One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 131


__ADS_3

"Disky ... bangun, ayo pulang sayang ...!"


Disya masih anteng, belum terusik dengan kedatangan suaminya. Perempuan itu bahkan tidur begitu nyenyak, mungkin kecapean. Mengingat siang sibuk malam sering di buat sibuk juga, tentu saja ulah suaminya.


Sky membungkukkan badannya, kembali mencium pipi istrinya, kali ini dengan gemas, sengaja agar istrinya mau membuka mata. Berhasil, perempuan itu membuka mata lentiknya. Masih sayup-sayup, menatap malas seseorang di depannya.


"Mas, udah pulang? Ini jam berapa?"


"Udah sore, hampir maghrib," jawab Sky seraya menilik jam tangannya. "Ayo pulang," ujarnya menginterupsi.


"Hah, ngantuk Mas, bobok sini aja ya?" pintanya ngarep.


Sky terdiam sejenak, tidak mengiyakan tapi juga tidak menolak. Dirinya bahkan baru saja pulang dan terasa cukup penat. Laki-laki itu lantas bangkit dari tepi kasur dan menuju kamar mandi, membiarkan Disya terlelap kembali.


Sky menggulung kemejanya, merasa tidak nyaman karena tidak membawa pakaian ganti. Pria itu juga merasa gerah dan pingin mandi. Karena bingung, ia kembali membangunkan istrinya yang masih asyik bergelung selimut.


"Sya, sayang ... aku gerah, pingin mandi, di sini ada ganti nggak, pakaianku barang kali ada yang tertinggal?" ujar pria itu.


Disya yang masih sedikit ngantuk pun langsung bangkit dari ranjang, turun dengan malas menuju lemari pakaian.


"Ada kayaknya Mas, waktu itu pernah juga kan ninggalin baju yang habis di pakai, bentar deh aku cariin, Mas mandi dulu aja, nih handuknya?" Disya mengulurkan handuk ke tangannya.


"Kamu nggak mandi?"


"Bentar, Mas duluan aja," jawabnya seraya mengendurkan otot yang terasa kaku.


Mata Disya meneliti satu persatu pakaian yang tersimpan di lemari, netranya langsung berbinar begitu mendapati baju suami yang terselip diantara lipatan bajunya. Bukan hanya satu tapi ada kemeja dan juga celana kerja. Ia menyiapkan di atas kasur lalu meninggalkan kamar begitu saja.


"Sya, masih belum mandi? Suami pulang bukannya buatin minuman, siapin makanan, malah tidur," protes Mama Amy menasehati.


"Iya Mah, orangnya masih mandi," jawab Disya santai seraya menuang air putih ke dalam gelas. Perempuan itu terasa begitu haus setelah bangun tidur.


"Ya udah sana mandi dulu, nanti makan malam di sini saja, Mama masak banyak," ujarnya senang.


Disya bangkit, membuat secangkir kopi dan membawanya ke kamar. Perempuan itu masuk ke kamar mendapati suaminya yang baru saja menyelesaikan sholat.


"Kopinya Mas," tawar Disya menaruh di atas nakas.


"Makasih, baik banget sih istriku," jawab pria itu menghampiri, memeluk dari samping memberikan satu kecupan di pipinya.

__ADS_1


"Aku mandi dulu," ujar Disya berlalu.


Sky menyesep kopi panas itu secara perlahan, istrinya belakangan ini manis sekali. Dirinya sangat bersyukur atas perubahan sikapnya, walaupun bertambah manja, namun laki-laki itu malah senang merasa dibutuhkan.


Disya baru saja usai mandi, perempuan itu keluar begitu saja dengan melilitkan handuk sebatas dadanya, Sky yang melihat pun merespon dengan senang, pria itu langsung menubruk dari belakang. Memeluknya posesif.


"Jam dinas Mas, jangan aneh-aneh," ujarnya menginterupsi.


"Tahu ... testimoni aja," kilahnya mencium-cium rambut istrinya yang sedikit basah.


"Testimoni apaan?" tanyanya mengeryit.


"Wangi sampo, sama sabun kamu," ujarnya terus mengendus.


"Modus, minggir sana. Nggak boleh nakal ini di rumah Mama, nanti aku aduin lho?"


"Siapa yang nakal sih, Mama juga pasti seneng, biar dapat punya cucu," kata pria itu seraya mencium bahu istrinya.


"Nggak mau, nggak boleh, jam dinas di larang mampir," ujarnya ambigu.


"Mendingan Mas ke luar dulu deh, aku mau sholat dulu."


Lima belas menit berlalu, perempuan itu mendekati suaminya yang masih asyik dengan kopinya.


"Hmmm, terus," tanggapnya datar.


"Mas bisa nggak, melobi kelompok aku, masa di jurusan aku cuma aku doang," keluhnya mrengut.


"Kenapa Sya, kan malah bagus biar dapat teman banyak lintas jurusan," jelasnya tenang.


"Ya kalau orangnya asyik, kalau nggak males banget kan? Please ... dituker ya?"


"Mau tuker sama kelompok siapa? Belum juga ketemu sama kelompoknya kamu udah berasumsi lain," ujar Sky memperingatkan.


"Ya pingin aja Mas, satu kelompok sama yang udah akrab, please dong, bisa ya?" rengeknya memohon.


"Nggak bisa sayang, itu sudah diurutkan secara runtun oleh departemen kampus, kalau nggak urgent banget, atau dengan alasan yang paling logis mendingan nggak usah, lagian emang kenapa sih, malah bagus ketemu teman baru, bisa nambah teman juga."


Benar juga yang di katakan Sky, tapi sebenarnya bisa saja pria itu mengganti nama istrinya untuk bertukar tempat bahkan wilayah. Namun, menurut pria itu di kelompok Disya adalah orang-orang yang menurut Sky paling pas, dirinya bahkan sudah mengecek kelompok Disya lebih dahulu isinya siapa saja sebelum pengumuman kelompok itu dibagikan.

__ADS_1


Disya mrengut, meminta tuker tak dapat restu, tentu saja tak bisa pindah haluan. Mana tadi perempuan itu sudah berharap banyak.


"Udah, jangan manyun gitu, nanti cantiknya berkurang," goda Sky.


"Auk ah, kesel!!" dongkolnya hati Disya.


"Mau pulang, apa nginep?"


Disya tidak menanggapi, ia mau ngambek saja khusus malam ini.


"Aduduh ... cantiknya yang cemberut, aku punya sesuatu nih sayang, bentar ya?" ujar pria itu seraya berjalan ke luar dari kamar.


Pria itu menuruni anak tangga, kebetulan bertemu dengan Amar yang baru saja pulang kerja.


"Pa, baru pulang?" sapa Sky, berjalan mendekati dan meraih tangan mertuanya untuk salim.


"Iya, udah lama Ky," ujar Papa Amar lalu.


"Lumayan sih Pa, dari sejam yang lalu," jawab Sky. Berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah.


Sky nampak mengambil sesuatu, lalu kembali masuk ke dalam. Pria itu berjalan gontai, saat melewati ruang tengah mendapati istrinya sudah berada di ruang makan, bersiap untuk makan malam. Di sana ada Flora juga, dan juga Mama Amy yang tengah menyiapkan makan malam.


"Ky, makan sekalian, nunggu Papa lagi mandi dulu," seru Mama menginterupsi.


"Tumben kalian ingat pulang, kirain udah lupa nengokin orang tua," celetuk Flora tiba-tiba.


"Ingat lah kak, aku selalu berkabar kok lewat ponsel, iya kan Mah? Cuma kemarin habis UAS, di tambah banyak tugas dan kegiatan juga, jadi baru sempat datang," jelas Disya lugas.


"Maaf Ma, InsyaAllah bakalan sering ngajak Disya main ke sini kalau ada waktu senggang," ujar Sky menambahkan.


"Nggak pa-pa, Mama ngerti kok kesibukan kalian," tanggap Mama lembut. Mereka makan bersama setelah anggota keluarga lengkap.


Usai makan malam, Disya dan Sky masih bercengkrama di ruang keluarga bersama anggota keluarga lainnya. Disya juga sudah lupa dengan wajah juteknya, perempuan itu begitu terlihat ceria berkumpul sama mereka, tawanya pecah. Sky merasa senang, mungkin istrinya memang harus sering-sering punya banyak waktu untuk sekedar melepas rindu.


"Ma, Pa, kita ke kamar dulu ya, Disya ngantuk," pamit Disya dan langsung diekori suaminya.


"Ayok Mas, bobok aku ngantuk," ucapnya sambil lalu.


Sesampainya di kamar, Disya langsung menuju kamar mandi, gosok gigi dan mencuci mukanya. Disya keluar, giliran Sky masuk, mengantri.

__ADS_1


"Sya, udah tidur? Sayang ... kok aku ditinggalin," pria itu mengintip istrinya yang sudah terlelap.


Sky merangkak ke atas ranjang, menyusul istrinya. Pria itu ingin menunjukan sesuatu tetapi Disya sepertinya ngantuk berat. Ia membiarkan saja, beralih mencium pipi nya dari samping dan memeluknya dari belakang, posisi Disya memunggungi Sky.


__ADS_2