One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 154


__ADS_3

"Segini dulu, sisanya nanti malam," kata pria itu merapikan pakaian Disya yang sedikit berantakan akibat ulahnya. Istrinya itu nakal sekali, memancing di gang sempit, tentu saja itu membuat pria berstatus suaminya itu menerima dengan lapang, sayangnya tempat dan momennya tidak pas, ia tidak bisa membiarkan istrinya itu merasa tidak nyaman.


"Kenapa? Masih kurang?" tanyanya mengerling.


"Ish ... bukan, apaan sih! Tolong benerin, pengait bra aku lepas." Disya nyengir tanpa dosa.


"Hah, perasaan aku kalem," kilahnya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ish ... kalem apanya, rusuh gini kok," gerutunya manyun.


"Kamu yang duluan, hobby banget bikin aku gerah," sanggahnya jujur.


"Kamu itu melampaui batas Mas, gumush banget sih suami Disya Anggita." Perempuan itu mencubit pipi suaminya gemas.


"Sakit yank, jangan keras-keras, nanti muka tampan aku lecek." Disya memutar mata jengah.


"Jalan Mas, pingin cepet pulang, mau rebahan," ujar perempuan itu seraya menjatuhkan punggungnya di sandaran jok.


"Habis rebahan ngapain Sya?"


"Tidur lah, ngapain lagi emang, capek seharian ini."


"Belum makan malam, sekalian makan di luar aja gimana?" tawarnya.


"Boleh, aku telfon mbak Tia dulu biar nggak usah masak buat makan malam."


"Udah masak juga nggak pa-pa, kamu kalau malam juga suka lapar," ujarnya.


Pasangan sejoli itu tidak lantas pulang melainkan berniat mengisi perutnya seraya menikmati angin malam di luar.


"Mas, kok berhenti di sini? Aku nggak mau makan di sini," protes perempuan itu.


"Kenapa, kamu biasanya suka makan di sini?"


"Pingin makan sate di pinggiran sambil lesehan itu Mas, kayaknya enak tadi aku sempat lihat waktu melintas."


"Pinggir jalan? Kamu yakin?" tanyanya setengah tidak percaya.


"Bener, ayo putar balik, tadi aku lihat di pinggiran sana ada warung pinggir jalan dan itu enak."

__ADS_1


Sky pun mengikuti arahan istrinya, benar saja saat ia melajukan mobilnya, menemukan tempat makan lesehan di pinggir jalan. Tempatnya lumayan ramai ketika mereka datang, jadi praktis hanya tersisa bangku kosong di pojokan itupun harus berbagi dengan orang lain.


"Sya, ini tempatnya terlalu ramai, nggak ada tempat lengah gitu, kita beli aja ya, makan di rumah," ujar Sky meneliti sekitar.


"Ikh ... nggak asyik banget makan di rumah, sini aja Mas, barengan sama yang lainnya juga nggak pa-pa, sekali-kali kamu tuh harus coba makanan pinggiran kaya gini, enak dan bersih kok." Disya menyeret tangan suaminya dan menerobos keramaian orang di sana. Mengambil duduk di tempat yang sedikit lengah. Perempuan itu lantas memesan sate yang katanya enak itu.


Ke dua pasangan yang baru mengambil duduk itu sontak menjadi pusat perhatian orang di sana. Disya cuek saja, sementara Sky sendiri merasa bingung dan perlu waspada.


"Mas, aku pesen dulu," ujar Disya seraya mendekat ke sisi dapur.


"Buk, satenya dua porsi ya, pedes sedang."


"Iya mbak, segera dibuatkan, nanti diantar ke meja," ujar Ibu penjual sopan.


Mereka menunggu pesanan di antar seraya mengamati sekitar. Tempat yang lumayan santai, banyak di kunjungi dari kalangan muda mudi yang menghabiskan malam mereka dengan pasangannya, atau mungkin sahabat.


"Hallo Mas, orang baru ya, boleh duduk sini?" ujar seseorang yang tiba-tiba mengakrabkan diri.


Sky malah bingung disapa demikian. Ia cuma tersenyum dan mengangguk sopan. Disya yang tengah sibuk memainkan ponselnya lantas mendongak, menyorot wanita kepedean di depannya.


Wanita tersebut mengambil duduk tepat di sebelah Sky, tentu membuat Disya sedikit kesal. Sky sendiri merasa sudah tidak nyaman.


"Mas, kamu duduknya pindah sebelah sini," bisik Disya lirih demi melihat muka suaminya yang bete.


"Pesanannya mbak." Seseorang membawa dua porsi sate yang sebelumnya di pesan Disya.


"Makasih," ucapnya senang, mengamati sate yang tersaji dengan rasa lapar.


"Eits ... bismilah dulu sayang," kata Sky menahan Disya yang langsung mengambil dan hampir memasukan ke mulutnya.


"Bismillahirrahmanirrahim ... " Perempuan itu langsung memasukkan ke mulutnya. Ia makan dalam diam, dan nyaman. Sementara Sky sendiri malah memperhatikan istrinya dengan seksama.


"Kamu nggak makan? Enak lho ini, sini aku suapin," ujar Disya mengarahkan satu tusuk sate ke dalam mulutnya. Sky menerima dengan senyuman.


"Kamu lucu banget, makannya sampai belepotan." Sky mengambil tisu dan merapikan bibirnya.


"Hmm, nggak pa-pa, aku aja Mas."


"Kamu sebelumnya pernah makan di sini?" tanyanya mulai penasaran.

__ADS_1


"Pernah, tapi kalau di tempat ini baru pertama. Kenapa emang? Sekali-kali juga nggak pa-pa 'kan?"


Disya dulu cukup sering keluar bersama Rayyan, hanya untuk sekedar makan dan menghabiskan sisa malamnya. Terutama pas perempuan itu awal-awal kuliah, kenangan yang indah, dan cukup berkesan. Semua tetap tersimpan rapi tanpa boleh meninggalkan rasa, sebab harus fokus pada kehidupannya yang sedang dijalani. Ia cukup bahagia, pria baik yang pernah mengisi hatinya itu melabuhkan pada adik iparnya yang baik pula. Disya berharap suatu hari nanti Rayyan bisa menemukan kebahagiaannya sendiri.


"Hai ... kok melamun sih, mikirin apa?" Sky membuyarkan ingatan Disya.


"Tagihan sate dua porsi setelah makan," celetuknya. Ini jelas jawaban paling ngasal sepanjang hidup.


"Emang semahal apa? Lebih mahal kah dari makanan di restoran?" tanyanya dengan dahi berkerut bingung, merasa tidak yakin dengan apa yang terlontar dari mulut istrinya.


"Jelas bohong lah Mas, apaan sih. Udah belum makannya, hari ini aku yang traktir," ujar Disya berdiri dan hendak beranjak.


Setelah melakukan pembayaran, mereka berjalan sedikit untuk sampai ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.


"Bentar sayang," ujar Sky berjongkok di depan Disya, menali kembali simpul sepatunya yang terlepas.


"Eh, aku malah nggak tahu," ucapnya seraya meneliti suaminya yang masih membenahi sepatunya.


"Makasih yank," ucapnya tersenyum.


"Sama-sama," jawab pria itu dengan tatapan lembut.


"Kamu sweet banget sih Mas." Disya sedikit berjinjit dan mencium pipi suaminya. Sky tersenyum lebar.


"Ini tempat umum lho Sya," tegurnya dengan meneliti sekitar.


"Nggak pa-pa, nggak pada lihat kita kok," jawab Disya cuek kembali berjalan menuju mobilnya.


"Mas, aku mau ngomong jujur nih, tapi jangan marah ya?"


"Ngomong apa? Kalau nggak enak di denger mending nggak usah." Sky tipikel orang yang apa adanya.


"Dengerin dulu, belum ngomong kok udah gitu, nggak asyik ah!"


"Mau ngomong apaan emang?"


"I love you," kata perempuan itu seraya mengangkat tangannya membentuk simpul jari finger heart. Sky lantas tersenyum menatap istrinya.


"Me too." Sky juga membalasnya dengan simpul jari yang sama. Mereka tertawa bersama, pulang ke rumah dengan perasaan yang teramat bahagia.

__ADS_1


"Bahagia aku sesederhana ini Mas, cukup ajakin aku ke tempat yang aku mau, udah gitu aja."


"Mommynya anak deddy harus bahagia donk," ucapnya tersenyum.


__ADS_2