One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 66


__ADS_3

Hari kedua kebersamaan mereka diagendakan dengan kegiatan bakti sosial dan silaturahmi ke tempat-tempat umum masyarakat setempat, seperti tempat-tempat ibadah, panti sosial dan pesantren, serta membersihkan desa.


Yang pertama di agendakan adalah membersihkan mushola yang tak jauh dari tempat mereka berkemah dan dilanjutkan membersihkan masjid. Mulai dari menyapu, mengepel dan membersihkan jendela kaca. Semua yang dilakukan bersama selesai dengan cepat dan bersih.


Setelah membersihkan tempat ibadah, agenda dilanjutkan membersihkan lingkungan desa dibantu juga dengan warga. Mereka berbaur menjadi satu dalam acara baksos ini, semua warga dan mahasiswa bekerja sama bersih desa, mulai dari mencabuti rumput di pinggir jalan sampai menyiangi tanaman yang menggangu ketertiban jalan desa.


Matahari yang mulai meninggi pun tak menyurutkan semangat mereka, kerja bakti dengan kompak dan saling bahu-membahu tarasa menyenangkan.


"Sya, topi kamu jatuh." Sky sengaja beralibi demi melihat istrinya itu mulai kepanasan. Laki-laki dua puluh lima tahun itu sengaja memakaikan topi di kepala Disya.


Perempuan itu bahkan nampak happy dan enjoy di bawah sorot matahari pagi, hanya saja Sky yang merasa Disya terlalu cuek untuk dirinya. Gadis itu terlalu bersemangat, Sky hanya takut Disya akan kecapean.


"Eh! Iya, topi saya jatuh ya, Pak?" akting Disya agar tidak kentara.


"Emang tadi lo bawa topi, perasaan enggak deh?" selidik Bila.


"Mana lo lihat, orang tadi aja lo udah melesat duluan," kilahnya benar adanya. Bila bergabung dengan yang lainnya baru Disya datang.


"Makasih Pak?" ucap Disya sungkan.


Sky hanya menanggapi dengan anggukan kepala dan senyuman. Matahari sudah cukup terik ketika mereka, para rombongan usai gotong royong membersihkan desa. Setelah bersih desa selesai, dilanjutkan pembagian bantuan sembako pada warga sekitar yang berhak menerimanya. Kemudian para mahasiswa kembali ke tenda untuk isoma.


Disya kembali ke tenda dan ngadem sebentar, sebelum akhirnya membersihkan diri yang seperti biasanya mengantri. Karena antrian panjang, kali ini Disya memilih makan siang terlebih dahulu baru ia akan mandi sambil menunggu antrian.


Rombongan Disya sengaja makan siang di luar tenda, mereka mojok di bawah pohon yang terletak di pinggir lapangan.


"Wah ... adem nih ... seger, anginnya sepoi-sepoi," ujar Disya sambil mengipasi dirinya dengan topi yang tadi diberikan Sky. Perempuan itu tengah duduk berselonjor menanti salah satu dari mereka yang tengah mengambil jatah makanan.


"Makan-makan ....!" seru Hanum seraya menyodorkan nasi bungkus untuk lima sekawan yang tengah ngadem.


"Asyik, thanks beb," jawab Bila semangat.


"Eh, tunggu-tunggu, sebelum makan kita foto dulu yuk rame-rame, moment langka ini, mumpung masih pada lusuh sambil nenteng nasi bungkus, keren nggak?"


"Siapa takut, kuy lah jepret."


Mereka melakukan foto bersama dengan fotografer salah satu dari mereka sendiri yang bergantian mengambil gambar.

__ADS_1


"Alhamdulillah... akhirnya kenyang juga, minum gue mana? Han, kurang lo ngambilnya," ujar Disya yang tidak kebagian.


"Iya kah? Oh ya sudah nanti gue ambilin lagi."


"Nggak usah beb, biar gue aja sekalian balik ke tenda. Bersih-bersih dulu, habis ini kan masih ada acara kunjungan ke panti sosial sama pesantren."


"Iya bener, ayo ah balik tenda, gue mau rebahan sebentar," ujar Dara seraya meninggalkan tempat tersebut.


Disya berjalan sambil memainkan ponselnya, tiba-tiba satu pesan mampir di handphonenya. Pesan tersebut dari suaminya yang menyuruh gadis itu diam di tempat sebentar.


"Sya, ayo kok malah berhenti?" ajak Hanum yang melihat Disya memelankan langkahnya.


"Lo duluan aja, gue masih mau ngadem sebentar ini nyelesain balasan pesan," jawabnya santai.


"Oke deh, gue duluan ya. Mau mandi, udah nggak tahan, gerah," ujar gadis itu seraya berjalan menjauh.


Tinggalah Disya sendiri, masih di sekitar pinggiran lapangan paling pojok, berjarak jauh dari tenda-tenda tapi selayang pandang dapat melihat lepas ke sepunjuru arah.


"Sya," panggil Sky yang tiba-tiba sudah berada di dekatnya.


"Eh, Bapak, kenapa siang-siang bolong nekat sih," keluh Disya protes.


"Makasih, Bapak tahu aja kalau saya haus," ucapnya lembut.


"Iya, kamu capek nggak. Aman 'kan? Maksud saya kandungan kamu dibawa aktifitas kaya gini nggak pa-pa?"


"Aman, insyaAllah malah sehat, sejauh ini cukup menyenangkan."


"Tidurnya semalam nyenyak nggak? Aku kepikiran kamu terus, takut kamu nggak bisa tidur kangen sama aku?" selorohnya sambil mengulum senyum.


"Bapak bisa ae, Anda terlalu percaya diri Pak," jawab Disya tersenyum. Pada kenyataannya sebelum terlelap perempuan itu sempat kepikiran pria yang tengah menatap lekat di depannya.


"Udah hampir usai nih istirahatnya, saya balik dulu Pak, belum mandi juga," ujar Disya berdiri.


"Bentaran lima menit lagi, masih ngantri mandi juga, ada yang makan siang," ujar pria itu santai.


"Bapak kenapa nggak gabung sama yang lainya?"

__ADS_1


"Pingin di sini, ketemu sama kamu?" Pria itu menatap Disya lekat.


Kangen Sya, sumpah kangen banget sama kamu, pingin peluk.


"Pak! Kok lihatin saya mulu?" tegur Disya.


"Emang kenapa? Lihatin istri sendiri nggak boleh?" jawabnya sensi. Efek rindu tak bisa menyentuh membuat pria itu kesal sendiri.


"Ayo ah, udah ya ketemunya, saya mau mandi gerah dan lengket." Disya berdiri dari duduknya, Sky tanpa sadar membantu mengusap bagian belakang Disya yang kotor terkena rumput habis duduk.


"Udah, bersih."


"Makasih, Bapak jalannya duluan sana, jangan barengan nggak enak banget dilihatin sama yang lainnya."


"Kamu aja yang duluan, aku lihatin kamu dari belakang."


"Ya udah, terserah deh." Disya berjalan cepat meninggalkan tempat ngobrol mereka. Obrolan singkat namun terkesan manis di hati Sky.


Setelahnya Disya berjalan menuju tenda, dan mengambil baju ganti untuk dibawa ke kamar mandi.


Gadis itu berjalan gontai, menuju toilet yang ada di samping mushola. Suasana di sekitar sudah cukup lengah sebab sudah pada mandi. Disya baru saja membuka pintu dan hendak menutupnya ketika tiba-tiba ada tangan yang menahan, dan mendorong pintu tersebut hingga terbuka, lalu segera ditutup dengan cepat.


Perempuan itu hampir memekik sebelum akhirnya tangan kekar itu menutup mulut gadis itu dengan cepat. Laki-laki itu bergeming, meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri dengan tangan yang lainya.


"B_Bapak ngapain? Ke luar nggak!" sarkasnya garang. Namun tetap merendahkan volume suaranya. Biar bagaimana pun, tak ingin kegaduhan mereka terdengar orang lain.


"Menurut kamu ... mau ngapain?"


"Sa_saya nggak tahu?" jawabnya gugup.


Laki-laki itu menumpu kedua tangannya pada dinding tembok, mengurung Disya posesif.


"Aku kangen Sya, boleh?" pria itu menatap lekat bibir Disya.


Namun, belum sempat gadis itu menyetujui permintaannya, laki-laki itu langsung menyambar bibir mungil itu dengan rakus. Seakan melahap habis, membasahi dahaga yang melanda.


Tok tok tok

__ADS_1


"Ada orang!"


__ADS_2