
Sesampainya di rumah, mereka langsung bersih-bersih lalu bersiap untuk tidur. Seperti biasa, pria itu membuatkan susu hamil terlebih dahulu baru tenggelam ke dalam aktifitas masing-masing. Disya biasanya lebih memilih tidur lebih awal, namun kali ini justru Sky yang Sudah hampir terlelap dengan mata berat.
Pria itu berbaring di sebelah Disya setelah menaruh susu di atas nakas. Mungkin karena terlalu capek, Sky sampai ketiduran dan lupa mengucapkan selamat malam.
"Eh, udah bobok, tumben kamu tidurnya cepet, biasanya juga akunya udah bobok kamu gangguin aku," gumam Disya nyengir, bibirnya membuat lengkungan memperhatikan suaminya yang sudah menyambangi mimpi.
Disya pun menghabiskan segelas susu yang rutin di buat suaminya lalu bersih-bersih dan kembali ke ranjang untuk tidur. Tidak butuh waktu lama perempuan itu melelapkan matanya. Rasa lelah membuat Disya cepat menyambangi mimpi.
Jam setengah dua dini hari Disya terbangun karena ranjangnya sedikit bergerak, ia setengah kaget menemukan suaminya yang terduduk dengan muka pasi dan penuh keringat.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Disya cemas. Sky hanya diam dan menatap Disya, detik berikutnya langsung memeluk istrinya begitu erat.
"Mas, kamu pucet, mimpi buruk?" Disya sedikit mengurai pelukannya, mencium pipi Sky dan menenangkan.
"Iya," gumamnya seraya mengangguk.
"Mimpi apa sih? Sampai ketakutan dan bingung kaya gitu?" Disya mengambil tisu, mengelap dahi suaminya yang berkeringat.
"Mimpi kamu sama Rayyan, kamu ninggalin aku, dan akan menikah," ucap Sky masih tidak baik-baik saja.
"Kamu parnoan sih, udah, itu kan cuma mimpi, mungkin kamu tidurnya nggak doa dulu, makanya mimpi buruk."
"Udah, aku takut banget Sya." Sky kembali memeluknya, kali ini lebih lama, Disya membiarkan saja sampai suaminya tenang.
"Udah tidur lagi, itu cuma mimpi, mau minum dulu?" tawarnya, Disya menyambar segelas air putih yang tersaji di atas nakas, mengangsurkan ke suaminya.
Beberapa tegukan mampu menyamarkan rasa dahaga yang mampir ke tenggorokannya.
"Kamu nggak mau ninggalin aku 'kan, Sya? Kita akan punya anak dan hidup bahagia selamanya," ujar Sky yang sudah kembali membaringkan tubuhnya dengan memeluk istrinya.
"Iya Mas, itu kamu cuma mimpi, pada kenyataannya tidak ada alasan buat aku ninggalin kamu, kita akan punya anak-anak yang lucu dan menggemaskan," kata Disya tenang.
Disya kembali mengecup pelipis suaminya, pria itu menenggelamkan wajahnya di dada istrinya, memeluk posesif. Tangan Disya terulur mengelus rambut pria itu, entah di jam berapa akhirnya mereka kembali tidur, saat terbangun menemukan matahari sudah mengintip di celah korden.
Disya dan Sky sama-sama kesiangan. Disya merasa baru tidur dan sekarang harus bangun. Untungnya tidak ada kuliah pagi, kendati demikian ia hanya punya waktu empat puluh lima menit untuk sampai jadwal kuliah yang pertama, dan itu sama dengan suaminya.
__ADS_1
"Mas, aku yang mandi dulu, kamu minggir," sergah Disya menyerobot.
"Nggak mau, nanti telat belum ini itu," kisah Sky tak mau mengalah.
"Ish ... salah siapa bangun kesiangan, aku juga sama ada kuliah tiga puluh menit lagi."
"Ya udah bareng aja sayang, dari pada kebanyakan nego, ayo ... " Sky ikut menyerobot masuk, netranya menyorot kilatan yang berbeda.
"Eh, nggak mau, kamu nggak bisa di percaya," tolak Disya was-was, demi melihat cengiran suaminya yang aneh.
"Enggak kok janji, beneran cuma mandi, aku mau dendam nanti aja setelah pulang dari kampus. Cepet sini!" Sky sedikit menarik tangan Disya yang masih berdiri tak jauh dari pintu dan menutupnya rapat-rapat.
Setelah debat yang unfaedah, mereka merampungkan mandi dengan cepat. Sky dan Disya menuju ruang makan dan langsung sarapan. Dua potong roti tawar cukup mengganjal perutnya yang memang sudah lapar.
"Susunya Sya, diminum dulu," tegur Sky demi melihat istrinya yang hampir membiarkan tetap di gelas.
"Kenyang, di bungkus aja deh, buat bekal, setengah jam setelahnya nanti aku minum."
Mbak Tia langsung mengambil botol wadah bekal untuk susu. Disya memasukkan ke tas dan siap berangkat.
"Udah dibawa ke belakang mau di cuci sama mbak Tia, udah pakai yang ini dulu, keburu telat Sya," tegur suaminya.
Disya terdiam, saat tangan lincah suaminya membantu mengenakan sepatu untuk dirinya. Mereka berangkat bersama ke kampus. Sesampainya di sana, Disya langsung pamit dan menuju kelasnya.
"Sya, jangan lari-lari, jalannya kalem aja kamu lagi hamil," tegur Sky memperingati.
"Hmm," jawab Disya dengan gumamam, menutup paginya dengan menyambar bibir suaminya agar tidak mengoceh.
"Semangat mengajar, jangan senyum-senyum nggak jelas. Bye ... suamiku," ucap perempuan itu genit, meninggalkan Sky yang masih stay di tempat.
"Dasar bucin," gumamnya tersenyum, menyentuh bibirnya yang baru saja mendapat letupan cinta penuh kasih sayang. Pria itu senyum-senyum nggak jelas, sampai ia sadar harus segera mengisi kelas.
Sementara Disya juga mengikuti makul dengan seksama. Waktu yang mepet membuat ia tak sempat bercengkrama dengan teman-temannya dulu, langsung mengikuti pelajaran dengan khusuk. Sembilan puluh menit berlalu, usai selesai mengikuti makul Disya merasa ngantuk dan haus. Ia baru teringat masih menyimpan susu yang di buat bekal.
"Ya ampun Sya, lo bekal susu?" tanya Bila geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Iya, emang kenapa, lo mau?" tawarnya cuek, kembali minum dengan tenang.
"Gue mau Disyayang, bagi donk ... " celetuk Alan.
"Idih ... nggak jelas, emang lo hamil juga?" Disya mencebik sengit.
"Hamil nggak bisa lah, menghamilin baru bisa, sayangnya belum ada lawan," jawabnya gamblang tanpa dosa.
"Eh, si bambang jujur sekali." Mereka ngakak bersama.
"Lo nimbyung aja, nggak jelas banget lagi, sana gabung sama Bisma," usir Bila ketus.
"Apa, orang gue mau kantin juga, wek." Alan menjulurkan lidahnya, melesat begitu saja menyusul Bisma dan Faro yang sudah berjalan lebih dulu.
"Kantin yuk ...?" ajak Hanum yang langsung di iyakan Sinta dan Bila.
"Gue masih kenyang, nitip cemilan aja bawain ke sini, gue mager mau jalan."
"Lo ngoyo, kelihatan banget begadang," tuduh Hanum.
"Semalam kebangun, tidurnya hampir pagi."
"What!! Kuat amat, suami lo parah sih, kategori maniak," tuduhnya salah paham.
"Hati-hati masih hamil muda, jangan terlalu capek, kata mamah gue nih ya nggak boleh terlalu sering gituan, nanti bahaya."
"Lo semua pada ngomong apaan sih, gue sama suami nggak bisa tidur, bukan berarti lembur gituan, emang lo semua otaknya pada sengklek," omel Disya menggerutu, sahabatnya pada mikir iya iya.
"La terus, ngapain?" tanya Bila semakin kepo.
"Bimbingan masa depan," jawab Disya ngasal.
"Halah, apa iya, sebodo lah gue lapar, gas lah kantin dulu ... "
"Jangan lupa cemilan gue, sumpah gue ngantuk berat, tak tiduran sebentar."
__ADS_1