
"Berarti kamu nyaman dong sama aku? Mau nggak kalau kita beneran ngelakuin itu."
Hening
"Maksud aku... sebentar lagi kan kita bakalan menikah," sambungnya tersenyum.
Keluarga memutuskan pernikahan mereka di adakan setelah Bintang selesai ujian, dan akan di resmikan setelah gadis itu lulus sekolah.
Bintang nampak bingung saat Rayyan mulai merapikan anak rambut gadis itu, dan menyelipkan kebelakang telinganya. Gerakan yang teramat biasa, namun di perhatian begitu dekat membuat gadis itu salah tingkah. Bintang menautkan jari jemarinya gugup.
"Kok, diem? Aku janji bakalan tanggung jawab kok, biar kakak kamu nggak ada alasan lagi buat misahin kita," kata pria itu mulai merangkai kalimat.
"Mana boleh kak, kita kan cuma berteman, ini udah nggak bener, kak Sky beneran bisa marah dan bunuh kamu," jawab gadis itu takut.
"Kalau lebih dari teman berarti mau dong, kita kan mau menikah, aku menyayangimu Bintang," ucap pria itu meyakinkan.
Rayyan mengambil dagu gadis itu agar berani menatap matanya, ada keraguan dan juga cemas tercetak jelas di sana. Pria itu cukup paham, entah setan apa yang merasukinya, tiba-tiba rasa ingin memiliki gadis itu seutuhnya begitu membara. Ia tahu itu salah, ia juga tidak paham mengapa belakangan sulit mengontrol emosi yang melanda.
Bahkan, dulu waktu bersama Disya, ia tidak pernah meminta lebih dari sekedar ciuman, walaupun pada akhirnya segel itu dijebol oleh sahabatnya sendiri. Rasanya ngilu itu masih terasa menyayat atas penghianatan itu. Tak sadar Rayyan melamun, netranya lurus menghunus Bintang yang di depannya. Ada rasa yang sulit di definisikan, entah itu perasaan apa, tapi yang jelas pria itu sangat membenci kakak dari gadis di depannya.
"Kenapa nggak balas pertanyaan aku," kata pria itu. Punggung jarinya terulur mengelus pipi Bintang, tersambung dengan jari jempolnya yang menyapu bibir mungilnya.
"Boleh?" Izin pria itu menatap bibir Bintang yang terus menarik perhatiannya.
"Kakak lagi sakit, sebaiknya istirahat saja," gugup Bintang mempertahankan pendiriannya.
"Pasti langsung sembuh kalau dapat sentuhan dari kamu," jawabnya yakin.
Bintang bergeming, sementara Rayyan berusaha meyakinkan gadis itu agar sukarela menyambut keinginannya.
Hening untuk beberapa detik, suasana semakin terasa mencekam dan panas kala pria itu membisikkan kata sayang di telinga Bintang. Gadis itu meremang seketika, respon yang sangat menggelikan, dengan tingkat kepo dan penasaran yang semakin tinggi. Seusia Bintang, sedang masa-masa penasaran dengan hal yang berbau menyimpang, tentu lebih mudah bagi pria itu untuk mengelabuhi, dengan gerakan yang epik lagi mematikan perlahan tangan nakal itu membimbing tubuh gadis itu.
Entah apa yang ada di pikiran Bintang, gadis itu malah menutup matanya, ketika tiba-tiba Rayyan mendaratkan kecupan manis di bibirnya. Menyapu lembut dan melu*matnya. Bintang merasakan tubuhnya bergetar, ada rasa senang, takut, gelisah dan pastinya gugup. Perlahan tapi pasti, pria itu semakin dalam merengguk rasa manis pada bibir gadis itu.
Untuk beberapa saat Bintang terlena, menikmati rasa yang aneh dan begitu asing. Dirinya bahkan sedang terbuai oleh lelaki seusia kakaknya. Bintang paham, inilah mungkin rasanya yang disebut pacaran yang sesungguhnya. Tiba-tiba pikirannya mendadak awas, saat sesuatu yang liar menyentuh asetnya yang kenyal.
Gadis itu segera sadar dan mengingat semua nasihat kakaknya yang cukup membuat ia benar-benar tersadar ke dunia nyata. Refleks tangannya mendorong tubuh Rayyan yang tengah menghimpitnya. Memisahkan diri dari pergulatan setan.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak bisa," jawab Bintang lirih. Kembali merapikan pakaiannya yang sudah acak- acakan dan kusut. Berusaha menghindari tatapan pria itu yang masih berkabut gairah.
Rayyan nampak menahan kesal dan kecewa, perasaan yang sudah berhasrat pun tetiba harus diurungkan karena gadis itu tak mau melanjutkan. Tiba-tiba hatinya menjadi kesal sendiri, ternyata Bintang cukup kuat pendiriannya. Ketampanannya yang rupawan belum mampu menggoyahkan imannya. Ia pun menjadi malu sendiri, seperti layaknya *p*edofil.
"Nggak pa-pa aku nggak akan maksa, maaf tadi aku kebawa suasana dan benar-benar khilaf," rutuknya merasa menyesal tidak bisa mengontrol kelakuannya.
"Kalau gitu kakak istirahat saja, besok setelah pulang sekolah kalau ada kesempatan aku ke sini lagi, cepet pulih ya?" pamitnya lalu berdiri dari sofa.
"Bintang!" seru Rayyan memanggil tetiba pria itu merasa sangat breng sek dan merasa sangat bersalah.
Bintang menghentikan langkahnya yang hampir menarik handle pintu. Rayyan mendekati dan langsung menarik gadis itu, membawa tubuh remaja itu ke dalam pelukannya.
"Maaf, maaf untuk yang tadi, tolong jangan kepikiran. Semangat belajarnya ya, seperti janjiku padamu kalau kamu dapat nilai lima besar kamu boleh minta apa saja padaku," kata pria itu tersenyum. Tangannya terulur mengacak rambut gadis itu dengan sayang.
"Hati-hati di jalan, kabari aku kalau sudah sampai. Besok datang lagi ya aku tunggu."
Bintang mengangguk, lalu pergi dengan perasaannya yang entah.
Sepeninggalan Bintang, Rayyan merasa semakin bersalah. Ia yang sendiri pun merasa sangat kesepian. Bayangan Bintang dan juga Disya terus bergantian di otaknya. Ia benar-benar sudah gila, hampir saja merampas masa depan anak orang. Rayyan menyugar rambutnya kesal. Merutuki kebodohannya sendiri yang tidak bisa menahan diri. Apalagi hingga menjelang malam hari, telfon dan juga pesannya sama sekali tak direspon gadis itu.
Mendadak ia sangat takut di abaikan. Bayangan sakit hati pernah ditinggalkan kembali menghantui. Hampir setiap hari Rayyan dan Bintang selalu berkirim pesan. Bintang terpaksa backstreet dengan Sky yang sangat menentang kedekatan mereka berdua. Kakak manapun pasti akan melakukan hal yang sama, mengingat tujuannya secara terang-terangan ingin menyakiti dan membuat Sky terluka.
***
Bintang sampai rumah menjelang maghrib. Gadis itu menjadi banyak diam, hingga menjelang makan malam pun tak ada suara dari mulutnya. Keluarga Pak Asher tengah menikmati makan malam bersama.
Disya yang peka pun merasa ada sesuatu yang beda pada diri adik iparnya. Tidak biasanya gadis itu murung sepanjang makan, walaupun semenjak kejadian kemarin pagi emang tingkah Bintang semakin aneh.
Usai makan malam, Bintang meminta tolong Disya untuk menemani belajar. Gadis itu sebentar lagi akan menghadapi ujian, tentu banyak sekali kerepotan yang tengah melanda, tapi sayangnya pikirannya malah tidak berkonsentrasi belajar.
"Mas, aku ke kamar Bintang dulu ya?" pamit Disya.
"Jangan terlalu malam, malam ini aku mau minta," jawabnya spontan. Merasa sangat kangen untuk menyentuhnya.
"Heem." Disya hanya menjawab dengan gumaman lalu melangkah keluar kamar. Gadis itu langsung menuju kamar adiknya.
"Mau belajar apa dek?" tanyanya to the point. Merasa seperti di kejar deadline.
__ADS_1
"Latihan soal kak, tolong bantu tanya jawab, sama nanti tolong koreksi jawaban aku," jelasnya serta mempersiapkan lembaran soal dan alat tulis.
Tiba-tiba ponsel Bintang berdering, nampak id caller Rayyan terpampang di sana. Disya menatap heran, ada apa dengan adik iparnya?
"Ponsel kamu dering dek?"
Bintang hanya melirik sekilas, setelah mengetahui siapa yang menghubunginya ia kembali menatap lembar soal lagi.
"Kenapa nggak diangkat dulu, siapa tahu penting?"
"Kak Ray? Aku bingung nyikapinya. Aku nggak tahu perasaan aku sendiri. Mbak Disya kan kenal juga sama kak Ray, Kira-kira tahu nggak, apa yang membuat kak Sky sama kak Ray saling membenci, padahalkan mereka dulu sahabatan?" tanyanya merasa aneh.
Disya bergeming, menatap gugup dengan bingung. Ingin rasanya ia mengatakan sesungguhnya, tapi takut menyakiti gadis itu, apalagi karena kejadian kemarin membuat mereka akan dinikahkan.
Di tengah rasa cemas merangkai jawaban, pintu kamar Bintang di buka Sky yang mengontrol istrinya. Rupanya pria itu sudah tidak sabar menunggu istrinya di kamar.
"Udah selesai belum? Udah malam ini," rengeknya memelas.
"Ish... belum, sana balik lagi ke kamar," usir gadis itu datar.
"Cepetan, jangan malah ngobrol. Belajar!" sedikit kesal kembali menutup pintu dengan pelan.
Cukup malam mereka selesai belajar, pukul sepuluh pun belum kelar. Sementara Sky sendiri menahan kantuk di kamar, di tambah pria itu menyibukkan buku di tangannya sudah pasti cepat terlelap.
Setelah selesai belajar, tidak ada obrolan yang berarti. Mereka berdua memutuskan untuk istirahat. Disya kembali ke kamarnya sendiri, gadis itu membuka pintu kamarnya secara perlahan, berharap Sky sudah tidur.
Yes yes yes
Disya tersenyum senang melihat pria itu sudah terlelap, masih dengan buku di tangannya. Disya langsung ke kamar mandi, bersih diri sebelum tidur, lalu merangkak naik mengikuti jejak Sky yang sudah terlelap.
Dalam hati Disya tersenyum senang, tanpa susah payah berkilah suaminya sudah bermain di pulau kapuk.
Disya baru saja terlelap, ketika tiba-tiba sesuatu meraba tubuhnya dari balik selimut. Hembusan napas hangatnya bahkan sampai terasa di belakang telinganya waktu si pelaku dengan sengaja mencium bawah telinganya.
"Mas, kamu belum tidur?" tanya gadis itu lirih, ke dua mata yang sempat mengantuk pun menguap pulang dengan sayang.
"Belum lah, mana bisa aku tidur, sedangkan keinginanku belum tersalurkan," jawab pria itu terus mengendus pipi istrinya.
__ADS_1
"Ayok...!!"