
BRAKk!!!
Baru lima menit motor melaju, tiba-tiba ada motor dari arah berlawanan memotong badan jalan. Bintang yang kaget tidak sempat menahan rem dengan benar, alhasil gadis itu membelokkan stang untuk menghindari tabrakan. Motor gadis itu tergelincir dan menabrak bahu pembatas.
Ke duanya terjatuh, Disya dan Bintang sama-sama berguling ke jalan. Bintang seketika langsung bangkit, walaupun pelipisnya berdarah, gadis itu sadar dengan apa yang telah menimpa dirinya.
Sementara Disya meringis, menahan sakit pada perutnya yang terasa panas karena menghantam aspal, dan sakit luar biasa. Dengan sedikit terhuyung, Bintang spontan langsung berdiri dan menghampiri kakak iparnya.
"Bintang sssshhh... saaakittt!!!" keluh nya seraya memegangi bagian bawah perutnya.
"Ya ampun... kak, darah? Tolong... tolong...!!" teriak Bintang.
Hari sudah hampir maghrib, jalanan yang ia lewati lumayan lengah. Itu mungkin yang menyebabkan motor yang tadi melaju dengan kencang, ditambah hujan akan segera turun, membuat suasana pengendara motor gugup ingin cepat sampai pada tempat tujuan. Tanpa memperhatikan sekitaran dengan teliti, merugikan kendaraan lainya, dan terjadilah kecelakaan. Sialnya si pengguna jalanan yang serampangan itu tidak berfikir demikian, ia melajukan motornya begitu saja.
Warga pengguna jalan lainya yang melihat kejadian pun, langsung berhenti dan mengerubuti mereka berdua. Ke dua gadis itu di tolong pengguna jalan lainya untuk di bawa menuju rumah sakit. Disya yang pingsan membuat Bintang bertambah panik, gadis itu sampai lupa bahwa dirinya juga luka-luka.
Sesampainya di rumah sakit, Disya langsung di bawa ke UGD untuk selanjutnya pasien segera di tangani tim medis. Rayyan yang masih stay pun langsung bergegas. Pria itu kebetulan jaga sampai shif malam, ia sangat terkejut mendapati pasien itu adalah mantan terindahnya dan... Bintang.
Baru beberapa menit yang lalu, Rayyan dan Bintang bertemu. Mereka santai sejenak di kedai kopi, tapi sekarang Bintang sudah ada di rumah sakit dengan beberapa luka, dan... yang membuat ia syok, sekaligus tanda tanya yang besar, orang yang kecelakaan bersama Bintang adalah Disya.
Rayyan dan tim medis lainya segera melakukan tindakan, Disya yang pingsan dengan banyak darah, serta Bintang yang menahan sakit dan cemas yang tinggi.
Sky baru saja merampungkan pekerjaannya menjelang maghrib. Pria itu cukup sibuk meneliti hasil ujian para mahasiswanya. Ia merasa harus menyudahi pekerjaannya untuk hari ini. Pria itu bertolak dari kampus dan langsung menuju rumah mertuanya. Sesampainya di sana, Sky cukup kesal karena istrinya belum sampai di rumah Mamanya.
__ADS_1
Pria itu merogoh ponsel di saku celananya, ia baru saja menggulir layar ponselnya dan hendak menelpon istrinya, ketika lebih dulu ponsel di tangannya berkerlip. Dengan sekali usapan, pria itu tersambung pada nomor id caller Bintang.
"Iya hallo, apa dek?" sapa Sky santai.
"Kak," Bintang tercekat, lidahnya mendadak kelu memberikan informasi atas dirinya, ia terlalu takut kakaknya akan murka karena jatuh bersama Disya.
"Kita... maksud aku, aku dan mbak Disya kecelakaan," ucap gadis itu gugup. Termor panik habis kecelakaan, sama gugup karena ia membawa penumpang, yang tak lain adalah kakak iparnya dan... pingsan.
"Apa?!!" kaget, pria itu langsung melesat menuju rumah sakit setelah Bintang memberi tahu perihal yang terjadi dengan Bintang dan Disya.
Gadis itu sudah di jahit, dan mendapatkan penangan oleh dokter. Luka Bintang tidak cukup serius, hanya mendapatkan jahitan kecil di antara pelipis dan alisnya. Tangan dan kakinya lecet-lecet, ia yakin luka lebam di sana sini, karena tubuhnya terasa remuk, sehabis menghantam jalan.
Namun, ia tidak begitu khawatir dengan kondisi dirinya. Ia lebih mengkhawatirkan kondisi kakak iparnya yang pingsan, terlebih darah yang keluar dari ************ kakaknya begitu banyak, gadis itu benar-benar takut terjadi sesuatu pada kandungan Disya. Bintang menangis ketakutan.
Di tengah perjalanan, Mama Amy memberi kabar suaminya dan juga besannya, perihal putri mereka yang kecelakaan. Semua keluarga mendadak panik dan segera menuju rumah sakit. Sky terlihat gusar, dan beberapa kali menyugar rambutnya frustasi, apalagi saat kendaraan berjalan lambat karena terjadi kemacetan di jalan raya.
"Ya Allah... macet Mah, gimana ini," keluhnya kesal. Sedikit memaki dirinya sendiri.
"Iya, ini macet kenapa sih," jawab Mama Amy yang tak kalah cemas.
Pria itu setengah frustasi mendapati kemacetan yang melanda. Hingga akhirnya ia memilih turun, meminta tolong mertuanya untuk membawa mobilnya. Sementara Sky menaiki ojek yang kebetulan sedang melintas. Sky yang panik, dan tidak bisa menunggu terlalu lama memilih ngojek agar cepat sampai.
"Mas, bisa tolong cepat sedikit? Istri saya sedang di rumah sakit kecelakaan, saya harus segera tahu keadaanya," ujar pria itu cemas.
__ADS_1
Abang ojek menambah kecepatannya, ia menyalip dengan gesit. Walaupun agak tersendat macet, motor bisa menjadi solusi berkendara lebih alternatif di saat genting seperti ini.
Sky melakukan pembayaran dan langsung bergegas turun. Pria itu sudah tidak sabaran ingin cepat mengetahui keadaan Disya. Ia berlari-lari kecil di Koridor rumah sakit.
Sesampainya di sana, terlihat Bintang sedang duduk dengan balutan perban di pelipisnya. Menunggu kedatangan keluarga dengan mata basah.
"Bintang, Disya bagaimana? Apakah dia baik-baik aja?" tanya pria itu panik.
"Masih di dalam kak, sedang di tangani dokter," jawab Bintang sendu.
Mendapati Dokter keluar dari ruangan, Sky langsung membrondong pertanyaan mengenai istrinya. Dengan sangat berat hati, dan menunjukan sikap empatinya. Dokter dengan name tag Dara itu menyatakan bahwa pasien tersebut mengalami keguguran dan terpaksa harus di kuret karena usia kandungan yang sudah berjalan lima belas minggu.
Seketika Sky menjadi lemas, seakan tubuhnya tak bertulang. Sudut matanya basah. Pria itu menangis dalam diam, syok untuk beberapa saat. Ada rasa kecewa yang teramat dalam, dan juga kasihan. Semua campur aduk menjadi satu.
"Apakah istri saya sudah boleh di temui dok?" tanyanya sangat khawatir.
"Pasien sudah dipindahkan ke ruang rawat, silahkan dampingi istrinya Pak?" saran Dokter bijak.
Sky langsung menuju kamar rawat Disya. Ia masuk dan mendapati istrinya yang terbaring lemah dengan selang infus di lengannya. Gadis itu memejamkan matanya, terlihat sudut matanya basah. Sky menatap wajah istrinya sendu, ada rasa sama halnya yang teramat sakit menghantam hatinya. Ia baru saja kehilangan calon anaknya, dan itu menjadi duka dalam hidupnya.
Pria itu berjalan mendekat, meraih tangan Disya dan menggenggamnya, menciumnya dengan perasaan sakit. Disya yang sebenarnya sudah terjaga pun langsung membuka matanya perlahan. Netral mereka bertemu, terdiam untuk beberapa detik, ia yang di selimuti rasa bersalah dan kehilangan pun tak mampu menatap netra suaminya. Disya mengalihkan pandangannya ke samping, kembali memejamkan matanya sejenak, buliran bening itu kembali lolos di pelupuk matanya, gadis itu sangat berduka.
Sky bangkit dari duduk, ia sedikit membungkuk dan mengikis jarak, merengkuh bahu Disya dan memeluknya dengan sayang, tangannya terulur menyusut air mata istrinya, kemudian merapihkan anak rambutnya yang menutupi wajah. Sky menghujani ciuman sayang pada Disya, berusaha menyalurkan kekuatan pada istrinya yang terlihat begitu pilu.
__ADS_1
"Maaf," satu kata yang lolos dari mulut Disya. Terdengar sangat menyayat ulu hati Sky, pria itu merasa sangat kecewa, tetapi juga sangat mencintai istrinya. Semua itu sudah menjadi suratan takdir, bahwa mereka harus kehilangan calon anak mereka.