One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 80


__ADS_3

"Mas haus?" ucapnya manja.


"Kamu tunggu di mobil sayang, biar Mas nyari minuman di sekitar rumah sakit."


"Mas, beliin boba di dekat situ, choco caramel nggak pake lama," ujar Disya.


Perempuan itu menunggu di mobil sementara Sky kembali turun dan mencari minuman sesuai yang di pesan istrinya. Selang lima belas menit, Sky kembali dengan membawa dua cup boba, satu rasa Choco caramel dan satunya black forest.


"Lama banget sih mas," keluh Disya dan langsung mengambil satu cup boba di tangan sky.


"Maaf, tadi sedikit mengantri." Sky memperhatikan Disya yang tengah minum dengan asyiknya. "Aku beli dua, yang satu black forest," ujarnya seraya menaruh satu cup sisa di car seat gap filler.


"Enak?" tanyanya dengan mengulum senyum.


Disya mengangguk, "Mau?" tawarnya kemudian.


"Emang boleh?"


"Boleh, mau nyicipin?" Disya mengulurkan cup miliknya, Sky menerima dengan senang hati dan langsung mencicipi dengan sedotan yang sama.


"Enak kan? Jangan di habisin aku masih haus," ujar gadis itu mrengut. Ia pun mengambil lagi dari tangan Sky dan langsung Menyeruputnya hingga licin tandas.


"Itu tadi bekas aku lho Sya, kamu minum lagi?" ucapnya ragu.


"Nggak pa-pa, kamu juga minum bekas aku, sama aja kan?" jawab Disya cuek.


Sky menatap Disya lekat, hatinya menghangat mendengar perkataan Disya. Walaupun terdengar sepele tetapi membuat pria itu yakin, bahwa Disya sudah mulai menerima kehadiran dirinya.


"Kenapa Mas, kok lihatnya kaya gitu?" tanya Disya heran.


Sky membawa tangan Disya dalam genggamannya, lalu mengecupnya. "Makasih," ucapnya senang.


"Untuk?" tanya Disya belum mengerti.


"Untuk hari ini, dan untuk apa saja yang membuat aku senang." Sky mendekat dan langsung mengecup pipi Disya. "I love you sayang," kata pria itu, lalu beralih mencium perut Disya dengan sayang.


"Maaf untuk yang tadi, aku tidak sengaja bertemu dengannya," ujar Disya menyesal.


"Hmm, aku nggak mau lihat pemandangan itu terjadi lagi, bisakah kita periksa selanjutnya di rumah sakit yang berbeda?" ujarnya berharap Disya mau mengerti.


"Itu Dokter rekomendasi dari mbak Rayya, tapi kalau kamu keberatan ya sudah kita periksa di tempat lain saja."

__ADS_1


"Aku hanya khawatir akan perasaan mu atau mungkin aku terlalu takut dengan porsi masa lalumu," ujar pria itu sendu.


"Aku sedang berusaha untuk menjadi baik-baik saja, hidup untuk hari ini dan mencoba bahagia. Kamu berhak untuk tidak percaya karena itu hak kamu," jelas Disya.


"Aku akan berusaha percaya asalkan kamu mau membuktikan semuanya, hanya ada kita di kehidupan kita," ujar pria itu menatap Disya serius.


"Ajari aku mencintaimu Mas, bimbing aku supaya aku hanya bisa mencintai suamiku. Maaf aku masih terlalu banyak melakukan hal yang mungkin banyak mengecewakanmu, maaf untuk perasaan ku yang masih semu, aku mohon kamu bersabar karena aku juga punya hati dan perasaan yang tidak bisa di paksa."


"Aku akan berusaha percaya, tetap berjalanlah di atas pijakan mu, tapi kamu harus tahu, aku punya sisi cemburu yang senantiasa akan membatasi mu, jadi tolong belajar mengerti perasaan ku juga." Sky membelai pipi Disya lembut dengan jarinya.


Gadis itu mengangguk ngerti, setidaknya sekarang ia merasa sedikit lega karena tadi tidak menimbulkan keributan yang berarti, terlalu pusing dan membingungkan jika pertengkaran itu terulang lagi.


Setelahnya pria itu kembali memposisikan di kursi kemudi, lalu segera menyalahkan mesin mobilnya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, namun karena sore tersendat macet membuat perjalanan mereka sedikit lebih lama. Itu sama sekali tidak masalah, bagi Sky semua terasa indah asal di lakukan bersama dengan Disya.


Sepanjang perjalanan tangan kanan Sky fokus bermain di lingkaran kemudi, sementara tangan kiri Sky menggenggam erat tangan Disya, dan sesekali mengecupinya dengan sayang. Disya membiarkan saja Sky bertingkah demikian, walaupun sejujurnya gadis itu merasa agak geli.


"Harus banget gini ya Mas, kamu kan lagi nyetir?" ujar Disya memperingatkan.


"Iya, biar kaya orang-orang pacaran," jawab pria itu sekenanya.


Disya menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum manis menatap pria di sampingnya seperti abg yang tengah jatuh cinta.


"Jangan senyum gitu dong Sya, aku jadi nggak konsen nyetirnya?" ujar pria itu melirik.


"Aku masih muda lho Sya, belum genap dua puluh enam tahun," ujarnya tersenyum lalu kembali fokus menatap jalanan.


"Hmm, pulangnya mampir ke rumah Mama boleh Mas? Aku kangen," ujar Disya penuh harap.


Sky terdiam sejenak, ia melirik Disya yang masih menatapnya dengan wajah memohon. Semenjak menikah Disya sangat jarang pulang ke rumah, terlalu sibuk dengan kuliah dan urusan rumah tangganya.


"Boleh, tapi nggak nginep ya?" ujar pria itu akhirnya.


Disya mengangguk senang, walaupun sebenarnya ia sangat kangen dengan kamar dan kasurnya yang sudah tiga minggu ia tinggalkan.


Tepat pukul setengah lima, Disya dan Sky tiba di kediaman Pak Amar, kedatangan mereka di sambut hangat oleh ke dua orang tua mereka dan Flora. Semenjak Disya menikah Flora tinggal di rumah.


"Kangen Ma..." Disya langsung memeluk Mama Amy begitu masuk ke rumah. Mama Amy yang tengah sibuk di dapur pun langsung menghentikan kegiatannya. Tini dengan sigap menyelesaikan memasaknya.


Ketiga wanita itu melepas rindu dengan ngobrol bersama, sementara Sky terlibat obrolan yang serius dengan Pak Amar.


"Ma, ada bahan rujak nggak? Pingin rujak?" ujar Disya berjalan menuju kulkas.

__ADS_1


"Ada jambu air, tapi nggak ada jodohnya. Eh coba cek pohon mangga di belakang rumah, sepertinya berbuah."


"Asyik...!" Disya segera melangkah ke luar dan menuju halaman belakang, benar saja pohon mangga di belakang rumahnya sedang berbuah sayangnya terlalu tinggi dan harus menggunakan galah.


"Bisa nggak Non," seru Bik Tini menghampiri Disya.


"Susah Bik, bibi bisa manjat nggak?"


"Manjat ya non, kayaknya nggak berani deh non, bibi takut ketinggian. Minta bantuan sama babak aja non," ujar Bik Tini.


"Iya bener, Papa kan pintar manjat," ujar Disya senang.


Mama Amy yang melihat kehebohan putrinya di belakang rumah pun hanya bisa melihat dengan senyuman. Manjat memanjat jelas bukan ranahnya. Perempuan paruh baya itu mendatangi suaminya yang masih ngobrol asyik dengan menantunya.


"Mas!" panggil Mama Amy menyeru. Sontak ke dua pria yang tengah duduk di sofa ruang keluarga pun menoleh secara bersamaan.


"Apa Ma?"


"Anakmu tuh... nyidam mangga, ambilin gih... nggak ada yang berani manjat."


Pak Amar langsung menuju halaman belakang, di ikuti Sky yang mengekor di belakangnya. Sky menatap Disya yang tengah heboh berusaha memetik dengan galah namun selalu gagal.


"Cepetan Pah, manjat!" titah Mama Amy.


"Manjat pohon mangga udah nggak pinter tapi kalau manjat Mama, Papa makin jago," celetuknya tanpa filter.


"Ish... Papa ini, malu sama yang lebih muda."


"Biar saya aja yang ambil mangganya Pah," ujar Sky berjalan mendekati pohon.


"Emang bisa?" tanya Disya meragukan.


"Bisa lah, demi kamu apa sih yang nggak bisa aku lakuin," ucapnya tersenyum. Pria itu menggulung kemejanya sampai atas siku, lalu menggulung juga celana bahannya sampai bawah lutut.


Sky memanjat pohon dengan bantuan tangga darurat dengan hati-hati. Pria itu sudah lama sekali tidak memanjat, seingat dia hanya pas waktu kecil saat SMP itu pun sudah sedikit lupa. Jadi praktis Sky tidak mempunyai keahlian panjat memanjat, mau manjat istrinya saja belum kesampaian. Hahaha...!


"Sya, ini belum ada yang mateng," seru pria itu dari ketinggian sekitar tiga meter.


"Ambil aja yang banyak Mas, itu enak banget buat rujak," sahut Disya menengadahkan wajahnya.


"Oke," Sky memetik beberapa buah mangga, lalu menjatuhkannya.

__ADS_1


Setelah dirasa cukup, laki-laki itu kembali turun, namun di pijakan terakhir tangga mendadak oleng dan pria itu terjatuh.


Brukkk


__ADS_2