One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 99


__ADS_3

Asalkan kamu tidak minta pisah dariku Sya, karna itu, aku tidak mungkin sanggup


Sky mendekat, tatapan mereka beradu. Pria itu menyimpan khawatir yang dalam, sama halnya dengan Disya yang begitu, namun mungkin dengan konteks yang berbeda.


"Jangan marahin Bintang Mas, ini bukan salah dia, aku yang salah. Kemarin itu, kita tidak sengaja bertemu di Anomali coffee, terus pas kebetulan aku mau pulang, kita tidak sengaja bertemu, dan kebetulan Bintang juga mau pulang, dia ngajakin bareng, mau nganterin aku ke rumah mama, eh nggak tahunya di jalan apes, terjadilah begini," jelas Disya.


"Yang ke dua, sebelumnya aku minta maaf, tapi tolong jangan tanggepin apapun omongan kak Ray, tolong jangan terpancing apapun apalagi buat keributan di sini, bisakah kalian berdamai?" pinta Disya.


Disya tidak mau terjadi keributan, saling benci dan marah permusuhan. Ia merasa bingung menyikapi ke duanya, mereka yang awalnya bersahabat harus saling benci karena dirinya. Masalah Bintang, ia juga cukup kepikiran, Bunda Yuki bilang, Bintang sangat ketakutan atas kejadian hal ini, gadis itu terus menyalahkan dirinya sendiri. Bunda juga merasa khawatir, putra sulungnya itu akan ngamuk dan benci, menyalahkan adiknya, Bintang pasti bertambah ngerasa bersalah dan down, tentu itu tidak boleh terjadi. Ini murni kecelakaan.


Bagaimana bisa aku hanya diam, Sya. Sementara Rayyan, terang-terangan menyerangku secara halus. Dia menginginkan mu, Sya? Bisakah kamu, aku percaya untuk tetap menjaga keutuhan rumah tangga kita, setelah semua yang telah terjadi pada mu.


"Owh... kalau itu... aku pasti kasih sanksi buat bocil itu. Aku masih kesal Sya, dia itu terlalu aktif dan terkesan abai dengan aturan, makanya Bunda mau jodohin dia sama anaknya tante Gea, biar dia anteng. Untuk yang ke dua, aku tidak janji, aku bisa sangat baik mengontrol diriku asal dia tidak berulah, dan kamu, tidak memberi celah dengan terus membiarkan lelaki itu mendekat," jawab Sky datar.


Disya mengangguk ngerti, ia menjadi takut kalau Sky sudah berbicara dengan nada dinginnya.


"Hukuman Bintang jangan berat-berat Mas, kamu suka galak. Sama aku juga, serem kalau lagi di kampus," celetuk Disya jujur.


"Biasa aja, kapan aku galak sama kamu, mana bisa aku marahin kamu? Kecuali... kamu mulai bertingkah," kata pria itu.


"Kamu sering lihatin aku, tajeeemmm banget. Apa namanya kalau bukan tatapan menindas," ujar gadis itu manyun.


"Eh, aku lakuin itu kalau kamu mulai berulah sayang," ucap Sky seraya naik ke atas ranjang, tidur seperti semalam dan memeluk perut Disya yang setengah duduk.


Disya menyugar rambut pria itu, sementara Sky sendiri malah asyik mendusel tubuh Disya, mencari ketenangan lewat aroma tubuh istrinya.


"Mas, jangan gini aku udah nggak mandi dari kemarin," ujar Disya merasa tidak nyaman.


Pria itu bergeming, mengabaikan peringatan istrinya dan semakin dalam mencari kehatangatan. Sky tidak ingin macam-macam, ia hanya ingin menempel saja, tidak lebih. Jujur pria itu kangen, tapi tentu saja Sky tahu, Disya tidak boleh di sentuh untuk waktu yang lama, ia hanya mampu bersabar, untuk menetralkan rasa kangen dan rindunya, ya dengan menempel seperti saat ini, terasa sedih dan duka kemarin terobati, batinya pun menjadi tenang.


Ceklek


Pintu kamar rawat inap pun terbuka, seseorang nampak masuk ke ruangan. Dia seorang suster yang hendak memberikan menu makan pagi untuk sarapan.


"Eh!" spontan suster itu kaget dan juga canggung melihat mereka ada di ranjang yang sama.

__ADS_1


Sky yang mengetahui ada orang pun langsung bangkit dari baringnya. Pria itu berujar turun dan sedikit menjauh dari ranjang.


"Sarapannya mbak, silahkan dinikmati. Setelahnya minum obat dan tunggu Dokter mengontrol, saya permisi," ujar suster lalu undur diri, sempat melirik Sky dengan tatapan geleng-geleng kepala.


Disya tersenyum, gadis itu sudah terlihat lebih baik dari hari sebelumnya. Ia hanya perlu istirahat beberapa saat saja dan sepertinya akan lebih baik dirawat di rumah.


"Sini, aku bantuin makannya?" ujar Sky meraih nampan berisi makanan.


"Aku makan sendiri aja Mas, aku bisa," ujar gadis itu percaya diri, infus di tangannya juga sudah di lepas.


"Nggak pa-pa aku suapin, kamu nurut dong Sya, aku seneng nglakuinnya."


Gadis itu menurut, Sky menyuapi dengan tlaten. Sampai isi piring di hadapannya tinggal sisa seperempatnya.


"Mas, hari ini izin pulang ya? Aku nggak betah di sini?" rengek Disya.


"Iya, nanti aku coba temui dokternya," jawab Sky mengalah. Sky tentu senang jika Disya sudah di perbolehkan pulang.


Disya yang sudah selesai dengan sarapannya, masih duduk dengan anteng mengamati Sky yang tengah membereskan piring sisa sarapan. Pria itu lalu menyuapi buah pepaya untuk Disya. Menurut ahli medis, pepaya sangat baik di konsumsi untuk wanita yang baru saja keguguran.


"Pagi Sya, bagaimana keadaanmu saat ini? Apakah sudah lebih baik?" tanya Dokter Rayyan lembut. Laki-laki itu berjalan mendekat membawa sebuket bunga nan indah dan satu mika besar buah strawberry.


Pria itu menaruh buket bunga di hadapan Disya dan meletakkan mika berisi buah di atas nakas.


"Nanti di makan ya, Sya? Ini baik untuk perempuan habis kuret," ujar Rayyan perhatian.


"Baik kak, sudah tidak nyeri. Apa hari ini aku boleh pulang?" tanya Disya penuh harap.


Dokter Rayyan bergeming, tidak merespon izin pulangnya. Pria itu tengah melakukan pemeriksaan.


"Tekanan darahnya belum stabil, sebaiknya kamu tunggu beberapa hari saja dulu Sya, kamu harus bedrest, biar bisa cepet pulih," jelas Rayyan.


"Aku merasa sudah sehat kak?" rengek Disya yang terdengar biasa, namun terlihat berbeda di mata Rayyan. Rayyan pikir gadis itu terlalu terburu-buru.


"Perban di kaki kamu juga belum kering, kamu masih butuh perawatan, Sya? Apa ini masih sakit?" Rayyan meneliti pergelangan kaki Disya.

__ADS_1


"Aw..." masih sakit itu, jangan di otak atik," keluhnya khawatir.


Rayyan terkekeh, "Kamu masih sama aja ternyata, paling takut sama luka sekecil apapun di tubuhmu. Aku cuma meneliti apakah sudah kering atau belum. Diusahakan jangan terkena air dulu," saran pria itu.


"Kok ketawa sih, sakit nih..." keluhnya manyun.


"Ih... kamu tuh masih sama aja selalu cemberut kaya gini, apa perasaanmu juga masih sama Sya?" tanya Rayyan spontan.


"Aku rindu ketawa dan manyun kamu kaya gini. Perasaan aku masih sama Sya?" Rayyan mencoba meraih tangan Disya untuk di genggam.


Disya segera mengurai genggaman Rayyan, gadis itu terdiam saja, lebih menunjukan kebingungan yang haqiqi.


"Maaf, kak. Aku istri orang, kamu nggak boleh ngomong kaya gitu, nanti bisa buat orang salah paham," jawab Disya gugup.


"Kalau kamu bukan istri orang lagi, kamu masih mau kembali kan Sya? Aku tahu, kamu masih cinta kan Sya, sama aku? Jujur Sya?" tekan pria itu.


"Maaf kak, aku tidak tahu. Tolong jangan mempersulit keadaanmu, kita berbeda. Aku punya suami yang harus aku jaga perasaannya," sanggah Disya mencoba mencari pengertian dari Rayyan.


Sementara diambang pintu kamar mandi, Sky menatap dingin Dokter dan pasiennya yang tengah berbincang asyik, sesekali gadis itu manyun tapi detik berikutnya tersenyum. Membuat pemandangan itu terasa panas, ada desiran ngilu yang mampir di ulu hatinya.


Pria itu bergeming, menatap dingin ke duanya dengan perasaan campur aduk.


"Ya sudah, cepet pulih Disayang. Jangan banyak pikiran, lupakan yang tadi, fokus dulu sama kesehatan kamu, kamu harus selalu bahagia," ujar pria itu seraya mengacak rambut Disya dengan lembut, lalu berujar pergi dengan senyum yang mengulas di wajahnya.


Sky mengepalkan tangannya marah, dadanya bergejolak hebat menahan amarah yang terasa sesak, seperti hampir membludak. Matanya menyorot tanjam ke duanya. Pria itu begitu dongkol mendapati Rayyan menyentuh lembut kepala Disya dengan santai, dan penuh tatapan kasih sayang, walaupun respon Disya datar, tapi istrinya tidak menolak dan itu jelas membuat hati Sky bertalu-talu.


"Mas?" panggil Disya lirih, menatap suaminya yang tengah menatapnya begitu dingin.


Sky terdiam, ia melirik sengit bunga di genggaman Disya, lalu buah strawberry pemberian Rayyan. Pria itu berjalan mendekati sofa, duduk dengan tenang tanpa merespon panggilan istrinya. Pria itu kesal, lebih kepada marah dan kecewa.


Disya yang paham pun merasa bersalah dan menyayangkan kejadian beberapa menit lalu. Gadis itu tahu Sky mengabaikan panggilannya, karena merasa cemburu dan marah. Disya juga merutuki dirinya yang tidak bisa bersikap tegas terhadap mantannya, ia benar-benar tidak tahan di rumah sakit, ia ingin pulang saja.


Siang harinya, mertuanya dan Mama Amy datang hampir bersamaan saat jam besuk. Mengetahui ada orang lain di ruangan, Sky pamit undur untuk ke luar sebentar, mencari sarapan untuk makan paginya.


"Bun, titip Disya ya? Aku keluar sebentar!" ujar Sky berlalu setelah menyambut kedatangan orang tua mereka.

__ADS_1


Disya menatap sendu punggung suaminya yang berjalan menjauh. Kali ini Sky pasti bukan hanya marah tapi juga sangat kecewa dengan sikap istrinya.


__ADS_2