One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 88


__ADS_3

Matahari sudah meninggi ketika Disya membuka matanya, rasanya ia baru saja terlelap tetapi pagi begitu cepat menyambutnya. Perempuan itu terbangun dan langsung merasakan embusan napas suaminya, jarak mereka sangat dekat.


Dengan hati-hati Disya mengangkat tangan Sky yang masih setia melingkar indah di pinggangnya. Namun, baru saja hendak memindai, tangan kekar suaminya malah semakin mengeratkan pelukannya.


Cup


"Morning kiss..." ucap Sky yang langsung memberikan kecupan sayang pada istrinya. Mata yang sedari terpejam ternyata sudah terjaga lebih dulu.


Disya spontan terbangun tapi langsung menarik selimutnya. Menyembunyikan wajahnya di sana.


"Selamat pagi sayang... selamat pagi calon Ibu, selamat pagi nyonya Disya Daharyadika," sapannya dengan bibir membuat lengkungan. Tersenyum dengan perasaan yang begitu damai dan menyenangkan.


"Pagi," balas Disya di balik selimutnya.


Sky mengulum senyum demi melihat istrinya yang enggan membuka selimutnya. Pria itu menarik selimut yang menutupi wajahnya.


"Mandi yuk?" ajaknya seraya membelai rambut istrinya dengan lembut.


"Mas duluan aja," ucap Disya dan kembali menutup matanya, rasanya ia masih sangat mengantuk dan capek.


"Ya udah kalau masih ngantuk bobok lagi aja." Mencium kening istrinya, lalu kembali berbaring di sampingnya masih dengan bertelanjang dada.


Disya yang masih sayup-sayup pun, kembali mengingat kejadian panas semalam, sontak membuat pipi perempuan itu memanas, malu dan menarik selimut kembali sampai menutupi kepalanya.


Sky mengikuti langkah istrinya, bersembunyi di balik selimut dan menatap wajah istrinya yang menggemaskan.


Pergerakannya membuat Disya kembali membuka matanya, gadis itu melirik dirinya dan ternyata sama-sama polos. Disya mendadak awas, matanya melebar sempurna saat suaminya kembali mendaratkan ciuman di bagian bibirnya. Rasa kantuk yang datang tiba-tiba pulang dengan sayang.


"Makasih untuk yang semalam, aku mencintaimu Disya, aku benar-benar bahagia hari ini. Kamu membuat aku candu," ujar Sky bangga.


Hati Disya berdesir, hatinya menghangat seketika mendengar pengakuan suaminya. Ia hanya diam, mengangguk dan tersenyum.


Sky menarik ke dalam dekapan, jarak mereka sangat dekat nyaris tidak ada celah, menempel sempurna membuat tubuh gadis itu meremang seketika. Entah mengapa posisi ini membuat Disya kurang nyaman, tanpa kata Disya pun mengurai pelukannya dan memunggunginya. Sejujurnya Disya canggung dan malu kalau disinggung masalah ranjang.


Sky kembali memeluknya dari belakang, pria itu mengendus tengkuk istrinya, menciumi leher dan pundak Disya.


"Sayang kok diem, kamu marah sama aku?" tanyanya khawatir demi melihat Disya yang terdiam dan malah memunggunginya.


"Enggak," jawab Disya lirih.

__ADS_1


"Sayang... kamu masih cape?" tanyanya dengan perhatian penuh.


Disya mengangguk, ia masih terasa ngantuk dan tubuh yang seperti tidak bertenaga, lemas.


"Maaf sayang, aku semalam mungkin terlalu bersemangat. Apa kamu masih merasa tidak nyaman, perlu panggil tukang pijat kah?" tawarnya yang masih setia memberikan kepercayaan diri lagi pada istrinya.


Ada sebagian wanita yang merasa canggung setelah berhubungan dan itu sepertinya terjadi pada Disya.


"Sya, apa kamu menyesal untuk semalam, aku minta maaf kalau membuat kamu merasa tidak nyaman." Tangan Sky yang masih setia memeluk, meraba perut Disya yang sedikit berisi.


Disya berbalik menatap suaminya yang kini tengah menatapnya tanpa jeda. Punggung tangan Sky mengelus pipi Disya, sudut bibirnya terangkat.


"I love you more Disya Anggita, aku bersyukur takdir telah mempertemukan dan menyatukan kita. Makasih akhirnya kamu mau menerima aku seutuhnya sebagai suamimu."


Disya bergeming, menatap mata hitam suaminya yang juga tengah menatapnya.


"Makasih kamu udah sabar sama sifat aku selama ini, aku akan berusaha menjadi istri yang baik, dan belajar mencintaimu dengan segenap hati dan perasaanku," kata Disya lirih.


Jujur Disya sudah berusaha dengan keras untuk menerima Sky, tetapi entah mengapa berucap love you too saja ia belum mampu. Ia tidak ingin membohongi dirinya sendiri, kenyataannya benar adanya, tapi Disya merasa sudah mulai nyaman dan terbiasa dengan kehadiranya.


"Nggak pa-pa, kalau belum mau jawab, pelan-pelan saja asal kamu mau berusaha, aku sudah sangat bahagia."


"Huum, tapi aku cinta, bahkan semenjak pertama kali kita bertemu di ranjang yang sama, aku sudah tertarik pada mu," jawabnya jujur.


"Aku padahal kemarin benci banget sama kamu, tapi kamunya sabar banget, aku minta maaf. Selamat ulang tahun, semoga di umur sekarang bertambah berkah, panjang umur, sehat dan apa yang menjadi hajatmu bisa terwujud."


"Aamiin... makasih Sya, hal yang ingin aku harapkan adalah, selalu bersamamu, menua bersamamu sampai maut memisahkan kita," ucap pria itu menatap lekat wajah istrinya.


Disya tersenyum menanggapi itu semua, perempuan itu mencondongkan wajahnya dan menyambar bibir Sky dengan berani. Disya tersenyum, melihat respon suaminya yang selalu menampilkan muka bengong saat dirinya menciumnya lebih dulu.


"Kamu menghidupkan yang di bawah sana sayang?"


Disya masih santai, ketika tiba-tiba tubuh Sky merasa ada yang menegang.


Astaga... mati aku! Kenapa bisa baper gini, gue lupa kalau kita masih sama-sama polos.


Disya nyengir, "Aku mau mandi Mas?" kilahnya untuk menghindar.


"Tanggung jawab dulu, aku butuh obatnya."

__ADS_1


Disya tersenyum bingung, menolak dosa, nggak nolak rasanya masih ngilu dan capek.


"Aku mau lagi boleh," pinta Sky dengan memohon, muka tampannya menandai ia sedang menahan sesuatu, kilat matanya berkabut gairah.


"Lagi?" Disya berkata gugup, menatap horor suaminya.


"Hmm," jawab Sky seraya memposisikan lebih dekat.


"Kamu nggak capek?" tanyanya pasrah.


"Seratus kali aku juga masih mampu," jawab Sky dengan wajah tanpa dosa.


Sky kembali merapatkan diri, pria itu tersenyum saat Disya membalas perlakuan sayangnya.


Lagi Disya tak mampu menolak, walaupun rasa masih perih, panas, ngilu, pegel sana sini tetap stay menjalaninya dengan ikhlas.


"Makasih," bisiknya kembali merapatkan diri, membuat sensasi yang mampu membuat Disya benar-benar terlena. Hingga ia berusaha mengimbangi permainan dengan sempurna.


"Mas... pelan-pelan?" gadis itu mencengkram kuat punggung suaminya yang iya yakini akan membekas. Kali ini Disya bahkan tidak malu lagi mengeluarkan desa han manja, yang mampu membuat Sky lebih menggila.


Ke duanya pun merampungkan misi yang sama dengan mencapai pusara puncak kenikmatan bersama. Melebur jadi satu dalam hentakan yang selaras, puas dan nikmat, hingga mereka seperti terdampar di tempat yang hangat dengan perasaan tenang dan bahagia.


Dikecupnya beberapa kali wajah Disya, pria itu hampir tidak bisa mendeskripsikan perasaan dan rasa bahagianya.


"Kamu membuat aku candu sayang.... love you Sya." Mengecupi dahi istrinya yang bersimbah peluh.


Sky langsung bangkit dari pembaringan, ia mengangkat tubuh Disya dan membawanya ke kamar mandi.


"Mas, aku mau mandi sendiri," protesnya menutupi sebagian tubuhnya yang polos dengan memeluk erat gendongannya. Ia terlalu malu menampakkan wajahnya.


"Sya, mandi bareng, ini pahala untuk kita," kata pria itu santai.


"Nggak mau nanti kamu nakal," ucapnya ragu.


"Enggah sayang, janji cuma mandi doang, beneran deh..."


"Aku malu, kamu jangan lihatin aku gitu terus dong," protesnya kesal dan malu.


"Ih... ngegemesin banget sih, sini aku bantu gosok punggung kamu," ucapnya santai.

__ADS_1


__ADS_2