
Sky mencoba menghubungi ponsel Disya berkali-kali, namun tidak ada jawaban, sudah terhitung yang ke sembilan kali pria itu menelfon dan sekarang malah handphonenya sudah tidak aktif. Rasa kesal itu perlahan berubah menjadi khawatir.
"Bun, Sky cari Disya dulu siapa tahu pulang ke rumah Mama, handphonenya tidak aktif," pamit Sky berusaha tenang.
"Oke sayang, hati-hati di jalan jangan ngebut," ujar Yuki memperingatkan.
"Kemana sih tuh anak, awas saja sampe nggak pulang, aku bikin nggak bisa jalan besok paginya," guman Sky menggerutu. Sepanjang perjalanan pria itu gusar sekaligus cemas.
Sky mencoba menghubungi Flora, siapa tahu Disya sedang bersama kakaknya tapi ternyata tidak. Flora juga mengatakan Disya tidak ada di rumah Mama, saat ini bahkan Flora sedang berada di sana. Sky pun langsung menutup sambungan telefon nya dan berniat pulang. Pria itu tidak habis pikir dengan tingkah istrinya yang sama sekali tidak memberi kabar, bahkan terkesan abai dengan pesan dirinya. Benar-benar membuat Sky kesal dan berfikiran macam-macam.
Sesampainya di rumah Sky langsung menuju dapur, mengambil air minum untuk membasahi tenggorokanya yang terasa kering, akibat menggerutu di sepanjang jalannya. Setelah menghabiskan beberapa tegukan Sky berjalan ke arah kamar dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore tapi Disya belum juga kembali. Sky benar-benar kesal menunggu di rumah tanpa kepastian. Ia pun kembali ke kampus dan menuju pusat informasi, mengecek CCTV kampus. Tak perlu menunggu lama Sky langsung menatap monitor di depan layar. Benar saja, Disya terakhir di kampus tengah berkumpul dengan teman-temannya. Tak lama ia pun ke luar dari parkiran dan menemukan istrinya tengah berboncengan dengan teman satu kelasnya. Mereka ke luar dari area kampus, pria itu Bisma.
***
Disya benar-benar lupa kalau suaminya memberi amanat untuk ke ruangannya. Gadis itu juga terlalu cuek berhubung Sky tidak menghubunginya, ia pikir hari ini semua berjalan mulus tanpa kendala tetapi mendadak ada rapat untuk panitia baksos yang akan di selenggarakan di sebuah Desa, masih di kawasan jakarta walaupun jauh dari pusat kota.
Setelah rapat usai, Disya dan teman-temannya yang tergolong anggota Badan Eksekutif Mahasiswa mengunjungi tempat lokasi atau survei lokasi. Ia bahkan terlalu menikmati kegiatan hari ini sampe lupa berkabar untuk suami barunya itu.
Disya seolah lupa, kalau dirinya bahkan sudah mempunyai suami yang dalam hal kegiatan apapun harus atas izinnya. Sialnya ponsel gadis itu di silent sejak di kelas sehingga ia tidak mendengar ketika terdapat panggilan masuk ke ponselnya berkali-kali.
Gadis itu baru terperangah, ketika hari mulai senja dan ia tersadar bahwa dirinya akan pulang terlambat.
"Mampus gue," pekik Disya panik ketika membuka ponselnya banyak sekali panggilan masuk dari Sky.
Disya berujar menghubungi balik tetapi sebelum sempat tersambung ponsel Disya mengalami kehabisan daya.
"Ada apa Sya?" tanya Bisma begitu melihat kegusaran wajah Disya.
"Balik Bis, gue dalam masalah. Sumpah gue lupa ngabari orang rumah," jawab Disya gusar.
"Ya udah tinggal telfon aja ribet bener, kabarin pulang telat ada kegiatan kampus. Beres kan," ujar Bisma enteng.
__ADS_1
Sahabat Disya yang satu ini emang selalu menggampangkan dan terlalu sante. Semua hal di bikin sesimple itu.
"Kamu nggak ngerti situasi dan kondisi terkini, masalahnya handphone gue mati."
"Mati? Nih pake punya gue, telfon gih orang rumah biar lo tenang."
Disya menatap bingung ponsel Bisma, ia ragu, jika Disya menghubungi dengan ponsel sahabatnya itu sama saja secara tidak langsung memberi tahu Sky bahwa dirinya sedang jalan bersama sahabatnya. Walaupun untuk kegiatan kampus, Disya yakin itu tidak akan mudah untuk di terima. Mengingat pria itu menjadi sangat over jika masalah kegiatannya saat ini.
"Kenapa Sya? Nggak jadi? Ada pulsanya kok, aman."
Yang nggak aman gue pastinya.
"Pulang sekarang aja, udah selesai juga kan?"
"Oke, siap. Tunggu yang lainya dulu."
Disya dan teman-temannya bertolak pulang dengan motor mereka yang saling beriringan. Sepanjang perjalanan Disya sudah menyusun kata demi kata yang ingin ia sampaikan pada suaminya nanti setelah sampe rumah. Disya yakin, Sky orang yang cukup sulit untuk kompromi, mengingat dia tipe orang yang susah nego dan super ngeyel.
"Gue turun di sini aja Bis, thanks ya udah nganterin," ujar Disya lalu segera turun begitu Bisma menghentikan laju motornya.
"Gue pulang ke apartemen kakak gue, udah ya, thanks. Lo hati-hati di jalan."
"Beneran? Oke deh bisa di terima. Siap! Sampe ketemu besok."
"Oke, gue duluan ya?"
Disya setengah berlari menuju lobby apartement, ia bahkan sampe lupa kalau dirinya tengah berbadan dua saking ingin cepat sampainya. Gadis itu segera masuk lift untuk sampe ke tempat tinggalnya. Disya sudah berada di unit apartemen pria itu. Ia mendadak memelankan langkahnya. Otaknya terus berfikir untuk menyusun kata sementara hatinya sangat gusar, jantungnya berkejaran dengan detakan yang semakin cepat.
Jarum jam pendek sudah menunjukan di angka setengah delapan malam begitu Disya menginjakkan kakinya di rumah pria itu.
Ceklek
Disya membuka pintu apartemen dengan hati-hati. Berharap pria itu tidak ada di rumahnya sekarang walaupun itu terdengar mustahil baginya.
__ADS_1
Gadis itu melepas sepatunya, lalu menaruh di rak. Ia berjalan sepelan mungkin untuk tidak menimbulkan suara apapun.
"INGAT pulang?!"
Suara bariton pria itu menghentikan langkah Disya yang hampir memutar daun pintu kamar. Disya memejamkan mata sejenak, baru kemudian memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan suaminya.
"Iya, maaf. Tadi ada kegiatan kampus di luar," jawab Disya gugup.
Disya benar-benar takut Sky marah, ia sudah cukup kesal dan jenuh harus tinggal berdua dengan pria itu dan sekarang harus menerima omelannya, benar-benar membuat hidup Disya jauh dari kata tenang.
"Mandi, sholat, terus makan. Saya tunggu di ruang makan," ucap pria itu dingin, nadanya lembut namun penuh dengan penekanan, sangat jelas bahwa pria itu marah.
Disya terdiam sejenak, baru kemudian segera melangkah ke kamar dan menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi, berganti pakaian dan segera menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim yang sudah tertinggal sekitar satu jam.
Disya segera ke luar kamar menuju ruang makan. Sky nampak sudah menunggu di sana duduk di salah satu kursi sambil memainkan ponselnya.
Keduanya makan dalam diam, sampe isi piring mereka berdua licin tandas. Pria itu belum beranjak, jelas ada yang ingin dia bicarakan. Disya menanti suaminya membuka suara dengan hati gusar.
Rupanya pria itu cukup baik dalam mengolah emosinya. Walaupun dia dalam keadaan marah, tapi pria itu ingin membicarakan semua itu dalam keadaan tenang. Seperti sudah mandi, dalam keadaan bersih, dan sudah makan dalam keadaan perut kenyang.
"Kamu membuat aku khawatir Sya," ucap pria itu membuka suara.
"Maaf, tadi ponsel saya kehabisan daya," kilahnya mencoba berkelit.
"Kamu tahu aku adalah orang yang tidak mentolerir kedisiplinan waktu, kamu melanggar kesepakatan kita!" Sky berucap tenang, dalam dan tegas.
Disya diam, menunduk, tak mampu menatap netra hitam suaminya yang menyala marah. Gadis itu mengunci mulutnya rapat-rapat karena memang ia merasa salah.
"Aku bakalan stop semua kegiatan kamu di luar rumah, dan mengambil cuti kuliah selama kamu hamil," jelas Sky singkat, padat dan jelas.
Disya sontak mendongakkan kepalanya, menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. Ia tak mampu mendengarkan murka selanjutnya dan lebih memilih langsung meninggalkan ruang makan lalu menuju kamar.
Brakk!!
__ADS_1
Gadis itu membanting pintu kamarnya, sebagai bentuk protes yang tak mampu ia ungkapkan. Disya langsung merangkak ke atas kasur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Hatinya sangat dongkol, ia baru merasakan hidupnya penuh dengan penekanan yang tak berarti.
Sky mengacak rambutnya frustasi, setelah berhasil menguasai emosinya ia langsung menyusul ke kamar.