One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 141


__ADS_3

"Mas ... aku mau naik itu tapi aku takut pusing," rengek Disya menunjuk biang lala.


"Kalau pusing yang lain aja ya, lagian kalau itu juga Mas takut pusing."


"Mau itu Mas ... ayo beli tiketnya?"


"Yakin ...? Nanti kalau udah jalan, berhentinya lama, beneran kuat?"


"Pengen coba aja."


Sky mengalah, walaupun capek melanda, lihat istrinya bisa tertawa bahagia adalah kesenangan tersendiri untuk hatinya.


"Oke, kita naik ya?"


"Kok kita? Nggak mau, kamu aja," pinta Disya yang membuat Sky melongo.


"Yang pengen naik itu siapa?"


"Aku," jawab Disya tersenyum.


"Terus, kenapa harus Mas yang naik, harusnya sama-sama dong."


Disya manyun, bibir seksi itu cukup menarik perhatian Sky yang gumush sendiri dengan polah istrinya.


"Ya sudah kalau nggak mau, kamu pulang aja sana, aku mau jalan-jalan sendiri. Di sini banyak anak-anak kecil lucu."


Disya mrengut, berjalan begitu saja meninggalkan Sky di tengah keramaian.


"Ini aku yang kurang sabar, atau istriku yang rewel nggak ketulungan sih," keluh Sky mendadak pening, mengacak rambutnya frustasi.


"Disky ... sayang!" seru Sky khawatir. Ia mendadak kehilangan jejak.


"Mana Disya?" gumam Sky lebih pada diri sendiri.


Sky mencari mondar-mandir belum mendapatkan istrinya. Ia cemas sendiri sementara langit sudah menggelap. Pria itu sampai menuju pusat informasi untuk menyerukan nama istrinya.


"Mas, anaknya yang hilang berapa umurnya, atau ciri-ciri nya?"


"Dua puluh tahun, bukan anak tapi istri saya," terang Sky.


"Coba dihubungi dulu Mas, lewat ponsel mungkin," saran seorang pria yang tengah berjaga.

__ADS_1


"Dari tadi sudah saya hubungi tapi tidak diangkat, sepertinya tidak dengar."


"Oke, tunggu ya Mas, nanti diinfokan," jawabnya tenang.


Hampir satu jam, Sky dalam kubangan cemas. Pria itu merutuki dirinya sendiri yang tidak langsung mengiyakan keinginan istrinya.


"Astaga Disya?" pekik Sky antara lega dan juga kesal. Istrinya sedang asyik makan jagung bakar, handphone di genggaman juga terlihat diabaikan.


Disya datar saja melihat pelototan suaminya. Ia hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus menggigit jagung bakar yang menguar harum.


"Kenapa nggak angkat telfon? Kamu bikin aku cemas," keluh Sky mencoba tenang.


"Males, kan lagi ngambek," jawab Disya cuek.


Sky membuang napas lelah, tidak boleh emosi, apalagi sampai marah-marah.


"Jadi naik biang lala, atau mau yang lainya?"


"Mau beli pop ice, rasa coklat," jawab perempuan itu menunjukkan yang lainnya. Sky langsung mengiyakan, jangankan pop Ice, gerobaknya juga ia beli kalau istrinya minta. Hehehe


"Ya udah ayo!"


"Tapi ini sudah di buat Mbak," protes abang penjual.


"Nggak papa, Mas, di beli dua-duanya aja," ujar Sky pengertian.


Puas berjalan Disya merasa lelah, perempuan itu merengek minta pulang.


"Yakin, udah nggak ada yang mau di beli?" tawarnya pingin cepat kelar.


"Aku mau cilok, harum manis, sosis bakar tapi mau dibungkus," ujar Disya merasa kenyang, tapi perutnya terasa lebih mahal. Ia juga nggak tahu, mengapa bisa menjadi terasa tidak nyaman begitu keinginannya tidak di iyakan. Tentu saja Sky mengiyakan.


"Mas, gendong ..." rengek Disya manja, begitu mobil yang ia kendarai sampai depan penginapan.


"Hmm ... manjanya bumil ...," seloroh pria itu bersiap menggendong istrinya. Sky juga khawaatir istrinya itu terlalu capek.


Baru aja nemplok dalam gendongan, Disya merasa ngantuk. Perempuan itu terlelap dalam pelukan suaminya. Sky tersenyum sendiri melihat istrinya yang sudah mengantuk berat.


"Hai ... bersih-bersih dulu," gumam Sky lirih mengendus pipi Disya setelah menurunkan istrinya di ranjang.


"Ngantuk," jawab Disya malas, setengah dirinya sudah terlelap di ambang mimpi.

__ADS_1


"Mau ke mana? Bobok Mas, sini?" Disya menarik lengan Sky yang hendak beranjak.


"Mau ke kamar mandi dulu, kamu kalau ngantuk ya sudah bobok aja."


Sky mencium pipi istrinya lembut, menenangkan agar istrinya mudah terlelap. Kemudian melepas sepatunya. Pria itu baru beranjak setelah memastikan istrinya benar-benar terlelap. Usai bersih-bersih, berganti baju dan mendekati ranjang dengan menenteng toner dan kapas, tak lupa tisu basah.


Sky membersihkan sisa-sisa make up yang menempel di muka istrinya dengan telaten. Disya yang sudah terlelap cukup menikmati saja tanpa terusik sedikit pun. Setelah bagian wajah istrinya terlihat bersih merata, barulah ia mengelap tangan dan kaki istrinya dengan tisu basah. Disya terbiasa bersih-bersih dulu sebelum tidur, namun malam ini mungkin terasa mengantuk berat menjadi perempuan itu terlelap begitu saja. Tentu saja Sky harus ektra pengertian, salah-salah wajahnya muncul jerawat pria itu bisa pusing sendiri mendengar keluhan istrinya yang lebay bin uring-uringan.


"Bobok yang nyenyak sayang, besok pagi kita pulang," gumam Sky mengelus perut Disya yang masih rata. Menciumnya dengan sayang dan memeluk sepanjang malam.


***


Hamil kali ini Disya lebih banyak rewelnya. Ngambekan, manja akut, dan yang paling membuat pria itu pening, tak bisa minggat sejenak pun. Istrinya itu tidak mau di tinggal lama-lama. Padahal aktifitas di kampus kadang padat merayap dan mengharuskan pria itu lebih lama stay di sana.


"Masih ada kelas?" tanya Disya kesal. Alih-alih sore harinya udah kelar pria itu harus mengajar sampai petang.


"Tunggu di ruangan Mas saja, oke sayang."


"Nggak oke, ikuuut ...!" rengek Disya.


"Ya sudah, masuk saja dan duduk manis di urutan paling belakang."


Disya mengikuti suaminya yang sedang mengajar, alhasil perempuan itu memasuki kelas dan duduk di kelas orang lain seperti yang sekarang tengah Disya lakukan. Ia mengikuti, mendengarkan di bawah tatapan anak-anak lainya yang merasa keheranan. Ada mahasiswa baru yang tumben-tumbenan masuk ke kelasnya. Tentu saja Disya cuek, hormon kehamilan tidak pernah salah, karena the power of tanpa rasa malu, bahkan abay saja ketika para netizen mulai berdesus mendengungkan namanya. Sky yang akan di buat repot menjawab semua alasan itu.


Usai kelas, satu persatu mahasiswa meninggalkan ruangan, tak terkecuali juga Disya, perempuan itu berlalu begitu saja dengan senyum yang sedikit luntur karena hampir setengah hari beraktifitas membuat perempuan itu capek.


Usai dari kampus, mereka langsung pulang ke rumah Bunda, kakek sedang sakit, dan di rawat di rumah Bunda.


"Opa sakit?" tanyanya ikut prihatin. Mereka sudah berada di mobil sedang perjalanan menuju rumah Bunda.


"Iya, ada banyak hal yang ingin Opa sampaikan, mungkin malam ini kita bakalan menginap di sana."


"Kenapa nggak di bawa ke rumah sakit aja Mas, kasihan Opa."


"Beliau nggak mau sayang, lebih memilih di rawat di rumah, katanya biar selalu dekat dengan anak-anak dan cucunya. Hari ini mendadak semuanya di suruh ngumpul di rumah Bunda."


"Oke Mas, kamu yang sabar ya, love you ..." Disya berucap lalu mencium pipi suaminya yang tengah sibuk menyetir.


Sky melirik dengan senyuman, istrinya itu memang belakangan ini manis sekali.


"Makasih, me too," balas pria itu tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2