One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 151


__ADS_3

Disya masih menatap kaku, susu di mulutnya dengan susah payah ia telan. Sky hanya tersenyum tipis, lalu mengelap sisa susu yang sedikit belepotan di sekitar bibirnya dengan ibu jarinya. Mata mereka saling beradu, tak lepas satu sama lain.


"Mau minum habisin sendiri, atau mau aku minumin kaya tadi?" tawar pria menatap lembut.


Disya masih betah menatapnya lekat, mulutnya ingin bersuara tetapi tertahan karena pandangan suaminya yang menghunus lekat tepat di jantungnya.


"M-minum sendiri Mas," jawab Disya terbata.


"Oke, istri pintar," ujar Sky mengacak rambut istrinya pelan.


"Nih, habisin ya? Jangan ada sisa, biar anak kita sehat." Sky menyodorkan segelas susu dan membimbing istrinya untuk menghabiskan susu di gelas.


"Udah," jawab Disya lega. "Sekarang boleh tidur kan, aku ngantuk," sambungnya memelas.


"Kamu ngantuk? Akunya nggak bisa bobok, gimana dong?"


"Ish ... jangan rempong, istirahat juga sudah malam."


"Besok jadi cek kandungan ke dokter?" tanyanya seraya memposisikan diri berbaring di sebelah istrinya.


"Jadi, mungkin agak siang, kamu ada ngajar?"


"Ada, jam pagi. Cuma sorenya mau nganter Bintang ke Bandara. Jadi, gimana kalau cek ke Rumah Sakit sehabis Mas ngajar aja, biar punya waktu luang juga. Aku udah cancel untuk kelas sore nanti, biar aku kasih tugas aja," jelas pria itu panjang lebar. Merapikan selimut yang nampak tak beraturan.


"Selimutnya jangan dibuang-buang sayang, rusuh," keluhnya mengomel


"Gerah, suka nggak sadar udah mlipir dari tubuh."


"Kamu semenjak hamil boboknya rusuh, diem yang manis."


"Bawelnya kumat, aku udah buat janji jam dua siang, kalau Mas nggak bisa ya ... aku sendiri juga nggak pa-pa," jawab Disya sekenanya.


"Jangan, nggak ada ya cek up sendirian, aku usahain bisa banget malah."


"Katanya mau nganter Bintang? Dia jadi pergi, kasihan banget harus LDR."


"Dia yang LDR, kenapa kamu yang resah."


"Siapa yang resah, fitnah mulu kerjaanya. Aku cuma kasihan sama mereka, saling mencintai tapi terpisah jarak dan waktu."


"Iya kah? Kaya udah pernah LDR aja, cuma ditinggal KKN aja udah kangen."


"Ye ... kamu kali yang uring-uringan nggak jelas, aku kalem."


"Kalem apaan, ngintilin mulu hobbynya," sanggah Sky lugas.


"Ya udah mulai besok aku nggak mau ngintilin kamu, berangkat kampus masing-masing, jalan masing-masing, pergi masing-masing," kata Disya mrengut. Perempuan itu sedikit ngambek. Langsung menarik selimutnya sampai menutupi kepala.


"Ih ... gumush banget sih istri aku, nggak gitu Disky sayang ... "


Sky membuka selimut yang menutupi kepala Disya, namun perempuan itu menahannya.


"Jangan ngambek yank, please ... buka dong, sini deh peluk."


"Nggak mau, sana tidur di luar, nggak usah seranjang sama aku."


"Eh! Kok beneran ngambek sih, aku kan becanda, ya Allah ... jangan gini dong, aku mana bisa jauh dari kamu."


Disya masih mrengut, Sky menghujani ciuman di pipi istrinya dengan gemas.


"Basah Mas, kesel ah, minggir!"

__ADS_1


"Biarin, mau cium terus sebelum dimaafin," ujar pria itu acuh, tetap mengendus pipi istrinya dengan gemas.


"Sumpek Mas, gerah!" geram Disya kesal.


"Buka aja kalau gerah," ucap pria itu mengerling.


"Itu sih maunya kamu, minggir ah, aku mau tidur." Bukannya minggir Sky malah semakin merapatkan diri, memeluk istrinya semakin erat.


"Met istirahat," ucapnya lembut, mencium kening istrinya dengan sayang.


Ke esok paginya, mereka beraktifitas seperti biasa. Sky dan Disya tengah sarapan bersama di meja makan. Pagi ini mbak Tia memasak menu nasi goreng untuk mereka. Disya membuatkan kopi untuk suaminya, sementara Sky membuatkan susu untuk istrinya. Entahlah, tetapi ke duanya sepakat ngelakuin itu dan minuman buatan pasangan itu rasanya lebih nikmat.


Usai sarapan Sky dan Disya berangkat ke kampus bersama. Sky ada jadwal mengajar pagi ini, dan siang, sementara Disya agak siang pukul sepuluh lebih tepatnya. Perempuan itu lebih asyik menyibukkan diri di perpus kala waktu luang. Perempuan itu cukup sibuk menyiapkan resensi untuk seminar proposal.


Tugas akhir sudah lumayan lengah, namun ia harus mengambil langkah cepat agar skripsi bisa berjalan dengan lancar dan tepat waktu, terutama kalau tidak mau keteteran dan repot, Disya sudah mempertimbangkan lulus sebelum melahirkan, menurut perhitungannya perempuan itu akan lulus sebelum anak mereka lahir. Mengingat akan sangat repot nantinya.


"Woi ... melamun!" Hanum menyenggol lengan Disya yang nampak membeku di tempat.


Hanum dan Sinta menemukan Disya yang tengah berdiri santuy di depan gedung perpus sambil memainkan ponselnya.


"Mikirin apa sih?"


"Dasar anak fekon suka kepo, dikit-dikit kepo."


"Eh, kaya elo bukan anak fekon aja," sanggah Hanum cepat.


"Laper woi, kantin ah hayuk ...!" ajak Disya yang langsung diiyakan Hanum dan Sinta.


"Masih ada kelas nggak?" tanyanya memicingkan matanya.


"Masih, santai aja lah."


"Sejak kapan lo nyantai, bukan Disya banget," ujar Hanum tak percaya.


"Lagi malas jadi anak baik, telat dikit nggak pa-pa, yang penting tetep masuk."


"Suami lo yang ngajar, beneran berani?"


"Sepertinya perlu di coba, apa iya bakalan marah kalau gue malah asyik di kantin."


"Woho ... istri Dogan sebenarnya mode mbangkang."


"Ngeparank doang, gue kalem," ralat Disya cepat.


"Nggak yakin kalau lo kalem, rusuh lo mah."


"Bahas apaan sih, asyik nih." Bisma ikut nimbyung.


"Kepo amad jadi cowok, dari mana baru nongol?"


"Semedi, biar cepet dapat wangsit judul skripsi yang pas."


"Lo udah pengajuan? Jadi juga skripsi semester tujuh?" tanyanya penuh selidik.


"Woho ... satu server!" Disya dan Bisma adu kepalan tangan.


"Apa?! Gue mah udah niat, jadi lah biar cepet lulus, mau nusulin Disya bangun rumah tangga."


"We ... gercep amad, udah ada calonnya?"


"OTW halalin."

__ADS_1


"Beneran? Siapa?"


"Kepo? Kepo?"


"Yuk, Ah Al, cabut."


"Jangan mau Al, ****** tuh orang. Ngomong doang."


"Alan galau, di tinggal Bintang ke London."


"Bukan gue lah, tapi Bang Ray."


"Emang hubungannya sama lo apa?"


"Mau di jodohin nggak jadi," jawab Bisma sok tahu.


"Kok lo pada tahu adek gue sih, dih ... beneran cowok rempong super gosip."


"Nggak ada Disyayang. Itu si Bisma tukang ngaco."


"Pasti tante Gea yang bocorin, ada Bila tuh masih jomblo."


"Iya tuh anak kemana, dari tadi nggak kelihatan."


"Kencan, cinlok waktu KKN."


"Eh, beneran? Ya, ampun ... gue ketinggalan gosip, sumpah kudet banget." Disya melongo mendengar gosip terbaru.


"Lo sih mainnya kurang jauh, seputar kamar, kasur terus ranjang terus, jadi lupa sama kita." Sinta terkekeh mendengar penuturan Hanum.


"Astaghfirullah ... mulut lo, Han. Kurang vulgar."


"Gue mah jujur," sanggah Hanum cepat.


"Maklum pengantin baru," ujar Bisma membela.


"Tahu nih, pada ngiri aja hobinya."


"Sumpah gue ngiri, ada nggak sih dosen muda cewek, biar gue skripsian ma dia." Bisma heboh sendiri.


"Lo enak banget Sya, sama suami sendiri."


"Biasa aja, doi kan terlalu sportif, gue mau belok ntar kena pajak."


"Belok kemana Sya?" Tiba-tiba Sky menyahut.


"Anjir orangnya di sini," celetuk Sinta lirih.


"Mampus lo, Sya, suami lo datang."


"Eh, Mas? Sejak kapan ngintilin ke kanti?"


"Sejak kamu datang, ayo sayang ... katanya mau cek up."


Disya menepuk jidatnya sendiri, perempuan itu sampai lupa untuk hal sepenting itu.


"Gue duluan ya!"


"Hati-hati bumil, besok anaknya jodohin sama anak gue ya?" ujar Bisma berkedip.


"Besanan sama lo, ogah!"

__ADS_1


__ADS_2