
"Pengen...!!"
"Ish..." Disya memalingkan wajahnya yang tiba-tiba terasa panas.
Sky langsung menggulingkan tubuh istrinya, hingga gadis itu terlentang, pria itu mengungkung Disya posesif. Mata ke duanya saling bertautan, perlahan pria itu semakin mencondongkan wajahnya, terpusat pada bibir istrinya yang seakan menyeru untuk mendekat.
Disya langsung memalingkan wajahnya, begitu pria itu hendak menyentuh bibirnya.
"Kenapa sayang... aku cuma pingin cium," rengek pria itu.
"Nggak mau, nanti kamu on," jawab gadis itu malu-malu.
"Janji deh, nggak bakalan aku keluarin, aku cuma mau cium aja," mohonnya.
"Kalau nggak boleh, buat bintang saja gimana? Tapi di sini," tunjuk pria itu di atas dadanya.
Disya melotot, suaminya itu selain posesif dan cemburu akut, ia juga super mesum.
"Dasar Pluto!! Mesum!"
"Pluto?" Sky membeo
"Maksudnya?" Sky benar-benar gagal fokus dengan sebutan untuk dirinya.
"Ish... minggir ah, ini tidak baik untuk kesehatan jantung aku?" Disya mrengut.
"Jelasin dulu baru aku minggir, kalau tidak, jangan harap aku bakalan nglepasin kamu," ujar pria itu tersenyum devil.
"Ih... dosa, aku masih belum bersih, nunggu nifas aku selesai dulu Mas, lagian kata dokter tuh belum boleh, atau sampai aku siap," jelas Disya.
"Lama ya, apa iya aku kuat."
"Haish... ya di kuat-kuatin lah..." gerutunya seraya berusaha melepaskan diri dari kungkungan suaminya.
"Mau kemana? Kan belum jelasin, nggak boleh pergi."
"Ampunn... deh Mas, Pluto itu panggilan sayang aku ke kamu, PUAS!" ujar gadis itu tersenyum manis.
"Belum, kan belum di kasih sun, cium dulu..." Pria itu berujar maju, menyambar bibir istrinya dengan lembut.
Disya yang sedikit kesal pun akhirnya pasrah saja. Sky melepas pagutan mereka setelah gadis itu tersengal. Laki-laki itu langsung memisahkan diri dan berbaring telentang di samping Disya dengan napas memburu dan mata terpejam.
Disya hendak bangkit, namun suaminya berhasil mencekal lengannya. Menahan gadis itu supaya tetap berbaring di sampingnya.
"Mau kemana? Sini aja bobo, aku nggak bakalan ngapa-ngapain," ucap pria itu menarik tangan Disya, gadis itu kembali berbaring di sampingnya.
"Udah, jangan tegang gitu dong Sya, bobok siang dulu nanti sore baru keluar, kita jalan sekalian makan di luar," jelasnya seraya memeluk istrinya.
__ADS_1
Sementara Bunda Yuki tengah membuat cemilan di dapur bersama mbok Nah ketika bel rumahnya berbunyi. Yuki menghampiri ruang tamu dan mendapati besannya berkunjung, Mama Amy di temani Flora mengunjungi kediaman Asher untuk menjenguk Disya yang sudah pulang dari rumah sakit.
"Disya nya di kamar ya?" duga Mama Amy.
"Iya, sepertinya tadi mereka istirahat di kamar."
"Sky di rumah? Emang nggak ngajar?"
"Udah pulang, sebentar ya aku panggilin dulu. Silahkan duduk jeng." Yuki menyambut tamunya ramah.
Ibu dari tiga anak itu berjalan gontai menuju kamar putranya. Ia mengetuk pintu beberapa kali namun tak ada sautan, perempuan itu pun membuka handle pintu dengan hati-hati dan mengintip, ternyata dugaanya benar, bahwa putra dan menantunya itu tengah beristirahat, mereka tertidur dengan saling memeluk.
"Manis sekali kamu nak," gumam Yuki mengamati putranya yang tengah memeluk Disya dengan sayang. Perempuan itu tersenyum lalu menutup pintunya kembali, tak ingin mengusik istrihat mereka yang manis. Berjalan menuju ruang tamu dengan masih mengembangkan senyuman.
"Maaf jeng, mereka malah lagi pules, nggak tega buat banguninnya, di maklumin ya?" ujar Yuki memohon pengertian.
"Owh... ya udah biarin aja, kasihan jangan di ganggu."
***
Ke dua sejoli itu tertidur bersama hingga menjelang sore. Baik Sky maupun Disya sama-sama terjaga dan menemukan dirinya berada dalam pelukan masing-masing.
"Sayang... kita manis banget ya, sampai tidur aja nggak mau pisah gini," ujar pria itu tersenyum. Tangannya terulur menoel pipi Disya dengan gemas.
"Ya ampun... jam berapa ini, katanya mau ngajak jalan. Tuh kan... bohong." Gadis itu kembali mrengut.
"Mana ada bohong, siap-siap gih... mandi habis itu kita keluar, tapi yang dekat aja ya? Kamu masih proses pemulihan?"
"Boleh, kemanapun kamu mau, aku iyain."
"Kamu mandi dulu sana, gantian."
"Bareng aja gimana, biar cepet," ujarnya memberi solusi.
"Nggak mau, kamu duluan."
Setelah hanya saling debat perihal mandi, akhirnya Disya mandi lebih dulu dan Sky setelahnya. Mengingat cewe itu kalau dandan suka lama, pria itu pun memutuskan untuk keluar kamar sebentar. Sky berjalan gontai menuruni anak tangga, masih dengan muka bantalnya. Ia ingin membasahi tenggorokannya yang terasa kering, pria itupun menuju dapur untuk mengambil minum.
"Mbok, di depan sepertinya rame banget, ada tamu ya?" tanya Sky penasaran, mendapati kediaman rumahnya terdengar berisik.
"Kan ada tamunya orang tua non Disya, Den," jawabnya ramah. Mbok Nah tengah merampungkan bola-bola kentangnya, cemilan yang tadi sempat di buat bersama majikannya.
"Ky, udah bangun? Di depan ada mertua kamu, temui sana!" Bunda Yuki mendapati Sky yang tengah asyik nyemil bola-bola kentang isi keju dan coklat buatan mbok Nah.
"Bentar Bun, aku mandi dulu, lagi di pakai Disya kamar mandinya," jawab pria itu santai, masih setia menikmati cemilannya.
"Ya cepet gih mandi, pakai kamar mandi kamar lain kan bisa."
__ADS_1
"Bentar, ini enak banget Bun, nanggung. Udah lama Mama datangnya, kenapa nggak bangunin?"
"Kamunya lagi asyik pelukan gitu, nggak tega Bunda buat gangguin kamu."
"Aduh... pengertiannya, love you mom." Sky tersenyum, mencium kilat pipi Bunda nya lalu berlalu.
Bunda Yuki hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak sulungnya. Sudah dewasa tapi masih suka usil dan manja.
Sky masuk ke kamar, pria itu menemukan istrinya yang sudah rapi, dengan pakaian pergi. Terlihat sangat cantik, membuat ia yang hendak ke kamar mandi tidak tahan untuk tidak menggodanya.
Ehem
"Yang cantik, siapa yang punya?" goda Sky mendekat, merangkum bahu Disya dan mengendusnya dari belakang.
"Yang punya.... Daharyadika Ausky, pria rese' yang menyebalkan."
"Kamu milikku, tubuh ini, semua yang ada pada dirimu milikku sayang. Gumush aku!" Sky menghujani ciuman di pipii Disya.
"Mas... nggak usah lebay deh... sana mandi, rese' nggak ilang-ilang, rambut aku, make up aku, ya ampun.... lusuh."
Sky terkekeh tanpa dosa. "Jangan ngambek, nanti aku ciumi lagi. Udah nggak usah cantik-cantik cukup aku yang ngelirik. Cepet turun sana, ada Mama sama kak Flora di bawah."
"Mama datang, kok nggak kasih tahu?"
"Kitanya bobok, jadi Bunda sengaja nggak bangunin. Katanya tidur kita terlalu manis," ujar pria itu berlalu menuju kamar mandi.
Disya langsung menemui Mama Amy dan juga kakaknya. Gadis itu sangat bersemangat menyambut kedatangan keluarganya.
"Ma," panggilnya seraya memeluk dengan sayang, lalu mencium punggung tangannya dengan takzim.
"Cuma berdua aja, Papa nggak ikut?"
"Masih di kantor, nanti paling langsung nyusul ke sini. Gimana, udah baikan? Jangan banyak aktivitas yang tidak berarti dulu, kurangi jalan atau main sama temen-temen, nurut sama suami. Sudah cukup ini menjadi pelajaran berharga buat kamu. Untung Sky itu sabar banget ngadepin kamu." Nasihat Mama Amy yang langsung diangguki anak gadisnya itu.
"Iya Ma, Disya mau berubah kok, lagi berusaha buat memahami karakter suami dan mencintai dia sepenuh hati," jawab Disya yakin.
Sky yang sudah diambang ruanganpun termangu di tempat, sudut bibirnya membuat lengkungan mendengar nasihat mertuanya dan jawaban Disya. Ia semakin yakin, Disya mau membuka hatinya untuk dirinya. Pria itu tersenyum mendekat, menyapa mertuanya dan menyalami ibu dari istrinya tersebut.
"Btw kalian couplean, rapi banget gitu mau kemana?" telisik Flora.
"Nggak kemana-mana, pingin aja," jawab Disya seraya melayangkan satu cubitan di pinggang Sky. Mulut suaminya yang sudah berkedut, mingkem kembali.
Roman-romanya nggak jadi pergi nich...! gumam Sky dalam hati.
Tak berselang lama, Amar dan Asher datang hampir bersamaan. Menambah rame suasana ruangan.
"Yank, kita nggak jadi pergi," bisik Sky lirih, tepat di belakang telinganya.
__ADS_1
"Kapan-kapan aja, ada Mama, aku masih kangen," jawabnya berbisik juga.
Sky duduk tepat di sebelah Disya, menempel gadis itu tanpa jarak, memainkan rambut istrinya yang tergerai indah. Memilin, mengikal, membuat gulungan, memainkan dengan asyiknya seraya mendengarkan obrolan para orang tua.