudah dua hari ini ia merasa ketagihan susu buatan suaminya itu, terasa lebih enak.
"Yang ikhlas dong Sya, biar dapat pahalanya," protes Sky demi melihat kejutekan istrinya yang masih setia menghiasi wajah ayunya.
Disya terdiam, tidak menggubris perkataan suaminya. Sementara Sky dengan senang hati membuatkan susu khusus ibu hamil rasa coklat kesukaan Disya, lalu menaruhnya tepat di hadapan gadis itu.
"Nanti habis dari kampus, Bunda nyuruh kita datang ke rumah. Jadi pulangnya bareng, kamu langsung ke ruangan aku aja setelah kelas usai. Kalau nggak mau pulang bareng juga ya terserah, yang penting kamu bisa datang ke rumah Bunda tepat waktu," ucap pria itu dingin.
Disya segera menghabiskan roti tawarnya. Begitu pun dengan pria itu. Gadis itu hari ini ada jadwal ke kampus pagi. Sementara Sky baru ada jadwal mengajar jam satu siang, itupun baru mulai hari ini karena dua hari lalu pria itu tidak masuk. Muka tampannya masih terlihat lebam jadi sama sekali tidak keren untuk mengajar, pikir pria itu. Jadi praktis pagi ini Sky tak ada kegiatan yang berarti. Pria itu akan mengerjakan hal lain di rumah.
"KTM saya mana Pak?" pinta Disya, gadis itu hendak berangkat.
"Ralat dulu ngomongnya, mulai sekarang selain di kampus di larang keras memanggil aku Pak, karena aku bukan Bapak kamu, tapi Bapak anak kita," ujarnya tenang.
Semenjak Disya terang terangan mengatakan ingin berpisah, pria itu menjadi sangat menyebalkan dan begitu dingin. Berbicara seperlunya saja dan terkesan datar. Tapi tentu saja Disya tidak peduli, gadis itu masih sama juga jutek.
"Ribet bener nih hidup, cepet deh. Saya udah di tunggu taksi di depan," ujar Disya kesal.
"Panggil dulu yang bener, nanti aku kasih."
"Manggil apa? Kan bener situ Dosen saya, apanya yang salah? Bapak kebanyakan drama, hidup sudah susah di bikin tambah susah," gerutu Disya mengomel.
Sky masih duduk anteng di meja makan dengan santainya. Pria itu lantas berdiri dan menuju kamarnya meninggalkan Disya dalam mode jengkel.
__ADS_1
Dasar Pluto! Manusia bumi menyebalkan.
"Gue udah nggak sabar pingin cepet sembilan bulan, biar bisa bebas dari manusia menyebalkan kaya elo!!" gumam Disya pelan.
Disya menghentakkan kakinya ke lantai, berjalan menuju kamar. Mau tidak mau Disya harus bersikap manis walaupun hatinya enggan. Demi apa? Tentu saja demi kuliahnya tetap lancar, nilai aman. Biar bagaimana pun Sky adalah dosen Disya jadi sudah barang tentu Disya butuh orang itu.
"Kapan Anda mau berhenti menjadi orang yang super menyebalkan," keluh gadis itu menatap Sky mrengut.
"Kapan pun yang kamu mau, saat di mata kamu sudah tidak ada lagi kebencian dan saat di otak kamu sudah tidak ada lagi pikiran tentang perpisahan. Serta saat hati kamu sudah lapang," ucap Sky menatap Disya lekat.
Hening
Mereka saling menatap dalam diam, ke duanya tidak ada yang membuka obrolan, mata mereka saling bersirobok. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka berdua, tapi yang jelas, saat ini gadis itu ngeblank.
Sky masih setia menatapnya, tatapan yang begitu lekat dan dingin. Hingga membuat gadis itu bingung cara menyikapinya.
"Sya!" Sky maju satu langkah lebih dekat, sontak Disya memundurkan tubuhnya.
"Tak ada yang lebih menyakitkan dari pada menatap orang yang kamu cintai, lalu menemukan bayangan orang lain di sana."
"Aku ingin bebas, bebas mencintai tanpa bayangan masa lalumu, juga tanpa bayangan masa silam ku," sambung pria itu.
Sky tersenyum devil, ia hanya mendekati Disya tanpa menyentuh. Hatinya tersenyum melihat mimik wajah gadis itu. Pria itu mengacak rambut Disya dengan gemas lalu beringsut mundur.
Sky mengambil dompetnya yang ia taruh di atas nakas, lalu ia mengeluarkan kartu debit, dan juga KTM Disya. Pria itu mengambil tangan Disya dan menaruh ke dua kartu beda fungsi tersebut ke atas telapak tangan istrinya.
"Nomor pin nya tanggal pernikahan kita," ucap pria itu lalu melangkah ke luar kamar meninggalkan Disya yang masih mematung di tempat.
Dalam seperkian detik, Disya masih bingung dengan semua perkataan suaminya itu. Ia tahu maksudnya, tapi gadis itu masih seperti tidak menyangka tentang kehidupannya yang teramat mendadak berubah dengan kejadian yang ada.
Disya berjalan ke luar kamar, mencari sosok tampan yang belakangan sangat menyebalkan. Pria itu tengah bersibuk ria di depan laptopnya.
Ghem!
Disya berdehem, tapi pria itu tetap saja fokus menatap layar laptopnya. Gadis itu nampak menghela napas panjang.
"Makasih, saya berangkat dulu," pamit Disya lalu mengambil tangan Sky yang sedang sibuk di atas keyboard, ia menciumnya dengan takzim.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum...!" salam Disya menyeru lalu secepat kilat Disya membalikkan tubuhnya melangkahkan kakinya keluar dari rumah.
"Waalaikum salam," jawab pria itu, hatinya menghangat seketika mendengar kelembutan istrinya.
Disya langsung masuk ke dalam taksi yang akan mengantarkan ia ke kampus.
___
Tuhan... tolong hapuskan lah rasa ini, agar aku bisa melangkahkan kakiku tanpa beban.
Ajari aku cara terbaik untuk melupakannya.
Ajari aku cara melepas bayang-bayang akan semua kenangan.
Ajari aku cara mengacuhkan hadirnya yang tersimpan rapi dalam ingatan, agar hati ini bisa mengikhlaskan dan melangkah ke depan dengan lapang.
"Mbak sudah sampai?" Bapak supir taksi sampe menginterupsi melihat Disya yang masih sibuk dengan lamunannya.
"Eh, udah sampe ya Pak?"
Gadis itu segera turun setelah melakukan pembayaran, dan langsung melesat menuju kelasnya. Hari ini Disya mengikuti kelas dengan tenang dan lancar. Namun untuk siang ini ada kegiatan rapat panitia Baksos bersama BEM Fakultas Ekonomi. Setelah kegiatan rapat, Disya dan sebagian temannya kebagian jatah mensurvai tempat lokasi, sialnya gadis itu bahkan lupa untuk mengabari suaminya.
Sky pikir Disya tidak mau pulang bareng bersama dirinya. Pria itu bahkan sengaja tidak menghubungi Disya, karena sengaja ingin melihat kesungguhan istrinya tersebut, yang mendadak berubah sedikit lebih manis. Tapi ternyata hingga sore hari ketika Sky mengunjungi rumah Bunda, Disya belum sampe di sana.
"Assalamu'alaikum...! salam pria itu menggema.
" Waalaikum salam... lho, Disya mana? Kok datang sendirian?" tanya Bunda Yuki.
"Tadi habis kelas, Sky suruh pulang ke sini dulu Bun, kok belum sampe ya?" ujar Sky bertanya balik.
"Mungkin sedang dalam perjalanan," sahut Bintang.
"Tumben kamu di rumah dek, biasanya jam segini belum pulang," seloroh Sky.
"Lagi males main, lagian kata Bunda mbak Disya mau datang ya aku di rumah aja lah," ujar gadis imut itu senang.
"Eh, itu jidat kamu kenapa? Kok pake plester segala?" kepo Sky penasaran.
__ADS_1
"Tanda sayang dari seseorang," jawab Bintang ngasal.