One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 60


__ADS_3

Usai rapat Disya langsung keluar dari ruang multimedia gedung A. Belum sempat menghubungi Sky, suami posesif nya itu sudah lebih dulu menghubunginya. Gadis itu terdiam sesaat, membaca pesan sambil berdiri termangu.


Plak


"Woi, pulang...?" Bisma menabok pundak Disya.


"Bentar, nunggu jemputan," jawab Disya santai.


"Mau bareng? Ayo sekalian," tawarnya seraya menganggukan kepalanya.


"Jangan mau Sya, modusss!" sarkas Alan. "Mending bareng gue, tulus dari jantung."


"Makasih, nunggu aja," jawabnya datar.


ckckck.... Bisma terkekeh. "Syukur...!!"


"Disyayang.... bang Alan masih sama kok, hati dan perasaannya, walaupun kau selalu menganggapku butiran debu." Alan berakting lebay, tapi emang sebenarnya Alan lebih sering menjadi ban serep ketika Rayyan secara tidak langsung suka menitipkan kekasihnya itu dulu.


Disya memutar matanya malas. "Udah sana pada pulang, nggak usah pada lebay di sini, nanti ada yang ngamuk kalau kalian godain gue." Disya berkata sambil bercanda tapi nyatanya emang ada sepasang mata elang yang mengawasi pergerakan gadis itu dari radius dua puluh lima meter.


"Jangan lupa besok bawa jaket, Sya." Bisma mengingatkan.


"Beh... cie... perhatian," saut Alan rese'


"Biasa aja, iya kan Sya?" kilah Bisma santai.


"Kuy lah Sya, bareng gue. Sekalian ada yang mau gue omongin." Alan spontan menyeret tangan Disya.


Gadis itu nyengir pasrah, namun sesaat segera menghempaskan tangan Alan yang bermaksud bercanda ketika netranya bertemu dengan manik mata elang menyorot mereka tajam.


"Alan! Lo dalam masalah, cepetan pulang sebelum tambah masalah."


"Beneran? Lo nggak mau gue anter? Ini udah hampir petang lho."


"Iya, jemputan gue udah datang. Pulang sana, bikin orang salah paham saja."


Disya masih bersikap tenang ketika mendapati muka Sky yang merah menahan kesal. Dirinya bersikap demikian lantaran hanya bercanda saja, dengan ke dua sahabatnya itu. Walaupun emang terlihat begitu dekat satu sama lain. Namun bagi Sky tentu tidak suka, dan membuat hatinya panas melihat istrinya bersenda gurau tanpa batas.


Pria itu menghampiri Disya dan langsung menautkan jari-jari tangan kirinya ke jari tangan istrinya. Mulutnya diam namun pergerakannya menandakan posesif dan cemburu.

__ADS_1


"Mas, jalannya pelan-pelan dong," keluh Disya mencoba mengimbangi langkah Sky yang berjalan cepat.


Sky menuju parkiran dan langsung membukakan pintu mobil untuk Disya. Pria itu terdiam namun dengan gerakan cepat.


Serem amad kalau marah, dasar pluto!!


Disya menggerutu dalam hatinya.


"Bisa nggak sih kalau jadi orang tuh sadar status? Kamu itu sudah bersuami jadi jangan terlalu dekat dengan lawan jenis, apa lagi cekikikan tak berfaedah kaya gitu. Becanda kamu itu nggak lucu, kamu terkesan cewe yang nggak bisa menjaga diri."


Glek


Perkataan Sky sukses mencubit hatinya. Bahkan terlalu sakit tertangkap di telingannya. Apanya yang salah? Bahkan untuk urusan berteman saja di beri batasan ini itu, sungguh Disya benar-benar muak dengan segala aturan rumah tangga yang ada.


Ini orang kaku banget, pernah muda nggak sih?


Disya merasa dongkol sekali hatinya, bahkan kini sudut matanya mulai menggenang, hanya sekali kedip saja sudah pasti buliran bening itu jatuh ke pipinya yang mulus.


"Bagaimana kamu bisa belajar memahami hati aku Sya, bahkan belum apa-apa saja sudah meruntuhkan semangat dan harapan atas diriku."


Hening


Disya memejamkan matanya takut, bahkan gadis itu merasa dirinya dalam bahaya. Disya mencengkram erat sabuk pengaman dalam genggaman.


"Berhenti Mas, perut aku mual!" pekik Disya kesal. Spontan Sky langsung menghentikan mobilnya di pinggiran jalanan.


Hari sudah petang dan ini hampir Maghrib, Disya keluar dari mobil dengan cepat, dan segera memuntahkan isi perutnya di tepi jalan. Gadis itu menangis dalam diam. Sky yang hendak membantu dan mengusap punggung Disya langsung di tepis dengan kasar oleh tangan Disya.


"Sekarang aku paham, kamu hanya cinta dan sayang sama bayi yang sedang aku kandung, tanpa peduli sama perasaan aku Mas, aku semakin yakin kamu hanya terobsesi sama tubuhku tapi tidak pernah peduli dengan hidupku." Disya benar-benar benci dengan laki-laki yang sekarang ada di depan matanya.


Dada Sky bergemuruh hebat mendengar penuturan dari istrinya, rahangnya mengeras, seberapa besar pria itu menahan amarah untuk tidak sampai murka terhadap wanita yang berstatus istrinya tersebut. Pria itu bergeming, berusaha menetralisir rasa dongkol yang menguasai hatinya.


Dirinya bahkan sangat mencintai gadis di depannya, namun tak sedikit pun istrinya itu mau mengerti, seakan omongan yang baru mereka sepakati hanya angin lalu.


Disya berbalik dan langsung menyetop taksi yang kebetulan melintas. Sky berusaha mengejar Disya namun gadis itu sudah setengah berlari dan masuk ke dalam mobil.


"Sya, berhenti Sya! Kamu salah paham." Sky berteriak setengah frustasi.


"Jalan Pak!" perintah Disya pada supir taksi.

__ADS_1


"Tapi itu Mas nya menghalangi jalan, gimana dong mbak?" ujar supir taksi merasa prihatin melihat pasangan yang sepertinya sedang bertengkar itu.


"Tabrak saja," ucap Disya marah.


"Waduh... nggak boleh begitu dong mbak. Saya nggak berani."


Disya lantas turun dari mobil dan menuju mobil Sky, gadis itu mengendarai mobil Sky seorang diri dan meninggalkan Sky sendirian di tepi jalan.


"Sya! Sya!" teriak pria itu ketakutan, karena Disya membawa mobil dengan keadaan marah dan mengemudi sendirian.


"Oh, shitt!!" umpatnya kesal.


Sky langsung menyusul menggunakan taksi setelah beberapa saat berhasil menemukan taksi yang melintas. Disya mengendarai dengan kecepatan sedang setelah mobil menjauh dari tempat kejadian perkara. Sekilas terbesit rasa kasihan, dan iba atas tindakan dirinya yang meninggalkan Sky begitu saja, padahal jelas hari sudah hampir petang.


Disya tetap fokus menyetir, perempuan itu bergeming. Rasa kesal lebih mendominasi sehingga memutuskan untuk tetap melajukan mobilnya tanpa mau tahu pria itu keadaannya bagaimana.


Bagi Sky sama sekali tidak masalah dirinya di tinggal, ia hanya khawatir dengan kondisi Disya. Pria itu langsung bergegas turun dari taksi begitu sampai. Untungnya ia membawa uang dalam sakunya untuk membayarnya.


Sky langsung menuju lift, lantai lima belas huniannya itu terlihat sunyi ketika pria itu memasuki rumahnya. Iya yakin Disya sudah di dalam sebab sepatu gadis itu teronggok begitu saja di dekat rak.


Sky berjalan gontai menuju kamarnya, kosong. Sesaat rungu pria itu menangkap gemericik air di dalam kamar mandi. Ia pikir Disya tengah mandi di dalam. Sky pun mengikuti jejak Disya, masuk dalam kamar mandi yang berbeda tentunya. Pria itu menggunakan kamar mandi di dekat dapur.


Cukup sepuluh menit Sky membersihkan diri, begitu pria itu memasuki kamarnya, sudut matanya langsung menangkap bayangan Disya yang tengah menunaikan sholat maghrib seorang diri. Di sini Sky merasa sedih, sebab sudah beberapa hari selalu ia tunaikan berjamaah.


Pria itu mendekati sajadah, dan segera menunaikan kewajibannya sebagai muslim. Setelah salam, Disya sudah tidak ada di sebelahnya. Pria itu langsung mencari keberadaan Disya dan ternyata sedang di dapur membuat sesuatu untuk makan malam.


Sky memilih untuk tetap diam, mengamati istrinya yang tengah bersibuk ria. Otak Sky sibuk merangkai kata, untuk di sampaikan pada istrinya agar tidak salah paham lagi.


Disya berinisiatif memasak untuk makan malam mereka berdua. Tapi sayangnya bau bawang yang menyengat langsung membuat perutnya mual. Sky yang melihat istrinya hendak muntah pun langsung menghampiri Disya dengan cemas.


"Sya? Kamu nggak pa-pa?" ucap pria itu lirih.


Disya menggeleng sebagai jawaban, ia gagal memasak sebab tidak tahan pada bau bawang. Wanita itu pun akhirnya lebih memilih membuat mie instan saja untuk mengisi perutnya.


"Sya, kalau badan kamu tidak enak, jangan di paksain, kamu duduk aja. Sini biar aku yang buatin. Makan mie malam hari sebenarnya aku tidak setuju tapi sepertinya tidak terlalu buruk, boleh juga?" Sky masih ceriwis di dekat Disya yang tengah menyiapkan mangkuk.


Disya masih setia mendiamkan Sky sampai acara makan malam selesai. Disya masih kesal, perempuan itupun langsung meninggalkan meja makan begitu saja setelah usai makan.


Sky langsung menyusul istrinya yang sudah melesat ke kamar lebih dulu. Terlihat Disya tengah memainkan ponselnya duduk berselonjor di atas kasur, punggungnya bertumpu pada beberapa bantal yang ia sandarkan di headboard.

__ADS_1


Tanpa aba-aba Sky langsung merebahkan tubuhnya dengan posisi kepala tidur di paha Disya. Gadis itu terkesiap, namun Sky langsung menenggelamkan wajahnya di perut istrinya seraya memeluk begitu erat.


__ADS_2