One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 81


__ADS_3

"Mas!?" pekik Disya kaget, laki-laki itu tertimpa tangga dan mendapati cidera pada bagian dada kiri atas, tangannya yang untuk menahan sedikit terkilir.


Disya langsung berhambur ke arah Sky. "Kamu nggak pa-pa?" tanya Disya cemas.


"Nggak pa-pa, aman sayang..." ucap pria itu santai.


"Ya ampun... perih ini mah, itu siku kamu luka." Disya heboh sendiri.


Halaman rumah mendadak heboh karena Disya menjerit.


"Sya, ada apa?" Mama Amy yang tadinya sedang melanjutkan keriwehan di dapur bersama Tini, langsung menghentikan aktifitasnya dan berhambur ke luar.


"Ada apa Sya?"


"Tangganya roboh Ma, Sky kena," jawab Disya yang masih menampakan wajah cemas


"Maaf, gara-gara aku kamu celaka?" ucapnya menyesal.


"Nggak pa-pa, untung aku yang kena bukan kamu," ucap pria itu santai.


"Ayo obatin dulu lukanya, kemeja kamu sampe kotor gini. Mandi sekalian ya?" titahnya.


Sky dan Disya menuju kamar Disya, Disya mengambil handuk bersih di lemari dan menyuruh suaminya mandi terlebih dahulu.


"Sya, tolong bukain kemeja aku, tanganku sedikit sakit," keluh Sky jujur.


Sebenarnya itu hanya sakit sedikit dan luka lecet saja, kalau untuk membuka kemejanya hanya alibinya saja untuk mendapatkan momen agar ter-setting natural, sungguh tidak ada suatu kejadian pun tanpa hikmah di dalamnya.


Wajah tampan itu mengamati wajah ayu Disya secara seksama, ia tersenyum melihat perempuan itu merasa canggung membuka satu persatu kancing kemejanya. Bagai adegan slow motion semua berjalan lambat.


"Udah," ucap Disya lalu segera memalingkan wajahnya yang terasa panas. Disya bukannya tidak tahu, Sky sedari tadi terus memperhatikannya.


"Sya," seru pria itu, spontan menghentikan langkah Disya.


"Kenapa Mas," jawab perempuan itu tetap pada posisi memunggunginya.


"Makasih," kata pria itu tersenyum.


"Iya," balas Disya lalu pergi meninggalkan kamar yang mendadak terasa panas.


Sky merampungkan mandinya sedikit lebih lama, entahlah apa saja yang pria itu lakukan di dalam. Begitu ia ke luar, nampak baju ganti sudah tersedia di atas kasur tetapi Disya tidak ada di sana. Sky langsung tersenyum mengambil pakaian gantinya. Kaus berwarna putih dan celana khas rumahan.

__ADS_1


Setelah berganti baju pria itu duduk di bibir ranjang, memperhatikan dengan detail seluruh isi kamar Disya. Tangannya terulur mengambil sisir di atas meja, tanpa sengaja tiba-tiba matanya menangkap gambar istrinya dan mantannya dalam bingkai figura. Ke duanya sedang berpose sangat romantis. Sontak wajah yang sedari tadi cerah pun mendadak mendung karena terbakar api cemburu.


"Kenapa kamu masih memasang foto Rayyan Sya, ini membuat mataku sakit," gumam pria itu kesal.


Sky merubuhkan figura tersebut ke meja, rasa kesal kembali menguasai dirinya. Entahlah terlalu banyak kisah manis yang terjadi pada mereka membuat dada Sky sesak.


Ceklek


Pintu kamar terbuka, Disya menyembul masuk dengan membawa kotak obat.


"Mas, udah selesai dari tadi?" tanya Disya kikuk.


"Hmm," jawab Sky hanya dengan gumaman.


"Diobatin dulu lukanya, biar nggak infeksi," ujar Disya menginterupsi.


"Nggak usah, nggak perlu," jawabnya dingin.


"Owh... udah nggak sakit ya?" tanya Disya polos.


"Sakit banget malah," jawabnya dengan nada kesal.


"Lho, kalau sakit ya sini obatin dulu, maaf, kalau tahu gini aku nggak ngebolehin kamu manjat. Sorry ya?" sesalnya salah mengartikan.


"Di buka dulu kausnya, biar aku obatin," ujar Disya merasa tak enak.


Sky menurut, Disya membantu membuka kaus yang di pake suaminya. Nampak jelas bagian dada kiri atas Sky terlihat lecet dan tergores. Disya sebenarnya canggung berhadapan dengan Sky yang bertelanjang dada, namun karena harus mengobati suaminya ia bersikap cuek dan berusaha biasa saja.


Disya meringis membayangkan betapa luka itu perih tertempel obat, namun tidak dengan Sky, pria itu bahkan tetap terfokus pada wajah Disya yang ayu. Ia terus menatapnya lekat.


"Masih sakit?" tanya Disya mencoba mencairkan suasana.


"Sakit banget malah," jawabnya tetap terfokus pada Disya.


"Sebelah mana lagi, biar aku obatin sekalian?" Disya nampak meneliti tubuh kekar suaminya.


Sky mengambil tangan Disya lalu menempelkan pada dada pria itu, seraya berkata


"Sini yang sakit Sya?" kata pria itu menekan dadanya sendiri dengan telapak tangan Disya.


"Aku kan tadi sudah minta maaf Mas, aku tidak sengaja bertemu dengannya," kata Disya sendu.

__ADS_1


"Bukan tadi, tapi sekarang," ucap pria itu menatap Disya dengan serius.


Tangan kiri Sky menarik pinggang Disya dan menyebabkan perempuan itu terduduk di atas pangkuan Sky. Disya sontak langsung memalingkan wajahnya karena gugup.


"Tatap aku Sya? Aku akan mengajari supaya kamu cepat mencintaiku, seperti keinginanmu," ucap Sky lembut. Pria itu berbisik di telinganya Disya dan mengendus pipinya.


Mati aku!!


"Kausnya di pakai dulu Mas," titah Disya gugup.


"Biar seperti ini dulu, nanti setelah aktifitas kita selesai aku pakai kembali," jawabnya santai.


Aktivitas apa yang dimaksud Sky, jangan bilang ia mau minta haknya sekarang. Ya ampun... gimana ini, kenapa suamiku nggak sabaran sekali, bahkan ini belum jatuh tempo waktu kesepakatan kita.


"Sya, bisa kita mulai sekarang?" kata pria itu memutar pinggang Disya agar menghadap dirinya dengan sempurna. Posisi Disya masih duduk di pangkuan Sky membuat posisi itu sangat canggung bagi Disya.


"Bisa mulai sekarang?" kata pria itu seraya mengelus lengan Disya.


"Hah! Mulai a-apa...?" jawab Disya gugup.


"Pelajaran cara mencintaiku?" jawab Sky. Kali ini pria itu langsung menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya. Menyesap dengan perlahan menandai bintang di sana.


Disya terpaku di tempat, tak mampu menolak ataupun menyela. Tubuhnya bagaikan menjeli dengan perasaan yang entah.


Tenang Sya, lo pasti bisa. Ayo lakukan kewajiban mu sebagai istri yang baik. Disya bermonolog.


Setelah Sky puas melukis bintang di leher Disya, laki-laki itu kembali menatap Disya dengan lekat.


"Aku mau melukis di tempat yang tertutup, apa kamu mengizinkan?" ucap pria itu tenang.


Hening


Disya menelan salivanya susah payah, pipinya tiba-tiba menyenburat merah.


"Sayang... boleh nggak?" ucap pria itu kemudian. "Kenapa diam, kamu keberatan aku menjamah tubuhmu?" sambungnya dengan nada nakal.


"Kamu berhak atas tubuhku Mas, lakukan saja sesukamu," jawab Disya pasrah. Jujur hatinya masih mengganjal dan belum bisa ikhlas untuk memberikan hak suaminya.


Sky menangkap wajah Disya yang lain. Ia tahu Disya masih enggan, pria itu pun menurunkan Disya dari pangkuannya dan beralih memakai kausnya sendiri.


"Lain kali saja, aku sabar menunggu hari minggu," kata Sky seraya mengacak rambut Disya dengan sayang.

__ADS_1


Pria itu tersenyum, lalu pergi meninggalkan Disya yang masih termangu di tempat. Seketika Disya menjatuhkan punggungnya di atas kasur, ia merasakan lega yang luar biasa.


__ADS_2