
Disya mendadak ragu untuk menerima uluran tangan Rayyan. Namun, tentunya ia tak sampai hati mengabaikannya. Perempuan itu meraih ujung telapak tangan Rayyan dan melakukannya dengan cepat.
"Makasih ya udah jengukin Tante aku," kata Rayyan lembut.
"Sama-sama Kak, mari aku duluan ya?" ucapnya canggung.
Bunda dan Disya meninggalkan ruangan dengan berjalan beriringan. Mereka langsung menuju parkiran di mana mobil Bunda terparkir dan pulang. Sepanjang perjalanan pulang, Disya sedang berpikir sekaligus menyusun kata yang tepat untuk menjelaskan pada suaminya yang posesif itu.
"Bun?" tanya Disya ragu.
"Iya, kenapa?" jawab Bunda Yuki menengok ke arah Disya sekilas, kemudian kembali fokus menatap lurus jalanan.
"Nanti... kalau Mas Sky marah, Bunda bantu jawab ya? Soalnya tadi sempat telfon tapi terus sambungan aku matiin sebab harus segera pamit juga kan?" jelas Disya merasa gusar.
"Owh... kamu tenang aja sayang, kan kamu perginya sama Bunda, Sky posesif ya?" tanya Bunda yang mulai paham dengan karakter putranya.
"Disya... Sky emang gitu Sya, yang sabar ya? Dia juga tipe lelaki yang paling tidak suka apa yang menjadi miliknya terusik, contoh seperti waktu kecil barang mainannya pun tak boleh ia bagi kalau hak miliknya, bahkan sampai kemana-mana di bawa, tidur juga dibawa," curhat Bunda.
"Tapi, kamu tenang saja, Sky itu juga sangat penyayang, Family man, sama adik-adiknya menjaga banget, bertanggung jawab sama keluarga, dan suka sama anak kecil. Apalagi kalian sebentar lagi mau punya baby, tuh anak pasti seneng banget dan tambah sayang sama kamu Sya," sambungnya panjang lebar.
Sepanjang perjalanan pulang, Bunda banyak bercerita tentang Sky kecil, hingga sekarang. Bunda dan Disya sampai di halaman rumahnya hari sudah hampir petang.
"Sayang, ingat ya nasihat Bunda, terus jangan lupa, hadiah dari Bunda harus di pakai, oke sayang," ucap Bunda Yuki sebelum mereka berpisah dan masuk ke kamar masing-masing.
Disya membuka pintu kamar, ia langsung merasakan aura-aura ruangan yang mencekam melihat muka suaminya ditekuk. Perempuan itu menghirup oksigen banyak-banyak, lalu menghembuskan secara perlahan.
"Mas..." sapanya gusar.
__ADS_1
Sky menatap Disya tajam, sejurus kemudian beralih menatap layar laptop di depannya kembali, sepertinya pria itu tengah sibuk untuk membuat soal UTS.
Disya menelan ludahnya susah payah, perempuan itu benar-benar takut Sky salah paham. Ia terlalu malas mendengarkan siraman rohani panjang kali lebar dan tinggi dari suaminya. Karena tak ada tanggapan apapun, Disya langsung ke kamar mandi membersihkan diri, aktifitas seharian membuat badan terasa lengket dan penat.
Sky membiarkan saja suasana seperti ini, pria itu bahkan tetap fokus dengan pekerjaannya yang masih harus di selesaikan. Pria itu menahan diri untuk tidak marah, walaupun sejujurnya ia kesal, Sky akan meminta penjelasan ke Disya nanti setelah merampungkan pekerjaannya.
Setelah mandi selesai, Disya hanya terduduk di atas kasur dengan bimbang. Ingin ngomong tetapi sepertinya suaminya itu benar-benar masih sibuk, terlihat raut wajahnya yang serius menatap layar laptopnya.
Perempuan itu berjalan ke luar dan menuju dapur, ia berinisiatif ingin membuatkan Sky teh hangat. Disya mengambil cangkir dan segera meracik gula dan juga tehnya, setelah menyeduhnya, ia langsung membawa teh tersebut ke kamar dan menaruhnya di samping meja tepat di sebelah laptop pria itu.
"Minum dulu Mas, selagi hangat," ucap Disya gugup.
Sky bergeming dengan gaya sok coolnya, tetap fokus pada layar laptop, kemudian melirik cangkir di sampingnya dan kembali fokus pada layar di depan mata. Mukanya masih dingin dan cuek, namun hatinya menghangat seketika Disya membawakan minuman untuknya.
Diya hendak melangkah ketika tiba-tiba laki-laki itu menarik tangannya dan langsung membuat Disya terjatuh di pangkuannya. Dalam seperkian detik, Disya dan Sky hanya saling pandang dengan posisi Disya yang terjerembab di pangkuan suaminya.
Disya menelan saliva gugup, dengan beraninya Ia langsung menyambar bibir Sky, perkara respon selanjutnya ia akan memikirkan nanti, yang jelas, ia harus pandai membaca situasi dan kondisi. Eh, kok jadi kaya pawang hujan.
Sky sedikit terkesiap melihat keagresifan istrinya. Namun, dalam hatinya tersenyum senang dan langsung menyambut hangat benda kenyal yang tadi nampak menggoda dirinya menginginkan untuk di reguk.
Setelah puas melakukan pergulatan lidah yang semakin memanas, barulah Sky mendudukan gadisnya secara normal, kemudian menatapnya lekat, meminta penjelasan lewat matanya yang masih terlihat dingin.
"Aku pergi sama Bunda kok Mas, tadi... ke rumah sakitnya jengukin sahabatnya Bunda, jadi di luar ekspektasi. Mau nolak juga nggak enak, masa iya aku bilang nggak mau?" jelasnya tanpa ragu.
Walaupun sedikit takut dan gugup. Namun, berdasarkan penuturan dari Bunda cara jitu menaklukkan seorang laki-laki, ia akan menerapkannya, yaitu lihat situasinya, tetap tenang, berikan penjelasan yang baik, saling mendengarkan dan yang terakhir berikan sentuhan yang romantis, pasti di jamin laki-laki akan lupa kalau ia ngambek.
"Kamu mengabaikan panggilan aku Sya," keluhnya masih dengan nada kesal.
__ADS_1
"Kan tadi udah dibilangin, pas kamu telfon tuh, aku sama Bunda mau pamitan, ya riweh lah?" elaknya.
"Tadi siapa yang manggil kamu dengan sebutan sayang," selidik Sky menatap tanpa keramahan.
"Ya ampun... nggak ada Mas, orang di sana tuh kita cuma berempat, eh berlima sama Dokternya ding," jelas Disya tenang.
"Ada Sya, aku denger sendiri, itu suara laki-laki," ngeyel Sky merasa yakin.
"Owh... itu sih kamu salah denger Mas, itu bukan maksud manggil sayang, kan emang Alan suka gitu. Tahu Alan kan? Anak yang sekelas sama aku, kan dia emang suka manggil gitu," jawab Disya santai.
"Aku nggak suka dengernya, kamu juga terlalu dekat dengan teman cowok, aku nggak suka," protes Sky posesif.
"Terus, aku harus bilang yang kek gimana? Santai aja dong Mas, kamu jangan kolot gini dong, aku juga butuh ruang gerak sendiri, aku nggak mau di kekang aku tahu batasan, Mas nggak usah khawatir," jawabnya dengan nada kesal.
"Aku peduli Sya, kamu ngerti nggak sih?!" tegas Sky lugas. Laki-laki itu berdiri, lebih baik ke luar menghindari Disya dari pada nanti malah sampai bablas dan tidak bisa mengontrol emosinya.
Sayangnya tindakan Sky spontan meninggalkan Disya begitu saja, di tanggapi berbeda oleh Disya. Gadis itu merasa di abaikan, dan tidak di dengarkan. Seketika mata Disya berkaca-kaca.
Baik Sky atau pun Disya masih saling diam sampai pagi, mereka bahkan tidak bertegur sapa. Sky sibuk dengan kegiatannya sendiri sementara Disya tidak mau ambil pusing. Hari ini sabtu pagi dan Disya sudah ada janji bersama teman-temannya untuk gowes dan jalan santai yang sudah di agendakan awal minggu.
Gadis itu memakai kaus pemberian Sinta, kaus couple empat sekawan. Mereka sudah berkirim kabar dan akan bertemu di taman kota. Gadis itu mulai sibuk di depan cermin mematut dirinya, membuat perhatian Sky teralihkan karena Disya seperti bersiap hendak pergi, lebih tepatnya seperti mau olah raga.
Sky bergeming, masih setia menatap istrinya yang pagi ini terlihat semakin imut dan menggemaskan dengan menggelung rambutnya menjadi satu.
"Aku pergi dulu Mas," pamit Disya meraih tangan Sky, mencium punggung tangannya tanda bakti dan langsung ke luar dari kamar tanpa mendengar respon suaminya.
Disya tersenyum tipis melihat mimik muka suaminya yang dingin tapi terlihat sangat ingin tahu. Biarlah Bersikap menyebalkan dulu, ia dan Bunda akan membuat kejutan nanti malam untuknya.
__ADS_1