
Disya menatap layar ponselnya malas, gadis itu sudah mengantuk dan ingin cepat beristirahat.
[Sya, kok cuma di read doang, keluar sebentar, aku tahu kamu belum tidur]~Pluto
Disya terpaksa keluar dari tenda dengan malas, suasana malam hari cukup dingin, gadis itu menyambar jaket terlebih dahulu sebelum keluar. Disya mulai menyusuri belakang tenda yang sepi, namun di setiap sudut tenda yang lainya nampak masih rame lancar sebagian dari mereka bergerombol hanya untuk santuy.
"Ngapain sih, malam-malam ngajakin ketemuan?" keluh Disya sebal. Matanya memincing ke kanan dan kiri, takut-takut ada yang melihat.
"Mau kasih ini." Sky menyodorkan plastik yang ia yakini makanan.
"Aku takut nanti kamu lapar, butuh ngemil atau haus. Aku kan nggak ada di samping kamu, jadi buat jaga-jaga," sambung Sky dengan semangat.
Disya terdiam sesaat, ia meraih kresek berukuran sedang dari tangan suaminya. "Makasih," jawabnya tersenyum.
"Iya," jawab pria itu membalas senyuman tak kalah manis. "Met istirahat," sambungnya namun belum juga beranjak.
"Ya udah sana, ngapain masih di sini?" protesnya demi melihat suaminya hanya diam.
"Kamu belum ngucapin selamat malam buat aku," ucap pria itu.
Disya menghembuskan napas panjang. "Selamat malam, selamat beristirahat suamiku," ucap Disya pada akhirnya.
Cup
"Makasih," Sky mencuri satu kecupan di pipi Disya sebelum beranjak menjauh.
Dasar pria!
Gadis itu sontak menyentuh pipinya sendiri, ada rasa aneh yang melingkupi hatinya. Ia sudah sering mendapat serangan dari suaminya, tapi kenapa hanya kecupan singkat membuat pipi Disya panas.
Disya masuk kembali ke tenda dan langsung merebahkan diri di atas tikar. Tenda itu cukup besar, diisi dari sepuluh mahasiswa masih lumayan lengah, jadi Disya tidak terusik dengan obrolan mereka, sekalipun berisik.
"Dari mana Sya, jajan nggak bilang-bilang?" tegur Hanum.
"Ee... dari luar, oh... ini... tadi ada titipan gitu, jadi ada yang nganter."
"Oh ya? Baik banget, lo udah mau tidur?"
"Gue capek banget hari ini, sorry ya gue istirahat duluan."
Disya membaringkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya, namun baru ingin terlelap bayangan Sky seakan berseliweran di ingatannya.
Nih otak kenapa jadi mikirin dia mulu sih, gue butuh istirahat, rutuk Disya dalam hatinya.
Semakin malam semakin larut akhirnya gadis itu terlelap. Berbeda dengan Disya yang nampak gelisah di waktu tidur, Sky justru asyik bersantai bersama mahasiswa cowo lainnya. Sky sudah mencoba tidur tetapi ia sama sekali tidak merasakan kenyamanan yang berarti, terbiasa dengan guling istrinya dan sekarang harus bergelar tikar tanpa Disya rasanya benar-benar hambar. Akhirnya pria itu memutuskan untuk ke luar tenda dan bergabung dengan cowo-cowo yang tengah asyik bersantuy.
"Belum tidur Pak?" tanya Bisma basa-basi.
__ADS_1
"Nggak bisa tidur, nggak ada yang dikelonin," jawab pria itu cuek.
"Beh... Bapak bucin," seloroh Bisma.
"Rindu pacar ya Pak, tinggal di telfon saja," sarannya bijak.
"Bukan pacar tapi istri, nggak bisa di telfon, orangnya udah tidur."
"Bapak udah nikah? Hmm... pengantin baru kah? Kok kayanya rindunya dalam banget," ujar Bisma menelisik.
"Sok tahu kamu, emang kamu punya pacar?"
"Enggak, belum, otw proses. Ada rencana buat seriusin orang tapi hilalnya belum muncul," curhatnya tanpa canggung.
"Emangnya dari sekian banyaknya mahasiswi di kampus nggak ada yang kamu suka?"
"Ada lah, beberapa dari mereka ada yang idaman saya banget, tapi nggak mungkin saya gapai orangnya sudah ada yang punya, cukup tak sawang lan tak dongakke, semoga dia putus dan saya bisa jadi imamnya kelak. Jahat banget saya ya Pak? Hehehe..." Bisma nyengir.
"Anak fekon juga?" tanyanya penuh selidik.
"Iya, hehehe... sorry nih Pak, jadi curhat. Dia itu pinter, cantik, ramah, lembut dah... pokoknya paket kumplit. Sayang udah punya pasangan, lama banget lagi nggak putus-putus, denger-denger malah mau langsung nikah habis wisuda, tapi kan jalan hidup manusia nggak ada yang tahu ke depannya, jadi... masih mungkin lah, walau cuma 0,001 persen."
"Secret admirer!"
Eh tunggu-tunggu, kok ciri-cirinya mirip banget sama istri gue, wah... jangan bilang itu Disya.
"Ikut lah, kita kan satu frekuensi makanya nyaman."
Uhuks
Sky sampai tersedak mendengar penuturan mahasiswa nya.
"Siapa orangnya!" tanya Sky meninggikan suaranya.
"RAHASIA!!"
Awas saja kamu sampai berani naksir istri saya.
***
Pagi hari seperti biasa Disya merasa mual dan uring-uringan. Perempuan dua puluh tahun itu berjalan cepat menuju toilet mushola. Untungnya jaraknya tidak terlalu jauh, jadi tidak terlalu serem. Hari masih sangat pagi, adzan subuh bahkan baru saja berkumandang.
Sky yang hendak menuju mushola karena sudah mendengar adzan cukup kaget melihat Disya berjalan cepat. Laki-laki itu membuntuti Disya tanpa sepengetahuannya.
Disya bahkan tidak melihat sekitar, dirinya fokus melihat jalanan. Mual-mual membuat gadis itu sebal, bahkan tidak mengenal tempat dan waktu. Ia keluar dari toilet dengan tubuh lemas.
Clek
__ADS_1
"Astaghfirullah... Bapak ngagetin aja?" Disya terjingkat begitu keluar dari toilet mendapati Sky yang sudah menunggu di depan pintu.
"Mual lagi?" Sky menyorot prihatin terhadap istrinya.
"Iya, biasa kan kalau pagi gini?" keluhnya lemas.
"Ayo aku antar ke tenda?"
"Bukannya mau sholat, jamaah dulu gih. Saya juga mau sekalian."
"Kuat, beneran nggak pa-pa?"
"Iya, kuat. Udah sana jangan di dekat toilet wanita entar kamu kena tegur lho."
"Oke, kalau ada apa-apa butuh sesuatu ngabari."
"Iya." Disya mengangguk dengan senyuman.
Sky meninggalkan Disya dengan raut khawatir, tapi perempuan itu bahkan terus menyuruhnya pergi. Disya langsung masuk ke mushola setelah mengambil wudhu. Setelah selesai dua rakaat, gadis itu langsung kembali menuju tenda.
Disya merasa perutnya kosong dan sangat lapar. Ia pun teringat kresek pemberian Sky semalam, gadis itu langsung membuka bungkusan tersebut. Isinya ternyata susu kemasan besar dan aneka roti serta beberapa coklat.
Disya langsung mengganjal perutnya yang keroncongan dengan roti dan susu. Sekilas ia merasa bersyukur dosen yang berstatus suaminya itu cukup perhatian.
"Sya, bangunnya pagi amat? Lo mirip ipar gue yang lagi hamil deh jam segini udah nyusu, sama ngemil," cletuk Hanum.
Uhuks
Disya tersedak minumannya sendiri. Gadis itu tidak menyangka Hanum akan sejeli itu.
"Gue laper aja, ya udah ada makanan gue makan. Lo mau?" tawarnya mencoba tenang.
"Nggak makasih, jam segini mah belum doyan makan, masih malas."
Waktu sudah menunjuk di angka tujuh, perempuan itu tengah antri di kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum berkegiatan hari ini. Ada yang menumpang mandi di rumah warga ada juga yang mengantri seperti Disya di toilet mushola.
Uluran yang panjang membuat para ladies jengah, untuk menghindari kejenuhan yang haqiqi mereka pun kompak bernyanyi sambil menunggu giliran.
"Kak, tadi saya lihat lho kakak menjelang subuh di toilet," celetuk salah satu cewe adik tingkat.
"Iya, tadi saya perutnya nggak enak?" jawabnya santai.
"Saya lihat kakak sama... dogan Sky," bisik gadis itu mendekati telinganya, sontak membuat mata Disya membola.
"Oh... itu kebetulan saja dek," jawabnya gugup.
"Anggap saja kamu nggak lihat dek, saya duluan ya giliran saya nih mandinya."
__ADS_1
Pagi ini Disya benar-benar ngerasa di sorot oleh teman-temannya yang satu tenda. Kelakuannya yang tak biasa membuat orang di sekitar menatap horor. Terlebih ketika pagi hari mengambil jatah makan pagi untuk sarapan Disya juga dengan cepat menghabiskan satu bungkus sarapan tanpa sisa. Benar-benar rakus seperti orang kelaparan.