One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 97


__ADS_3

Bintang terus menangis di bahu Bunda Yuki, gadis itu ketakutan setengah mati mendapati pernyataan kakak iparnya keguguran. Ia benar-benar merasa bersalah karena tidak bisa lebih hati-hati membawa motornya. Gadis itu yakin, kakaknya akan murka terhadap dirinya.


Belum sempat rasa takut dan cemas itu menghilang, tiba-tiba pikirannya teralihkan pada Dokter Rayyan yang kebetulan ikut menangani Disya pas di UGD. Bintang merasa heran melihat sekhawatirnya pria itu. Hatinya di selimuti tanda tanya besar, gadis itu benar-benar penasaran di buatnya. Rayyan yang sangat panik, bahkan ia yang langsung sigap ikut membantu Disya.


Bunda Yuki menenangkan putrinya yang masih syok. Ia berusaha meyakinkan putrinya, bahwa yang terjadi bukan salahnya dan murni sebuah kecelakaan semata. Lebih tepatnya takdir yang sudah di gariskan pada umatnya.


Untuk beberapa saat, Bunda menenangkan Bintang dan membiarkan gadis itu tenang. Setelah gadis itu merasa sedikit tenang, Bunda Yuki izin menjenguk menantunya. Ia juga sangat khawatir sekaligus sedih atas apa yang menimpa mereka berdua, Tuhan sedang menguji umatnya, sejauh mana mereka bersabar?


***


"Bintang? Bagaimana keadaan kamu? Apakah masih ada yang sakit?" tanya Rayyan menemui Bintang.


"Cuma tinggal sedikit, dapat jahitan sini," jawab gadis itu seadanya.


"Lain kali kalau bawa motor hati-hati, biar nggak nyium aspal. Mending kalau aspalnya ganteng, kalau jelekkan jatuhnya jadi sakit," ujar pria itu jenaka.


Gadis itu mrengut, tapi juga senang akhirnya Rayyan menemuinya. Belakangan ini ia cukup dekat, tapi kenapa pria itu malah sangat mengkhawatirkan mbak Disya, padahal jelas antara Disya dan Bintang datang secara bersamaan.


"Gimana ceritanya, kamu bisa bareng sama pasien tadi, ia sedang hamil dan sekarang mengalami keguguran, pasti sangat sedih," ucapnya prihatin.


"Dia istri kakak aku, tadi ketemu di kafe pas mau pulang, ya udah bareng dong, eh nggak tahunya kena apes," jawab Bintang dengan polosnya.


Rayyan tercekat, rasa kepo yang menguasai hati terbayar sudah. Ada rasa yang entah, tapi ia seperti mendapatkan sesuatu celah untuk dirinya. Tidak begitu munafik, ia juga tidak sampai hati berbahagia di atas derita orang lain, tapi perasaan yang masih tersimpan rapi kembali memberi semangat untuk di raih. Seperti ada asa yang terselip kabut, dan tembok gelap itu sedikit memberi celah.


Pria itu sadar sesadarnya dengan statusnya saat ini. Ia hanya merasa tidak pernah pergi, dan selalu menanti bahwa keajaiban cinta itu nyata dan benar adanya. Walaupun semua sudah terbentuk dengan berbagai rintangan, tapi siapa yang tahu di kehidupan yang akan datang.

__ADS_1


"Om... kenapa terlihat begitu khawatir dengan mbak Disya, Om kenal?" tanya Bintang penasaran.


"Iya, aku kenal," jawab Rayyan singkat, padat dan kurang jelas, karena laki-laki itu hanya berkata sebatas kenal tanpa memberi tahu sebab kecemasan hatinya yang melanda.


"Banyak istirahat, cepet pulih biar bisa ngopi bareng lagi, baik-baik bocah." Rayyan mengacak rambut Bintang lembut dengan senyum sejuta watt, membuat gadis itu spontan terdiam memaku. Perlakuan kecil tetapi mampu membuat hatinya yang berselimut gugup perlahan menghangat, gadis remaja itu deg deg gan dan tersenyum tidak jelas. Jangan bilang Bintang terkena sawan pesona Rayyan?


Tanpa mereka berdua sadari, ada sepasang mata elang yang merangkum pertemuan mereka. Pria itu menyorot tajam ke arah mereka berdua. Sejak kapan Bintang terlihat sangat akrab dengan Rayyan, apakah mereka sebelumnya saling mengenal?


Sky bergeming, urung melangkah untuk mendekat. Pria itu benar-benar dongkol, di tambah pemandangan macam apa yang baru saja ia lihat, Sky berharap itu hanya sebatas obrolan antara pasien dan Dokter. Sky mengurungkan langkahnya dan berbalik arah, ia kembali ke ruangan Disya.


Sementara Rayyan, tersenyum penuh arti, undur diri dan berniat kembali ke ruangannya.


Pria itu berniat ke ruangan Disya, namun urung demi mendapati Sky yang tengah berbincang dengan dokter mendapati dirinya menyatakan perihal kandungan Disya.


Pria itu mengumpat kesal, rasa benci terhadap Sky mendarah daging. Namun, pria itu juga tertawa sinis, Tuhan sudah berlaku adil padanya, hingga ia mengambil kebahagiaan laki-laki itu, dengan mengambil calon anaknya kembali tanpa harus lahir ke dunia. Bukan pria itu jahat, ia sama sekali tidak ingin melihat Disya terluka, apalagi merasa sakit. Jujur pria itu masih sangat mencintainya, dia yang telah menjadi istri orang lain. Namun, ia sadar, status yang berbeda tak mungkin menyatukan mereka, terkecuali memang takdir yang hanya Tuhan yang tahu.


***


Disya masih murung di kamar rawat, menatap kosong sisi kamar. Gadis itu juga mengalami luka pada pergelangan kakinya, menyebabkan ia kesulitan berjalan. Bahkan untuk ke kamar mandi saja, Sky menggendongnya. Bunda Yuki dan Mama Amy ikut mendampinginya. Semua orang begitu sangat kehilangan anak di rahim Disya.


Bunda Yuki, Asher dan juga Bintang kembali pulang ke rumah karena hari semakin larut. Ia akan kembali ke rumah sakit besok pagi, sementara Mama, Ayah dan Flora pulang cukup larut, hingga gadis itu tertidur.


"Yang sabar Ky...? Jangan nyalahin keadaan, ini ujian buat rumah tangga kalian, Papa berharap kalian tetap semangat untuk menjalaninya lagi," nasihat Papa Amar begitu mendapati Sky yang masih terlihat begitu kehilangan.


"Iya Pah, makasih untuk support nya. Aku dan Disya bakalan ngejalanin ini semua, ngelewatin ujian ini dengan lapang," jawab pria itu sendu. Tidak di pungkiri, laki-laki itu sudah berekspektasi tentang anaknya kelak, tetapi Tuhan berkehendak lain.

__ADS_1


"Papa, sama Mama pulang saja, biar aku yang jagain Disya," sambungnya menginterupsi.


"Biar Mama ikut jaga, kasihan kamu sendirian," ujar Mama Amy pengertian. Sky menolak halus, biar bagaimana pun ia tidak boleh terlalu merepotkan orang lain, ini adalah tanggung jawabnya.


Setelah keluarga mertuanya pulang, tinggalah Sky yang menjaga Disya sendirian. Ia baru sadar, bahwa dia sedang berada di rumah sakit milik keluarga Rayyan, entah mengapa Sky menjadi sangat khawatir terhadap istrinya. Pikirannya bercabang, ia juga baru 'ngeh' bahwa yang kecelakaan terhadap dirinya adalah Bintang. Adik bungsunya itu, benar-benar dalam masalah, karena saat ini Sky bahkan sangat kesal terhadap Bintang, kenapa ia bisa seceroboh ini. Walaupun ini murni kecelakaan, tapi ia menyayangkan keberadaan adiknya yang entah bisa barengan.


Disya terjaga dan tiba-tiba mengaduh. Gadis itu mendesis pelan, perutnya terasa kram. Sky yang panik langsung memanggil dokter jaga, dan tanpa dinyana, Rayyan yang sedang stay di bilik jaga.


"Disya kenapa?" tanya Rayyan langsung bergegas, pria itu melangkah cepat.


Sky baru menyadari kebodohan dirinya sendiri, ia harus bersabar menahan khawatir, kesal, dan sekaligus cemburu melihat Rayyan memeriksa istrinya.


"Sya, nyeri?" tanyanya memastikan, gadis itu mengangguk.


"Sebentar ya, aku kasih obat pereda nyerinya. Say...mmm... sakit banget ya? Sabar, ini wajar kok terjadi pada wanita yang baru saja kuret," kata pria itu tenang.


Sky merasa hawa panas menyelimuti hatinya, pria itu tidak sampai hati melihat betapa perhatiannya Rayyan untuk Disya. Tatapan matanya, dan semua gerak tubuhnya. Menandakan pria itu masih begitu melambungkan angan.


"Sudah selesai kan Dok? Bisa tolong tinggalkan ruangan, istri saya perlu istirahat," kata Sky mencoba sabar.


"Masih dalam pantauan, Pak. Kalau Bapak merasa ingin beristirahat silahkan saja, biarkan saya yang menjaganya," jawab Rayyan santai.


Sky menatap tajam Rayyan yang juga tengah menatapnya abai. Pria itu bergeming, duduk di pinggir ranjang dan menemani Disya yang baru saja terlelap. Disya tidak mau ambil pusing dengan urusan mereka berdua, yang ia tahu, gadis itu ingin mengistirahatkan tubuhnya agar cepat pulih.


Sky dan Rayyan duduk di sofa, hening, mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Sky yang sibuk macbook nya dan Rayyan yang sibuk dengan ponselnya. Sesekali mereka melempar tatapan tajam dan sengit.

__ADS_1


__ADS_2