
Waktu bergulir begitu cepat, tanpa terasa sudah memasuki minggu tenang sebelum UAS. Disya benar-benar memanfaatkan waktunya untuk belajar. Perempuan itu harus menyelesaikan schedule dengan cermat agar tugas bisa di kumpulkan sebelum hari H. Mengingat liburan kali ini tidak ada waktu untuk bersantai, seakan bayang-bayang tugas, proposal, dan praktik sudah menghadang di depan mata.
Bila, Hanum, dan Sinta tengah bermain di apartemen Disya, lebih tepatnya apartemen milik suami Disya. Mereka sengaja belajar bersama dalam rangka merampungkan tugas kelompok kuliah.
"Sya, Dogan mana? Lo di rumah sendirian?" tanya Bila clingukan, merasa tak enak main di rumah istri Dosennya.
"Berempatlah sama kalian, huum, doi kan lagi di kampus. Dia sibuk juga buat persiapan UAS," jawab perempuan itu tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
"Nanti kalau doi pulang terus lo dimarahin gimana Sya? Secara lo ngajak kita-kita main di rumahnya."
"Nggak bakalan marah, tenang aja. Itu orang malah bisa marah kalau pulang dan aku nggak di rumah, auto kena damprat."
"Emang pernah kejadian kaya gitu, maksudnya kasar gitu?"
"Alhamdulillah nggak, amit-amit ya punya suami tempramental, udah gue karungin terus gue lempar ke planet Mars."
"Siapa yang mau dilempar ke planet mars Sya?" tanya Sky tiba-tiba muncul diantara mereka.
Sinta, Hanum, Bila, dan Disya langsung menoleh ke sumber suara.
Mereka tengah di sibukkan menyusun laporan sambil ngobrol ketika Pria itu pulang. Jadi, tidak begitu fokus dengan pintu yang terbuka.
"Eh, Pak?" Mereka bertiga mengangguk sopan.
"Mas, sudah pulang?" Disya langsung menghampiri suaminya diambang pintu, lalu meraih tangannya dan mencium tangan suaminya dengan takzim.
Sky membalas dengan kecupan sayang di keningnya, spontan adegan uwu tersebut membuat ke tiga sahabatnya saling sikut dan baper.
"Hmmm," jawab pria itu seraya menyorot ruang apartemen yang lumayan berantakan. Dua laptop di atas meja, satu di atas sofa, dan satu lagi di dasar lantai beralas karpet. Nampak cemilan berserakan di meja itu.
Disya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, lalu tersenyum kikuk.
"Lagi belajar?" tanyanya seraya berjalan melewati ruang tamu. Disya mengekori suaminya yang menuju kamar.
"Iya, boleh kan? Tadi katanya aku nggak boleh keluar, ya udah aku suruh aja mereka ke sini? Mas nggak marah kan?" tanyanya merasa takut.
"Nggak kok, dari pada di luaran sana nggak jelas, mending di rumah," jawabnya seraya melepas kancing kemejanya.
"Mau langsung mandi? Mau aku siapin air hangatnya?" tawarnya perhatian.
__ADS_1
"Nggak usah, aku siapin sendiri aja, kamu ke luar saja temen-temen kamu kan nungguin, kok malah di tinggal."
"Bentar, habis nyiapin baju ganti Mas, aku ke luar," jawab Disya seraya mengambil pakaian ganti Sky dari lemari.
Sky sudah masuk ke kamar mandi, sedang Disya sudah menyiapkan gantinya, lalu perempuan itu ke luar dari kamar menuju ruang tamu di mana para sahabatnya menunggu.
"Sya, Dogan marah?" tanya Bila mewakili ke dua sahabatnya.
"Enggaklah, apa sih pada tegang gitu, santuy woi ... sans ..."
"Beneran? Kita lanjutin belajarnya? Tapi tadi mukanya agak serem," ujar Hanum jujur.
Disya malah tertawa mendengar ucapan sahabatnya, mereka pikir Sky marah, tapi emang dasar karakter suami Disya yang begitu, terlampaui cuek dengan orang yang belum begitu kenal akrab.
"Iya, SiHaBi ..." ucap Disya menghemat kata. Sihabi singkatan dari Sinta, Hanum, dan Bila.
"Btw ... lo uwu banget Sya, pas nyambut kedatangan suami lo pulang, baper loh akooh ..."
"Ya emang harus gitu, gue kan istri solehah. Hehehe."
"Lanjut kuy lah, tadi sampai mana?" Mereka kembali fokus menatap layar laptop masing-masing.
Di saat mereka tengah fokus merampungkan tugas yang melanda, bel apartemen berbunyi. Spontan Disya langsung berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan mendekati pintu, Kira-kira siapa yang bertamu di sore hari yang cerah.
"Maaf, pesanan atas nama Pak Ausky?"
"Eh, iya itu suami saya, bentar Mas, saya ambil uangnya dulu," ucap Disya sambil membawa masuk paketan makanannya.
"Bentar gengs ... suami gue kayaknya pesen makanan." Disya berjalan gontai, meletakkan bungkusan ke atas meja dan menuju kamar.
"Mas, kamu delivery makanan? Banyak banget?"
"Iya, udah datang ya?"
"Baru aja, ini mau ambil uang buat bayar."
"Dompet aku di laci nakas Sya," tunjuk pria itu.
Mulut Sky menyeru namun pandangannya masih tetap fokus pada ponselnya. Disya berjalan mendekati nakas dan mengambil beberapa lembaran merah di sana.
__ADS_1
"Sayang, belajarnya udah selesai belum? Kalau udah selesai siapin ya, kita makan bareng, sekalian ajak tuh temen-temen kamu," ucap pria itu.
Disya mengangguk paham, rupanya suaminya itu sangat pengertian, tau dirinya repot dan sibuk belajar jadi tidak mau merepotkan hanya sekedar memasak untuknya.
"Bentar lagi kelar, siap Mas," ucapnya berjalan ke luar kamar dengan senyum lebar.
Setelah membayar pesanan makanannya, Disya kembali bergelut dengan tugas yang tinggal sedikit lagi. Sementara Sky keluar kamar, mengintip istrinya yang nampak mengemas laptop dan meja yang berantakan.
Sky berjalan menuju ruang tamu, pria itu memakai pakaian rumahan, kaus putih polos dan celana pendek di atas lutut, dengan rambut sedikit basah habis keramas di biarkan berantakan, santai tetapi terlihat begitu cool dan cukup membuat ke tiga teman Disya melongo dengan pesona Dosen sekaligus suami sahabatnya itu.
"Omoo ... Dogan beda banget," bisik Sinta yang diangguki ke dua sahabatnya.
"Jangan terpesona sama laki orang," celetuk Disya pasang badan.
"Njir! Ada pawangnya gaes ..." ujar Hanum cengengesan.
"Udah selesai Sya? Ayo makan, ajak sekalian temen-temen kamu, pasti lapar juga kan?" tawarnya santai.
"Wah ... jadi ceritanya kita di gratis Pak, mau banget sering-sering aja Pak," canda Bila tak tahu diri.
Mereka menuju ruang makan bersama, ada pizza dengan ukuran besar, martabak sinar bulan, dan wingstop dengan saus garlicnya.
"Cuci tangan dulu gengs, baru makan," ujar Disya menginterupsi.
"Mas, mau minum apa, biar sekalian aku buatin."
"Tolong air putih aja sayang," ujar pria itu mulai mengambil bagiannya. Sky hanya makan secukupnya lalu pindah dari ruang makan.
"Habisin ya Sya? Aku mau udah," kata pria itu beranjak dari ruang makan. Mencuci tangannya dan menuju kamar kembali, membiarkan cewe-cewe itu bebas makan tanpa ribet dan jaim.
"Siap yank, otw habisin," ucap perempuan itu mengacungkan jempolnya, mulutnya penuh mengunyah.
"Sya, Dogan beda banget kalau di rumah, sumpah penampilannya tambah cool, bikin salfok."
"Jangan naksir loh ya, doi punya gue," jawabnya lebay.
"Widih ... sekarang di akuin nih ceritanya, terdeteksi bucin," goda Bila.
.
__ADS_1
Bersambung
Hai semua ... makasih banget buat semua pembaca yang masih setia mantengin cerita ini. Mohon maaf teman-teman, besok author nggak up date, jadi jangan nungguin ya ... update lagi tgl 30, libur satu hari gengs ... see you bye ...