
Hari minggu yang seharusnya di buat untuk acara pergi pun terpaksa berdiam diri di rumah sebab muka Sky yang lebam lengkap dengan tragedi yang ada, muka tampannya bonyok. Masih mending ketiban Rayyan yang lumayan parah. Sky benar-benar kesetanan menghajarnya.
"Sayang, sini dong ..., sakit nih..." keluh Sky manja, berharap Disya lebih peka dan perhatian.
"Makanya, kalau ada apa-apa tuh jangan main otot segala, di selesaikan kepala dingin kan bisa, kalau sudah begini ngrugiin diri sendiri dan orang lain."
"Aku belum puas, tangan aku masih gatel pingin menghajar tuh orang, awas saja sampe berani mainin Bintang, aku bakalan kasih yang lebih dari ini."
"Ish... Mas tuh dibilangin ngeyel, kalau faktanya mereka saling mencintai gimana? Kamu masih mau memisahkan?"
"Rayyan nggak cinta sama Bintang, dia itu cuma manfaatin keadaan ini doang Sya, kamu ngerti nggak sih?"
"Nggak ngerti lah, dalamnya perasaan orang mana ada yang tahu?"
Sky mencebik, pria itu masih kesal tapi juga tidak bisa berbuat banyak. Ia benar-benar pusing menghadapi masalah yang ada. Ibarat kata mundur kena maju lebih sengsara.
Sementara di ruang tamu, nampak ke dua orang tua Rayyan sudah datang dengan tergopoh-gopoh. Pak Wira dan Bu Wira cukup syok melihat putranya yang penuh luka lebam.
"Mohon maaf, ini ada apa ya? Kenapa keluarga Pak Asher mengundang kami sepagi ini?" tanya Pak Wira mencoba tenang, setelah sebelumnya di persilahkan untuk duduk.
Pria itu berusaha tidak berprasangka sebelum mendengarkan penuturan tuan rumah. Berbeda dengan Bu Wira yang langsung menduga-duga dengan muka yang begitu tegang.
"Sebelumnya mohon maaf Pak, Rayyan tertangkap basah tidur di kamar putri saya, dan itu sangat membuat kami selaku orang tua sangat menyayangkan kejadian itu, dari kami sudah sangat jelas, minta anak Bapak untuk mempertanggung jawabkan semua hal yang terjadi."
__ADS_1
Kilat marah dan kecewa langsung tergambar jelas di mata Pak Wira. Pria itu tak bisa berbuat banyak, mendengar penuturan Pak Asher jelas mengarah pada sebuah pertanggung jawaban. Entah tuduhan itu benar atau tidak, dirinya cukup di buat malu dengan kejadian ini.
Mendengar perkataan Ayahnya, Sky yang mendengar pun semakin galau. Ia benar-benar bingung, di satu sisi ia tidak ingin Rayyan menikahi Bintang tapi di sisi lain, takut kalau adiknya sudah di hancurkan masa depannya oleh mantan sahabatnya itu.
"Aku tidak mau menikah Ayah, aku masih sekolah, dan lagi antara aku dan kak Ray tidak terjadi apapun semalam, semua salah paham. Aku hanya demam, dan kak Ray berusaha ngerawat aku?" jelasnya dengan sesenggukan.
Rayyan sendiri malah bingung, ia tidak mengiyakan tapi juga tidak menolak. Entahlah apa yang sedang ada di pikiran pria itu, ia seperti orang linglung, mungkin otaknya bergeser karena pukulan yang bertubi dari Sky.
"Baik Pak, Anak saya akan bertanggung jawab, namun, berhubung putri Bapak masih sekolah? Bagaimana kalau pernikahan mereka secara rahasia dan tertutup dulu, di lakukan secara siri saja."
"Aku tidak setuju, aku tidak mau menikah, ini salah paham," pekik Bintang histeris, menangis sesenggukan di pundak Bunda Yuki.
"Aku juga tidak setuju, Bintang masih sekolah, apa tidak seharusnya Ayah berpikir dua kali untuk menjadikan Rayyan sebagai menantunya." Sky angkat bicara.
Disya memilih untuk menuju kamarnya saja, walaupun sempat terlintas untuk membantu Bintang akan penjelasan tadi pagi, namun, gadis itu malah takut nantinya suami posesif nya itu salah paham lagi. Walaupun melihat Bintang kasihan, tapi Disya kali ini tak ada keberanian untuk ikut campur.
Cukup lama, setelah beberapa menit gadis itu bersantai di kamar, pintu kamar itu terbuka dengan muka Sky yang semakin masam, dan terlihat begitu keruh. Pria itu langsung merangkak ke atas kasur menyusul istrinya yang tengah duduk menyender headboar.
Sky langsung berbaring di pangkuan istrinya, menenggelamkan wajahnya di perut Disya, ke dua tangannya memeluk posesif. Posisi ternyaman Sky, seketika menjadi tenang dengan menghirup wangi tubuh Disya.
Tangan Disya terulur menyugar rambut suaminya, ia paham dengan kekalutan yang tengah melanda pria itu.
"Mas, kamu nggak pa-pa? Kamu mikirin apa?" tanyanya memancing pria itu untuk mencurahkan uneg-unegnya.
__ADS_1
"Banyak," jawab pria itu masih setia dengan posisinya.
Memikirkan nasib Bintang jika sampai menikah dengan Rayyan, serta memikirkan Disya, bagaimana kalau pria itu berubah status nya menjadi adik iparnya. Sky hanya takut, Rayyan hanya ingin balas dendam dan memanfaatkan adiknya saja. Sementara pria itu masih mencintai istrinya. Dia tidak ingin melihat adiknya hancur hanya dengan mendengar fakta ini, di sisi lain ia takut kalau pria itu sudah menyentuh adiknya.
"Mas ..., Aku mencintaimu," kata Disya cukup jelas dan lugas. Merasa harus memperjelas perasaannya, berusaha memberikan sedikit kekuatan, kepercayaan dan mengembalikan semangatnya.
Pria itu mendongak, langsung bangkit dari pangkuan Disya, menatap gadis itu dengan pandangan sayu. "Ngomong apa, Sya? Coba ulangi?" pintanya menatap istrinya begitu lekat.
"Aku mencintaimu Mas, Aku mencintaimu Daharyadika Ausky," kata gadis itu tenang dan cukup jelas.
Sky tersenyum, sembari menahan perih sudut bibirnya. Pria itu sedikit bingung tapi juga lega, istrinya mengakui perasaanya. Hatinya langsung menghangat seketika, menepikan rasa dongkol dan cemas yang tengah melanda.
Sky meraih tangan istrinya, menatap netranya berusaha mencari jawaban dari sana, terlihat istrinya kali ini begitu tulus, entah berapa persen, tapi saat ini pria itu sangat bahagia untuk asmaranya.
"Makasih, aku juga mencintaimu istriku Disya Anggita," ucap pria itu membalas begitu lembut.
"Tolong percaya sama aku Mas, apapun yang terjadi di depan, kamu harus tetap percaya, kalau aku siap menjalani rumah tangga kita dengan serius dan cinta," jelasnya tanpa ragu.
Bukan tanpa alasan, Disya tentunya tidak ingin membuat suaminya begitu khawatir memikirkan dua hal untuk dirinya dan juga Bintang. Ia harus meyakinkan perasaanya untuk menjadikan pria itu lebih tenang walaupun pada akhirnya Bintang dekat dengan Rayyan.
"Jangan beranggapan lain, kalau aku ngebahas tentang Bintang dan Rayyan? Kamu harus percaya, bahwa hati ini sudah terisi namamu," jelasnya sekali lagi berusaha meyakinkan.
"Aku hanya takut, kamu merasa tidak nyaman, dan tentu saja aku takut pria itu masih memendam rasa cinta yang besar saat mempunyai ikatan bersama Bintang."
__ADS_1
Sungguh pemikiran yang sangat manusiawi dan masuk akal, mengingat pengakuan Rayyan sebelumnya. Tapi setidaknya istrinya sudah benar-benar membuka hati untuk dirinya.