
Disya masih terisak sambil memejamkan matanya. Gadis itu membaringkan tubuhnya dengan berselimut luka dan air mata. Terlalu sulit untuk mendeskripsikan hatinya saat ini dengan kenyataan yang ada.
Sky bergeming, menatap penuh iba istrinya yang nampak begitu tersiksa dengan perasaannya. Namun ia pun tentu tak punya pilihan selain memberi cinta dan rasa nyaman. Sayangnya Disya tidak pernah mau mencoba membuka hatinya untuk dirinya. Ingin sekali rasanya Sky membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukan hangatnya agar tidak bersedih lagi, namun apa mau di kata bahkan ia tak mau untuk disentuh.
Entah di jam berapa Disya tertidur yang Sky tahu gadis itu terus menangis semalaman. Sky sendiri tidak bisa tidur, sibuk dengan pikirannya sendiri. Lebih tepatnya mencari moment yang pas untuk meminta maaf kepada Rayyan tentang semua hal yang mengakibatkan dirinya dengan sangat terpaksa mengambil kekasihnya.
Sky yang masih setia duduk di atas sofa pun melirik sekilas ke atas kasur. Disya sudah terlelap, sudut mata gadis itu masih terlihat basah, menandakan Disya terus menangis dalam tidurnya. Terlihat jarum jam pendek sudah berada di angka satu dini hari. Ternyata cukup lama mereka tenggelam ke dalam perasaannya.
Sky mendekati ranjang, mengamati istrinya yang sudah terlelap. Tangannya terulur menyentuh garis wajah Disya yang ayu, tanpa sadar ia pun terbuai hingga terus menatapnya penuh damba. Sky meneguk salivanya beberapa kali setiap mengamati bibir ranum istrinya yang begitu menggoda. Bayangan panas waktu itu kembali terngiang-ngiang di otaknya.
Ah sial! Hampir saja aku tidak bisa menahan diri.
Sky mengumpat kesal ketika tiba-tiba dirinya ingin sekali mengulang hal yang sama. Jiwa lelakinya bergejolak hebat hanya dengan menatap bibirnya. Tapi tentu saja Sky menahan dirinya dengan sekuat tenaga. Disya masih tidak baik-baik saja di tambah hatinya yang masih terluka. Tentu saja Sky harus bersabar sampai Disya sendiri mau mengikhlaskan kehidupannya dengan dirinya.
Cup
Pria itu mengecup kening Disya sekilas untuk mencurahkan rasa rindunya. Setelah itu membaringkan tubuhnya di samping Disya dengan batal guling yang memisahkan tubuh mereka. Untuk saat ini Sky sangat benci dengan yang namanya guling itu. Ia bersumpah akan membuangnya nanti di tempat yang tidak bisa di temukan lagi. Rencananya Sky akan mengajak Disya tinggal di apartemennya.
Iya Sky sudah berencana untuk tinggal berdua saja biar lebih mandiri dan bebas untuk membangun rumah tangganya. Sebenarnya apartemen masih kurang nyaman untuk tinggal bersama keluarga nantinya tapi hanya untuk sementara sebelum anak mereka lahir dan Sky berencana akan pindah ke rumah yang sudah di siapkan untuk masa depan mereka.
Terlalu banyak menyusun rencana keluarga harmonis nan indah membuat pria itu merasakan berat kelopak matanya, perlahan Sky pun ikut memejamkan matanya menyusul Disya yang sudah bermain di alam mimpi.
Pagi harinya Disya terbangun lebih awal. Gadis itu ingin segera mengakhiri malamnya yang terasa panjang. Ia pun seperti biasa membersihkan diri di kamar mandi sebelum memulai beraktivitas.
Hoek hoek
Hampir setiap pagi Disya selalu mual dan muntah, membuat gadis itu lemas dan tak bertenaga. Terdengar gedoran pintu dari luar kamar mandi. Rupanya pria itu cukup khawatir dengan Disya yang mual muntah.
Sky bahkan merasa baru memejamkan matanya namun karena suara khas ibu hamil itu cukup mengusik, membuat dua bola matanya harus segera dibuka.
"Sya! Sya ... kamu nggak pa-pa?" seru Sky dari luar pintu kamar mandi sambil menggedor pintunya berkali-kali.
Ceklek
Disya keluar dari kamar mandi dengan wajah lesu.
__ADS_1
"Sya, kamu nggak pa-pa?" tanya Sky khawatir.
"Hmm." Disya hanya menjawab dengan gumaman.
"Apa setiap hari kamu mengalami morning sickness?"
"Iya." Disya mengangguk pelan.
"Mau minum hangat, susu atau teh mungkin. Ada susu hamil punya Raya juga aku buatin mau?"
Disya menggeleng, dan lebih memilih kembali merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
"Pagi ini aku mau ke rumah Mama, ambil buku sama perlengkapan yang mau dibawa ke kampus." Disya membuka percakapan merasa perlu memberi tahu tentang keseharian nanti sebelum pria berstatus suaminya itu banyak bicara.
Hening
Tak ada lagi yang membuka obrolan bersama. Kedua pasangan halal itu lebih memilih menyibukkan diri dengan pikiran masing-masing.
Waktu baru menunjukkan pukul enam pagi tapi Disya sudah bersiap pergi. Sky hanya diam mengamati raut wajah Disya yang terlihat gusar. Bahkan mata gadis itu masih terlihat sembab tapi ia memilih tetap masuk ke kampusnya.
Sky sebenarnya ingin cuti untuk beberapa hari, ia masih ingin menikmati suasana indahnya pengantin baru. Namun karena bahkan pernikahan ini dilakukan dengan terpaksa alhasil ekspektasi tak sesuai realita.
"Iya?" Disya berbalik badan dan menghadap pria itu. "Kenapa?" tanyanya mengerutkan dahi.
"Ke rumah Mama Aminya aku antar ya?" pinta pria itu.
"Nggak usah Pak, nanti saya langsung ke kampus juga."
"Sya! Bisa nggak sih kita terlihat harmonis dan kompak di depan keluarga walau terpaksa, jangan sampe mereka tahu tentang masalah kita?"
"Bisa!" jawab Disya datar.
"Jadi, aku antar ya? Jangan membantah lagian ya Papa sama Mama pasti akan bahagia lihat kita datang bersama."
"Terserah Bapak saja."
__ADS_1
"Tunggu aku, aku siap-siap dulu."
Pria itu bergegas langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Mandi kilat cukup tujuh menit saja, pria itu menyelesaikannya. Ia tidak ingin membuat Disya menunggu terlalu lama. Atau lebih tepatnya takut Disya langsung berangkat dan meninggalkannya.
Disya berjalan gontai menuruni anak tangga. Gadis itu keluar dari kamar dan lebih baik menunggu Sky di luar kamar. Sekalian beramah tamah dengan keluarga yang masih asyik ngumpul di ruang keluarga. Sementara Bunda Yuki dan Oma sendiri sedang sibuk di dapur menyiapkan menu sarapan pagi ini.
"Lho sayang kok udah bangun, udah rapih aja mau kemana?" tanya Yuki meneliti pakaian Disya. Yuki menyiapkan beberapa pakaian untuk menantunya yang ia ambil dari butiknya sendiri.
"Ee ... iya Bun, Disya mau pamit pulang dulu ke rumah Mama, Disya mau ambil barang Disya sekalian nanti juga ada kelas agak siangan," jelas Disya sungkan.
"Owh gitu ... apa nggak sebaiknya sarapan dulu sayang, Skynya mana? Belum bangun?"
"Udah kok, sepertinya sedang mandi. Sambil menunggu, Disya bantuin apa dulu nih Bun?" Gadis itu ikut nimbrung ke dalam kesibukan yang melanda dapur.
"Nggak usah, kamu udah rapi. Nah itu Sky juga udah siap."
"Bun, Oma, Pagi ... semuanya!" seru pria itu semangat.
"Ehem ... pengantin baru semangatnya," seloroh Raya melancarkan aksinya.
"Apa dek, jangan mulai deh."
"Cie ... pagi-pagi udah pada keramas."
"RAYA ....!" tegur Bunda.
"Sky dan Disya pamit ya semuanya."
Kedua pasangan itu menyalami satu persatu anggota keluarga yang masih ngumpul di sana.
"Ayo sayang ...." Sky menggandeng tangan Disya melangkah ke luar l rumah.
Begitu sampai di luar, mereka saling melepaskan.
"Maaf Sya, kalau kamu sedikit kurang nyaman di tengah-tengah keluarga saya."
__ADS_1
"Nggak pa-pa kok, semuanya asyik saya suka. Nggak sukanya kan cuma sama Bapak?" celetuk Disya jujur.
Entah mengapa ada rasa yang menyubit hati Sky atas pengakuan Disya. Sky tahu gadis itu benci padanya, tapi ia bersyukur di depan orang tua dan keluarganya Disya masih mau bersikap lembut dan sopan.