One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 90


__ADS_3

"Sky menunggu di kamar dengan tidak sabar, sudah hampir pukul sepuluh istrinya belum kembali ke kamar. Pria itu niat menyusul ke kamar Bintang.


"Ya ampun... ini kenapa kamar bocil di kunci, buka woi... Bintang! istri aku tertinggal di dalam!" Sky mengetuk-ngetuk pintu kamar adiknya.


Tak ada jawaban, entah Sky yang mengetuk kurang keras atau yang di dalam tidak dengar karena ke duanya sudah tertidur. Sky kembali ke kamarnya dengan malas. Berdiri menatap ranjang yang kosong, lalu menghembuskan napas kasar. Malam ini terancam tidur sendirian.


Sky mau menghubungi Disya lewat ponselnya, tapi sayangnya ponsel Disya tertinggal. Telpon Bintang berkali-kali tidak di jawab. Tentu saja Bintang tidak mendengar, gadis itu sengaja silent ponselnya.


Pria itu membaringkan tubuhnya, mencoba memejamkan matanya dan ingin segera tidur. Namun apa, matanya mencoba merem tetapi hati dan pikirannya gelisah. Pria itu berkali-kali mengganti posisi tidurnya agar nyaman dan cepat terlelap, tapi lagi-lagi ia gagal move on, tak bisa memejamkan mata barang sejenak pun, guling pun menjadi saksi kekesalan Sky, guling itu iya pukul dan iya lempar.


Fiks Sky tidak bisa tidur tanpa Disya di sampingnya.


"Nyeselin banget sih adik yang satu ini, nggak tahu apa ya pengantin baru tuh nggak bisa jauh," gerutu Sky panjang pendek di dalam kamarnya.


Pria itu kembali berjalan dan ke luar dari kamar, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, ia pun turun ke lantai dasar hendak mencari sesuatu. Pria itu tengah mencari kunci cadangan kamar Bintang di tempat perkakas.


"Ky, ngapain?" tanya Ayah Asher yang memergoki anaknya berisik di sekitar dapur bagai maling.


"Eh, Ayah, ngagetin aja." Pria itu terjingkat dan mengelus dadanya sendiri.


"Ngapain, malam bukannya tidur malah obrak abrik barang, cari apa?" tanya Ayah kepo.


"Nggak ada sih yah, hehehe." Sky menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia terlalu malu menjelaskan fakta yang ada.


"Ayah ngapain di sini? Udah malam lho Yah, istirahat nanti di cariin Bunda."


"Bunda mu udah tidur, kecapean dia habis ayah kuras energinya langsung deh merem," curhat Asher yang membuat Sky bertambah nelangsa.


Pria paruh baya itu terkekeh sendiri, lalu berjalan menuju rak mengambil gelas untuk di isi air putih. Duduk dengan nyaman kemudian meminumnya hingga separo nya. Sky masih menatap wajah Ayah yang berseri segar.


"Kamu sana balik ke kamar, ngapain masih di sini, Ayah juga mau balik ke kamar lagi."


"Sebentar, belum ngantuk," jawab Sky datar.


"Mau tahu biar cepet merem?" ujarnya seraya tersenyum. Sky menatap Ayahnya dengan wajah kepo.


"Aktivitas malam sebelum tidur," bisiknya jail.


Sky langsung menangkap obrolan ambigu Ayah dan anak tersebut, anak itu tersenyum menerawang Ayah dan Bundanya yang selalu kompak dan harmonis, karena Ayah tipe lelaki yang setia, dan penyayang. Serta satu lagi Ayah sangat mencintai Bunda nya.


"Lawanya sedang tidak ada," jawab Sky datar.

__ADS_1


"Istri kamu ngambek ya?" tebak Ayah sok tahu.


"Bukan, tadi nemenin Bintang di kamarnya, eh malah nggak balik."


"Tinggal di susulin aja ribet bener kamu Ky, gengsi? Dasar bucin."


"Ish, Ayah mah. Kamar bocil di kunci, aku nggak bisa masuk," keluhnya mrengut. Spontan Ayah Asher tertawa melihat Sky yang ternyata uring-uringan gegara nggak ada istrinya di kamar.


"Kok malah ketawa sih, ya udah lah aku tidur di tempat Ayah aja, kangen di manja sama Bunda," ujar pria itu tersenyum.


"Eh, nggak ada ya. Udah gede gitu masih suka nempelin Bunda mulu, manja banget."


"Biarinlah, aku beneran nggak bisa tidur. Aku tidur di kamar Ayah ya?"


"Nggak boleh, sana kembali ke kamarmu, mau kunci cadangan kan, ada tuh di laci paling bawah," tunjuk Asher lalu pergi meninggalkan anak sulungnya.


Sky segera membuka laci paling bawah, di sana ada banyak alat-alat lainya. Pria itu tersenyum begitu menemukan kunci di sana, namun setelahnya ia bingung sendiri yang mana kunci kamar adiknya. Ia pun membawa beberapa kunci kamar dan akan mencobanya satu persatu.


Pria itu tersenyum, setengah berlari menaiki undakan tangga dua sekali gus. Cepat berjalan ke arah kamar Bintang dan mencoba memasukan kunci pada tempatnya.


Percobaan pertama, tidak bisa masuk, ke dua, ke tiga gagal, yang ke empat masih salah. Ingin sekali rasanya pria itu mendobrak pintu kamar adiknya. Sewot sendiri menahan kesal. Pria itu mencoba menarik handle pintu dan ternyata malah terbuka, alias tidak terkunci sama sekali.


Sky langsung masuk ke kamar adiknya. Pria itu meneliti kamar Bintang yang nampak berantakan. Istrinya masih tertidur pulas, sementara adiknya sudah terjaga dengan mata menyipit.


"Kakak apaan sih, gangguin orang tidur aja, ngapain coba berisik di depan kamar orang," sewot Bintang merasa tidurnya terganggu.


"Buka kamar kamu nggak bisa, kamu ngapain kunciin kamarnya coba. Lebay banget."


"Ye... suka aku lah, udah sana balik ke kamar," usir nya kesal.


"Bentar, ambil guling kakak dulu," jawab pria itu memutari ranjang dan langsung mengangkat tubuh Disya yang sudah terlelap damai.


Sky ke luar dari kamar adiknya dengan hati-hati, jarak kamar mereka tidak terlalu jauh, masih sederet hanya terpisah ruang kosong. Sky membaringkan istrinya di kamarnya dengan hati-hati. Ia tersenyum menatap Disya yang sama sekali tidak terusik, masih tidur dengan pulas walaupun sudah di pindahkan.


"Kamu ngegemesin banget sih Sya, biar tidur tapi tetep cantik," gumam pria itu, bibirnya tertarik membuat lengkungan.


Sky merangkak ke atas kasur dan mencium kening istrinya yang terlelap. Menyelimuti tubuh mereka dan memeluknya dengan sayang. Tak menunggu lama, pria itu langsung terlelap dengan damai.


***


Pagi hari saat Disya terjaga, ia merasakan sesuatu yang berat itu menindihnya. Rupanya tangan pria itu memeluknya begitu erat, Sky sudah bangun dan masih belum mau beranjak dari kasur.

__ADS_1


"Lho Mas, kamu kok tidur di sini?" tanya Disya masih sayup-sayup.


"Iya dong, emang seharusnya ada di sini," jawabnya santai.


Disya membuka matanya lebar, ia bangkit dan duduk, ternyata baru nyadar kalau ia sudah di kamarnya sendiri, padahal ia ingat betul semalam malas kembali ke kamar karena sudah ngantuk dan langsung tidur di kamar adiknya.


Disya mengumpulkan rambutnya dan menggelung menjadi satu, leher jenjangnya yang mulus terekspos nyata.


Sky ikut bangun dan langsung memeluk Disya dari belakang. Pria itu bergelayut manja di pundak istrinya. Menciumi pipi dan tengkuk Disya dengan gemas.


"Bangun Mas, mandi!" tangannya terulur menyusur rambut Sky.


"Mandiin," jawabnya masih dalam posisi yang sama.


"Jangan gini, ah. Aku mau mandi."


"Bareng," ucap pria itu tersenyum.


"Eh," Disya melirik Sky.


"Apa sih, busyet lirikannya. Nggak kuat aku tuh," selorohnya gemas. Pria itu semakin menelusup mengendus pipi dan leher istrinya.


"Sayang... aku pingin...!" ucapnya lirih.


"Apa sih Mas, mesum terus. Inget Pak Dosen Sky yang budiman, hari ini ada ujian Pak!" selorohnya lalu bangkit dan segera turun dari ranjang, melangkah cepat menuju kamar mandi.


Lima belas menit Disya merampungkan acara mandinya, ia ke luar dengan wajah segar.


Ceklek


"Astaghfirullah... Mas ngagetin aja," Disya mengelus dadanya dramatis.


"Kaget ya?" selorohnya tanpa dosa, berdiri tepat di depan pintu menghadang Disya.


"Minggir ah, aku mau lewat."


"Pajak jalannya nyonya Daharyadika Ausky?" kata pria itu sedikit membungkuk.


Disya memutar bola matanya jengah, namun masih dengan patuh mengecup bibir suaminya dengan ikhlas.


"Makasih sayang..." mencubit pipi Disya dengan gemas lalu masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2