
"Kalian ngapain di sini?" Sky menatap tajam kearah istrinya, dan juga adiknya. Bisa-bisanya mereka malah berkencan dengan Rayyan.
"Hay bro, tadi kami whatsapp nggak bisa keluar, udah kelar kerjaannya?"
Bukannya menjawab, Sky malah menatap bingung ke dua sahabatnya. "Hai, iya baru saja pulang, dan sekarang mau jemput adik dan istri gue. Nggak nyangka ketemu kalian di sini?"
"Istri?" beo Gerald dan Bara bingung.
"Lo udah jadi nikah? Kapan? Kok nggak ngabarin?"
"Iya, belum lama, tunggu saja undangan syukurannya," jelas pria itu.
"Ayo sayang kita pulang, sorry gue duluan ya?" ajaknya tanpa memberi penjelasan lebih detail.
"Lho, kok buru-buru, udah terlanjur di sini, kenapa nggak sekalian gabung aja?"
"Lain waktu saja, sedang urgen," kilahnya melirik Rayyan
"Eh, tunggu-tunggu, kok lo ... istri yang dimaksud?" Gerald menatap bingung tangan Sky yang menggenggam tangan Disya. "Lo menikah sama Disya? Bukannya Disya mantan calon istri Rayyan?" Bara dan Gerald cukup bingung dengan situasi yang ada.
Rayyan mematung, namun netranya langsung menyorot Bintang yang nampak terkejut.
"Ceritanya panjang, sorry nggak bisa jelasin ke kalian, tapi benar adanya begitu," jelas Sky setenang mungkin.
Sementara Bintang cukup kaget dengan fakta yang baru saja didengarnya. Ia merasa sangat kecewa dengan sikap kakak iparnya yang hanya diam saja tanpa menjelaskan apapun sewaktu bertanya. Jadi ia sekarang paham, mengapa kakaknya itu begitu melarang kedekatannya dengan Rayyan.
"Kita perlu bicara, Bin. Tunggu!" seru Rayyan cemas. Menahan tangan Bintang yang di seret Sky.
"Lepasin tangan adek gue, Sya cepat masuk mobil, dan kamu Bintang susul kakakmu ke mobil!" titahnya setenang mungkin.
Melihat tangan Sky yang menggandeng tangan Disya membuat ke dua sahabat mereka langsung menatap Rayyan dengan rasa ingin tahu.
"Lo hutang penjelasan ke kita bro, apa maksudnya? Kenapa lo diem aja saat Sky membawa Disya, jangan bilang lo putus gara-gara Sky?"
__ADS_1
"Dah lah, udah lewat. Gue lagi nggak mood buat bahas mereka," ungkapnya mencoba memahami keadaan.
"Jadi benar, lo putus gara-gara Sky? Keterlaluan sekali, kenapa dia setega itu sih, apa persahabatan kita tak ubah seperti butiran debu, mengapa dia berkhianat, dan lo diem aja gitu," Gerald menatap takjub plus mencemooh pada Rayyan.
"Pada kenyataannya yang perhatian dan pengertian pun akan kalah sama yang halal. Terlebih gue lihat Disya terlihat bahagia hidup bersamanya," ungkap pria itu tenang.
Bara menepuk-nepuk punggung Rayyan, berusaha memberikan kekuatan.
"Sejak kapan ini terjadi, kok lo nggak cerita?"
"Bingung mau mulai dari mana, gue emang sempet hancur banget kemarin tapi sekarang alhamdulillah udah nggak begitu, gue sadar lambat laun gue harus bisa berdamai dengan keadaan," jelasnya cukup kuat.
"Lo mau gue kenalin sama cewe, siapa tahu bisa ngobatin sakit hati lo," tawar Bara.
Rayyan menggeleng, "Gue nggak mau pacaran, mau langsung nikah aja, biar nggak ketikung lagi," tekad pria itu.
"Lo mau datang di acara reuni besok?"
***
Blubb
Suara dentuman pintu mobil yang di tutup cukup keras, sangat mewakili perasaan Sky yang terlihat begitu marah. Melihat dua orang wanita terdekatnya berada satu meja dengan laki-laki yang paling dihindarinya saat ini.
"Disya Anggita pindah depan, aku bukan supirmu!" titah pria itu sarkas.
Alih-alih protes, perempuan itu hanya mampu saling diam dengan muka cemas dan rasa bersalah. Disya yang sudah mengambil duduk di jok belakang pun langsung keluar dan pindah duduk di jok depan. Disya paham betul, jika suaminya memanggil dengan nama lengkapnya sekaligus itu tandanya ia benar-benar sangat marah.
"Bintang, setelah lulus langsung bertolak ke London. Kakak udah atur kuliah kamu di sana!" Tanpa basa basi pria itu memutuskan pendidikan adiknya.
Bintang pun tak berani membantah ataupun menyela perkataannya. Gadis itu cukup paham dengan situasi sekarang, namun kenapa ia begitu kecewa dengan sikap mereka semua, kak Ray yang sedikit banyak telah menyentuh hatinya, kak Sky yang tidak mau kebuka dan mbak Disya yang tidak mau jujur, gadis belia itu cukup mengana dengan keadaan yang ada.
Tidak ingin mengambil resiko terlalu jauh, atau lebih tepatnya tidak siap menerima jika adiknya berpotensi sakit hati bila terus dekat dengan Rayyan, Sky harus mengambil sikap lebih jauh dengan cepat, menjauhkan sejauh mungkin adiknya dengan rivalnya itu, sebelum ia yakin bahwa pria yang pernah menjadi sahabatnya itu benar-benar tulus mencintai adiknya.
__ADS_1
Suasana di dalam mobil terasa begitu dingin dan mencekam, aura gelap langsung menguar begitu saja. Tak ada yang berani membuka suara sampai mobil itu kembali pulang ke rumah. Bintang langsung masuk dan kembali ke kamarnya, sementara Disya dan Sky masih di dalam mobil untuk beberapa menit ke depan.
Mereka berdua hanya saling diam, Sky yang terlihat marah, dan Disya yang bingung sendiri cara membuka kata. Pria itu langsung keluar dari mobil terlebih dahulu, dengan membanting pintu yang tak kalah keras dengan yang tadi.
Disya sampai terjingkat kaget, perempuan itu langsung menciut nyalinya hanya untuk mengucapkan penjelasan, Sky benar-benar terlihat sangat marah. Disya langsung turun begitu berhasil menguasai emosi di hatinya yang bergejolak, ia tidak sengaja bertemu dengan Rayyan tetapi Sky semurka itu. Ia benar-benar sakit hati didiamkan begitu saja.
Disya memasuki rumah mertuanya dengan perasaan kesal dan juga takut. Perempuan itu memasuki kamarnya dan terlihat kosong, Disya yakin suaminya tengah di kamar mandi karena gemericik air yang menyala.
Hingga menjelang makan malam Sky tidak ada menegur istrinya. Laki-laki itu menjadi irit bicara, iya hanya berbicara dengan Bunda dan Ayah menanggapi bila sesekali ditanya. Sky menghabiskan makan dengan cepat dan langsung menuju kamarnya kembali.
"Aku duluan Bun, mau langsung istirahat," pamit pria itu sebelum melangkahkan kakinya dari meja makan.
Bunda hanya mengangguk saja tanpa banyak bertanya, walaupun ia sedikit mencurigai perihal sebab diamnya anak-anaknya. Tetapi Yuki tidak ingin terlalu jauh ikut campur urusan rumah tangga anaknya. Takut membuat mereka, atau lebih tepatnya menantunya menjadi merasa tidak nyaman.
Tak berselang lama, Disya dan Bintang juga pamit dari meja makan. Mereka berdua menaiki anak tangga secara bergantian.
"Dek, kamu juga marah sama aku?" tanya Disya demi melihat adiknya yang berubah menjadi sangat dingin.
"Aku kecewa sama Mbak, diantara banyaknya pria di muka bumi ini, kenapa harus kak Ray sih yang pernah menjadi calon suami mbak," ucap Bintang kesal. Gadis itu berlalu begitu saja dari hadapan Disya dan menuju kamarnya sendiri.
Disya menjadi sangat sedih, adiknya sekarang membencinya, suaminya juga mendiamkannya. Gadis itu benar-benar merasa tidak betah hidup di rumah mertuanya. Hanya Bunda dan Ayah yang masih terlihat baik, tapi kalau mereka tahu juga, apa mereka juga akan membenci Disya?
Gadis itu merangkak naik ke atas kasur, menyusul suaminya yang sudah berbaring lebih dulu dengan posisi memunggunginya. Setetes buliran bening itu pun tak kuasa jatuh ketika matanya berkedip, ada rasa sakit di ulu hatinya, merasa begitu sangat diabaikan.
Pagi harinya Disya bangun lebih awal. Gadis itu aktifitas seperti biasanya, sudah menyiapkan ganti untuk suaminya mengajar. Mereka masih perang Dingin, sama-sama terdiam satu sama lain. Tetapi yang membuat perempuan itu merasa begitu tidak nyaman, bukan hanya suaminya yang mendiamkannya melainkan Bintang juga ikut memusuhinya.
Disya dan Sky masih berangkat ke kampus bersama, sampai tiba di kampus pun mereka masih saling diam. Disya yang menjadi kesal karena sikap acuh suaminya, Sky yang sengaja ingin memberi peringatan dengan sikap dingin dan cueknya.
Pukul Setengah sepuluh siang makul diampu oleh Dosen Sky, Disya yang masih sedikit kesal pun sengaja tidak mengikuti kelasnya dan memilih berdiam diri di perpus. Pria itu semakin kesal dan gondok begitu menyadari istrinya tidak mengikuti kelas dirinya, padahal dengan jelas gadis itu masuk kampus bersama dirinya tadi pagi.
Setelah jam mengajar habis, Sky langsung menghubungi istrinya, namun bukannya di angkat malah panggilan tersebut di matikan, membuat pria dua puluh enam itu semakin kesal dan murka. Alih-alih membuat istrinya jera dan menurut, ini malah di buat emosi sepanjang hari.
"Kemana sih tuh anak," gerutu Sky sambil terus mengomel menatap layar ponselnya yang baru saja mengirim pesan, hanya sekedar di baca tanpa di balas, padahal jelas Disya sedang online.
__ADS_1