One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 56


__ADS_3

Perlahan Disya mulai terbuai, dengan nyaman perempuan itu terlelap, Sky membelai rambut istrinya dengan sayang. Ia pun ikut memejamkan matanya kembali karena masih terlalu pagi. Hingga tanpa sadar, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi kedua insan itu masih saling memeluk di bawah gelungan selimut mereka.


Disya terjaga lebih dulu, ia bingung sendiri kenapa dini hari tadi bisa begitu dengan nyaman tidur di dada pria itu. Perlahan Disya beringsut, berusaha mengendurkan dekapan Sky yang terasa mengurungnya. Dengan hati-hati gadis itu menyingkirkan tangan itu, namun jangankan menyingkir yang ada justru pria itu semakin erat memeluknya.


"Lima menit lagi Sya, biarkan seperti ini dulu," ujar pria itu. Sky berbicara dengan mata masih terpejam.


Disya pasrah saja, beruntungnya gadis itu tidak ada kuliah pagi. Disya masuk pukul sepuluh siang. Kalau untuk Sky sendiri Disya tidak tahu, tapi yang jelas jam sepuluh nanti adalah jam Dosen itu mengajar di kelas Disya.


"Ini sudah sepuluh menit Pak, bisa tolong lepasin tangannya, saya mau mandi," ujar Disya bingung.


"Hmmm, bentar lagi. Mandi bareng mau?" ucap pria itu membuka matanya.


Disya langsung terdiam, pagi ini bakalan repot kalau suaminya berulah. Dirinya merasa berada dalam ancaman.


"Bapak duluan aja, saya belum mau mandi sekarang, jadwal masuk saya agak siang."


"Ya udah mending kita tidur lagi aja," jawab pria itu enteng.


Hah! aku melongo dalam hati


"Bapak bikin saya susah napas, saya gerah," kilah Disya protes.


Sky agak mengendurkan dekapannya, tapi masih setia merengkuh bahu Disya. Pria itu terus menatap Disya lekat, dalam dan intens, membuat gadis itu salah tingkah sendiri.


"Bapak kenapa lihatin saya kaya gitu, Bapak masih marah?" tanya Disya untuk menetralisir hatinya yang sudah berdegup kencang, sebab pria itu kini semakin dalam memperhatikan wajah Disya, lebih tepatnya bibir Disya.


"Boleh?" izin pria itu seraya menatap bibir Disya, menyentuhnya dengan jari jempolnya.


"Belum gosok gigi, nanti saja kalau sudah mandi," kilah Disya mencari alasan.


Rasanya benar-benar aneh berbicara normal dengan pria itu. Disya ingat betul, bahkan semalam pria itu terlihat begitu marah. Kenapa pagi ini begitu manis?


Oh ya ampun... ada apa dengan otakku, kenapa bibir ini memujinya. Pasti ada yang salah dalam diriku. Perasaan ini sungguh aneh.

__ADS_1


Disya hendak bangkit dari dekapan Sky, namun yang ada pria itu menggulir Disya hingga istrinya itu tepat di bawah kungkungan pria itu.


"Siapa yang suruh kamu bangun? Hmm?" Pria itu mengendus pipi Disya perlahan.


Posisi yang sangat tidak menguntungkan bagi Disya, di mana laki-laki itu berada tepat di atas Disya dengan kedua lututnya sebagai tumpuan. Sky semakin mendekatkan wajahnya mengikis jarak di antara keduanya. Membuat perempuan dua puluh tahun itu pasrah tanpa perlawanan.


Namun ketika Sky hendak menyentuh bibir gadis itu, Disya membuang muka ke samping membuat pria itu gagal mengambil keuntungan pagi ini.


"Just a kiss, Sya, please...!" mohonnya seraya kembali mengendus pipi Disya.


Disya memberanikan dirinya menatap pria itu, tatapan Sky sudah berkabut gairah. Jarak mereka sangat dekat.


Mati aku!


Detik berikutnya Sky sudah menyatukan dirinya tanpa aba-aba. Ciuman yang awalnya biasa saja, kini telah berganti menjadi luma tan yang begitu menuntut. Sky bahkan memaksa menerobos ke dalam, menggigit kecil bibir bawah Disya, mengabsen setiap inci rongga mulutnya. Dalam seperkian detik, Disya terlena hingga tanpa sadar ikut bermain, menerima penyatuan mereka dengan sukarela yang pertama setelah dinobatkan menjadi pasangan halal. Ralat ding yang ke dua.


Cukup lama keduanya bergulat lidah, saling memilin, mencecapi, mengabsen setiap inci tanpa mau menyisakannya. Hingga napas mereka terengah dan terpaksa harus lepas untuk mengambil napas.


Dasar mesum!


Umpat Disya sedikit kesal, tidak bisa mendeskripsikan kondisi hatinya saat ini. Benar-benar aneh dan menyebalkan. Disya memperhatikan wajahnya di pantulan cermin kamar mandi, ingin menilik muka bantalnya yang memerah akibat ulah suaminya. Wanita itu cukup terkesiap melihat banyaknya tanda merah di leher jenjangnya yang mulus.


Ya ampun... pluto? Semalam sampe banyak gini? Mana jelas banget lagi?


Disya masih meneliti lehernya yang merah kebiru-biruan. Ia menggerutu sepanjang mandinya.


Sementara Sky menyeringai licik, muka tampannya tersenyum penuh dengan sejuta akal di otaknya.


Oke, pelan-pelan saja.


Pria itu menyugar rambutnya yang berantakan dengan jari tangannya, kembali menjatuhkan bobot tubuhnya di ranjang. Sambil menunggu Disya selesai mandi, pria itu menerawang langit-langit kamar dengan sejuta imajinasi di kepalanya.


Sky mikir apa ya???? Author kepo??

__ADS_1


Ceklek


Pria itu langsung bangkit dari kasur begitu suara pintu kamar mandi terbuka bertandang ke telinganya. Disya yang tahu suaminya memperhatikan dirinya pun tidak langsung menuju lemari mengambil ganti, namun malah langsung ke luar kamar dengan cepat. Rasanya malu dan jengah bertatapan dengan pria itu setelah terjadi ciuman panas mereka beberapa menit yang lalu.


Disya masih memakai bathrobe, cukup aman dari pandangan mata nakal suaminya. Ia sengaja menghindar dari Sky, dan akan berganti pakaian saat pria itu sudah berada di kamar mandi untuk membersihkan diri pastinya.


Setelah hampir sepuluh menit Disya hanya berdiri gelisah, ia kembali masuk ke kamar dan berniat mengganti pakaiannya. Ia yakin suaminya itu sudah berada di kamar mandi saat ini, mengingat ada suara keran yang menyala.


Disya berjalan gontai menuju lemari pakainya. Ia mulai memilih pakaian mana yang ingin dia pakai ketika tiba-tiba tangan kekar itu memeluk dari belakang.


Akhh....!!!


Sumpah demi apapun Disya kaget, dan spontan menjerit ketika tangan nakal suaminya menelisik masuk dan meremas sesuatu yang kenyal di sana.


Dug dug dug


Jantung Disya berlompatan bagai maraton, tubuhnya seperti terkena sengatan listrik ribuan volt. Pikirannya langsung nge-blank. Saat tangan kekar itu begitu lihai, memainkan perannya dengan epik.


Sky bergeming, langsung menyumpal mulut istrinya dengan mulutnya sendiri. Pagi ini ia ingin sesuatu yang lebih dari biasanya. Pria itu sudah menahannya dari dua minggu yang lalu bahkan Disya masih alot mempertahankan apa yang sudah halal baginya.


"Pak!! Please..." Disya menahan tangan nakal suaminya yang bergerak dengan kurang ajarnya. Namun pria itu tidak menggubris protes istrinya. Tetap fokus dengan gairah yang sudah menggebu. Perlahan tali bathrobe itu sudah Sky lepas, dan semakin terlihat nyata pemandangan di depannya.


"Jangan menolak, karena ini ladang pahala bagi rumah tangga kita," bisik Sky parau.


Kok jadi maksa sih... gue harus gimana? Ya ampun... gue belum siap nglakuin itu sama kamu Ausky...!!


Disya nampak pasrah, menerima setiap cumbuan suaminya yang begitu bergairah. Pria itu sudah sebagian menguasai dirinya. Kembali menyatukan bibir mereka dengan pagutan begitu dalam, sesat dan menuntut. Tangan pria itu bahkan sudah nakal, liar, menjamah apa saja yang diinginkan. Hingga tanpa sadar bibir mungil istrinya mengeluarkan suara yang semakin membuat pria itu bertambah gila, ia ingin segera memiliki istrinya seutuhnya pagi ini.


Pria itu begitu mendominasi, semangat dan menggebu. Ia baru melepaskan pagutan mereka setelah Disya tersengal dan memberi kesempatan gadisnya untuk mengambil napas.


Petualangan selanjutnya ia mulai memainkan lidahnya di dada istrinya. Membuat perempuan itu semakin pasrah menerima serangan selanjutnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2