
Pagi hari di kediaman Asher Daharyadika. Semua keluarga tengah berkumpul di meja makan untuk sarapan. Semenjak Flora sering mengunjungi apartemen nya Sky, Sky lebih sering tidur di rumah Bunda nya. Pria itu cukup nyaman tinggal di kediaman orang tuanya dari pada harus bertemu dengan perempuan agresif itu.
"Bun, aku siap menikah tapi bukan dengan Flora melainkan dengan Disya adiknya Flora anak Om Amar yang ke dua, tidak melanggar janji perjanjian juga kan, pada dasarnya aku tetap menikahi salah satu anaknya yang telah di jodohkan. Kalau Bunda dan Ayah tidak mau ngomong sama Om Amar, Sky sendiri yang akan bilang sendiri," ucap Sky lancar dan fasih.
Asher dan Yuki pagi-pagi di buat melongo dengan pernyataan Sky yang cukup frontal.
"Sky? Kamu sadar dengan apa yang sedang kamu ucapkan nak?" tanya Yuki yang tiba-tiba mendadak pening.
"Sadar Bun, Sky sadar sesadar sadarnya. Sky menyukai Disya semenjak pertama kali bertemu dan Sky yakin Disya juga begitu."
"Sky kan mengajar Disya Bun di kampus, jadi Sky lebih tahu banyak tentang Disya," sambung Sky.
Sky tidak mungkin menceritakan hal yang sebenarnya terjadi mengingat dia dan Disya tidak saling kenal sebelumnya, lagian itu merupakan sebuah aib lebih tepatnya sebuah kesalahan untuk dirinya dan Disya. Sky tahu perbuatannya itu salah, dia bukan seorang pengecut yang harus lari dari tanggung jawab terlebih apabila gadis itu hamil Sky merasa sangat berdosa karena telah membuat anak orang menjadi berantakan atas dirinya.
"Bunda terserah anaknya saja baik Flora dan Disya bagi Bunda tidak masalah, tapi yang Bunda tahu flora sudah setuju menikah dengan kamu nak, bagaimana cara memberitahu kalau kamu lebih memilih Disya? Apa itu tidak bisa di fikirkan lagi? Itu sama saja menyebabkan permusuhan di antara mereka? Disya dan Flora itu kakak beradik dan Bunda yakin Disya tidak mau membuat Flora bersedih begitupun Flora."
"Bunda benar Ky, bagaimana bisa sesuatu yang sudah setengah di jalankan ini di putar paksa begini, ya kalau Flora legowo kalau tidak? Lagian Disya juga sepertinya tidak tertarik dengan mu?" ucap Asher bijak.
"Makannya ayah bantu ngomong dong sama Om Amar, pokoknya besok di makan malam jamuan di rumah kita ayah harus ngomong sama Bunda kalau tidak Sky sendiri yang bakal bilang sama mereka?" kukuh nya tanpa mau di bantah.
Pria itu lantas berdiri dari tempat langsung menyudahi makannya dan meninggalkan meja makan begitu saja. Adik Sky yang melihat kejadian itupun hanya diam saja melihat semuanya. Ia bersyukur dilahirkan yang paling terakhir jadi tidak di pusingkan dengan perjodohan masa kini yang menurutnya urusan orang dewasa itu sangat ribet.
"Gimana Mas? Aku beneran pusing ini?" ujar Yuki sambil memijit pelipisnya.
"Mau bagaimana lagi, kita kan sudah bahas ini kemarin bahkan kita siap menanggung segala resiko kalaupun perjodohan ini di batalkan."
"Aku setuju dengan sikap Sky Mas, biar bagaimana pun pernikahan tanpa cinta itu berat?" ucap Yuki yakin.
"Iya, baiklah nanti Ayah akan coba berembuk untuk menemukan solusi yang baiknya gimana untuk anak-anak kita?" ujar pria itu.
__ADS_1
"Sudah sarapannya di habisin sayang, jangan manyun terus?"
"Iya Mas," ujar Yuki mencoba tenang.
Setelah sarapan Asher berangkat ke kantor barengan sama Yuki menuju butiknya. Sementara si bungsu Bintang berangkat sekolah.
Sky masih di kamarnya, pria itu sudah semalaman tidak bisa tidur dengan tenang sebab memikirkan banyak hal. Hari ini Sky tidak ada jadwal mengajar jadi pria itu cukup santai untuk hari ini.
Sebenarnya Asher merasa kewalahan meng-handle kantor dan ingin anaknya terlibat dalam mengurus bisnisnya. Tapi Sky tidak begitu tertarik dengan jabatan CEO untuk dirinya. Sky lebih memilih kampus sebagai tempat kerjanya.
***
Siang ini Asher mendatangi AW group perusahaan Amar. Perusahaan yang telah bekerjasama dengan perusahaan miliknya semenjak dulu.
Saat ini ke dua Bapak itu tengah duduk di suatu ruangan yang cukup nyaman.
"Kamu tentu tahu kedatangan saya kemari untuk hal lain, bukan tentang bisnis," ujar Asher to the point.
Asher lebih suka berbicara di area kantor seperti ini karena tidak melibatkan istrinya Yuki. Asher idak akan membuat istrinya merasa pusing dan beban.
"Iya lebih tepatnya begitu. Apakah Flora setuju di jodohkan dengan Sky?" Asher mencoba membuka suara.
"Sejauh ini anak saya tidak menolak dan malah terkesan menerima, bagaimana dengan Sky"
"Sky siap menikah tapi dengan putri Anda yang ke dua, Sky menolak di jodohkan dengan Flora dia berhak memilih di antara putri kamu yang ke dua, bahkan dalam Perjanjian pun tidak mengharuskan menikah dengan anak yang pertama atau yang ke dua, jadi pihak kami hanya mau melanjutkan perjodohan ini dengan Sky yang menikah dengan Disya?" ujar Asher mantap.
"Bagaimana bisa di ucapkan seenteng itu, masalahnya Flora sudah setuju dengan perjodohan ini dan Disya sudah mempunyai calon sendiri jadi itu tidak mungkin, akan terjadi pertengkaran di antara putri saya?" ujar Amar sedikit kecewa, lelaki itu meninggikan suaranya.
"Silahkan Anda berdiskusi masalah ini dengan keluarga Anda, keputusan harus sudah di ambil, silahkan besok datang memenuhi undangan makan malam kami dan kita bicarakan pernikahan putra putri kami," ujar Asher lantang.
__ADS_1
"Saya permisi," pamitnya.
Sepeninggalan Asher dari kantornya, Amar tidak lagi bisa berkonsentrasi. Pria paruh baya itu memutuskan untuk pulang ke rumah dan secepatnya memberitahukan perihal berita yang teramat frontal untuk dirinya dan keluarganya.
Bagi Bapak dari dua anak itu kebahagiaan putrinya adalah yang paling utama, baik Disya maupun Flora memang sama-sama berhak mendapatkan kasih sayang yang sama. Walaupun selama ini Amar akui lebih dekat ke Disya dari pada Flora. Flora sudah lama hidup misah dengan dirinya membuat pria itu bahkan tidak mengenal putrinya dengan baik.
Pria berwajah oriental itu pulang dengan raut lesu memasuki rumahnya. Berbeda dengan Asher yang memancarkan kelegaan menemui istrinya di YA boutique.
"Sayang ayo kita pulang, nikmati hari ini untuk jalan berdua?" ujar pria itu bergelayut manja.
"Kamu kenapa Mas? Kalau kaya gini pasti ada maunya nih," ujar Yuki curiga.
"Kamu tahu aja, cek ruangan sebelah kosong?" pria itu tersenyum penuh arti.
"Jangan banyak tingkah Mas nanti encok sudah tua. Hahaha"
"Biar tua tenaga masih oke, tidak kalah lah dengan yang muda."
"Aku tidak yakin," ujar Yuki meledek.
"Bisa test drive sekarang...??"
"Hmm... mesum terus walaupun udah punya buntut tiga."
"Tingkat kemesuman harus selalu di lestarikan supaya tumbuh dengan baik dan menimbulkan perdamaian."
"Ngomong apa Mas??"
"Ngomongin yang bikin kamu mau lagi?"
__ADS_1
"Ssshhhtt!!!"