
"Biar aku antar masuk ke dalam ya Sya?" tawarnya tanpa ragu.
Disya terdiam dengan perasaan gusar, manik matanya terus menyapu ke se penjuru arah, berharap seseorang itu datang untuk menemaninya. Disya hendak masuk ke ruangan Dokter ketika suara berat itu menyeru.
"Tidak perlu, tidak usah terimakasih. Berhenti memberikan perhatian lebih terhadap istri orang lain bro?" ucap Sky tenang. Sontak Disya dan Rayyan menoleh ke arah sumber suara itu.
"Maaf sayang aku terlambat, ayo masuk!" ajaknya sambil lalu, merangkul pinggang Disya begitu mesra.
Disya terdiam dan menurut, entah mengapa ia begitu lega mendapati suaminya datang tepat waktu, meskipun hatinya masih sedikit kesal karena harus terlambat datang dan hampir saja Rayyan yang menemani cek up.
Sementara Rayyan, lagi-lagi harus merasa di abaikan, di acuhkan bahkan di buat menjadi bodoh karena terus mengharapkan sesuatu yang nampak mustahil baginya. Bahkan sekarang Disya nampak tenang dan damai di samping Sky, mungkin kah cinta itu sudah berganti? Mungkin saja? Tak ada yang bisa pria itu lakukan, Rayyan pun memilih pergi dengan membesarkan hati.
Brukk
Ke dua tubuh yang saling berbenturan itu saling mengaduh secara bersamaan. Netranya menatap kesal keranjang buah yang jatuh membuat isinya berserakan, jeruk dan apel pun tak lupa menggelinding bagai bola yang tergelincir dari tendangan.
"Ya ampun.... kalau jalan tuh pake mat---!" Bintang menunjuk pria yang di depannya dengan sengit.
"Dimana-mana jalan pake kaki," ucap pria itu songong. Tangannya bersedekap saling menyilang.
Gadis yang masih memakai seragam putih abu-abu itu memicingkan matanya, meneliti penampilan Rayyan dari ujung kaki hingga kepala, kemudian terkekeh hambar.
"Om Dokter?"
"What! Om?"
Rayyan menatap gadis di depannya dengan dahi berkerut dan rasa kesal.
Dasar bocah bar-bar!
"Hadeh... yang ada tuh pasien pada kabur lihat cowo yang berakhlak ngawur kaya om," sarkasnya pedas, membuat kuping Rayyan sontak memanas. Pria itu langsung menyeret Bintang dan membawa ke ruangannya.
"Eh, lepasin!" pekiknya kaget. Gadis itu sontak menggigit tangan Rayyan bak kucing yang meraung.
"Aww... sialan!" pria itu langsung melepaskan tangan yang membekap mulut Bintang dan mengibaskan tangannya yang terasa panas berkali-kali.
"Ya ampun... cewek bukan sih, sakit banget," keluh pria itu kesal.
Bintang terkekeh, "Rasain, makanya jangan coba-coba membuat masalah denganku," ucapnya ketus.
"Ganti rugi, keranjang buah dan isinya rusak gara-gara om!" sarkas Bintang galak. Gadis itu menengadahkan tangannya.
"Ogah...!" jawabnya cuek. Pria itu membersihkan tangannya lalu mengambil plester dan membalut luka telapak tangannya yang terkena gigitan gadis itu.
__ADS_1
"Wah... gigimu terlalu runcing, ini bisa jadi infeksi karena air liurmu?" ucapnya kesal.
"Lebay, cowo menyedihkan!" ucapnya sinis.
"Berhenti mengataiku! Bahkan kamu tidak pernah mengerti betapa tegarnya diriku hari ini!" bentak nya kesal. Laki-laki itu mendekat seraya menekan tubuh Bintang dengan tubuhnya.
"Eh! om mau apa?" ucap Bintang gugup.
Pria itu menatap tajam gadis di depannya. "Menurut kamu?"
"Om, mundur atau aku---!" Mata mereka saling bersirobok, jarak mereka yang sangat dekat sontak membuat gadis itu klimpungan salah tingkah.
"Tanggung jawab, gara-gara kamu tanganku luka, ini nggak bisa ngobatin pasien?" ucapnya dingin lalu menjauh dari gadis itu.
"Ish... cuma kena gigitan sedikit doang juga," protesnya tak terima.
"Yang ada tuh situ yang tanggung jawab, karena sudah membuat keranjang buah aku hancur berantakan. Astaga...!" Bintang menepuk jidatnya, ia sampai lupa tujuannya ke rumah sakit untuk menjenguk temannya yang sedang sakit.
"Eits... mau ke mana?" Rayyan menarik seragam Bintang begitu gadis itu hendak ke luar dari ruangan.
"Ikh... lepasin, kalau tidak aku bakalan teriak kalau om mau perkosa?" pekiknya garang.
"Hahaha... siapa juga yang doyan sama bocah, kamu tidak boleh pergi sebelum membuat surat pernyataan," ucapnya kesal.
"What, surat? Surat pernyataan apa? Enak aja, nggak mau situ yang salah kenapa harus aku yang buat surat pernyataan."
"Ya ampun... om lebay sekali, udah di beri obat kan, udah gitu cuma berdarah sedikit dan bahkan tidak terlalu kentara karena di tutup plester."
"Ini dalam, lihatnya yang jelas, mungkin dalam waktu seminggu aku bakalan cuti karena harus menyembuhkan luka ku," ujarnya dramatis.
"Ish... ribet sekali hidupmu," ujarnya kesal.
Di sisi lain, Disya tengah memeriksa kandungannya. Sky yang awalnya kesal karena melihat Rayyan mencoba mendekati istrinya kembali pun nampak bersikap tenang setelah masuk ke ruangan Dokter dan menggenggam erat tangan Disya.
"Sore Ibu Disya, eh? Disya nya...?" Dokter tersebut hampir menyebut nama seseorang namun urung demi melihat pria di sampingnya tampak menggenggam erat tangan gadis itu.
"Sore Dokter Mita?" sapanya ramah.
Dokter Mita langsung menormalkan ekspresi kejutnya, lalu bersikap sewajarnya. Dokter tersebut kemudian beralih menatap Sky dengan dahi berkerut.
"Ada apa Dok?" tanya Sky demi menjawab rasa penasaran yang di berikan lewat ekspresi wajahnya.
"Nggak pa-pa. Pasangan yang harmonis," jawab Dokter Mita tersenyum.
__ADS_1
"Sebulan yang lalu saya ke sini mengantar adik saya, Raya. Dia pasien Dokter kan? Sekarang baru saya nganter istri saya?" ucapnya sesopan mungkin.
Dokter Mita tersenyum sopan, dan mengangguk. Ia bahkan tidak berfikir sejauh itu pasalnya pas pemeriksaan dengan pasien nya Raya, bahkan mereka sempat berdialog dan mengatakan di antar kakaknya. Yang menjadi pusat perhatiannya adalah, bagaimana ceritanya pria itu mempunyai istri Disya yang jelas-jelas di kenalnya sebagai pacar dari anak pemilik rumah sakit ini, seringnya Disya berseliweran di area rumah sakit karena sering mengunjungi Rayyan waktu semasa pacaran, membuat sedikit banyak dari pegawai rumah sakit mengetahui desas-desus hal itu.
"Oke Ibu Disya, mari langsung pemeriksaan saja," ucap Dokter Mita setelah membubuhi coretan data di buku KIA nya.
Seorang asisten Dokter nampak membantu, ia mulai mengukur tekanan darah Disya kemudian menimbang berat badan Disya. Dokter mencatat hasil pemeriksaan.
"Tekanan darah normal ya Bu, berat badan sebelumnya berapa? Ini kenapa masih terlihat kurus padahal sudah jalan tiga belas minggu ya Bu? Apa masih mual?"
"Kalau pagi, masih sering," Sky yang menyahut.
"Morning sickness itu hal yang biasa, pada masa awal kehamilan. Jangan khawatir Bu, nanti saya beri obat pereda mual."
"Dok kenapa saya suka merasa nyeri pada ke dua sisi perut?"
"Ibu Disya tidak perlu khawatir, sakit perut ini namanya ligamen, karena ukuran rahim yang sedang membesar untuk tempat tinggal janin, dan ini normal terjadi."
Pemeriksaan berlanjut ke USG
"Ibu Disya silahkan berbaring di brankar," ucap asisten Dokter sopan.
"Maaf ya Bu, bajunya saya naikkan untuk pemeriksaan," sambungnya.
Disya mengangguk sopan, sementara Sky masih setia menemani di samping perempuan, itu mengamati dengan jeli apa saja yang di katakan Dokter. Lihatlah pria itu bahkan romantis sekali, selalu menggenggam tangan Disya dengan senyuman yang tak pernah luntur dari wajahnya.
Dokter mulai menuangkan gel yang terasa dingin ke atas perut Disya, kemudian mulai sedikit menekan sambil mengarahkan alat penghubung ke monitor.
"Selamat datang di kehamilan tiga belas minggu? Sudah mulai masuk trisemester ke dua ya Bu." Dokter terus menggerakkan alat penghubung USG dengan monitor.
"Ibu Bapak silahkan perhatikan monitor, kita lihat ya dedeknya sudah sebesar apa? Besarnya masih seukuran buah kiwi ya, panjangnya 7,5 cm dari kepala sampai kaki, berat janin masih 30 gram," jelas Dokter. Sky dan Disya melihat dengan takjub.
"Ini detak jantungnya, ibu bisa dengarkan? Seperti kuda yang tengah berlari."
Dug dug dug dug dug
"Janin sudah banyak bergerak Bu, tetapi karena ukuran tubuhnya masih terlalu kecil, ibu belum bisa merasakannya, janin juga sudah memiliki sidik jari yang mungil. Alat kelaminnya telah sepenuhnya berkembang tapi masih belum terdeteksi," sambung Dokter menjelaskan.
Sky tidak berhenti tersenyum menatap print foto copy hasil USG anak mereka. Begitupun dengan Disya, perempuan itu merasa senang kandungannya baik-baik saja dan berkembang sehat.
Saat ini mereka sudah ke luar dari rumah sakit dan masih di disekitaran tempat parkir mobil.
"Mas, haus," ucapnya manja.
__ADS_1
"Kamu tunggu di mobil sayang, biar Mas nyari minuman di sekitar rumah sakit."
"Mas, beliin boba di dekat situ, choco caramel nggak pake lama," ujar Disya. Perempuan itu menunggu di mobil.