
Disya tengah mengemas pakaian kotor untuk dibawa ke belakang. Mereka berdua sudah selesai mandi, dan berpakaian rapi.
"Cie ... yang susah buat jalan, terancam gagal nih ketemuannya," seloroh Sky menggoda.
Bukk
Satu lemparan bantal mendarat sempurna di mukanya yang tampan.
"Rese' banget jadi orang, sumpah ngeselin," gerutunya kesal.
Hari ini Disya ada janji untuk bertemu dengan teman-teman kelompok KKN mereka, apa kabar jadinya kalau pertemuan pertama saja mangkir.
"Adooh ... inikah yang dinamakan timpukan cinta, biarpun sedikit sakit tapi terasa begitu bahagia. Hahaha." Pria itu ngakak tanpa dosa.
Disya membrengut, "Awas kamu Mas, ngledek sekali lagi nggak bakalan aku kasih," ancam perempuan itu kesal. Melangkah pelan ke luar kamar seraya membawa setumpukan baju kotor untuk dibawa ke ruang laundry.
"Waduh ... gawat nih," gumam pria itu pelan. Mengekori istrinya yang berjalan sangat pelan.
"Disky ... canda sayang canda." Sky mendekat mengeluarkan jurus ngegombalnya.
"Kalian ngapain, pada ngumpul di sini," tegur Mama Amy memergoki anak dan menantunya di belakang samping rumah.
"Pagi Mah," sapa Sky sopan.
Mama melirik Disya yang pagi ini tidak ceria sama sekali.
"Sayang, kamu sakit? Kok lemes gitu," selidik Mama Amy.
"Nggak kok Mah, sehat. Aku hanya sedikit capek saja," kilah Disya melirik suaminya, yang dilirik nyengir tanpa dosa.
"Ya sudah sana kalian sarapan dulu, Mama sama Papa tadi udah sarapan lebih dulu," ujarnya.
"Iya Ma," saut ke duanya hampir bersamaan.
Mama Amy menggelengkan kepalanya pelan, merasa lucu dengan tingkah keduanya yang salah tingkah.
Pasangan halal itu menuju ruang makan, bersiap sarapan.
"Mau ngopi nggak?" tawarnya masih mode ngambek.
"Teh aja sayang," jawab pria itu memperhatikan istrinya yang masih betah dengan wajah juteknya.
"Makasih," kata pria itu setelah Disya menaruh secangkir teh di hadapannya.
Perempuan itu masih terlihat kesal, tetapi menyiapkan semua keperluan pagi ini untuk Sky. Usai sarapan Disya mengantar suaminya sampai depan teras.
"Beneran kamu nggak mau bareng?" tawar pria itu menyarankan.
"Nggak, masih nanti agak siang. Udah sana berangkat, hati-hati di jalan." Disya meraih uluran tangan suaminya.
"Iya, baik-baik di rumah ya?" pamit Sky beranjak.
Disya masuk ke rumah kembali, rencananya perempuan itu mau tidur sebentar lagi dan baru akan bangun satu jam kemudian.
Mobil Sky sudah melaju setengah jalan, tiba-tiba laki-laki itu mengingat sesuatu yang tertinggal. Bukan keperluan kampus tetapi cukup bersangkutan sama kelangsungan hidup ke depannya. Pria itu gusar, langsung putar balik dan memilih kembali ke rumah.
__ADS_1
Disya baru saja mau tenang dan ingin melelapkan netranya ketika pintu kamar dibuka cukup keras tanpa aba-aba.
"Astaghfirullah ... bisa nggak sih, buka pintu ketuk dulu," kaget Disya mengusap dadanya dramatis.
"Sorry sayang aku buru-buru," ucap pria itu berlalu, berjalan menuju kamar mandi kemudian keluar lagi, matanya menyapu ke seluruh ruangan.
"Cari apa Mas, ada yang ketinggalan?"
"Celana kotor yang semalam mana Sya?" ujar pria itu tak sabaran.
"Udah aku bawa ke mesin cuci, emang kenapa sih, ada yang terti---?" Belum juga Disya selesai ngomong Sky sudah lebih dulu melesat.
"His ... nggak jelas banget," gerutu Disya ikut keluar kamar mengekor suaminya berada.
"Permisi Bik, ada yang tertinggal di saku celana aku?" ujar pria itu menyerobot masuk ruang laundry.
Bik Tini yang sedang memilah-milah baju kotor untuk dimasukan ke mesin cuci langsung minggir. Sky mendapati celananya dan langsung meraba sakunya. Pria itu berucap syukur dengan lega ketika mendapati barangnya masih ada di sana, alias belum masuk ke mesin penggilingan pakaian.
"Apaan sih Mas, heboh bener?" Disya menyorot bingung.
"Sini deh, ayo duduk sini dulu," Sky menuntun Disya, menyuruh perempuan itu untuk duduk di kursi dapur.
Disya menanti dengan heran tingkah suaminya yang nampak nggak jelas.
"Merem dulu sayang, aku punya kejutan," pinta laki-laki itu tersenyum.
Disya menurut, ia merasakan tangan kanannya diraih suaminya dan nampak sesuatu ditaruh di atas telapak tangannya. Disya membuka matanya perlahan, dan langsung mendapati sesuatu yang berkilauan di tangannya.
"Suka," ujar Sky tersenyum.
"Cantik banget Mas," ucap Disya berbinar. Menyorot benda tersebut dengan senyuman.
"Dalam rangka apa? Kok tumben beliin aku ginian?"
"Pengen aja, kan jarang banget aku kasih hadiah, malah hampir nggak pernah, mau ngasih ini semalam tapi kamunya udah tidur, tadi pagi lupa untung belum kegiling, emang masih rejekinya kamu," ujarnya sambil memasangkan di leher istrinya.
"Makasih, sering-sering aja ngasih hadiah, biar makin sayang nih aku," ucapnya jujur.
"Hmmm, sayangnya pakai syarat."
"Dikit ... boleh dong, kamu juga gitu, apa-apa pakai syarat, harus begini, harus begitu."
"Iya, iya aku berangkat ya, assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam." Disya kembali mengantar suaminya sampai depan teras.
***
Disya mendatangi kafe yang telah ditunjuk sebagai tempat pertemuan kelompok KKN mereka, perempuan itu masuk ke dalam, netranya menyapu keseluruhan ruangan, dan mendekati meja nomor 13.
"Hai ... gue Disya anak fekon." salam Disya ramah.
"Tiwi anak AGB."
"Yuda teknik sipil."
__ADS_1
"Khansa Aulia, Biologi."
"Dera, AGB juga."
"Emon, hukum," jawab pria itu dingin.
"Farel, gue anak manbis."
Lia dan Saras anak pendidikan B. Inggris. Dari kesembilan orang yang hadir masih ada tiga anak yang belum datang. Sambil menunggu anak yang ngaret, mereka semua berbincang saling mengakrabkan diri satu sama lain. Biar bagaimanapun, mereka mau hidup satu atap sudah pasti perlu memperdalam karakter masing-masing.
Tak berselang lama ketiga temannya pun datang dan langsung bergabung. Ada Aldo dari hukum juga, Arga teknik sipil dan Sheryl manbis.
"Oke berhubung sudah lengkap semua, pertama-tama kita perlu susunan pengurus dalam kelompok. Kira-kira dari kalian semua siapa yang bersedia jadi ketua."
"Lo aja Al, setuju kan teman-teman!"
"Iya, lo aja," tunjuknya. Hampir semuanya menunjuk Aldo. Jadi, kesepakatan ketua Aldo.
"Sekretaris, kalau yang ini paling rekomen cewek deh, pada setuju kan?"
"Saras gimana?"
"Jangan gue lah, tulisan gue aja kaya cakar ayam nggak jelas."
"Gimana kalau Disya," tunjuk Aldo.
"Hah, gue?" Disya menunjuk dirinya sendiri.
"Iya lo aja cocok," timpal Lia. Akhirnya disepakati bersama Disya sebagai sekretaris, dan Tiwi bendahara.
Cukup banyak ide yang ditampung. Setelah membahas susunan pengurus dan agenda di dalamnya, mereka mulai menggali perolehan dana yang akan di dapat. Untuk kelompok mereka sendiri akan mencari sponsor dan sisanya akan patungan untuk melobi kekurangannya.
Disya mencacat secara runtut di note book-nya. Pertemuan kali ini pun ditutup dengan lega setelahnya saling berakrab ria satu sama lain. Mereka juga sudah membuat kelompok grub dalam whatsapp, jadi praktis berdiskusi di dalamnya.
Usai berdiskusi cukup lama, pertemuan diakhiri. Satu persatu mulai meninggalkan kafe.
"Sya, nggak bawa kendaraan? Mau bareng?" tawar Aldo.
"Makasih Al, lagi nunggu jemputan."
"Nggak nyangka ya, kita bisa bareng KKN gini. Aku yang kemarin ditabrak kamu."
Disya baru ngeh ternyata cowok bernama Aldo itu pernah terjadi insiden kecil dengan dirinya yang menyebabkan layar ponselnya retak.
"Iya sorry ya, belum sempat ganti rugi. Perlu gue ganti nggak? Atau bisa sebutin biaya perbaikannya?"
"Udah dibenerin kok, cuma layarnya doang yang bermasalah. Kalau mau ganti rugi, nanti aja pas KKN," ujarnya tersenyum.
Disya tidak begitu kepikiran dengan kejadian tempo lalu, bahkan ia malah terkesan lupa karena Aldo juga tidak meminta ganti rugi padanya.
"Sorry gue duluan ya?" pamitnya
Disya sudah menghubungi Sky untuk meminta dijemput. Pria itu pun langsung bertolak ke lokasi begitu Disya menyebut tempat pertemuannya. Disya masih menunggu di luar kafe, dari sekilas pandang, Emon juga baru keluar, pria itu melirik Disya sekilas lalu berdiri tak jauh dari sana, suasana sore kota Jakarta hujan.
Emon menyorot dingin tanpa suara, benar-benar nyata apa yang dikatakan Sinta, makhluk yang berstatus mantan pacar Hanum itu irit bicara dan tak ubah seperti manusia kutub.
__ADS_1
Sky yang baru datang, langsung membuka payung dan mendekati Disya. Hujan cukup deras, Sky harus memastikan istrinya itu tidak terkena air hujan.
"Sayang ... ayok pulang." Sky merengkuh bahu Disya dan memayunginya.